
Dewasa Bersama Tante
Sky_78|Bersambung
- Jumlah kata
- 182.5K
- Popular
- 98.4K
- Subscribe
- 5.1K
- Jumlah kata
- 182.5K
- Popular
- 98.4K
- Subscribe
- 5.1K
Sinopsis
Bima hanya ingin kuliah dengan tenang. Namun, sejak tinggal serumah dengan Tante Maya, wanita cantik yang usianya hanya terpaut beberapa tahun darinya, hidupnya berubah menjadi serangkaian kejadian memalukan. Mulai dari salah paham, momen-momen canggung, hingga rahasia yang perlahan terungkap di balik rumah itu. Setiap hari menjadi ujian bagi Bima untuk menjaga batas, sementara perasaannya sendiri semakin sulit dikendalikan. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal sementara, siapa sangka kedewasaan justru datang dengan cara yang paling tidak terduga.
Ulasan
3 ulasan
b o y
2/10/26 20:48
Pendapat saya tentang penulis alur cerita ini sangat hebat...ayat tersusun rapi,Saya sangat berpuas hati...
PILIHANHerlambang Dwi
14/10/26 01:35
terlalu lama update tulisannya, setiap tayang hanya satu bab saja, dan berhari - hari.. gak bikin penasaran tapi jadi jengkel nunggu
Insiden
"Bima, tolong dong angkatin jemuran Tante ke atas," ucap Tante Maya kepadaku yang sedang menonton TV di ruang tamu.
Aku segera melompat dari sofa, bergegas ke arah wanita cantik yang sedang memegang sebuah bakul berisi cucian bersih dengan kedua tangannya. Namun, karena terlalu bersemangat, tak sengaja kakiku tersandung ujung karpet.
Bruaaakkk!
Tubuhku hilang keseimbangan dan langsung terdorong ke depan. Tante Maya langsung kaget.
"Aaaaaaaaaa! Bimaaa!" Dia segera melepaskan bakul cuciannya dan menahan tubuhku yang tepat jatuh ke arahnya. Namun, beban tubuhku yang cukup berat tidak mampu ditahan oleh Tante Maya. Tak ayal, dirinya terjatuh tepat dengan diriku berada di atasnya.
"Maaf, Tante, maaf!" ucapku buru-buru bangkit dengan wajah pucat dan canggung.
Dengan cepat aku berjongkok dan hendak menolong Tante Maya. Tetapi mataku langsung terbelalak ketika menangkap sesuatu berwarna ungu membungkus area paling tersembunyi dengan sangat pas. Gundukan itu membukit sangat indah.
Tante Maya yang menyadari arah pandanganku buru-buru menurunkan daster kaosnya dan berteriak.
"Bima! Apa yang kamu lihat!" teriaknya dengan malu bercampur panik.
Aku tergagap. Mukaku langsung menjadi merah padam. Dengan cepat aku berdiri, tetapi tiba-tiba Tante Maya kembali menjerit saat matanya tertanam di bawahku. Dengan panik ia mengalihkan pandangannya.
"Bimaa! Kenapa denganmu?!"
Aku kaget, dan saat melihat ke bawah, ke mana pandangan Tante Maya mengarah sebelumnya, jantungku langsung terasa hendak copot. Di bawah sana, sesuatu telah menyundul celana trening yang kukenakan sehingga terlihat seperti ada yang sedang kemping di dalamnya.
Dengan cepat aku menekuk lutut dan menutupi juniorku yang mengamuk. Tidak habis pikir kenapa pagi ini aku tidak memakai celana dalam, sehingga sedikit saja reaksi membuat juniorku menjadi aktif.
Dengan canggung, aku mengangkat bakul kain di depanku, menutupi bagian bawah tubuh yang memalukan, lalu bergegas naik ke lantai dua, tempat penjemuran cucian.
"Ah, kenapa pagi ini harus ada insiden yang memalukan seperti ini?" desahku tak habis pikir.
Aku mengalihkan pikiran dengan mengambil satu per satu kain cucian dan menjemurnya di tali jemuran.
Aku mencoba fokus pada pakaian yang harus dijemur. Namun, setiap kali melihat kain berwarna ungu itu, pikiranku kembali pada insiden yang baru saja terjadi. Aku segera menggelengkan kepala.
Tidak bisa dibandingkan dengan apa yang selama ini kutonton di video-video, sebab yang baru saja aku lihat adalah sesuatu yang nyata. Dan terus terang, itu adalah pengalaman intim pertamaku bersentuhan secara langsung dengan wanita yang sebenarnya.
Aku, Bima, seorang mahasiswa semester tiga berusia 21 tahun. Sejak kehilangan kedua orang tuaku, aku tinggal bersama nenek di kampung hingga lulus SMA. Setelah setahun menganggur, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di kota, membiayai diriku sendiri dengan menjual sebidang sawah peninggalan ayah.
Keputusanku untuk tinggal serumah dengan Tante Maya sebenarnya terjadi karena kebetulan. Tante Maya adalah anak perempuan dari tetangga rumahku di kampung, yang kini tinggal di kota tempat aku berkuliah. Usianya sekitar 28 atau 29 tahun, tetapi aku tidak tahu pasti apakah ia masih lajang atau seorang janda. Informasi tentang kehidupannya cukup terbatas bagiku.
Semuanya bermula saat Tante Maya dan ibunya berkunjung ke rumah nenek. Saat itu, aku baru saja pulang kuliah dengan sepeda motor. Dalam percakapan santai, tiba-tiba ibunya Tante Maya mengusulkan agar aku tinggal di rumah Tante Maya saja daripada harus bolak-balik dari kampung ke kota.
Rumahnya cukup besar dengan beberapa kamar kosong, termasuk kamar di lantai dua yang bersebelahan dengan teras balkon tempat jemuran.
Nenek langsung menyetujui tawaran itu. Ia selalu cemas setiap kali melihatku pulang kuliah larut malam, mengingat jarak antara kampung dan kota cukup jauh. Kekhawatirannya terhadap risiko kecelakaan membuatnya merasa lebih tenang jika aku tinggal lebih dekat dengan kampus.
Aku sendiri tidak punya alasan kuat untuk menolak, dan Tante Maya juga tampaknya tidak keberatan. Baginya, kehadiranku bisa memberikan rasa aman bagi ibunya, karena ada seseorang dari kampung yang tinggal bersamanya.
Sejak itu, aku tinggal bersama Tante Maya. Sebenarnya, dalam hal sebutan, lebih tepat jika aku memanggilnya kakak. Tetapi entah karena apa, panggilan itu lekat menjadi Tante. Barangkali karena anak-anak di kampung tempat asal kami memanggil Maya sendiri dengan sebutan Tante, dan aku seperti latah mengikuti.
Karena berasal dari kampung yang sama, kami cepat menjadi akrab, dan Tante Maya sering meminta bantuanku untuk hal-hal kecil seperti membawa bakul kain cuciannya hari ini ke lantai atas, tempat jemuran berada, saat aku sedang menonton TV di ruang tengah rumahnya.
Sambil mengenang kembali bagaimana awalnya bisa tinggal bersama Tante Maya, aku terus menjemur pakaian basah di dalam bakul satu per satu. Namun, ketika kembali tersadar, aku menjadi gelagapan.
Beberapa pakaian terakhir yang aku jemur adalah pakaian-pakaian sangat kecil, dan baru mengetahui jika itu adalah celana dalam milik Tante Maya.
Lalu, saat melihat ke tanganku yang memegang sepotong pakaian, jantungku serasa mencelos. Itu adalah celana dalam lainnya yang berwarna putih dengan tekstur kain katun halus.
Renda-renda di pinggirannya membuatnya tampak sangat mempesona, dan seketika aku terbayang bagaimana jika ini dipakai oleh Tante Maya? Ah, pikiranku langsung melayang ke mana-mana.
Tapi persoalannya bukan itu. Tante Maya sebenarnya hanya menyuruhku untuk mengangkat bakul ini ke atas, dan bukan untuk menjemurnya!
"Ah!" jeritku dengan wajah pucat, buru-buru aku mengembalikan celana dalam di tanganku ke bakul dan meraih yang lainnya di jemuran. Tetapi, karena gerakanku yang tergesa-gesa, satu benda segitiga itu terlepas dari jemuran dan melayang menimpa tepat di mukaku!
Dengan cepat aku meraihnya. Namun, ketika akan mengembalikannya ke dalam bakul, jantungku terasa hendak terbang. Tepat di hadapanku, Tante Maya berdiri memandang dengan wajah merah padam. Ia mengepalkan kedua tangannya, tampak marah dan malu sekaligus.
"Bimaaaa! A-apa yang..."
"Aaaaaaaakkkkkk!"
Tiba-tiba saja teriakannya berhenti dan berganti menjadi suara jeritan.
Ketika sekali lagi matanya menangkap sesuatu di bawahku yang menonjol, Tante Maya menutupi wajahnya dengan panik, lalu buru-buru membalikkan tubuhnya.
Aku terkejut bukan main. "M-maaf, Tante, ini tidak seperti yang terlihat," ucapku dengan suara gemetaran. Pastilah Tante Maya telah menuduhku melakukan sesuatu yang tidak terpuji, sebab situasi sebelumnya teramat memalukan.
Ia pasti melihat segitiga miliknya ada di wajahku, dan parahnya situasi itu tampak seperti aku ... menciumi celana dalamnya?
Menyadari masih ada benda itu di tanganku, aku buru-buru melemparkannya ke baskom. Dan lagi-lagi, di bawah sana, tanpa sadar sesuatu bergerak tanpa kuperintahkan.
Pikiranku menjadi sangat kalut. Kenapa di situasi seperti ini juniorku malah bertingkah sangat tidak sopan? Ah, malangnya nasibku. Aku pasti terlihat sangat buruk sekarang.
Daftar bab
162 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
162 bab








