Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Orang yang Tertawa Terakhir

Orang yang Tertawa Terakhir

G.K. Adhiarta | Bersambung
Jumlah kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Orang yang Tertawa Terakhir
Orang yang Tertawa Terakhir

Orang yang Tertawa Terakhir

G.K. Adhiarta| Bersambung
Jumlah Kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
PerkotaanSekolahMisteriThrillerDetektif
Bagi Rido, menjadi siswa yang "tidak penting" di SMA-nya adalah sebuah berkah. Nilai yang pas-pasan dan wajah yang mudah dilupakan membuatnya bebas mengamati dunia dari bangku belakang. Namun, kewajibannya untuk tidak diperhatikan hancur pada hari di mana seluruh sekolah tertawa massal selama lima belas detik, lalu berhenti serentak. Sejak hari itu, kejanggalan mulai merayap. Hana, gadis pendiam yang duduk di depannya, perlahan lenyap. Bukan sekadar pindah sekolah, tapi benar-benar terhapus dari foto kelas, daftar absensi, dan ingatan semua orang—kecuali Rido. Bersama Fajar, sahabatnya yang menutupi rasa takutnya dengan lelucon-logika absurd, dan Hana yang tiba-tiba muncul kembali dengan ingatan terpotong dan peringatan aneh ("Besok jangan ikut tertawa. Karena..."), Rido terseret ke dalam anomali yang menggerogoti realitas mereka. Materi pelajaran berubah, hari berulang, dan teman-teman sekelasnya menguap satu per satu tanpa ada yang peduli. Aturannya kejam: semakin kamu sadar, semakin cepat kamu dilupakan. Di tengah realitas yang retak dan konsensus ingatan kolektif yang memanipulasi dunia, Rido dan timnya harus mencari celah di balik fenomena ini. Namun, ketika Rido menemukan ruang tersembunyi berisi arsip foto orang-orang yang terlupakan, ia menyadari satu hal yang membekukan darahnya: foto dirinya sendiri baru saja muncul di sana, dan wajahnya mulai memudar. Sebuah misteri psikologis berbalut komedi gelap tentang rapuhnya ingatan, ketakutan menjadi berbeda, dan apa yang tersisa dari diri kita ketika dunia memutuskan bahwa kita tidak pernah ada.
Bab 1: Tawa Tanpa Sebab

Jam menunjukkan pukul 07.13 ketika seluruh kelas tertawa.

Masalahnya, tidak ada satu pun orang yang tahu siapa yang memulai tawa itu.

Suara itu muncul begitu saja. Pendek. Pelan. Lalu seperti penyakit menular, menjalar dari bangku belakang ke depan hingga seluruh ruang kelas dipenuhi gelak yang bahkan tidak memiliki alasan.

Aku ikut tertawa.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena manusia selalu takut menjadi satu-satunya orang yang diam.

Lima belas detik kemudian, tawa berhenti bersamaan. Mendadak. Seolah seseorang mematikan sakelar yang tidak terlihat.

Sunyi.

Pak Harun masih berdiri di depan papan tulis sambil memegang spidol.

Beliau mengedip dua kali.

"Lucu, ya?"

Tidak ada yang menjawab.

Aku menatap teman-teman sekelasku.

Mereka juga tampak bingung.

Aneh.

Kalau semua orang tadi tertawa, kenapa sekarang semua terlihat seperti baru bangun tidur?

Pak Harun menghela napas.

"Kalau sudah selesai..."

Beliau kembali menulis rumus.

Pelajaran berlanjut.

Namun pikiranku tidak.

─────

Namaku Rido.

Usiaku delapan belas tahun.

Aku bukan siswa pintar.

Bukan juga siswa bodoh.

Aku termasuk spesies yang paling mudah punah di sekolah: siswa yang keberadaannya tidak penting.

Nilai cukup.

Teman cukup.

Prestasi cukup.

Bahkan wajahku cukup untuk dilupakan lima menit setelah berkenalan.

Ada keuntungan menjadi orang biasa.

Tidak ada yang memperhatikanmu.

Ada kerugiannya juga.

Tidak ada yang memperhatikanmu.

Aku menyukai posisi itu.

Mengamati jauh lebih menyenangkan daripada diamati.

Manusia selalu memperlihatkan dirinya yang paling jujur ketika mengira tidak ada yang melihat.

Misalnya Dimas.

Ketua kelas.

Semua orang menganggapnya ramah.

Padahal setiap kali tersenyum, matanya selalu lebih dulu mencari siapa yang sedang memperhatikan.

Atau Rani.

Siswi paling populer.

Ia selalu tertawa paling keras ketika bercanda.

