

Dunia Para Penyihir.
__
Pengetahuan misterius mengalir di kepala seorang pemuda jangkung yang tengah berdiri di hamparan sawah.
Aroma tanah menyapa indra penciumannya, menandakan jika ia berada di dunia nyata.
Di sekelilingnya, hamparan padi mulai tumbuh, besar, malai mulai muncul, detik berikutnya padi sudah siap panen. Seolah waktu dipercepat sampai batas tertentu.
"Siapa kamu?" Tanya seorang gadis berpakaian serba hitam, di tangannya ada bilah sabit untuk memanen padi.
"A-aku Yudha Airlangga, aku tidak mencuri padi milikmu!" Suaranya tercekat. Informasi mengalir, mengingatkan jika gadis yang berjarak lima meter di hadapannya, berbahaya.
Saat bersamaan, pengetahuan misterius memberinya sebuah informasi, penting, namun keadaan di depannya membuat Yudha mengalihkan perhatiannya.
"Aku Putri Ana!" Ucapnya lantang. "Kamu telah masuk wilayahku! Yang akan terjadi hanya dua hal, pergi atau mati!"
Yudha menelan ludah, saat ia hampir menerima kehidupan barunya, justru ancaman kematian datang menghampiri.
"Aku tidak tau cara pergi dari sini!" Yudha berbicara, pasrah.
Yang dilihatnya hanyalah hamparan padi tanpa ujung.
Ana menatap tajam, tangannya mengarah pada Yudha.
"Segel" Ana menjentikan jari.
Sekilas Ana muncul di hadapan Yudha, sabit terayun, SLASHHH!
Saat dalam keadaan membeku, energi berwarna abu-abu menyelimuti seluruh tubuh Yudha.
Ana terus menebas tanpa henti, meskipun tidak menggunakan energi untuk bertarung, dia memiliki kemampuan segel, terlebih lagi berada di wilayahnya sendiri, aturan dunia tidak akan menghukumnya karena membasmi hama.
Namun yang terjadi di luar kendalinya, semua tebasan yang ia lakukan, menembus, seolah hanya menebas angin.
"Aku menyerah!" Ana menghela nafas panjang, pemuda tanpa reaksi itu terlalu aneh, hanya bisa berteman daripada menjadi musuh.
Yudha membuka mata, jantungnya yang berdetak tanpa kendali, kini menjadi lebih tenang.
"Aku lapar!" Ucapnya tanpa sadar.
"Bodoh!" Katakan dari awal kalau kamu lapar!" Ana memegang tangan Yudha, kali ini Yudha dapat disentuh.
Ana melangkah terlebih dulu, satu langkahnya membuat ruang terlipat, skill Pelipatan Ruang membuat keduanya tiba di depan rumah hanya dalam dua langkah.
"Kamu bisa teleportasi?" Yudha kagum dengan kemampuan Ana.
Ana melepaskan pegangan tangannya dengan cepat. "Bukan teleport, namanya skill Pelipat Ruang, teleport membutuhkan energi kita sebagai penanda, pelipatan ruang hanya perlu melihat lebih jauh, melipat ruang puluhan meter menjadi hanya berjarak dua langkah."
"Jadi minim energi? Bisa ajari aku?" Yudha tersenyum lembut, sebagian besar pengetahuan dunia sudah terpatri dalam ingatan, ia sedikit paham cara kerja dunia barunya.
Ana melambaikan tangan, dua roti berukuran besar muncul di depannya. "Makan dulu, lihat kan skill Pelipatan Ruang sangat berguna." Ucapnya sembari menyerahkan satu potong roti.
Yudha memakan roti dengan suapan besar. "Mmmmmm, sangat berguna! Apakah di dunia ini ada monster? Naik level? Dungeon?"
Ana menggeleng, ia kurang paham pertanyaan Yudha. "Dunia ini ada tapi tidak ada, kamu lihat hamparan padi itu? Padi itu tidak akan busuk kalaupun seribu tahun tidak dipanen."
"Maksudnya seribu tahun?" Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Seribu tahun waktu kita, lelah, makan, kerja. Anggap itu setiap hari." Ana menelan roti terakhirnya.
Yudha mengangguk, ia paham dengan dunianya, waktu adalah harga. "Tapi bagaimana caranya panen di lahan seluas itu?" Tangannya menunjuk hamparan sawah. "Harus membabat sampai mati?"
"Bodoh! Ikut aku!" Ana berjalan lebih dulu.
Keduanya memasuki rumah, roti di atas meja makan terlihat masih beberapa potongan besar, sebagian baru saja Ana ambil dengan skill Pelipat Ruang.
Setibanya di lantai dua, mereka memasuki ruang kerja.
"Lihat layar itu, bagian dari Aturan Alam Asal." Ana menunjuk pada dinding. "Sisi bawah terlihat hamparan padi, untuk panen, kita butuh mesin, besok akan ada yang memanennya dengan menggunakan mesin, itu bentuk kerjasama antar komunitas."
"Jadi begitu, tugasmu hanya menanam dan memelihara hingga siap panen?" Yudha bertanya. "Tunggu sebentar, bagaimana ada besok jika waktu tidak ada untuk dunia?"
"Tepat sekali, kadang kamu pintar juga!" Ana duduk di kursi empuk, mode guru aktif. "Semua manusia memiliki jam biologis yang terhubung satu sama lain, waktu adalah pasti untuk semua makhluk."
