

BAB 1: Gelombang di Pesisir Selatan.
Deru ombak Samudra Hindia menghempas batu karang dengan suara gemuruh yang menggetarkan dada. Di pesisir pantai selatan Nusa Tenggara Timur, angin malam berembus tajam membawa aroma garam dan dingin yang menusuk tulang.
Bapa Markus berdiri di tepi pantai, memandangi gulungan ombak setinggi dua meter yang memutih di tengah kegelapan malam. Tangan tuanya yang kasar dan penuh kapalan memegang erat tali pengikat perahu katir sederhananya.
"Bapa... malam ini angin terlalu kencang. Ombak di luar tanjung sedang gila," tegur Ama Simon, sesama nelayan tua yang berdiri beberapa meter di sampingnya sambil menyulut rokok daun.
Bapa Markus tidak langsung menjawab. Ia menengadah menatap langit malam yang tertutup awan hitam tebal. Bulan mati. Di laut selatan, kombinasi bulan mati dan angin musiman adalah pertanda maut bagi nelayan berkapal kecil seperti mereka.
"Kalau sa tidak melaut malam ini, Simon... besok uang registrasi semester Rian tidak bisa disetor," sahut Bapa Markus dengan suara parau namun tenang.
Simon menggelengkan kepala, prihatin. "Anakmu itu sudah semester akhir, Markus. Kenapa harus paksakan diri sampai taruh nyawa begini? Banyak anak di kampung ini berhenti sekolah dan ikut jadi anak buah kapal ikan di Jawa, hidup mereka tetap jalan."
Bapa Markus membalikkan badan, menatap Simon lurus-lurus. Matanya yang merah karena kurang tidur memancarkan ketegasan yang tak goyah.
"Sa punya bapak dulu cuma bisa wariskan sa dayung kayu ini, Simon. Tapi sa janji sama almarhumah mamanya Rian... anak sa tidak boleh cuma tahu cara baca tanda angin di laut. Dia harus pegang pena, dia harus punya gelar!"
Tanpa menunggu balasan Simon, Bapa Markus mendorong perahu kayu sederhananya membelah buih ombak tepi pantai.
Dinginnya air laut yang menusuk dada tak dirasakannya lagi. Dengan cekatan, ia melompat ke atas perahu, meraih dua bilah dayung, dan mulai menembus kegelapan laut selatan yang siap menelannya kapan saja.
Di rumah panggung bambu yang berjarak dua ratus meter dari pantai, Rian—putra sulungnya—sedang mengetik draf skripsi menggunakan laptop tua pinjaman dari kampus. Tiap kali mendengar suara hempasan ombak yang menghantam tebing karang, jemari Rian di atas kibor terhenti.
Rian menatap foto mendiang ibunya di dinding kayu, lalu menatap laut luas di balik jendela.
Ia tahu betul, setiap rupiah yang membiayai lembar-lembar kertas skripsinya ditaruh di atas taruhan nyawa sang ayah di tengah ombak ganas.