Namun begitu semua orang membalikkan badan, ekspresinya hilang begitu saja.

Seperti pegawai yang baru selesai shift.

Lalu ada Fajar.

Temanku.

Kalau manusia diciptakan untuk menjaga keseimbangan alam, Fajar mungkin diciptakan untuk mengurangi stok oksigen dunia.

Ia duduk di sebelahku sambil memegang roti.

"Do."

"Hm?"

"Menurutmu ayam tahu kalau telur itu anaknya?"

Aku berhenti menulis.

"Apa?"

"Kalau ayam makan telur, berarti..."

Ia menatap langit-langit.

"...kanibal?"

Aku memejamkan mata.

"Tolong jangan berpikir."

"Lho?"

"Aku kasihan sama otakmu."

"Otakku kuat."

"Justru itu yang mengkhawatirkan."

Ia mengangguk puas.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Oh."

Ia menggigit rotinya lagi.

Lima detik kemudian...

"Kalau bukan pujian, kenapa nadamu sopan?"

Aku menyerah.

─────

Pelajaran berlanjut sampai jam kedua, tapi kepalaku masih separuh tertinggal di detik-detik tawa massal tadi pagi.

Aku mencoba menghitung ulang dalam kepala.

Lima belas detik.

Bukan waktu yang pendek untuk tawa tanpa alasan.

Bukan juga cukup lama untuk disebut kejadian besar.

Seolah seseorang sengaja mengaturnya supaya pas — cukup untuk terasa aneh, tidak cukup untuk membuat orang benar-benar mempermasalahkannya.

Aku melirik ke bangku Dimas, dua baris di depanku.

Ia sedang mencatat dengan rapi, sesekali tersenyum kecil ke arah teman sebangkunya — senyum yang, seperti biasa, muncul sepersekian detik setelah matanya memastikan ada yang melihat.

Aku menggeleng pelan, mengusir pikiran itu, lalu kembali menatap papan tulis yang sudah penuh dengan rumus yang tidak sepenuhnya kupahami.

─────

Istirahat pertama.

Kantin dipenuhi suara manusia yang berpura-pura menikmati hidup.

Aku membeli teh.

Fajar membeli lima gorengan dan satu es teh.

"Do."

"Hm?"

"Kalau kita makan sambil berdiri..."

"Iya?"

"...berarti makanan kita juga ikut berdiri?"

Aku menatapnya lama.

Lalu berkata pelan,

"Kadang aku iri sama orang yang tidak mengenalmu."

Ia tersenyum bangga.

"Makasih."

"Itu juga bukan pujian."

"Oh."

─────

Di tengah keramaian kantin, seseorang menarik perhatianku.

Seorang siswi.

Seragamnya sama.

Rambut pendek sebahu.

Tidak cantik dengan cara yang mencolok.

Namun...

Ia tidak pernah tersenyum.

Bukan.

Lebih tepatnya...

Ia tidak pernah bereaksi.

Temannya tertawa.

Ia diam.

Penjual kantin salah memberi kembalian.

Ia diam.

Seseorang hampir menabraknya.

Ia bergeser sedikit.

Ekspresinya tetap sama.

Seperti sedang memainkan karakter dengan jumlah animasi yang sangat terbatas.

"Siapa itu?"

Fajar melirik.

"Oh."

"Kenal?"

"Nggak."

"Lalu?"

"Katanya anak pindahan."

"Dari mana?"

"Lupa."

"Kapan masuk?"

"Lupa."

"Namanya?"

"Lupa."

Aku menatapnya.

"Kamu ingat apa?"

Ia berpikir cukup lama.

"...dia perempuan."

"Syukurlah."

Di meja sebelah, Dimas sedang bercerita sesuatu ke tiga temannya, tangannya bergerak-gerak seperti sedang mempertunjukkan adegan penting. Rani duduk di ujung meja yang sama, tertawa lebih dulu sebelum cerita itu bahkan sampai ke bagian lucunya — seolah tawa adalah sesuatu yang harus disiapkan lebih awal, bukan reaksi yang muncul begitu saja.

Aku memperhatikan mereka sebentar, lalu kembali menatap siswi berambut sebahu itu.

Ia masih duduk sendirian, jauh dari keramaian, menyendok makanannya dengan tempo yang sama persis setiap kali — seperti mengikuti metronom yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.

─────

Bel pulang berbunyi.

Aku berjalan menuju gerbang.

Di dekat pos satpam, aku melihat siswi itu lagi.

Ia berdiri sendiri.

Memandangi pohon besar di seberang jalan.

Lama sekali.

