

Hujan turun deras malam itu.
Suara air menghantam atap rumah terdengar tanpa henti, bercampur dengan suara angin yang sesekali menggoyangkan pepohonan di halaman.
Di sebuah kamar kecil, seorang pemuda bernama Kai terbaring sendirian.
Tubuhnya lemah.
Napasnya pendek.
Pandangan matanya semakin kabur.
Ia sudah tahu bahwa waktunya tidak banyak.
Kai menatap langit-langit kamar.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada teman.
Hanya suara hujan yang menemani malam terakhirnya.
"Jadi..."
"Ini akhirnya."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Kai berusaha menggerakkan tangan, tetapi tubuhnya tidak lagi mau menurut.
Selama hidupnya, ia bukan orang hebat.
Ia tidak memiliki keluarga kaya.
Tidak pernah menjadi orang terkenal.
Tidak memiliki kemampuan luar biasa.
Ia hanya menjalani hidup seperti kebanyakan orang.
Bekerja.
Makan.
Tidur.
Bangun.
Kemudian bekerja lagi.
Hari-hari berlalu begitu saja sampai suatu malam, tubuhnya menyerah.
Dokter telah mengatakan bahwa kondisinya semakin buruk.
Kai sendiri sudah menyadarinya.
Ia hanya tidak pernah membayangkan kematian akan terasa sesunyi ini.
Ia menarik napas panjang.
Dalam pikirannya muncul berbagai kenangan.
Masa kecil.
Sekolah.
Teman-teman yang perlahan menjauh.
Pekerjaan yang tidak pernah benar-benar ia sukai.
Kesempatan yang pernah ia lewatkan.
Orang-orang yang pernah ia sakiti.
Dan orang-orang yang pernah menyakitinya.
Semuanya muncul seperti potongan gambar yang bergerak cepat.
Kai tersenyum pahit.
"Kalau aku diberi kesempatan..."
Ia berhenti sebentar karena napasnya terasa semakin berat.
"Kalau aku bisa mengulang hidup..."
"Aku tidak akan menjalani semuanya seperti dulu."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bukan karena ia percaya akan mendapatkan kesempatan kedua.
Ia hanya menyesal.
Menyesal karena terlalu banyak hal yang ia biarkan berlalu.
Menyesal karena terlalu sering takut mengambil keputusan.
Menyesal karena selalu berpikir bahwa masih ada hari esok.
Padahal...
Tidak semua orang mendapatkan hari esok.
Kai memejamkan mata.
Suara hujan terdengar semakin jauh.
Denyut jantungnya melemah.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian...
Tidak ada lagi.
---
Gelap.
Itulah hal pertama yang dirasakan Kai.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada tubuh.
Ia seperti melayang di tempat yang tidak memiliki atas ataupun bawah.
"Apakah aku sudah mati?"
Tidak ada jawaban.
Kai mencoba bergerak.
Tidak bisa.
Mencoba membuka mata.
Tidak ada yang berubah.
Ia bahkan tidak yakin dirinya masih memiliki mata.
Kemudian sebuah cahaya muncul dari kejauhan.
Kecil.
Sangat kecil.
Tetapi perlahan semakin besar.
Kai tidak tahu apakah ia bergerak mendekatinya atau cahaya itu yang mendekatinya.
Semakin terang.
Semakin hangat.
Sampai akhirnya...
Cahaya itu menelan seluruh kesadarannya.
---
Tangisan seorang bayi terdengar.
"Waaa!"
"Waaa!"
Suara itu memenuhi sebuah rumah sederhana.
Seorang perempuan muda yang baru saja melahirkan tampak kelelahan.
Namun senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Ia menatap bayi yang berada dalam pelukan seorang perempuan tua.
"Anakku..."
Air mata mengalir di pipinya.
Di samping tempat tidur, seorang lelaki berdiri dengan wajah tegang.
Tangannya masih gemetar.
Ia baru saja menjadi seorang ayah.
Perempuan tua itu tersenyum.
"Selamat."
"Anak laki-laki."
Lelaki itu mendekat.
Ia menatap bayi tersebut cukup lama.
Kemudian mengusap kepalanya dengan satu jari.
"Anakku..."
Ia tersenyum.
"Namamu Kai."
Bayi itu terus menangis.
Tidak ada yang mengetahui bahwa di dalam tubuh kecil tersebut terdapat kesadaran seseorang yang baru saja meninggal.
---
Kai perlahan sadar.
Namun semuanya terasa aneh.
Tubuhnya terasa sangat kecil.
Ia mencoba mengangkat tangan.
Yang muncul di hadapannya justru tangan mungil.
Kai membeku.
"Apa?"
Ia mencoba berbicara.
"Waa..."
Yang keluar hanya suara tangisan bayi.
Panik mulai memenuhi pikirannya.
"Tunggu..."
"Kenapa suaraku seperti ini?"
Ia mencoba menggerakkan kaki.
Tidak terkoordinasi.
Ia mencoba duduk.
Tidak mampu.
Kai semakin bingung.
Kemudian ia mendengar suara perempuan.
"Tenang, Nak."
Suara itu lembut.
Hangat.
Kai membuka matanya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah seorang perempuan muda.
Rambutnya hitam panjang.
Wajahnya pucat karena kelelahan.
Namun senyumnya begitu tulus.
Perempuan itu mengangkat Kai dengan kedua tangan.
"Anakku..."
Kai hanya bisa menatap.
Ia tidak mengenal perempuan ini.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Entah kenapa...
Ia merasa nyaman.
Di belakang perempuan tersebut berdiri seorang lelaki.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Tubuhnya terlihat kuat meskipun pakaian yang dikenakannya sederhana.
Lelaki itu menatap Kai dengan mata penuh kebahagiaan.
"Itu anak kita."
Perempuan itu tersenyum.
"Ya."
"Anak kita."
Kai tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Namun perlahan kesadarannya menerima kenyataan.
Ia telah mati.
Dan sekarang...
Ia lahir kembali.
Di dunia lain.
---
Hari-hari pertama terasa membingungkan.
Kai belum mampu melakukan banyak hal.
Ia hanya bisa tidur, menangis, dan makan.
Namun pikirannya tetap aktif.
Ia mulai memperhatikan lingkungan.
Rumah tempat ia tinggal terbuat dari kayu dan batu.
Tidak ada listrik.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada suara mesin.
Di luar rumah terdapat jalan tanah.
Orang-orang berjalan menggunakan pakaian sederhana.
Beberapa membawa pedang, tombak, atau busur.
Namun yang paling aneh adalah sesuatu yang Kai lihat ketika ayahnya menyalakan tungku.
Lelaki itu hanya mengangkat tangannya.
Api langsung membesar.
Kai menatap dengan mata lebar.
"Itu apa?"
Tidak ada minyak.
Tidak ada pemantik.
Tidak ada kayu tambahan.
Api muncul begitu saja.
Kai mulai memahami.
Dunia ini bukan tempat yang pernah ia kenal.
Beberapa minggu kemudian, ia melihat sesuatu yang semakin membuatnya yakin.
Seorang tetangga terluka ketika berburu.
Lukanya cukup dalam.
Namun seorang perempuan tua hanya menempelkan telapak tangannya pada luka tersebut.
Cahaya lembut muncul.
Beberapa menit kemudian, luka itu berhenti mengeluarkan darah.
Kai diam-diam mengamati dari kejauhan.
"Dunia macam apa ini?"
Semakin ia tumbuh...
Semakin banyak hal yang ia pelajari.
Dunia ini mengenal tenaga batin.
Orang-orang menggunakannya untuk memperkuat tubuh, mengendalikan unsur alam, dan menggunakan berbagai kemampuan.
Tetapi tidak semua orang bisa melakukannya.
Ada yang memiliki bakat.
Ada yang tidak.
Kai belum mengetahui apakah dirinya memiliki kemampuan tersebut.
Ia juga tidak terburu-buru.
Ia masih terlalu kecil.
---
Lima tahun berlalu.
Kai sekarang berusia lima tahun.
Ia tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah desa kecil bernama Desa Wanasari.
Kehidupan mereka sederhana.
Ayahnya, Arman, bekerja sebagai pemburu dan kadang membantu warga membawa barang dari desa ke desa.
Ibunya, Mira, mengurus rumah dan kebun kecil di belakang rumah.
Kai tumbuh menjadi anak yang pendiam.
Bukan karena ia tidak bahagia.
Justru sebaliknya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia memiliki keluarga yang benar-benar menyayanginya.
Setiap pagi, ibunya menyiapkan makanan.
Setiap sore, ayahnya pulang membawa hasil buruan.
Setiap malam, mereka makan bersama.
Hal sederhana yang dahulu tidak pernah ia hargai kini terasa sangat berharga.
Suatu malam, Kai duduk bersama ayahnya di teras.
Langit dipenuhi bintang.
"Ayah."
"Ya?"
"Kenapa Ayah tidak pernah pergi jauh?"
Arman terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum.
"Karena sekarang Ayah punya alasan untuk pulang."
Kai menatapnya.
"Apa?"
Arman mengusap kepala Kai.
"Kau."
Kai tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian, ia melihat sesuatu yang aneh.
Di tangan kiri ayahnya terdapat bekas luka berbentuk bulan sabit.
Kai menunjuknya.
"Itu apa?"
Arman langsung menarik tangannya.
"Tidak ada."
Kai memperhatikan perubahan wajah ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata Arman.
"Ayah takut?"
Arman terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata,
"Suatu hari nanti, mungkin kau akan bertanya tentang masa lalu Ayah."
"Kalau hari itu tiba..."
"Jangan mencari jawabannya sebelum kau cukup kuat."
Kai mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Arman menatap langit.
"Karena beberapa rahasia..."
"...lebih berbahaya daripada yang terlihat."
Kai tidak mengerti.
Namun ia mengingat perkataan itu.
Malam semakin larut.
Arman membawa Kai masuk ke rumah.
Sebelum tidur, Kai menatap telapak tangannya sendiri.
Tidak ada tanda apa pun.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada kekuatan.
Hanya tangan seorang anak kecil.
Namun jauh di dalam tubuhnya...
Sesuatu perlahan bergerak.
Sangat kecil.
Hampir tidak terasa.
Kai belum menyadarinya.
Tetapi sejak kelahirannya kembali...
Tenaga batin di dalam tubuhnya telah mulai terbangun.
Dan bersamaan dengan itu...
Sebuah takdir yang jauh lebih besar perlahan mendekat.
Kai belum mengetahui siapa dirinya di dunia ini.
Belum mengetahui alasan dirinya terlahir kembali.
Belum mengetahui rahasia ayahnya.
Dan belum mengetahui bahwa suatu hari nanti...
namanya akan dikenal di seluruh negeri.
Namun untuk saat ini...
Ia hanya seorang anak berusia lima tahun.
Seorang anak yang mendapatkan kesempatan kedua.
Dan kali ini...
Kai berjanji kepada dirinya sendiri.
Ia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya.