

❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Pelatuk itu ditarik tanpa keraguan.
Menembus dada.
Mengakhiri puluhan tahun manipulasi dalam satu tarikan napas berdarah.
Bau mesiu menyengat merobek udara malam yang sebelumnya dipenuhi aroma parfum mahal dan keringat gairah. Victor terbatuk, memuntahkan cairan anyir yang menodai seprai sutra putih di bawahnya.
Di sudut ruangan, seorang wanita cantik menjerit histeris sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.
Namun, mata Victor tidak tertuju pada wanita yang baru saja mengerang nikmat di bawah kungkungannya beberapa menit lalu itu. Tatapannya terkunci pada sosok pria di ambang pintu. Suami dari wanita itu. Pria bodoh, naif, dan tidak berdaya yang entah bagaimana berhasil mendapatkan sebuah revolver murahan.
Victor ingin tertawa, tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara gemericik darah.
{ Sungguh akhir yang ironis. Enam puluh tahun membangun kerajaan bisnis, menghancurkan musuh dengan intrik dan manipulasi tanpa celah, hanya untuk mati di tangan seorang amatir yang cemburu buta. }
Pandangan Victor mulai meredup. Rasa sakit yang membakar di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang absolut.
Kegelapan menelannya bulat-bulat.
Sebuah tirai hitam turun, menutup panggung pementasan hidup seorang pria bernama Victor, sang predator kelas atas.
Tidak ada cahaya di ujung terowongan. Tidak ada malaikat atau iblis yang menyambutnya. Hanya kekosongan.
Hingga akhirnya... sebuah sentakan keras menariknya kembali.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Victor terkesiap hebat.
Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit berjamur yang diterangi lampu neon berkedip-kedip. Ia menarik napas panjang, rakus meraup udara seperti orang yang baru saja tenggelam di dasar lautan.
Tangan kanannya secara refleks mencengkeram dada.
Tidak ada lubang. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit yang merobek jantungnya. Hanya kaus oblong usang yang terasa kasar di kulitnya.
Victor mengerjap, mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Ini bukan penthouse mewahnya. Ini bukan kamar hotel bintang lima tempat ia meregang nyawa.
Aroma apak dari karpet lembap, campuran bau mi instan sisa, dan udara pengap langsung menyerang indra penciumannya. Ruangan ini sempit, suram, dan memancarkan aura keputusasaan yang sangat kental.
{ Tempat kumuh macam apa ini? Neraka ternyata memiliki standar interior yang sangat buruk. }
Victor memaksa dirinya duduk di tepi kasur pegas yang berderit keras. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk pelipisnya bak ribuan jarum tak kasat mata.
Kemudian, memori itu datang menghantamnya bagai gelombang tsunami.
Bukan memorinya. Bukan kenangan tentang rapat dewan direksi, negosiasi miliaran dolar, atau deretan wanita kelas atas yang pernah ia tiduri.
Ini adalah kenangan milik orang lain.
Kenangan yang asing, menyedihkan, dan dipenuhi oleh rasa takut yang menjijikkan.
Nama: Adrian.
Usia: Dua puluh dua tahun.
Status: Mahasiswa Universitas Veridia.
Karakter: Penakut, lemah, penyendiri, dan... mangsa.
Victor memejamkan mata, membiarkan transfer memori itu meresap ke dalam otaknya. Ia melihat kilasan-kilasan hidup Adrian. Pemuda malang yang menjadi samsak hidup bagi para penguasa kampus. Pemuda yang menundukkan kepala saat di lorong, yang menyerahkan tugasnya tanpa melawan, yang gemetar hanya karena sebuah tatapan tajam.
Bibir Victor berkedut.
Ia, seorang pria berusia enam puluh tahun yang terbiasa mengendalikan orang lain seperti bidak catur, kini terperangkap di dalam cangkang seorang pecundang yang bahkan tidak berani menatap bayangannya sendiri.
{ Lelucon kosmik yang sangat buruk. Tapi... setidaknya aku masih bernapas. }
Dengan sisa kekuatan yang ada, Victor—yang kini berada di dalam tubuh Adrian—berdiri. Keseimbangannya sedikit goyah. Ia berjalan terseok melewati tumpukan buku teks dan pakaian kotor yang berserakan di lantai, menuju satu-satunya pintu usang yang tampaknya adalah kamar mandi.
Lampu kamar mandi berkedip sejenak sebelum menyala terang, memperlihatkan sebuah cermin kotor yang dihiasi bercak air mengering.
Adrian menatap pantulan di cermin itu.
Terlepas dari rambut hitam yang berantakan, kantung mata yang menghitam, dan postur tubuh yang membungkuk tidak percaya diri... pria di dalam cermin itu tampan. Sangat tampan.
Rahangnya tegas dan bersudut. Hidungnya mancung dengan proporsi yang sempurna. Tulang pipinya simetris, membingkai sepasang mata cokelat gelap yang menyimpan kedalaman tersembunyi.
Victor menyentuh wajah barunya. Kulitnya kencang, tanpa kerutan yang biasa ia lihat di wajah lamanya. Ini adalah tubuh pemuda berusia dua puluh dua tahun yang sedang berada di puncak vitalitas.
{ Pemuda bodoh. Dengan wajah seperti ini, dia seharusnya bisa menundukkan separuh populasi wanita di kampus. Kenapa dia menyembunyikannya di balik postur cacing tanah ini? }
Adrian menegakkan punggungnya. Tulang-tulangnya bergemeretak pelan. Seketika, tinggi badannya bertambah beberapa sentimeter, memancarkan aura yang sama sekali berbeda dari Adrian yang asli.
Namun, kejutan sesungguhnya belum berakhir.
Merasa pakaiannya terlalu lengket oleh keringat dingin, Adrian melepaskan kaus usangnya, membuangnya ke lantai. Ia memperhatikan otot-otot perut dan dadanya. Tidak terlalu berotot, tapi sangat proporsional. Tubuh ini memiliki potensi atletis yang tidak pernah diasah.
Lalu, ia membuka celana training kusam yang menempel di pinggangnya, berniat untuk mandi dan membersihkan sisa-sisa kepanikan.
Begitu celana itu jatuh ke lantai, gerakan Adrian terhenti total.
Matanya melebar, menatap lurus ke bawah dengan ekspresi ketidakpercayaan yang murni.
Selama puluhan tahun hidup sebagai Victor, ia memiliki segalanya. Uang, kekuasaan, dan pesona. Namun di kehidupan lamanya, ia hanya memiliki 'aset' dengan ukuran yang rata-rata. Ia menutupi kekurangan itu dengan kelihaian lidah dan teknik ranjangnya yang mematikan.
Tapi tubuh baru ini...
Adrian menelan ludah. Ia menghitung secara kasat mata, otak analitisnya bekerja otomatis.
{ Dua puluh tiga sentimeter. Mungkin lebih saat bereaksi penuh. Ketebalannya juga... tidak masuk akal untuk ukuran pria Asia. }
Suara tawa serak, rendah, dan dingin tiba-tiba meluncur dari bibir Adrian. Tawa itu bergema di dalam kamar mandi yang sempit, terdengar seperti dengkuran seekor singa yang baru saja menemukan ladang pembantaian yang segar.
Ia menekan dahinya ke cermin yang dingin. Tawanya mereda, berganti dengan seringai licik yang membuat wajah malaikat pemuda itu tampak seperti iblis yang menyamar.
{ Tragedi macam apa ini? Pecundang ini... dia memiliki senjata pemusnah massal di selangkangannya, memiliki potensi fisik yang luar biasa, tapi membiarkan dirinya diinjak-injak seperti serangga? Dia hidup seperti domba, padahal dia dilahirkan dengan taring serigala! }
Victor mengusap wajahnya perlahan, membiarkan sisa-sisa air membasahi rambutnya ke belakang.
Bagus.
Sangat bagus.
Tubuh ini adalah kanvas kosong yang sempurna. Sebuah senjata rahasia yang tersembunyi di balik reputasi yang hancur.
Tiba-tiba, rasa sakit di kepalanya kembali berdenyut kecil. Ingatan-ingatan Adrian yang lebih kelam mulai bermunculan ke permukaan, menuntut perhatian.
Ingatan itu tidak berisi tentang pria-pria berotot yang memukulinya, melainkan tentang mereka.
Tiga sosok wanita.
Tiga ratu angkuh yang menguasai hierarki Universitas Veridia. Tiga wanita yang telah membuat hidup Adrian sebelumnya seperti neraka tanpa ujung.
Bianca. Gadis pewaris takhta perusahaan raksasa. Arogan, sadis, dan memandang pria miskin seperti kotoran di bawah sol sepatu mahalnya. Dialah yang pertama kali menargetkan Adrian hanya karena pemuda itu menumpahkan kopi di dekat sepatunya.
Clara. Sang algojo. Kapten tim anggar yang mematikan. Dia tidak menggunakan kata-kata, dia menggunakan kekerasan. Memar-memar tersembunyi di punggung dan rusuk tubuh ini adalah karya seni dari tongkat pemukul Clara yang haus akan dominasi fisik.
Diana. Sang otak. Dingin, tanpa ekspresi, dan manipulatif. Dia tidak menyentuh Adrian secara fisik, tapi dia meretas akun-akun Adrian, menyebarkan rumor menjijikkan, dan memastikan tidak ada satu orang pun di kampus yang mau berteman dengan pemuda malang ini.
Di dalam memori Adrian yang asli, kemunculan tiga wajah itu memicu teror, keringat dingin, dan keinginan untuk mati saja.
Namun, bagi Victor yang kini mengendalikan cangkang ini?
Mata cokelat gelap Adrian berkilat berbahaya di bawah temaram lampu kamar mandi. Denyut nadinya justru berdebar lebih cepat. Adrenalin purba yang sudah lama tertidur di dalam jiwa rentanya kini meledak bangun.
Itu bukan rasa takut. Itu adalah gairah berburu.
{ Tiga wanita angkuh. Tiga monster kecil yang terbiasa bermain-main dengan mangsa yang lemah. }
Adrian mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinjunya perlahan hingga buku-buku jarinya memutih. Otot-otot lengannya menegang.
{ Kalian telah menghancurkan bocah malang ini. Kalian pikir kalian adalah pemangsa di puncak rantai makanan. Tapi kalian tidak tahu... }
Adrian menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Posturnya kini tegak sempurna. Sorot matanya sedingin es di kutub, tajam, dan penuh dengan janji kehancuran. Ia menyeringai, membiarkan ingatan tentang tiga wanita yang menyiksa tubuh ini mengalir masuk bak racun yang lezat.
{ ...Iblis yang sesungguhnya baru saja mengambil alih cangkang ini. Mari kita lihat, siapa yang akan berlutut menangis meminta ampun pada akhirnya. }