Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Si Miskin Jadi Sultan

Si Miskin Jadi Sultan

pipit nur avita | Bersambung
Jumlah kata
40.9K
Popular
154
Subscribe
55
Novel / Si Miskin Jadi Sultan
Si Miskin Jadi Sultan

Si Miskin Jadi Sultan

pipit nur avita| Bersambung
Jumlah Kata
40.9K
Popular
154
Subscribe
55
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeRajaDunia GaibMisteri
Arif hidup dalam kemiskinan dan setiap hari harus menerima hinaan karena tak punya apa-apa. Bahkan orang yang ia cintai meninggalkannya demi pria kaya. Namun, ketika hidupnya berada di titik terendah, sebuah Sistem Sultan tiba-tiba aktif dan mengubah segalanya. Setiap misi yang diselesaikan memberinya kekayaan, aset, dan kesempatan untuk mengubah nasib. Dalam waktu singkat, Arif yang dulu diremehkan mulai memiliki bisnis, mobil mewah, dan kehidupan yang tak pernah ia bayangkan. Tetapi semakin tinggi ia naik, semakin banyak rahasia masa lalunya yang terungkap. Apakah Arif hanya akan menjadi orang terkaya, atau ternyata dirinya adalah pewaris yang selama ini dicari?
Bab 1 - Sistem Sultan

Hujan turun deras sejak sore ketika Arif berdiri di depan sebuah minimarket kecil. Pakaiannya basah kuyup, sepatu tuanya kemasukan air, sementara ponsel dengan layar retak di tangannya menunjukkan baterai tiga persen.

Ia membuka dompet.

Dua lembar uang sepuluh ribuan.

Hanya itu.

Arif menghela napas panjang. Besok uang kontrakan harus dibayar. Persediaan beras di kamar kos juga hampir habis. Kalau malam ini ia tidak mendapatkan pekerjaan tambahan, ia harus kembali mengencangkan ikat pinggang.

“Entah sampai kapan begini terus,” gumamnya.

Arif berusia dua puluh lima tahun. Sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu, ia hidup sendirian. Ia pernah menjadi pelayan restoran, kurir, pegawai gudang, bahkan pernah membantu di bengkel. Ia tidak malas. Hanya saja, setiap kali mulai mendapatkan sedikit kemajuan, selalu ada kebutuhan yang membuat tabungannya kembali kosong.

Selama ini Arif selalu berusaha menjaga harga dirinya meskipun keadaan sering memaksanya menerima pekerjaan apa pun. Ia pernah tidur hanya dengan makan mi instan, pernah berjalan berjam-jam karena tidak memiliki ongkos, dan pernah ditertawakan ketika melamar pekerjaan yang akhirnya diberikan kepada orang lain. Tetapi ia tidak pernah menyalahkan siapa pun.

Baginya, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Malam itu ia baru pulang dari mengantar pesanan. Karena hujan, ia memutuskan berjalan sebentar sebelum mencari tempat berteduh.

Ketika melewati sebuah restoran mewah, langkahnya berhenti.

Dari balik kaca besar, Arif melihat orang-orang menikmati makan malam dengan pakaian rapi. Lampu restoran memantul di meja yang tertata indah. Hidangan mahal memenuhi meja mereka.

Arif tersenyum getir.

“Suatu hari nanti, aku juga ingin bisa makan tanpa menghitung harga.”

Ia tidak ingin menjadi orang kaya hanya untuk pamer. Ia hanya ingin hidup tenang. Tidak takut saat tanggal jatuh tempo kontrakan tiba. Tidak perlu menolak ajakan teman karena tidak punya uang. Tidak perlu merasa rendah diri setiap kali melihat orang lain hidup lebih baik.

Arif hendak melanjutkan langkah ketika ponselnya tiba-tiba bergetar.

TING!

Layar yang sebelumnya hampir mati mendadak menyala terang.

Arif mengerutkan kening.

Sebuah jendela transparan berwarna biru muncul di depan matanya.

[SISTEM SULTAN BERHASIL DIAKTIFKAN.]

Arif terdiam.

“Apa?”

Ia mengusap matanya.

Tulisan itu tidak hilang.

[Nama: Arif]

[Usia: 25 tahun]

[Status: Miskin]

[Saldo: Rp20.000]

Arif menoleh ke kiri dan kanan.

Tidak ada siapa-siapa yang tampak memperhatikannya.

“Ini… mimpi?”

[Selamat datang, Pengguna.]

[Sistem Sultan bertujuan membantu pengguna meningkatkan kualitas hidup melalui penyelesaian misi.]

Arif menatap tulisan itu dengan wajah bingung.

“Kenapa aku?”

Tidak ada jawaban.

Sebaliknya, sebuah panel baru muncul.

[MISI PEMULA]

[Tugas: Masuk ke restoran terbaik di kawasan ini dan makan satu hidangan menggunakan uang sendiri.]

[Batas waktu: 2 jam.]

[Hadiah: Rp5.000.000]

[Bonus: Paket Bisnis Pemula.]

Mata Arif langsung membesar.

“Lima juta?”

Ia membaca ulang tulisan tersebut.

Benar.

Lima juta rupiah.

Namun kegembiraannya segera berubah menjadi canggung ketika melihat restoran di depannya.

Harga makanan di sana jelas bukan untuk orang yang hanya memiliki dua puluh ribu.

Arif tertawa kecil.

“Kalau ini benar-benar sistem, kamu tahu aku cuma punya dua puluh ribu, kan?”

[Peringatan.]

[Misi akan gagal jika pengguna menyerah sebelum mencoba.]

Arif terdiam.

Kalimat itu terasa seperti sedang berbicara langsung kepada dirinya.

Seumur hidup, ia memang sering merasa kalah sebelum mencoba.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca restoran. Wajah lelah, rambut sedikit berantakan, jaket murah, dan sepatu yang sudah kusam.

“Baiklah.”

Arif mengepalkan tangan.

“Aku coba.”

Ia membuka pintu restoran.

Seorang pelayan segera menghampirinya.

“Selamat malam, Kak. Apakah sudah melakukan reservasi?”

“Belum.”

Pelayan itu melirik pakaian Arif yang basah. Tatapannya sopan, tetapi terlihat ragu.

“Restoran kami memiliki minimum pembelian, Kak.”

“Saya tahu.”

“Apakah Kakak yakin ingin masuk?”

Arif tersenyum.

“Yakin.”

Ia melangkah menuju meja kosong.

Beberapa pengunjung menoleh. Arif berusaha tidak peduli.

Namun dari sudut ruangan terdengar suara tertawa.

“Arif?”

Langkahnya berhenti.

Ia mengenali suara itu.

Dimas.

Teman sekolahnya dahulu.

Dimas berdiri dari meja bersama beberapa temannya. Penampilannya jauh berbeda dari Arif. Kemeja bermerek, jam mahal, dan ponsel terbaru berada di atas meja.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Dimas.

“Makan.”

Dimas melihat Arif dari atas sampai bawah.

“Kamu?”

Salah satu temannya tertawa.

“Serius dia mau makan di sini?”

Dimas ikut tersenyum.

“Arif, kamu tahu harga makanan di restoran ini?”

“Tahu.”

“Punya uang?”

Pertanyaan itu membuat suasana menjadi canggung.

Arif sebenarnya ingin pergi.

Namun panel sistem kembali muncul.

[Jangan takut menjadi orang yang belum berhasil.]

[Takutlah jika kamu berhenti berusaha.]

Arif menarik napas.

“Aku memang belum punya banyak uang.”

Ia menatap Dimas.

“Tapi bukan berarti aku akan selamanya miskin.”

Dimas terdiam beberapa detik, lalu tertawa.

“Masih saja keras kepala.”

Arif memilih tidak menjawab.

Ia duduk dan membuka menu.

Harga makanan termurah membuat jantungnya berdebar.

Rp120.000.

Uangnya hanya Rp20.000.

Arif hampir menutup menu, tetapi sistem berbunyi.

TING!

[Keputusan pengguna diterima.]

[Silakan lanjutkan.]

Arif memanggil pelayan.

“Saya pesan yang ini.”

Pelayan mencatat pesanannya.

Sambil menunggu, Arif duduk dengan tenang. Tangannya sesekali menyentuh ponsel.

Bagaimana jika sistem itu bohong?

Bagaimana jika setelah makan ia tetap tidak punya uang?

Namun ia sudah terlanjur masuk.

Beberapa menit kemudian makanan datang.

Arif menyantapnya perlahan.

Rasanya enak. Tetapi yang membuat dadanya hangat bukan makanan tersebut.

Ia merasa sedang membuka pintu menuju kehidupan baru.

Setelah selesai makan, pelayan datang membawa tagihan.

“Totalnya seratus dua puluh ribu, Kak.”

Arif menatap angka itu.

Jantungnya berdegup kencang.

Ia mengeluarkan ponsel.

Saat pelayan hendak memberikan mesin pembayaran, layar sistem kembali muncul.

[MISI SELESAI.]

[Keberanian pengguna memenuhi persyaratan.]

[Hadiah Rp5.000.000 telah diberikan.]

[Saldo pengguna: Rp5.020.000.]

Ponsel Arif bergetar.

Ia membuka aplikasi perbankannya.

Angka saldo benar-benar berubah.

Rp5.020.000.

Arif membeku.

“Tidak mungkin…”

Ia memeriksa lagi.

Jumlah itu tetap sama.

Sistem kemudian menampilkan pesan baru.

[Pembayaran restoran: Rp120.000.]

[Saldo tersisa: Rp4.900.000.]

Arif menghela napas lega.

Ia akhirnya membayar tagihan.

Dari kejauhan, Dimas yang memperhatikannya sejak tadi tampak terkejut.

“Kamu… punya uang?”

Arif hanya tersenyum.

“Mulai sekarang, aku akan punya.”

Ia berdiri dan berjalan keluar restoran.

Malam itu, ketika melihat saldo rekeningnya berubah, mata Arif sempat berkaca-kaca. Lima juta rupiah memang bukan kekayaan besar bagi sebagian orang, tetapi bagi Arif, jumlah itu terasa seperti kesempatan kedua.

Ia membayangkan membayar kontrakan, membeli kebutuhan dapur, memperbaiki ponsel, lalu menyisihkan uang untuk memulai sesuatu.

Namun Arif segera sadar bahwa hadiah tersebut bukan sekadar uang. Sistem telah memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa ia mampu mengubah hidupnya.

Ia tersenyum.

“Kalau ini memang kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Ia memasukkan ponsel ke saku dan mulai berjalan pulang.

Hujan masih turun, tetapi malam itu terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arif tidak melihat masa depan sebagai sesuatu yang menakutkan.

Di bawah lampu jalan, sistem kembali muncul.

[MISI BERIKUTNYA TERSEDIA BESOK.]

[Persiapkan diri, Pengguna.]

[Perjalanan dari miskin menjadi sultan telah dimulai.]

Arif menatap tulisan itu.

Kemudian sebuah panel terakhir muncul.

[PERINGATAN: Kekayaan hanyalah tahap pertama.]

Arif mengernyit.

“Apa maksudnya?”

Sistem tidak menjawab.

Panel menghilang.

Arif menatap jalan yang basah sambil menggenggam ponselnya.

Ia belum tahu bahwa lima juta rupiah itu hanyalah awal.

Ia juga belum tahu bahwa Sistem Sultan memiliki alasan khusus memilih dirinya.

Dan jauh di tempat lain, seseorang sedang menatap layar komputer yang menampilkan nama Arif.

“Jadi akhirnya dia muncul…”

Tanpa disadari Arif, sejak malam itu kehidupannya tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca