
Darah Leluhur Yang Menuntut Nyawa
Kuciing Biru|Bersambung
- Jumlah kata
- 37.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
- Jumlah kata
- 37.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
Sinopsis
Setelah kematian misterius ayahnya, Arka Wiratama kembali ke desa leluhurnya. Di sana, ia melihat Ratih, sosok perempuan misterius yang telah menunggu selama puluhan tahun. Satu per satu anggota keluarganya mulai mati, sementara rahasia kelam tentang ritual kuno perlahan terungkap. Arka akhirnya mengetahui bahwa kutukan keluarganya berasal dari dosa leluhur yang mengorbankan Ratih demi kekuasaan. Namun Ratih bukanlah monster, ia adalah penjaga segel yang menahan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Kini Arka harus menghadapi darah leluhurnya sendiri dan memilih: meneruskan warisan keluarganya atau menghancurkan kutukan yang telah menuntut nyawa selama ratusan tahun.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Kematian Ayah
Arka baru saja menutup sebuah laporan restorasi ketika ponselnya bergetar di atas meja. Satu panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Ia membiarkannya berdering, sampai beberapa kali. Biasanya Arka tidak pernah mengangkat nomor asing. Pekerjaannya sebagai ahli restorasi artefak membuatnya sering menerima panggilan dari museum, kolektor, atau klien yang nomornya belum tersimpan.
Namun entah mengapa, malam itu tangannya bergerak mengambil ponsel.
"Hallo?"
Tidak ada jawaban, Arka mengerutkan kening.
"Hallo?"
Terdengar napas berat seseorang di seberang, napasnya terdengar tergesa. Kemudian sebuah suara laki-laki tua terdengar pelan.
"Arka?"
"Ya."
"Ini Bima."
Arka langsung mengenali suara itu. Bima Adinata, sahabatnya sejak sekolah dulu.
"Kenapa, Bim?"
Beberapa detik berlalu, Bima tidak segera menjawab. Dan justru keheningan itulah yang membuat dada Arka terasa tidak nyaman.
"Arka, ayahmu meninggal."
Suara Bima terdengar lebih rendah. Seketika dunia seakan berhenti. Suara hujan di balik kaca menghilang, suara pendingin ruangan lenyap. Bahkan dengungan kota di bawah sana terasa menjauh.
Arka hanya terdiam. Sedangkan Bima melanjutkan bicaranya.
"Ayahmu, Agung Wiratama. Tadi sore ditemukan meninggal di rumah."
Arka berdiri perlahan dari kursinya.
"Apa?"
"Dokter bilang ayahmu terkena serangan jantung."
Arka menatap kosong ke arah jendela. Ayahnya, lelaki yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah menunjukkan kelemahan.
Serangan jantung?
"Tidak mungkin."
"Arka..."
"Ayah tidak punya penyakit jantung."
"Aku juga tahu, Arka."
"Dia rutin memeriksa kesehatan."
"Aku tahu."
"Dia bahkan tidak minum alkohol."
Suara Bima terdiam sejenak.
"Itulah sebabnya aku meneleponmu."
Arka mengepalkan tangan.
"Apa maksudmu?"
"Aku datang ke Wanasetra setelah mendapat laporan. Ada beberapa hal yang tidak cocok."
"Hal apa?"
Bima menghela napas.
"Lebih baik sekarang kamu pulang dulu."
"Jawab, hal apa?"
"Arka..."
"Jawab pertanyaan aku, Bima."
Nada suara Arka berubah tajam.
Di ujung telepon, Bima kembali diam.
"Ada darah di kamar ayahmu."
Arka membeku.
"Darah?"
"Iya, di lantai kamar terdapat sebuah darah."
"Apakah ayahku terluka, sehingga dia meninggal?"
"Tidak."
"Jadi darah siapa?"
"Itu yang belum kami ketahui."
Arka menatap tangannya sendiri. Entah mengapa jari-jarinya terasa dingin.
"Apa polisi sudah menemukan sesuatu?"
"Belum, mereka belum menemukan apa pun."
"Jadi kenapa kamu terdengar seperti sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Karena ada satu hal lagi."
"Apa?"
Bima menelan ludah.
"Di dinding kamar ayahmu ada simbol."
"Simbol?"
"Seperti lambang kuno."
Arka langsung terdiam, ia telah menghabiskan hampir sepuluh tahun mempelajari artefak, prasasti, simbol ritual, dan peninggalan kebudayaan kuno. Namun satu hal membuatnya semakin gelisah.
"Katakan, simbol seperti apa?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya melalui telepon. Lebih baik kamu pulang sekarang juga."
"Kirim fotonya saja."
"Sudah aku kirim."
Arka melihat layar, sebuah pesan masuk. Lalu ia membuka foto tersebut. Gambar kamar ayahnya muncul. Dinding kayu tua, lemari, tempat tidur. Dan di tengah dinding, tepat di atas kepala ranjang, terdapat sebuah simbol yang digambar menggunakan sesuatu berwarna merah gelap.
Sebuah lingkaran, tiga garis vertikal. Serta bentuk menyerupai mata di tengahnya. Arka mendekatkan wajah ke layar, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengenal simbol itu, atau setidaknya ia merasa pernah melihatnya.
"Arka?"
"Aku akan pulang sekarang juga."
Arka mengambil jaket hitam yang tergantung di kursi.
"Jangan datang sendirian, Arka."
Arka berhenti.
"Apa?"
"Aku serius. Tunggu sampai aku menjemputmu."
"Aku tidak butuh dijemput."
"Arka."
"Aku akan sampai di sana sendiri."
"Jangan..."
Panggilan terputus. Arka memasukkan ponsel ke sakunya, ia tidak tahu mengapa Bima terdengar ketakutan. Bima bukan orang yang mudah takut. Sebagai penyidik kepolisian, lelaki itu telah melihat mayat, pembunuhan, kecelakaan, bahkan kasus-kasus yang membuat orang normal kehilangan tidur.
Jika Bima terdengar seperti itu hanya karena sebuah simbol, maka ada sesuatu yang lebih buruk daripada kematian ayahnya.
Tiga jam kemudian, Arka berada di dalam mobil menuju Wanasetra. Jakarta perlahan menghilang di belakangnya, gedung-gedung tinggi berganti jalan gelap. Jalan raya berganti jalan provinsi, dan akhirnya lampu kota menghilang sepenuhnya.
Arka mengemudi dalam diam. Di kursi sebelahnya terdapat satu tas berisi pakaian, laptop, dan beberapa dokumen pekerjaan. Tidak banyak yang ia bawa, ia tidak tahu berapa lama akan tinggal di desa. Mungkin hanya beberapa hari, mengurus pemakaman, membereskan rumah, lalu kembali ke Jakarta.
Setidaknya begitulah pikirannya. Namun ketika memasuki jalan menuju Wanasetra, radio mobil tiba-tiba mati. Arka menekan tombol. Tidak ada suara sama sekali, ia mencoba lagi. Kemudian layar navigasi berkedip, dan lokasi hilang.
"Bagus."
Arka menghela napas, jalan di depannya semakin sempit. Pepohonan tinggi berdiri di kedua sisi, kabut tipis mulai turun. Ia pernah melewati jalan ini belasan tahun lalu, tetapi ingatannya tentang tempat itu sudah kabur.
Wanasetra adalah tempat yang selalu ingin dilupakan keluarganya, ayahnya hampir tidak pernah membicarakannya. Setiap kali Arka bertanya tentang rumah leluhur, Agung selalu memberikan jawaban yang sama.
"Jangan kembali ke sana."
Dulu Arka menganggapnya hanya bentuk kebencian terhadap masa lalu, sekarang ayahnya telah mati. Dan ia sedang kembali ke tempat yang selama bertahun-tahun dilarang untuk didatangi.
Ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari Bima.
Bima : Jangan tidur di kamar ayahmu.
Arka menatap pesan itu cukup lama, kemudian membalas.
Arka : Kenapa?
Arka meletakkan ponsel. Di depan, sebuah papan kayu tua muncul di antara pepohonan.
SELAMAT DATANG DI WANASETRA
Catnya telah mengelupas, beberapa huruf hampir tidak terlihat. Arka memperlambat mobil, saat melewati papan tersebut, ia melihat sesuatu di kaca spion. Seseorang berdiri di tengah jalan, seorang perempuan.
Arka menginjak rem dan mobil berhenti mendadak. Ia menoleh ke belakang, tetapi jalan kosong.
Arka keluar dari mobil, hanya suara jangkrik dan angin malam. Ia menatap jalan yang baru saja dilewatini, tidak ada jejak kaki, dan tidak ada manusia.
"Tidak mungkin."
Arka kembali masuk ke mobil, tangannya menggenggam setir lebih erat. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya bayangan, karena Arka tidak percaya pada hantu, tidak percaya pada kutukan. Dan tidak percaya bahwa orang mati bisa kembali.
Rumah Wiratama berdiri di ujung desa. Bangunan besar peninggalan masa lalu, dikelilingi pohon-pohon tua dan pagar batu yang mulai ditumbuhi lumut.
Arka mematikan mesin, rumah itu gelap. Hanya satu lampu yang menyala di teras.
Ia turun dari mobil. Untuk beberapa saat, Arka hanya berdiri di depan gerbang.
Ada sesuatu yang aneh dari rumah tersebut, bukan bentuknya. Melainkan perasaan yang muncul ketika ia melihatnya. Seolah rumah itu mengenalinya, seolah rumah itu sudah menunggunya.
Arka menggeleng pelan. "Pikiranmu mulai kacau, Arka."
Ia membuka gerbang, berjalan menuju pintu utama. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, terdengar suara dari dalam rumah.
Sebuah ketukan terdengar tiga kali. Arka membeku, ia langsung menatap pintu. Tapi ketukan itu terdengar lagi. Arka perlahan meraih gagang pintu, dan sebelum ia sempat membukanya, suara seorang perempuan terdengar sangat pelan dari balik pintu.
"Arka..."
Tubuhnya menegang, suara itu terdengar seperti bisikan dari tempat yang sangat jauh. Namun terdengar sangat jelas.
Arka mundur satu langkah.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Arka membuka pintu, ruang utama rumah itu gelap dan tidak ada siapa pun. Namun di lantai kayu tepat di hadapannya, terdapat jejak kaki basah. Jejak itu berasal dari dalam rumah, dan berakhir tepat di depan kakinya.
Arka menatap jejak tersebut, air masih menetes dari ujungnya. Padahal seluruh rumah dalam keadaan kering, ia perlahan mengangkat pandangan. Di ujung lorong, dalam kegelapan, sesuatu bergerak sangat cepat. Seperti bayangan perempuan berambut panjang.
Arka mengejarnya.
"Siapa di sana?!"
Tidak ada jawaban, lalu ia mulai menyalakan lampu. Lorong terlihat begitu kosong. Namun di dinding sebelah kiri, terdapat sebuah lukisan tua yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Lukisan seorang perempuan, mengenakan pakaian ritual. Mahkota bunga, ornamen emas. Wajah cantik dengan tatapan penuh kesedihan. Di bawah lukisan itu tertulis satu nama.
RATIH.
Arka mendekat, dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa dingin menjalar hingga ke tulang belakangnya. Karena wajah perempuan dalam lukisan itu sama persis dengan perempuan yang tadi berdiri di jalan.
Arka menatap lukisan itu tanpa berkedip, kemudian dari lantai atas terdengar suara langkah kaki pelan. Lalu suara seorang perempuan berbisik dari kegelapan.
"Selamat pulang kembali, Arka."
Lampu rumah tiba-tiba langsung padam. Dan dalam kegelapan, sesuatu mulai terdengar tertawa.
Daftar bab
28 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