Setelah menjelaskan, Ana menunjuk pada bidang kebun buah-buahan.
"Lanjut tentang panen, kalau panen sedikit, misalnya buah-buahan, kita harus percepat waktu agar buah tumbuh dan matang."
"Kapan ajari aku skill Pelipat Ruang?" Yudha bertanya lagi.
Ana mendesah ringan. "Dunia ini ada yang namanya kehendak atau niat, kamu cukup konsentrasi, niatkan jika satu langkahmu sama dengan seratus langkah!"
Yudha mengangguk, ia mulai berkonsultasi, satu langkah, BRUAKKK.
"Dasar amatir! Niatmu terlalu besar, pakai satu langkah jadi tiga langkah lipatan!" Ana menggunakan skill Pelipat Ruang untuk mengambil roti di atas meja lantai bawah, lantas melemparkannya pada Yudha yang tergeletak seusai menabrak dinding.
Yudha menangkap roti dengan santai, tubuhnya mulai beradaptasi dengan dunia baru. "Makasih." Ucapnya sembari mengelus jidatnya yang merah.
"Lanjutkan besok! Ingat, besok itu ada di dirimu sendiri! Jam biologis." Ana mendengus, lantas turun ke lantai satu, menuju kamarnya.
"Wow, aku benar-benar bisa merasakan aliran waktu di tubuhku!" Yudha bergumam.
Yudha memejamkan mata, kemudian membuka mata bersamaan dengan pupilnya bersinar perak.
Seketika suasana berubah, udara berputar cepat, api, air, tanah dan logam berupa unsur elemen kecil berputar di sekelilingnya.
Langit bergemuruh, petir menggelegar terdengar memekakan telinga.
Kekacauan di dalam rumah menyebabkan kebisingan. Ana yang baru saja masuk kamar, ia bergegas keluar, angin kencang membuat ia kesulitan untuk sekedar melangkah melewati anak tangga.
Di hadapan Yudha, potongan memori muncul bagai gambar, ribuan layar transparan terlihat jelas, kenangan dari bayi sampai terlempar ke dunia lain, satu demi satu, terlihat.
"Aku ingat semuanya! Aku.... harus bekerja hanya untuk sekolah dasar, tanpa teman, bahkan tidak ada yang menganggap aku ada!"
Yudha masih tenggelam dalam kenangan nyata di depannya.
Sementara Ana berhasil naik ke lantai dua.
"Segel" Ana menjentikan jari, BRUGH, ia kehilangan kesadaran.
Yudha mendapatkan kembali keterangannya, tubuhnya lemah, namun ia masih berusaha mendekati posisi Ana. "Maafkan aku, Ana!" Ucapnya lantas menggendong Ana dan meletakkannya di atas sofa panjang.
Yudha duduk menunggu, ia tidak mampu melakukan apapun untuk membuat Ana tersadar kembali, hanya menyaksikan orang yang tersenyum padanya meskipun hanya sekilas.
Lima menit berlalu, ruangan yang berantakan, meja, kursi yang awalnya berserakan, terbang dan tertata rapi.
"Kamu Anomali, cepat mendekat dan katakan apa profesi yang kamu inginkan!" Sesosok gadis kecil bersayap, bertelinga kelinci, muncul di hadapan Yudha.
"Profesi apa maksudnya?" Yudha bertanya, ia berdiri, mendekati posisi Peri kecil.
"Dasar anomali." Peri kecil berbicara. "Saya manifestasi dari Aturan Alam Asal, semua manusia yang berusia delapan belas tahun, semuanya harus mendapatkan profesi, dengan profesi, kamu dapat melatih skill yang sesuai." Peri kecil terdiam sejenak. "Lihat dunia ini, terang di luar adalah Aturan Cahaya, gelap di dalam rumah adalah Aturan Kegelapan."
Peri kecil berubah menjadi guru dadakan.
"Saat berusia lima tahun, anak manusia diharuskan belajar keterampilan spiritual, sebagai kontrol kemampuan bawaan ataupun skill yang dapat dilatih."
Yudha sudah lepas dari kondisi tersegel, semua kemampuan yang baru ia dapat telah kembali, hanya saja energi jiwanya terkuras dan nyaris kehilangan kesadaran. Pandangannya kabur.
"Aku ingin menjadi Penjaga!" Yudha mantab dengan pilihannya.
"Baiklah!" Peri kecil melambaikan tangan, energi jingga mengalir dan menyelimuti seluruh tubuh Yudha, rasa hangat mengalir dari bawah keatas.
"Gagal, kamu bisa pilih sendiri profesi sesuai keinginan, ingat, jangan hancurkan dunia ini!" Peri kecil menghilang, bagaikan cahaya yang berpendar.
"Kok bisa?" Yudha mengerutkan kening.
"Apa yang membuatmu teriak?" Ana berbicara, lirih, masih terbaring di sofa panjang.
"Tidak ada." Yudha melangkah kearah Ana, memberikan sepotong roti yang masih di tangannya, tanpa rusak sedikitpun.
Ana meraih roti dari Yudha. "Energi jiwaku terkuras, mungkin besok tidak bisa menemani tim panen."
"Aku akan lakukan pekerjaanmu besok, aku paham Aturan Alam Dimensi, kemampuan bawaanku adalah Mata Dimensi." Yudha tersenyum lembut, energi mentalnya hampir terisi. "Tidur saja, Aturan Kegelapan akan membawa tidurmu dalam ketenangan."
Akhir Bab 1