Seolah pohon itu sedang berbicara.

Entah kenapa aku ikut berhenti.

Beberapa detik.

Satu menit.

Dua menit.

Ia tetap diam.

Lalu...

"Tidak sopan."

Aku menoleh.

Ia berbicara.

Kepada pohon?

"Tidak sopan menatap orang selama tiga menit."

Aku membeku.

"Ternyata kamu sadar aku melihatmu."

Ia akhirnya menoleh.

Tatapannya datar.

"Orang normal berkedip sekitar lima belas kali per menit."

"Kamu berkedip empat kali."

"Itu membuatmu terlihat seperti psikopat."

Aku langsung berkedip berkali-kali.

Ia memperhatikannya.

"Sekarang terlalu banyak."

Aku menghela napas.

"Nama kamu siapa?"

"Hana."

"Aku Rido."

"Aku tahu."

"Kita pernah bertemu?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Kamu tipe orang yang mudah diingat."

Aku mengangkat alis.

"Serius?"

"Bukan."

"Kamu hanya duduk tepat di belakangku saat upacara."

Aku merasa harga diriku baru saja dilempar ke selokan.

─────

Kami berjalan ke arah yang sama.

Tanpa sengaja.

Atau mungkin memang jalan pulang kami searah.

Aku tidak tahu.

Yang jelas, percakapan kami aneh.

"Kenapa kamu jarang tersenyum?"

"Tidak ada alasan."

"Orang biasanya tersenyum tanpa alasan."

"Itu justru aneh."

Aku tertawa kecil.

Ia menoleh.

"Apa lucunya?"

"Kamu."

"Itu penghinaan?"

"Tidak."

"Pujian?"

"Mungkin."

Ia mengangguk pelan.

"Kalau begitu terima kasih."

Untuk pertama kalinya sejak bertemu...

Sudut bibirnya bergerak.

Hanya sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk membuat wajahnya terlihat berbeda.

Aku baru sadar.

Ia sebenarnya cantik.

Hanya saja ia menyembunyikannya terlalu baik.

"Kamu selalu jalan kaki pulang?" tanyaku, mencoba mengisi jeda yang mulai terasa canggung.

"Selalu."

"Nggak capek?"

"Capek itu perasaan. Aku lebih suka data."

"Data soal apa?"

"Jarak. Waktu tempuh. Suhu udara."

Aku tertawa kecil lagi.

"Kamu ngomong kayak aplikasi cuaca."

"Aplikasi cuaca sering salah."

"Terus kamu nggak pernah salah?"

Ia diam sebentar, seperti benar-benar mempertimbangkan pertanyaan itu.

"Aku tidak tahu," katanya. "Aku belum pernah mengecek."

─────

Perempatan.

Rumah kami berbeda arah.

Sebelum berpisah ia bertanya,

"Rido."

"Hm?"

"Tadi pagi."

"Soal apa?"

"Semua orang tertawa."

"Iya."

"Kamu tahu alasannya?"

Aku menggeleng.

"Tidak."

"Aku juga tidak."

"Lalu?"

"Aneh."

Aku mengangguk.

"Iya."

Ia memandangku beberapa detik.

"Menurutku..."

"Apa?"

"...semua orang tertawa karena seseorang menginginkan mereka tertawa."

Aku tertawa kecil.

"Itu terdengar seperti teori konspirasi."

"Mungkin."

"Lagi pula siapa yang bisa melakukan itu?"

"Aku tidak tahu."

Ia berbalik pergi.

Beberapa langkah kemudian...

Ia berhenti.

Tanpa menoleh.

"Besok jangan ikut tertawa."

"Kenapa?"

"Karena..."

Suara kendaraan menelan kalimatnya.

Aku tidak mendengarnya.

"Hana!"

Ia tidak menjawab.

Hanya mengangkat tangan sebagai salam.

Lalu menghilang di antara keramaian.

─────

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena perkataan Hana.

Melainkan karena sebuah hal kecil yang baru kusadari.

Aku membuka ponsel.

Mencari foto kelas yang diambil minggu lalu.

Satu per satu wajah muncul di layar.

Aku memperbesar gambar.

Baris pertama.

Baris kedua.

Baris ketiga.

Lalu...

Aku berhenti bernapas.

Bangku dekat jendela.

Tempat yang kata Fajar ditempati siswi pindahan itu.

Kosong.

Aku membuka foto lain.

Kosong.

Foto saat lomba.

Kosong.

Foto kegiatan sekolah.

Kosong.

Tidak ada Hana.

Sama sekali tidak ada.

Padahal sore tadi...

Aku berjalan pulang bersamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca