
Istri dan anak kontrak seumur hidup
onimaru rascall|Bersambung
- Jumlah kata
- 45.0K
- Popular
- 197
- Subscribe
- 51
- Jumlah kata
- 45.0K
- Popular
- 197
- Subscribe
- 51
Sinopsis
Ardian Gustian 30 tahun seorang direktur yang gagal mengklaim hak warisnya karena syarat sang kakek yang mengharuskan dirinya menikah. padahal Ardian yang merasa istri dan anak-anak itu merepotkan. namun Karena syarat sang kakek akhirnya dia mencari wanita untuk melakukan pernikahan kontrak. hingga dia bertemu dengan seorang wanita bernama Rinda lestari 26 tahun yang merupakan ibu dengan satu anak bernama Elia Restiani 6 tahun. dia mengajaknya untuk melakukan pernikahan kontrak selama setahun. setelah itu mereka akan berpisah setelah kontrak selesai. Namun seiring berjalannya waktu Ardian mulai melihat sisi lain dari ibu dan anak itu yang membuatnya ingin menjaga mereka selamanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Pagi itu, suasana di lantai enam belas Kusuma Group terasa jauh lebih tenang dibandingkan lantai-lantai di bawahnya. Dari balik dinding kaca yang membentang hampir memenuhi salah satu sisi ruangan, Adrian Gustian berdiri sambil menatap gedung-gedung yang terlihat kecil dari ketinggian tersebut. Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara wajahnya tampak muram sejak pagi. Pemandangan kota yang biasanya mampu membuatnya merasa tenang justru tidak memberikan pengaruh apa pun kali ini.
Sebulan telah berlalu sejak kakeknya, Heru Kusuma, pemilik Kusuma Group, meninggal dunia. Namun, kepergian lelaki tua itu justru meninggalkan satu masalah besar yang membuat Adrian tidak bisa menikmati kedudukannya sebagai orang yang selama ini dipercaya memimpin perusahaan.
Kemarin, pembagian warisan telah dilakukan.
Adrian mendapatkan banyak hal dari peninggalan sang kakek, tetapi perusahaan yang selama ini dipimpinnya tidak akan menjadi miliknya jika dia belum menikah.
Syarat yang menurut Adrian benar-benar tidak masuk akal.
Sejak mengetahui keputusan tersebut, Adrian bahkan merasa kesal setiap kali mengingat nama kakeknya. Heru Kusuma sudah berkali-kali memaksanya menikah ketika masih hidup. Setiap kali pembicaraan itu muncul, Adrian selalu berhasil menghindarinya dengan berbagai alasan. Dia tidak pernah menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang perlu dipaksakan dalam hidupnya.
Sekarang, bahkan setelah meninggal, kakeknya masih berhasil membuat hidup Adrian berantakan.
"Orang tua itu benar-benar keras kepala."
Adrian mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan di luar jendela ketika suara ketukan terdengar dari arah pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka dan Rizal muncul dengan beberapa dokumen di tangannya. Sebagai salah satu bawahannya yang cukup lama bekerja bersama Adrian, Rizal sudah terbiasa melihat berbagai macam ekspresi atasannya. Namun, pagi itu Adrian tampak jauh lebih tidak bersemangat daripada biasanya.
Rizal berjalan mendekati meja kerja dan meletakkan dokumen yang dibawanya dengan hati-hati. "Pak Adrian, ini laporan perusahaan untuk beberapa divisi yang harus Bapak periksa. Ada juga laporan keuangan yang perlu segera mendapatkan persetujuan."
Adrian tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri di depan jendela seolah-olah laporan yang baru saja diletakkan Rizal tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Rizal melirik dokumen tersebut, kemudian kembali menatap Adrian. "Pak?"
"Aku sedang tidak ingin melihatnya."
Rizal mengernyit. "Tetapi laporan ini cukup penting."
Adrian akhirnya berbalik. Dia berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah malas, kemudian duduk di kursi besar di belakang meja. Pandangannya jatuh pada tumpukan dokumen di hadapannya, tetapi tangannya sama sekali tidak bergerak untuk mengambil salah satunya.
"Untuk apa aku memeriksanya kalau enam bulan lagi perusahaan ini mungkin bukan milikku?"
Rizal yang sudah mengetahui persoalan warisan tersebut hanya bisa menarik napas. Dia berdiri di depan meja sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kalau begitu, kenapa Bapak tidak menikah saja?"
Adrian langsung mengangkat wajah. Tatapan tajamnya membuat Rizal seketika merasa bahwa mungkin dia baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikatakan.
"Apa?"
Rizal berusaha tetap tenang meskipun dalam hati sudah menyesali ucapannya. "Maksud saya, masalahnya sebenarnya cukup sederhana. Bapak menikah, perusahaan tetap berada di tangan Bapak. Bukankah itu lebih mudah?"
Adrian bersandar pada kursinya. Ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan yang jelas ketika mendengar kata menikah.
"Menurutmu menikah itu mudah?"
"Kalau tujuannya hanya untuk memenuhi syarat warisan, mungkin bisa dibuat sederhana."
"Aku tidak mau."
Jawaban Adrian terdengar begitu cepat sampai Rizal hanya mampu menatapnya.
Adrian kemudian mengambil sebuah pena yang tergeletak di atas meja dan memutarnya di antara jari. "Pernikahan itu merepotkan. Setelah menikah, ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Tinggal bersama, mengurus pasangan, menghadapi keluarga, belum lagi kalau orang itu mulai ikut campur dalam urusanku."
Rizal menghela napas pelan. "Bapak sepertinya terlalu memikirkan sisi buruknya."
"Aku sudah melihat contohnya sejak kecil."
Nada suara Adrian berubah sedikit lebih dingin. Pena yang sejak tadi diputar di tangannya berhenti.
"Orang tuaku menikah karena perjanjian bisnis. Ayahku tidak pernah benar-benar menganggap keberadaanku penting. Ibuku juga pergi setelah aku lahir. Jadi, jangan berharap aku menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang indah."
Rizal terdiam. Dia sebenarnya sudah mengetahui sedikit tentang keluarga Adrian, tetapi jarang sekali mendengar atasannya membicarakan hal tersebut secara langsung.
Adrian mengalihkan pandangan. "Aku lebih nyaman menjalani hubungan tanpa ikatan. Kalau sudah selesai, masing-masing pergi. Tidak ada urusan panjang."
Rizal mengangkat alis. "Hubungan seperti itu juga tidak bisa membantu Bapak mendapatkan perusahaan."
Adrian melirik tajam.
Rizal langsung berdeham dan memperbaiki posisinya. "Saya hanya mengatakan fakta."
"Jadi sekarang kau ingin mengajariku cara mendapatkan perusahaan?"
"Tidak, Pak."
"Bagus."
Rizal menahan senyum. Dia kemudian berpikir beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Kalau pernikahan biasa tidak Bapak sukai, bagaimana dengan pernikahan kontrak?"
Adrian menatapnya tanpa ekspresi.
"Sudah pernah."
Rizal sedikit terkejut. "Bapak sudah pernah mencoba?"
"Sudah."
Adrian menghela napas panjang, lalu meletakkan pena di atas meja. "Aku pernah mencari cara itu. Tetapi isi perjanjiannya terlalu besar. Mereka meminta kompensasi yang tidak masuk akal. Bahkan kalau pernikahan berakhir, aku harus membagi sebagian harta yang kumiliki."
Rizal mulai memahami masalahnya. "Jadi Bapak tidak mau mengambil risiko kehilangan harta."
"Aku tidak bekerja bertahun-tahun untuk memberikan hasilnya kepada orang lain hanya karena pernikahan."
Ucapan itu membuat Rizal terdiam beberapa detik. Dia kemudian mengusap dagunya sambil berpikir.
"Kalau begitu, kita cari wanita yang tidak menuntut harta ketika pernikahan berakhir."
Adrian langsung menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Memangnya ada wanita yang tidak menginginkan kekayaan?"
Rizal membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.
Adrian mengangkat sebelah alis. "Kenapa diam?"
"Karena yang Bapak katakan ada benarnya."
"Setidaknya kau masih memiliki kesadaran."
Rizal kembali berpikir. Kali ini wajahnya tampak lebih serius. "Tetapi bukan berarti semua wanita seperti itu. Mungkin ada seseorang yang bersedia menikah kontrak dengan persyaratan yang jelas dan tidak menuntut apa pun setelah hubungan itu berakhir."
Adrian menyandarkan tubuhnya. "Dan menurutmu aku harus mencari sendiri?"
Rizal tersenyum tipis. "Tidak perlu. Saya bisa membantu mencarinya."
Adrian menatap bawahannya beberapa saat. "Mencari wanita untuk dinikahi?"
"Kurang lebih begitu."
"Rizal."
"Ya, Pak?"
"Sejak kapan pekerjaanmu termasuk mencarikan istri untukku?"
Rizal terkekeh kecil. "Sejak perusahaan Bapak terancam dibagi kepada kerabat kalau Bapak tetap keras kepala."
Wajah Adrian langsung berubah.
Rizal yang melihat reaksi tersebut segera menahan tawanya. Dia tahu persoalan ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kalau Adrian tidak menikah dalam waktu enam bulan, perusahaan yang sudah bertahun-tahun dia pimpin akan dibagi di antara kerabat keluarga Kusuma sesuai keputusan warisan.
"Baiklah," kata Adrian akhirnya. "Kalau kau memang mau mencarinya, cari seseorang yang tidak menuntut harta."
Rizal mengangguk.
"Dan satu lagi."
Rizal kembali memperhatikan atasannya. "Apa, Pak?"
"Dia harus cantik."
Rizal terdiam sesaat.
Adrian memandangnya serius. "Kenapa?"
"Tidak ada, Pak. Saya hanya sedang berpikir bahwa syaratnya semakin banyak."
"Kalau keluargaku melihatku tiba-tiba menikah dengan wanita yang tidak menarik, mereka tidak akan percaya bahwa pernikahan itu sungguhan."
"Jadi harus cantik supaya keluarga Bapak percaya?"
"Setidaknya cukup untuk membuat mereka tidak curiga."
Rizal mengangguk pelan. "Saya mengerti."
"Jangan mencari wanita yang hanya menginginkan uangku."
"Saya akan berusaha."
"Dia juga harus bisa menjaga sikap ketika bertemu keluargaku."
Rizal kembali mengangguk. "Baik."
"Dan jangan membawa orang yang bermasalah."
Kali ini Rizal menghela napas. "Pak, kalau persyaratannya sebanyak ini, sepertinya mencari istri untuk Bapak lebih sulit daripada mencari direktur baru."
Adrian menatapnya dingin.
Rizal langsung mengubah ekspresinya. "Saya akan segera mencarinya."
"Bagus."
Rizal mengambil kembali beberapa dokumen yang tadi diletakkannya di atas meja, tetapi sebelum berbalik dia sempat menatap Adrian.
"Kalau saya menemukan orang yang sesuai, saya akan membawa informasinya kepada Bapak."
Adrian mengangguk singkat. "Jangan buang waktuku."
"Baik, Pak."
Rizal kemudian berjalan menuju pintu. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika suara Adrian kembali terdengar.
"Rizal."
Dia menoleh. "Ya?"
"Enam bulan."
Rizal memahami maksudnya. "Saya tahu."
"Kalau dalam enam bulan aku belum menikah, perusahaan ini akan dibagi."
"Saya tidak akan melupakan hal itu."
Rizal akhirnya keluar dan menutup pintu ruangan tersebut. Begitu berada di luar, dia berdiri beberapa saat sambil memandangi pintu ruang direktur dengan ekspresi sulit percaya.
Mencari calon istri untuk atasannya.
Dari sekian banyak pekerjaan yang pernah dia lakukan, ternyata inilah tugas paling aneh yang pernah diberikan Adrian kepadanya.
Di dalam ruangan, Adrian kembali sendirian. Suasana mendadak sunyi setelah Rizal pergi. Dia menatap dokumen yang sejak tadi dibiarkan tergeletak di atas meja.
Perlahan, Adrian mengambil salah satunya.
Wajahnya masih terlihat tidak senang. Bagaimanapun, dia tetap tidak bisa menerima keputusan kakeknya. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia bantah.
Perusahaan itu memang belum menjadi miliknya.
Akan tetapi, selama bertahun-tahun dia bekerja keras untuk membangun perusahaan tersebut. Dia menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membuat Kusuma Group berkembang di bawah kepemimpinannya. Dia tidak akan membiarkan semua kerja keras itu berakhir hanya karena dirinya menolak menikah.
Adrian membuka laporan pertama dan mulai membacanya.
"Enam bulan."
Dia mengucapkannya pelan sambil menatap angka-angka dalam laporan.
Waktu enam bulan mungkin terdengar panjang bagi orang lain. Namun bagi Adrian, waktu tersebut terasa begitu singkat.
Jika sampai batas waktu itu dia belum menikah, perusahaan yang selama ini dia perjuangkan akan dibagi di antara kerabatnya.
Dan Adrian tidak berniat membiarkan hal tersebut terjadi.
Untuk pertama kalinya sejak menerima keputusan warisan, dia mulai mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini paling dia hindari.
Menikah.
Bukan karena cinta.
Bukan karena ingin membangun keluarga.
Bukan pula karena dirinya tiba-tiba berubah pikiran mengenai pernikahan.
Dia hanya membutuhkan seorang wanita yang bersedia menjadi istrinya selama waktu yang diperlukan, tanpa menuntut kekayaan dan tanpa mengusik kehidupannya setelah semuanya selesai.
Sebuah pernikahan kontrak.
Adrian menghela napas panjang kemudian mengambil dokumen berikutnya. Tatapannya kembali fokus pada pekerjaan yang menumpuk di hadapannya.
"Kalau memang harus menikah, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
Kali ini tangannya mulai bergerak lebih cepat membalik halaman laporan. Bagaimanapun, selama enam bulan ke depan perusahaan itu masih berada dalam kendalinya.
Dan Adrian Gustian tidak akan membiarkan siapa pun mengambil hasil kerja kerasnya begitu saja.
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








