

Hujan baru saja berhenti ketika Adrian Wiratama keluar dari lift di lantai tiga puluh dua.
Lantai itu adalah wilayah yang tidak sembarang orang bisa masuki. Di balik dinding kaca dan pintu kayu berlapis walnut, keputusan bernilai miliaran rupiah dibuat setiap hari. Orang-orang yang bekerja di sana terbiasa berbicara dengan angka, target, risiko, dan keuntungan.
Adrian adalah orang yang berdiri paling tinggi di antara mereka.
Namun pagi itu, langkahnya tidak terdengar seperti langkah seorang pria yang baru saja memenangkan sebuah pertarungan besar.
Ia berjalan tenang menuju ruang kerjanya.
"Selamat pagi, Pak Adrian."
"Selamat pagi."
"Presentasi investor sudah siap, Pak."
"Letakkan di meja saya."
"Rapat dengan komisaris pukul sebelas."
Adrian hanya mengangguk.
Ia tidak pernah menyukai percakapan yang tidak perlu.
Bukan karena sombong.
Ia hanya sudah terlalu sering belajar bahwa sebuah kalimat yang terdengar sederhana bisa menyimpan maksud lain.
Pintu ruang kerjanya terbuka.
Dari balik kaca besar, Jakarta terlihat basah. Jalan-jalan masih dipenuhi kendaraan. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti saksi bisu atas kesibukan kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Adrian meletakkan tas kerjanya.
Di atas meja sudah tersedia kopi hitam tanpa gula.
Ia menatap cangkir itu sebentar.
"Siapa yang membuatkan?"
Marissa, sekretarisnya, yang baru saja masuk membawa beberapa dokumen, tersenyum kecil.
"Saya, Pak."
"Saya tidak meminta."
"Biasanya Bapak minum kopi pagi."
Adrian memandangnya.
"Biasanya bukan berarti selalu."
Senyum Marissa menghilang sedikit.
"Maaf, Pak."
Adrian kemudian duduk.
Ia tahu dirinya terlalu keras.
Tetapi ia tidak berniat meminta maaf.
Dalam hidupnya, terlalu banyak hal buruk dimulai dari kebiasaan menganggap sesuatu sebagai hal biasa.
Ia membuka laptop.
Laporan keuangan Wiratama Group memenuhi layar.
Angka-angka itu seharusnya membuatnya puas.
Perusahaan yang dua belas tahun lalu hampir kehilangan segalanya kini kembali menjadi salah satu kelompok usaha yang paling diperhitungkan.
Bagi orang lain, keberhasilan itu adalah kemenangan.
Bagi Adrian, itu adalah kewajiban.
Ia tidak sedang membangun perusahaan dari nol.
Ia sedang mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas dari keluarganya.
Dua belas tahun.
Adrian masih mengingat angka itu dengan sangat jelas.
Dua belas tahun sejak nama ayahnya menjadi berita.
Dua belas tahun sejak orang-orang yang dahulu datang ke rumah mereka dengan senyum berubah menjadi orang-orang yang berbisik di belakang.
Dua belas tahun sejak perusahaan keluarga mereka hampir runtuh.
Dan dua belas tahun sejak Raymond Wiratama meninggal.
Adrian menutup laptop.
Tatapannya kosong beberapa detik.
Ayah.
Satu kata yang selalu membuat dadanya terasa berat.
Raymond bukan ayah yang sempurna. Ia keras, disiplin, dan sering menuntut Adrian untuk menjadi lebih baik daripada dirinya sendiri.
Tetapi satu hal yang Adrian yakini:
Ayahnya bukan pencuri.
Sayangnya, keyakinan seorang anak tidak cukup untuk mengalahkan dokumen, laporan audit, pemberitaan media, dan keputusan hukum.
Raymond meninggal dengan nama yang tercemar.
Adrian tidak pernah bisa menerima itu.
Ia bangkit dan berjalan menuju jendela.
Di kaca, bayangannya sendiri terlihat.
Seorang pria tiga puluh empat tahun dengan setelan gelap, wajah tenang, dan mata yang menyimpan kelelahan.
Orang-orang menganggapnya dingin.
Mereka salah.
Adrian bukan tidak memiliki perasaan.
Ia hanya belajar menyembunyikannya.
Karena setiap kali ia membuka hati, seseorang selalu menemukan cara untuk menggunakannya.
Ketukan terdengar.
"Masuk."
Dion Mahardika muncul dari balik pintu.
Berbeda dengan karyawan lain, Dion tidak pernah terlihat takut kepada Adrian.
"Rapat investor dimajukan tiga puluh menit."
"Kenapa?"
"Mereka minta kepastian soal proyek Surabaya."
"Berikan."
Dion mengerutkan kening.
"Sesederhana itu?"
"Kalau proyeknya layak, lanjutkan. Kalau tidak, batalkan."
Dion tertawa kecil.
"Kamu masih sama."
Adrian menatapnya.
"Sama bagaimana?"
"Seolah semua masalah di dunia bisa diselesaikan dengan angka."
"Sebagian besar memang begitu."
"Sebagian besar?"
Adrian diam.
Dion memperhatikannya beberapa saat.
"Masih memikirkan ayahmu?"
Adrian tidak langsung menjawab.
"Kenapa bertanya?"
"Karena setiap kali perusahaan mencapai sesuatu, wajahmu justru seperti orang yang sedang kehilangan sesuatu."
Adrian kembali menatap jendela.
"Aku tidak kehilangan apa pun."
Dion tersenyum tipis.
"Kamu kehilangan kepercayaan."
Kalimat itu membuat Adrian menoleh.
Dion tidak melanjutkan.
Beberapa detik berlalu.
"Aku percaya padamu," kata Adrian akhirnya.
Dion mengangkat alis.
"Serius?"
"Jangan membuatku menyesal."
Dion tertawa.
Namun tidak ada yang mereka ketahui pagi itu.
Bahwa beberapa jam kemudian, sebuah sesuatu akan muncul di meja Adrian.
Sesuatu yang akan membuat kepercayaan itu kembali dipertanyakan.
Pukul sepuluh lewat dua belas menit.
Adrian baru selesai membaca laporan ketika Marissa mengetuk pintu.
"Pak."
"Ya?"
"Ada kurir."
"Untuk siapa?"
"Untuk Bapak."
Adrian mengerutkan dahi.
"Dokumen apa?"
"Kurirnya bilang tidak tahu."
"Nama pengirim?"
Marissa menggeleng.
"Tidak ada."
Adrian menatap amplop cokelat yang dibawa Marissa.
Tidak ada logo.
Tidak ada alamat perusahaan.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya namanya yang tertulis dengan tinta hitam.
ADRIAN WIRATAMA
Tulisan tangan.
Bukan cetakan.
Adrian tidak langsung menyentuhnya.
"Letakkan di meja."
Marissa menurut.
"Perlu saya periksa dulu?"
"Tidak."
"Pak, kalau—"
"Aku bilang tidak."
Marissa keluar.
Adrian tetap berdiri.
Matanya tidak lepas dari amplop itu.
Ada sesuatu yang aneh.
Bukan karena bentuknya.
Bukan karena tidak ada pengirim.
Tetapi karena ada satu hal yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia mengenali jenis kertas itu.
Kertas yang sama pernah digunakan ayahnya untuk menulis surat-surat pribadi.
Tidak mungkin.
Adrian menarik napas.
Tangannya perlahan meraih amplop tersebut.
Ia membukanya.
Di dalam hanya terdapat beberapa lembar dokumen lama.
Dan satu kertas putih.
Adrian membaca kalimat di atasnya.
Sekali.
Dua kali.
Tangannya berhenti bergerak.
Wajahnya berubah.
Di atas kertas itu hanya tertulis:
AYAHMU TIDAK BERSALAH.
Adrian duduk perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah pertanyaan yang selama ini ia kubur kembali hidup.
Kalau ayahnya tidak bersalah...
siapa yang menjebaknya?
Adrian membaca kembali kalimat itu.
AYAHMU TIDAK BERSALAH.
Tiga kata yang sederhana, tetapi terasa seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju masa lalu yang selama ini sengaja ia kunci.
Ia mengambil dokumen pertama.
Laporan transaksi.
Tanggalnya dua belas tahun lalu.
Adrian menyipitkan mata ketika melihat beberapa angka yang diberi tanda merah. Ia mengenali rekening perusahaan yang tercantum di sana. Rekening itu memang pernah menjadi bagian dari kasus yang menyeret nama ayahnya.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Tanggal transaksi tidak sesuai dengan laporan resmi yang pernah ia baca.
Adrian mengambil dokumen kedua.
Sebuah salinan surat internal.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan seseorang.
Bukan Raymond.
Adrian berdiri.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Ia meraih telepon.
"Marissa."
"Ya, Pak?"
"Jangan beri tahu siapa pun kalau amplop ini sudah saya terima."
Hening sesaat.
"Termasuk Pak Dion?"
Adrian memandang dokumen di tangannya.
"Terutama Dion."
Ia memutus sambungan.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Adrian merasa berada di sebuah ruangan yang tidak memiliki pintu keluar.
Jika dokumen ini palsu, seseorang sedang mempermainkannya.
Tetapi jika dokumen ini asli, berarti selama dua belas tahun ia telah mempercayai kebohongan.
Adrian kembali menatap tulisan di kertas putih itu.
Di bawah kalimat pertama ternyata ada satu kalimat lain yang baru ia sadari.
JANGAN PERCAYA SIAPA PUN DI PERUSAHAANMU.
Adrian terdiam.
Kemudian terdengar ketukan di pintu.
Tiga kali.
Ia segera menyembunyikan dokumen tersebut.
"Siapa?"
Suara dari balik pintu membuat tubuhnya menegang.
"Ini saya, Pak."
Dion.