

Namaku Abimana Mahendra. Dunia mengenalku bukan sebagai sosok yang lembut, ramah, atau mudah tersentuh. Bagi mereka yang berhadapan denganku, aku adalah benteng yang tak bisa ditembus, gunung es yang tak mempan dibakar api, dan badai yang menghancurkan siapa saja yang berani melintas. Tatapanku tajam, bak matanya elang yang mengincar mangsa; sikapku dingin, seolah tak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu menggoyahkan pendirianku. Semua orang takluk di hadapanku. Mereka tunduk bukan karena hormat, melainkan karena rasa takut yang mencekik—takut akan kekuatan yang kupunya, takut akan ketegasan yang tak kenal ampun dalam diriku. Namun, siapa pun yang melihatku sekarang tak akan pernah tahu dari mana kekejaman ini bermula. Tak akan pernah mereka bayangkan bahwa sosok yang mereka anggap iblis ini dulunya adalah seorang anak yang penuh kasih sayang. Kekerasan hiduplah yang menempa jiwaku, membakar sisi kemanusiaanku hingga tinggal abu, dan membentukku menjadi pedang tajam yang siap menebas siapa saja. Sebagai anak yatim piatu yang sejak dini sudah dihadapkan pada pahit getirnya perjuangan hidup, aku belajar satu hal: di dunia ini, kelemahan adalah dosa yang harus dibayar dengan nyawa.
Kembali ke masa silam, saat usiaku masih sepuluh tahun, dunia bagiku terasa begitu luas, cerah, dan penuh warna. Waktu itu, aku adalah Abimana yang berbeda—sosok ceria, tulus, dan memiliki hati yang hangat bagai matahari pagi. Lingkungan tempat tinggalku mengenalku sebagai anak yang paling ramah, yang selalu menyapa siapa saja dengan senyum tulus yang tak dibuat-buat. Aku bahagia bisa menolong siapa saja yang sedang kesulitan. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam sekadar duduk di samping para lansia, mendengarkan cerita mereka yang mulai hilang ingatan. Ketulusanku itu membuatku sangat dicintai. Tetangga memujiku, orang tuaku bangga, dan rasanya kedamaian itu akan abadi selamanya. Saat itu aku tak tahu apa artinya kebencian, tak paham makna dendam, dan belum pernah merasakan pahitnya kehilangan yang menyayat hati. Namun, takdir berkata lain. Ketenangan itu perlahan retak, dan celah kecil itu perlahan melebar menjadi jurang yang tak terjembatani.
Suatu sore, suasana lingkungan yang biasanya tenang berubah menjadi mencekam. Ada sesuatu yang terasa janggal. Beberapa mobil berwarna gelap, tanpa plat nomor yang jelas, mulai lalu-lalang di jalanan. Sopir dan penumpangnya memiliki tatapan yang tajam, mengintimidasi, seolah mata mereka menembus tembok rumah warga. Mereka tak sekadar lewat—mereka sedang mengamati, memetakan, dan mencari informasi. Ternyata sasaran mereka bukan lain adalah ayahku dan ayah sahabat dekatku, Bisma Margantara. Ayahku adalah seorang Hakim yang tegas, berwibawa, dan tak pernah membiarkan kejahatan lolos dari jerat hukum. Sedangkan ayah Bisma adalah seorang perwira polisi yang jujur, berani, dan tak kenal kompromi. Kedua sahabat lama ini bekerja sama erat dalam menangani sebuah kasus besar peredaran narkoba yang sedang mengguncang kota—kasus yang membuat para pelakunya merasakan panasnya hukum. Kecemasan mulai merayap di antara warga. Hati kecilku yang masih polos pun ikut merasakan getar ketakutan itu. Namun, beberapa minggu berlalu, suasana kembali hening, seolah badai telah berlalu. Warga mulai menghela napas lega, berpikir bahwa bahaya sudah lewat. Mereka tak tahu, bahwa keheningan itu hanyalah kedok sebelum kehancuran total melanda.
Sebulan berlalu tanpa kejadian berarti, hingga pada suatu sore yang kelam itu, aku mendengar percakapan telepon ayahku. Suaranya bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena ketegangan yang luar biasa. Ia berbicara dengan ayah Bisma. Raut wajah ayah yang biasanya tenang dan penuh keyakinan kini pucat, matanya melotot penuh kekhawatiran, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Segera setelah menutup telepon, ayah menghampiriku dengan langkah cepat namun tertahan. "Kita harus pergi. Sekarang juga," ucap ayah singkat namun penuh penekanan, matanya tak lepas dari jendela rumah. Ibu yang peka terhadap firasat buruk langsung panik, namun ia tahu tak ada waktu untuk bertanya. Tanpa banyak bicara, ia segera berkemas, tangannya gemetar namun bergerak sigap. Aku hanya diam terpaku, berdiri mematung di tengah ruang tamu. Bingung, takut, dan ada rasa sesak yang menjalar di dada—seolah aku tahu bahwa hidupku yang damai ini akan berakhir sore itu juga. Kami diarahkan untuk bergabung dengan keluarga Bisma dan meninggalkan kota secepat mungkin.
Kami melajukan mobil menuju pos satpam untuk bertemu mereka, namun suara gaduh terdengar dari kejauhan. Ayah memutuskan untuk tak berhenti dan langsung menuju rumah Bisma lewat jalan lain. Belum lima menit kami melaju, dentuman keras memecah keheningan sore itu—DOR! Suara tembakan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kami melihat dari kejauhan, sosok-sosok berjas gelap itu telah memblokade jalan. Pak satpam yang berusaha berani melawan mereka akhirnya tumbang, bersimbah darah di aspal. Jeritan ketakutan warga mulai terdengar bersahutan. Kekacauan meledak. Kami memacu mobil secepat kilat menuju rumah Bisma dan segera masuk ke dalam. Di sana, ayahku dan ayah Bisma menyuruh kami—aku, Bisma, dan ibu kami berdua—untuk bersembunyi di ruang bawah tanah yang rahasia. Kami terperangah. Kami baru tahu saat itu bahwa rumah Bisma memiliki ruang persembunyian yang dibangun khusus, dan hanya ayah kami berdua yang mengetahui rahasia ini. Saat pintu besi berat itu tertutup di belakang kami, kami disuguhi pemandangan yang tak terbayangkan: dinding-dinding ruangan itu penuh dengan berkas-berkas bertanda RAHASIA NEGARA, peta tersembunyi, dan peralatan pengawasan canggih. Namun kekaguman itu seketika lenyap saat kami menyadari bahwa di sana juga terdapat layar monitor CCTV yang menampilkan apa yang sedang terjadi di ruang tamu di atas.
Kami melihat ayah kami menyambut orang-orang jahat itu dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Awalnya percakapan berjalan layaknya perdebatan biasa, namun nada bicara mereka cepat memanas. Mereka menuduh, mengancam, hingga akhirnya pemimpin kelompok itu—seorang pria dengan tatapan mata yang kosong dan kejam—mengeluarkan senjata. Tanpa peringatan, ia menembakkan peluru tepat ke arah patung hiasan di samping ayahku. Kaca berhamburan. Getaran itu terasa hingga ke tulang sumsum kami yang bersembunyi. Kami di dalam ruang rahasia hanya bisa menutup mulut erat-erat menahan jeritan, takut terdengar sedikit pun. Namun keberanian ibu kami mengubah jalannya kejadian. Dengan harapan bisa meredakan suasana, mereka berdua keluar dari persembunyian, menyuguhkan teh dan camilan, berpura-pura tak tahu apa-apa. Ayah kami di atas tampak terkejut dan khawatir luar biasa; ia tahu bahwa langkah itu sangat berisiko tinggi.
Benar saja, pemimpin itu langsung mengalihkan perhatiannya. Dengan gerakan kasar ia memberi isyarat kepada anak buahnya. "Tangkap wanita-wanita itu!" perintahnya dingin tanpa emosi. Ayahku langsung bangkit, wajahnya memerah menahan amarah dan keputusasaan yang meluap. Tanpa peduli harga dirinya, ia berlutut di lantai yang kotor itu, merendahkan dirinya demi keselamatan kami. "Kalian menginginkan kami, bukan mereka! Bawa aku, lakukan apa pun pada kami, tapi lepaskan istri kami, Mereka tak bersalah, mereka tak tahu apa-apa!" suaranya bergetar penuh kepedihan yang mendalam. Pemimpin kejam itu hanya tertawa—suara tawa yang terdengar seperti gesekan besi yang kasar dan mengerikan. Ia melangkah mendekat, lalu menyentuhkan moncong pistolnya dengan kasar ke pipi ayahku. "Kesalahan terbesarmu adalah berani menghalangi jalan kami. Kau dan sahabatmu ini merasa hebat bermain hukum? Sekarang lihatlah seberapa berharga nyawa kalian di mata kami. Kami tidak butuh tawanan. Kami hanya butuh pemusnatan total."
Ayah Bisma pun tak tinggal diam, ia merangkak mendekat dengan sisa tenaganya, memohon dengan segala kerendahan hati, "Bunuhlah aku saja, aku yang memimpin penyelidikan ini, akulah otaknya. Ampuni keluarga kami, biarkan mereka pergi!" Namun belas kasihan adalah kata yang tak ada dalam kamus mereka. Di depan mata kami yang terbelalak dan basah oleh air mata yang membeku, mereka melancarkan aksi kejam itu. Tanpa ragu, tanpa rasa bersalah sedikit pun, mereka menyiksa dan menghabisi nyawa ayahku serta ayah Bisma dengan cara yang mengerikan dan sistematis. Ibu kami berteriak histeris namun ditahan paksa oleh tangan-tangan kekar itu. Kami terpaku kaku, menyaksikan sosok pahlawan kami tumbang tak berdaya di lantai yang dingin. Jiwaku remuk saat itu juga. Rasanya seolah setiap detak jantungku dipatahkan satu per satu, dan rasa sakit itu begitu nyata hingga menembus tulang sumsum.
Setelah memastikan mereka tak bernyawa lagi, pemimpin itu kembali berbicara dengan nada datar seolah tak terjadi apa-apa, "Serahkan mayat-mayat ini pada anak buahku. Bawa jauh, tenggelamkan di laut paling dalam agar tak pernah ditemukan. Hapus semua jejak, bersihkan tempat ini sampai tak ada satu pun bukti yang tertinggal. Biarkan tak ada yang tahu mereka pernah ada." Mereka pun pergi begitu saja, melangkah santai, seolah mereka adalah penguasa mutlak di bumi ini. Di balik dinding tebal ruang rahasia itu, dalam kegelapan yang mencekam dan hening, aku memeluk erat sahabatku serta ibu kami yang menangis tergugu dalam diam. Namun di sudut paling dalam diriku, air mata itu tak lagi menetes. Sesuatu yang keras, tajam, dan dingin mulai tumbuh perlahan menggantikan rasa sedih yang melumpuhkan itu. Rasa sakit yang mendalam itu berubah menjadi api yang membakar, menajamkan setiap indera dan tekadku. Saat itulah, di ruang sempit yang menjadi saksi bisu kehancuran hidupku, Abimana yang polos, ramah, dan penuh kasih sayang benar-benar mati dan dikuburkan. Lahirlah sosok baru yang tak akan pernah lagi membiarkan dirinya lemah, tak akan pernah berlutut pada siapa pun, dan bersumpah dalam hati yang paling dalam untuk menaklukkan dunia dengan kekuatan murni—tanpa belas kasihan, tanpa keraguan, dan tak akan berhenti sebelum tujuan tercapai. Jiwa yang abadi telah menempa diriku melalui penderitaan ini. Perjalanan panjangku yang sesungguhnya baru saja dimulai.