
Cinta Yang Tumbuh Perlahan
Noel WN|Bersambung
- Jumlah kata
- 8.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 8.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Noel mengira masa SMA hanya akan dipenuhi tugas, teman, dan kenangan biasa. Namun, pertemuannya dengan Naila mengubah semuanya. Dari obrolan sederhana, tawa bersama, hingga berbagai momen yang mereka lewati setiap hari, tumbuh sebuah perasaan yang tak pernah mereka sadari. Karena tidak semua cinta hadir dalam sekejap. Ada yang tumbuh perlahan, hingga akhirnya menjadi alasan untuk tetap bersama. Sebuah kisah romance, slice of life, komedi, dan school tentang persahabatan, cinta yang tumbuh perlahan, serta perjalanan dari bangku SMA menuju masa depan yang penuh harapan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 — "Hari Pertama"
POV Noel
Hari pertama sekolah selalu punya cara untuk bikin seseorang merasa asing di tempat yang seharusnya mulai dikenali.
Aku berdiri di depan gerbang SMA Nusantara Harapan, kedua tangan terkantung di sisi tubuh, tas ransel masih terasa ringan karena belum diisi buku apa pun. Di atas kepalaku, spanduk biru bertuliskan "Selamat Datang Siswa Baru Tahun Ajaran 2024/2025" melambai pelan tertiup angin pagi. Huruf-hurufnya sudah mulai pudar di bagian sudut, mungkin bekas dipakai tahun lalu, tapi tetap terpasang dengan gagah di antara dua tiang gerbang yang menjulang.
Tanganku meremas tali tas. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang susah kujelaskan. Mungkin ini yang disebut orang sebagai "debu-debu awal". Perasaan ketika kamu berdiri di ambang sesuatu yang baru, dan kamu tidak tahu apakah kamu akan menyukainya atau tidak.
SMA Nusantara Harapan lebih besar dari SMP-ku dulu. Jauh lebih besar. Gerbangnya saja sudah dua kali lipat ukurannya, dan di belakangnya aku bisa melihat gedung utama berlantai empat dengan cat krem yang masih bersih. Ada lapangan upacara dengan tiang bendera di tengah, taman kecil dengan kolam ikan di sampingnya, dan deretan pohon trembesi yang menaungi jalan setapak menuju pintu masuk.
Aku mengedarkan pandangan, merekam pemandangan ini dalam ingatan. Siapa tahu nanti bisa kugambar.
Di sekitarku, siswa-siswa lain berhamburan masuk. Sebagian besar dari mereka kelihatan gugup—persis seperti yang kurasakan di dalam dada, meskipun aku tidak akan menunjukkannya. Ada yang digandeng orang tua, ada yang berjalan berombongan dengan teman-teman lama, ada juga yang sendirian sambil memeluk tas di dada seperti perisai. Aku tidak termasuk yang mana pun. Aku datang sendiri, tapi tidak merasa kesepian. Bukan karena aku tidak butuh teman. Hanya saja, aku sudah terbiasa.
Kebiasaan yang terbentuk sejak kecil.
Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran yang belum perlu dipikirkan. Hari ini hari pertama. Aku harus tersenyum.
"WOI, NOEL!"
Suara itu memecah udara pagi seperti batu yang dilempar ke kolam tenang. Sebelum sempat bereaksi, sebuah lengan melingkari leherku dari belakang, menarik tubuhku ke depan dengan semangat yang hampir membuatku tersandung kaki sendiri.
"Farel," batukku, setengah tertawa setengah tersedak. "Bisa nggak sih pagi-pagi nggak langsung bikin orang mati?"
Farel Mahendra melepaskan cengkeramannya dan berputar untuk berdiri di hadapanku. Senyumnya melebar dari telinga ke telinga, menampilkan deretan gigi yang rapi—satu-satunya hal rapi dari dirinya. Rambutnya yang hitam berdiri tak beraturan seperti baru saja bangun tidur, padahal aku tahu dia sudah bangun sejak subuh karena tidak sabar masuk SMA. Kemeja putihnya masih kaku, lipatan bekas pembelian baru masih terlihat di bagian lengan, tapi dia sudah menggulung lengan itu sampai ke siku seperti biasanya.
"Lo liat nggak tadi? LO LIAT NGGAK TADI?!" Suaranya meledak-ledak. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk toko mainan.
"Liat apa?"
"Parkirannya! Luas banget! Motor bisa parkir di dalem, mobil juga ada tempat sendiri. Terus lapangan basketnya—"
"Dua. Lo udah bilang dari kemarin."
"BELUM. Lapangan basketnya dua, tapi yang satu INDOOR, Nol! Indoor! Ada atapnya! Ada tribunnya! Kayak di anime-anime itu!"
Aku menghela napas, tapi sudut bibirku terangkat. Farel tidak pernah berubah. Sejak pertama kali kami bertemu di bangku SMP tiga tahun lalu, dia selalu seperti ini—bola energi yang tidak pernah berhenti memantul. Kadang melelahkan, tapi lebih sering menghibur. Di dunia yang penuh dengan orang-orang serius, Farel adalah pengingat bahwa hidup tidak perlu seserius itu.
"Lo ke sini buat sekolah atau jadi atlet profesional?"
"Sekolah dulu, atlet kemudian." Dia merangkul bahuku dan mulai menyeretku masuk ke area sekolah. "Nanti gue ajak lo ikut ekskul basket. Lo jadi manajer atau apa kek."
"Aku nggak jago basket. Badanku kurus, lo liat sendiri."
"Nggak masalah, Nol. Yang penting lo ada di sana buat nyemangatin gue pas gue cetak three point." Dia melepaskan rangkulannya dan berjalan mundur di depanku, kedua tangannya membentuk gestur melempar bola imajiner. "Bunyi peluit, bola meluncur, Farel Mahendra dengan gagahnya mencetak angka kemenangan. Penonton bersorak. Cewek-cewek histeris. Lo nangis haru di tribun."
"Kenapa aku yang nangis?"
"Karena lo bangga punya sahabat kayak gue."
Aku tertawa kecil. "Jalan yang bener, Far. Nanti lo nabrak orang."
Farel berbalik tepat waktu untuk menghindari seorang siswi yang berjalan sambil membaca buku. Dia menyengir minta maaf, lalu kembali berjalan di sampingku dengan langkah yang masih terlalu bersemangat untuk ukuran jam setengah tujuh pagi.
Kami menyusuri jalan setapak di bawah pohon trembesi. Sinar matahari menerobos celah-celah daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak-gerak di atas aspal. Beberapa siswa berseragam putih-abu melintas dengan sepeda, bel mereka berdenting-denting kecil. Seorang penjaga sekolah—nanti aku akan tahu namanya Pak Darto—berdiri di dekat gerbang sambil melambaikan tangan, mengarahkan siswa baru yang kebingungan mencari gedung kelasnya.
"Ngomong-ngomong," Farel tiba-tiba menurunkan suaranya, "lo denger kabar terbaru?"
"Kabar apa?"
"Kasih satu kelas sama kita."
Aku menoleh. "Serius?"
"Serius. Dia chat gue tadi pagi. Dia liat pengumuman online. Dia dapet X-C juga."
Aku mengangguk pelan. Kasih Amalia, pacar Farel sejak kelas dua SMP. Gadis mungil dengan energi yang nyaris setara Farel—mungkin sedikit lebih terarah. Mereka berdua adalah contoh nyata bahwa dua orang yang sama-sama heboh bisa menjalin hubungan yang awet, meskipun aku tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana caranya.
"Berarti kita bertiga sekelas lagi," kataku.
"Jangan lupa Jerry."
Aku mengerutkan kening. "Jerry? Dia juga X-C?"
"Harusnya. Kemarin dia bilang mau cek. Tapi knowing Jerry, dia mungkin udah tau dari minggu lalu dan cuma lupa ngasih tau kita." Farel mengibaskan tangan. "Lo tau sendiri Jerry kayak gimana."
Aku tahu. Jerry adalah orang ketiga dalam persahabatan kami. Dia bergabung setahun lebih lambat dari Farel dan aku—awalnya cuma teman sekelas yang kebetulan duduk di belakang kami. Tapi entah bagaimana, dia perlahan terseret ke dalam orbit kami, dan sebelum siapa pun sadar, dia sudah menjadi bagian permanen dari keseharian. Jerry tipikal orang yang lebih suka mengamati daripada berbicara. Tapi kalau sudah buka suara, komentarnya selalu tepat sasaran, sering kali bikin orang tertawa karena caranya yang datar.
Aku suka Jerry. Dia tidak menuntut aku untuk selalu tersenyum.
Papan pengumuman pembagian kelas sudah dikerumuni puluhan siswa saat kami tiba. Badan-badan berseragam putih-abu berdesakan di depan kertas besar yang ditempel di dinding koridor. Telunjuk-telunjuk jari naik-turun menyusuri deretan nama. Suara-suara berseru—ada yang senang karena sekelas dengan teman lama, ada yang kecewa karena terpisah, ada juga yang langsung mulai merencanakan strategi tempat duduk.
"Awas, awas, permisi, orang penting lewat."
Farel menerobos kerumunan dengan kepercayaan diri seorang selebriti. Aku mengikutinya dari belakang, sesekali menghindari sikut dan bahu yang bergesekan. Bau keringat pagi dan parfum murahan bercampur di udara.
"Nama gue di mana, nama gue di mana..." Farel bergumam sambil menyusuri daftar dengan jari telunjuknya. Matanya menyipit—dia selalu menolak pakai kacamata meskipun sudah disuruh dokter. "A... B... C... X-C! Kelas X-C! Nama gue ada di sini!"
Telunjuknya berhenti di satu nama: Farel Mahendra.
"Nah, sekarang lo." Dia menggeser jarinya ke bawah. "Noel... Noel... Noel Ardiansyah! ADA! Lo di bawah gue!"
"Di bawah lo?"
"Maksudnya di bawah nama gue. Jangan mesum."
Aku mendorong bahunya pelan. "Lo yang ngomong ambigu."
Kulihat namaku tercetak rapi di kertas itu. Noel Ardiansyah — X-C. Huruf-huruf hitam di atas kertas putih. Sederhana saja. Tapi ada sesuatu yang menenangkan saat melihatnya. Setidaknya aku tidak akan sendirian di kelas baru. Setidaknya aku akan dikelilingi oleh orang-orang yang sudah kukenal.
"WOI, NOEL! JERRY JUGA X-C!"
Farel nyaris melompat-lompat seperti anak kecil yang baru dapat hadiah ulang tahun. "Lo, gue, Kasih, Jerry! Kita berempat sekelas! Ini namanya takdir! Ini namanya jodoh persahabatan!"
"Lo tadi bilang jodoh maksudnya jodoh beneran."
"Itu tadi. Sekarang udah direvisi."
Aku menggeleng-geleng kepala.
Kemudian sebuah tepukan mendarat di bahu Farel dari belakang.
"Berisik lo, Far."
Kami berdua menoleh bersamaan. Jerry Pratama berdiri di belakang kami, satu tangan memegang botol minum, tangan satunya lagi sudah memegang buku—bukan buku pelajaran, tapi novel bersampul gelap yang judulnya tidak bisa kubaca dari sudut ini. Kacamatanya bertengger dengan rapi di batang hidung. Ekspresinya datar seperti biasanya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Dalam bahasa Jerry, itu sudah termasuk senyum selebar-lebarnya.
"JERRY!" Farel langsung memeluknya tanpa peringatan. "KITA SEKELAS LAGI, BRO!"
Jerry tidak membalas pelukan itu. Tangannya tetap di sisi tubuh, botol minum di satu tangan, buku di tangan lain. Dia hanya berdiri kaku seperti tiang listrik yang tiba-tiba dipeluk orang gila. "Ya. Gue tau."
"LO NGGAK SENENG?! KITA BAKAL BERSAMA LAGI! SETAHUN PENUH!"
"Sangat seneng. Bisa diliat dari ekspresi gue."
Farel mundur setengah langkah dan menatap wajah Jerry yang sama sekali tidak berubah. "Ekspresi lo nggak berubah."
"Di dalem hati gue lagi lompat-lompat."
Aku tidak bisa menahan tawa. Jerry selalu tahu cara meredam Farel tanpa perlu berteriak. Itu keahlian yang tidak banyak dimiliki orang.
"Lo dari mana aja?" tanyaku.
"Perpustakaan."
"Perpustakaan? Jam segini? Baru juga hari pertama."
"Kemarin gue ke sini buat daftar ulang. Sekalian ngeliat perpustakaannya." Jerry menaikkan kacamatanya. "Koleksinya lumayan. Ada sekitar dua puluh ribu buku. Bisa pinjam sampe dua minggu. Denda telat cuma seribu per hari."
Aku menatapnya. "Lo ngapain riset perpustakaan sebelum sekolah mulai?"
"Supaya pas hari pertama gue nggak perlu riset lagi."
Farel menggeleng-gelengkan kepala. "Bro, lo tuh aneh. Tapi gue sayang lo."
"Oke."
"Lo nggak akan bilang 'aku juga sayang lo'?"
"Nggak."
Aku tertawa lagi. Jerry memang tidak berubah.
Kelas X-C berada di lantai dua, di ujung koridor sebelah kiri. Dari jendelanya, aku bisa melihat lapangan basket outdoor yang tadi Farel bicarakan. Pohon trembesi besar tumbuh di samping lapangan, menaungi setengah area dengan bayangannya. Kalau dilihat dari sini, pemandangannya cukup bagus. Mungkin nanti bisa kujadikan bahan sketsa.
Kelas sudah setengah terisi saat kami tiba. Beberapa siswa duduk diam di bangku masing-masing, jari-jemari mereka sibuk dengan ponsel atau buku catatan yang masih kosong. Yang lain berdiri membentuk kelompok-kelompok kecil—anak-anak yang sudah saling kenal dari SMP yang sama, berkumpul sebelum bel berbunyi. Di sudut belakang, dua orang cowok berbadan agak besar sudah mulai tertawa-tawa entah membahas apa. Salah satunya—Asep, aku akan tahu namanya nanti—sedang menceritakan sesuatu dengan gerakan tangan yang berlebihan, membuat temannya—Gon—terbahak-bahak sampai menggebrak meja.
Aku memilih tempat duduk di dekat jendela, deretan ketiga dari depan. Farel otomatis menduduki bangku di sebelah kiriku, sementara Jerry mengambil kursi di depanku. Dia membuka novelnya dan mulai membaca sebelum pantatnya benar-benar menyentuh kursi.
"Lo kenapa milih deket jendela?" tanya Farel sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Biar bisa liat ke luar kalau pelajaran mulai membosankan."
"Bijak. Nanti gue contek jawaban lo."
"Aku juga nggak yakin bakal ngerti pelajaran."
"Terus kita contek Jerry."
Jerry tidak menoleh, tapi suaranya terdengar jelas. "Tiga ribu per soal."
"MAHAL BANGET!"
"Itu harga temen."
Farel memukul pelan sandaran kursi Jerry. "Lo harus kasih diskon! Gue temen lo dari SMP!"
Jerry membalik halaman bukunya dengan tenang. "Justru karena temen. Harga temen lebih mahal."
Aku menyender ke sandaran kursi sambil tersenyum kecil. Ini rasanya nyaman. Farel yang heboh di sebelah kiri, Jerry yang tenang di depan. Seperti potongan-potongan puzzle yang secara kebetulan cocok satu sama lain tanpa perlu dipaksa.
Mataku mengedar ke sekeliling kelas, merekam wajah-wajah baru yang akan kuhabiskan setahun ke depan. Meja-meja berderet rapi, papan tulis masih bersih tanpa coretan, dan sinar matahari masuk miring lewat jendela di sampingku, menciptakan kotak-kotak cahaya di lantai keramik. Semua terasa baru. Bersih. Penuh kemungkinan.
Di barisan depan, beberapa anak perempuan duduk berdekatan. Ada yang sedang membuka-buka buku paket, ada yang berbisik-bisik sambil melirik ke arah Farel yang masih sibuk menawar harga contekan ke Jerry. Di pojok kanan, seorang siswi berkacamata—aku akan mengenalnya sebagai Laras—duduk tegak dengan postur sempurna, pulpen sudah di tangan, buku catatan sudah terbuka di halaman pertama. Dia menulis sesuatu dengan rapi, meskipun pelajaran belum dimulai.
Dan di antara semuanya, mataku berhenti pada seseorang.
Rambutnya diikat ekor kuda rendah, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek. Dia duduk di deretan kedua dari depan, agak ke kiri, persis di depan Jerry. Sebuah novel bersampul lusuh terbuka di atas mejanya. Jari-jarinya—kurus, dengan kuku yang dipotong pendek—membalik halaman pelan-pelan, sementara teman-teman di sekitarnya sibuk mengobrol dan berkenalan. Dia tidak tersenyum, tidak juga cemberut. Wajahnya tenang, seperti tidak terlalu peduli dengan keramaian di sekitarnya. Ada sesuatu dalam caranya membalik halaman yang terasa... hati-hati. Seperti setiap lembar kertas adalah benda berharga yang tidak boleh rusak.
Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikannya. Mungkin karena dia satu-satunya orang di kelas ini yang membaca novel di tengah kekacauan hari pertama. Mungkin karena dia terlihat sama sekali tidak berusaha untuk terlihat ramah atau menarik perhatian.
Atau mungkin karena tidak ada alasan khusus.
Kadang-kadang, mata kita hanya berhenti pada sesuatu tanpa bisa dijelaskan.
Dia mendongak.
Tatapan kami bertemu.
Dua detik. Hanya dua detik. Aku bisa menghitungnya dalam hati. Satu... dua...
Dia tidak tersenyum. Aku juga tidak. Tidak ada percikan api, tidak ada debaran jantung yang tiba-tiba menjadi liar seperti di film-film romantis yang ditonton Farel bersama Kasih. Hanya dua detik kontak mata antara dua orang asing yang kebetulan berada di ruangan yang sama, di pagi yang sama, di hari pertama yang sama.
Dia kembali menunduk ke novelnya.
Dan aku memalingkan wajah ke jendela.
Sepuluh menit kemudian, seorang guru berjalan masuk ke kelas.
Dia masih muda—mungkin akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Rambutnya digerai sebahu, lurus, hitam. Blazer abu-abu tersampir rapi di lengannya, dan dia membawa sebuah map coklat yang terlihat penuh dengan kertas. Senyumnya lebar, ramah, tipe senyum yang bikin orang merasa diterima sebelum dia bahkan membuka mulut.
Dia berjalan ke meja guru, meletakkan mapnya, lalu mengambil spidol dan menulis namanya di papan tulis dengan huruf sambung yang rapi.
Bu Novi.
"Selamat pagi, anak-anak!"
Suaranya cerah, cukup lantang untuk membangunkan mereka yang mulai mengantuk di barisan belakang.
"Selamat pagi, Bu!" jawab kelas dengan tingkat semangat yang bervariasi. Suara Farel paling keras di antara semuanya.
"Saya Bu Novi, wali kelas kalian untuk tahun ajaran ini. Saya juga akan mengajar kalian mata pelajaran Sosiologi." Dia meletakkan spidol dan menghadap kami, kedua tangan bertumpu di meja. "Pertama-tama, selamat datang di SMA Nusantara Harapan. Selamat datang di kelas X-C. Saya harap kita semua bisa akrab dan bekerja sama dengan baik selama dua semester ke depan."
Farel menyikut lenganku. "Gurunya cantik," bisiknya.
"Kasih denger lo nanti," bisikku balik.
"Kasih juga bilang gitu."
Aku melirik ke arah Kasih yang duduk di barisan tengah. Dia sedang tersenyum kecil ke arah Farel, lalu menggeleng-gelengkan kepala pelan. Bibirnya membentuk kata-kata yang bisa kubaca dengan jelas: "Dasar."
"Baik," Bu Novi bertepuk tangan, membuat semua mata kembali padanya. "Sebelum kita mulai pelajaran, kita perkenalan dulu. Kalian belum saling kenal, kan? Jadi, masing-masing berdiri, sebutkan nama, asal SMP, dan satu hal yang kalian suka. Kita mulai dari... kamu, yang di pojok kiri depan."
Seorang anak laki-laki berkacamata tebal berdiri dengan kaku. "Sa-saya Riski. SMP Tunas Bangsa. Saya suka... menyendiri."
Beberapa orang tertawa kecil. Riski duduk kembali dengan wajah merah padam.
Satu per satu, siswa-siswa lain mendapat giliran. Aku mendengar nama-nama baru yang akan segera menjadi akrab—Aditia yang suka voli, Okta yang suka belajar, Eli yang suka fashion, Irwan yang suka anime. Aku mencoba mengingat semuanya, meskipun aku tahu setengahnya akan terlupakan begitu bel istirahat berbunyi.
Saat tiba giliranku, aku berdiri.
"Noel Ardiansyah. SMP Nusantara. Suka... gambar."
"Gambar apa?" Bu Novi bertanya, suaranya terdengar tertarik.
Aku berpikir sejenak. "Sketsa aja. Pemandangan, orang... apa pun yang kelihatan menarik."
Bu Novi mengangguk, senyumnya melebar. "Keren. Siapa tahu kamu bisa bantu bikin mural kelas nanti."
Aku mengangguk sopan dan duduk kembali. Farel langsung menyikutku.
"Sok cool banget lo."
"Emang cool."
Farel mendapat giliran beberapa saat kemudian. Dia berdiri dengan penuh semangat, nyaris menjatuhkan bangkunya.
"Nama gue Farel Mahendra! SMP Nusantara! Suka basket! Gue calon bintang basket sekolah ini!"
Beberapa orang tertawa. Beberapa yang lain bertepuk tangan. Farel membungkuk seperti baru saja menyelesaikan pertunjukan, lalu duduk kembali dengan seringai lebar.
Jerry berdiri tanpa ekspresi. "Jerry Pratama. SMP Nusantara. Suka... baca."
Dia duduk kembali sebelum Bu Novi sempat bertanya lebih lanjut. Farel mendesah dramatis. "Lo tuh ya, Jer. Dikit-dikit baca. Manusia buku."
"Lebih baik dari manusia bola."
Aku menyembunyikan tawaku di balik tangan.
Perkenalan berlanjut. Asep dengan suaranya yang menggelegar mengaku suka makan. Gon, temannya, suka tidur. Bu Novi mencatat keduanya dengan senyum tipis. Laras yang duduk di depan menyebutkan bahwa dia suka belajar—Okta langsung menoleh dengan ekspresi kompetitif. Di beberapa kursi dari Laras, seorang gadis berponi dengan gelang warna-warni di pergelangan tangan berdiri dan memperkenalkan diri sebagai Kasih Amalia. Dia menyebut "jalan-jalan" sebagai hal yang disukainya, dan Farel langsung berbisik "sama gue" cukup keras untuk membuat Jerry mendengus.
Lalu giliran gadis dengan novel itu tiba.
Dia berdiri dengan gerakan yang hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin kursinya berdecit terlalu keras. Tangannya memegang sisi meja sebentar, mencari keseimbangan yang sebenarnya sudah dia punya.
"Naila Putri."
Suaranya pelan. Sangat pelan. Aku harus sedikit memiringkan kepala untuk bisa mendengarnya dengan jelas dari tempatku duduk.
"SMP Harapan Bangsa."
Dia berhenti sejenak. Jari-jarinya menyentuh sampul novel di atas meja, seperti mencari pegangan yang tidak terlihat.
"Suka... membaca."
Dia duduk kembali dengan cepat, lebih cepat dari saat dia berdiri. Matanya langsung kembali ke halaman novel, seolah-olah seluruh perkenalan ini hanyalah interupsi yang tidak diinginkan.
Naila Putri.
Aku mengulang nama itu dalam hati, tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena cara dia berbicara tadi—hati-hati, seperti setiap kata ditimbang dulu sebelum diucapkan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik jeda-jeda kecil di antara suku kata.
Atau mungkin hanya karena dia membaca novel di hari pertama sekolah, dan itu menarik perhatianku sebagai seseorang yang juga lebih suka menghabiskan waktu dengan hobi masing-masing daripada bersosialisasi.
Farel, tentu saja, tidak peduli. Dia sudah sibuk berbisik dengan Kasih lewat chat—aku bisa melihat layar ponselnya dari sudut mata.
Jerry masih membaca bukunya.
Dan aku kembali menatap ke luar jendela.
Terima kasih sudah melu
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








