Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jenius Gila

Jenius Gila

Little Pixy | Bersambung
Jumlah kata
40.1K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Jenius Gila
Jenius Gila

Jenius Gila

Little Pixy| Bersambung
Jumlah Kata
40.1K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
FantasiIsekaiBalas DendamPria DominanIdentitas Rahasia
Hidup di sebuah kota dimana kekuatan adalah hukum, membuat Keter menjadi salah satu orang paling gila di Liqueur. Dia dikenal sebagai sang Solver, tapi identitasnya tak sesederhana itu. Ketika identitas aslinya terungkap, Keter menjadi seorang buronan dan terlibat pertempuran sengit yang akhirnya merenggut nyawanya. Namun langit seakan berbelas kasih, memberinya kesempatan untuk hidup kembali dan membalaskan dendamnya. Akankah ia mampu melawan Sang Penguasa?
Bab 1

Kota tanpa hukum, Liqueur.

Tempat kelahiran Keter ini memiliki lingkungan yang sangat keras dan ekstrem. Siapa saja bebas masuk, tetapi tidak mungkin untuk keluar. Udara di sini tipis, meskipun gravitasinya dua kali lebih kuat dibandingkan dunia luar.

Orang seperti apa yang secara sukarela masuk ke kota yang begitu buruk? Tentu saja para penjahat kelas kakap yang akan dijatuhi hukuman mati jika tertangkap, orang-orang psikopat yang diasingkan dari masyarakat, dan kanibal yang kejam.

Tentu saja, bukan berarti tidak ada orang berakal sehat sama sekali di sini. Ada juga orang-orang seperti kreditor yang melarikan diri dari penagih hutang, orang-orang yang terlibat dalam dendam dan datang untuk bersembunyi, serta mereka yang tidak stabil secara mental.

Inilah Liqueur, tempat di mana orang-orang semacam ini dianggap normal, dan di sinilah Keter dilahirkan.

Sama seperti makhluk yang terlahir di laut secara alami memiliki selaput dan insang, serta mereka yang lahir di tebing memiliki sayap, Keter beradaptasi untuk bertahan hidup di Liqueur, sebuah kota bagi orang-orang gila.

Dia menjadi gila demi menghadapi orang-orang gila, dan dia memilih untuk menjadi pemburu daripada menjadi mangsa. Setidaknya, itulah yang dia klaim. Beberapa orang mengatakan dia memang sudah gila sejak awal dan hanya membuat alasan. Tapi sebenarnya, mungkin itu benar, karena Keter sangat menikmati cara hidupnya.

Di masa kecilnya, Keter sering dipukuli atau ditipu karena dia lemah dan tidak kompeten, tetapi sekarang keadaannya berbalik—dialah yang memukuli orang lain. Namun, dia tidak menipu orang; dia memiliki bisnis yang sah. Tidak seperti penduduk Liqueur pada umumnya yang menyelesaikan segalanya dengan kekerasan, Keter memiliki pekerjaan yang sah sebagai seorang fixer. Dia menyelesaikan masalah dengan akal, logika, dan sedikit saja kekerasan.

Sederhananya, Keter tidak kesulitan mencari makan di kota tanpa hukum ini, dan dia juga tidak punya banyak lawan. Meskipun demikian, jika dia harus memilih satu hal yang mengecewakan dalam hidupnya...

"Aku sangat ingin pergi ke luar."

Tidak peduli seberapa nyaman Keter hidup dan seberapa kuat dirinya, tempat ini tetaplah Liqueur. Tentu saja ini adalah kota yang besar, tetapi tinggal di sini selama delapan tahun membuat tempat ini terasa kecil.

Namun, dia tidak bisa pergi.

Sejarah Liqueur sudah berjalan ratusan tahun, dan selama kurun waktu tersebut tidak ada satu pun catatan tentang orang yang berhasil keluar.

Keter juga pernah mencoba untuk pergi tetapi gagal total.

Kabut abu-abu menyelimuti pinggiran kota Liqueur, dan kabut inilah yang menjadi tembok kota tersebut. Kabut itu hanyalah kabut biasa ketika seseorang masuk dari luar. Namun, saat mereka mencoba pergi—baik itu seorang Master Pedang maupun Penyihir Agung—kabut tersebut membuat mereka berputar kembali ke tempat asal mereka, tidak peduli apa pun yang mereka lakukan.

Keter pada dasarnya telah menyerah untuk pergi. Sampai suatu hari, seseorang dari dunia luar berteriak bahwa mereka sedang mencarinya.

Liqueur adalah dunia yang sangat tertutup. Karena itulah, orang luar selalu langsung dikenali, tidak peduli seberapa baik mereka menyamar.

Secara kebetulan, Keter melihat pendatang baru yang masuk ke Liqueur. Adalah hal yang lumrah jika ia tidak merasa terlalu tertarik, mengingat ia sudah melihatnya ratusan kali, namun kali ini ia menatap pendatang baru itu dengan penuh minat.

Seorang pria berusia pertengahan dua puluhan. Tubuhnya sehat dan terlatih dengan baik. Dilihat dari cara jalannya yang disiplin, dia adalah seorang ksatria. Meskipun pendatang baru itu mengenakan jubah besar yang longgar, Keter mampu mengenali detail dasar tentang dirinya.

Menarik. Dia tidak datang ke sini untuk melarikan diri dari sesuatu, dia datang ke sini dengan tujuan tertentu.

Pergi ke suatu tempat demi tujuan tertentu bukanlah hal yang istimewa, tetapi tempat ini adalah Liqueur. Ini adalah misi yang tidak akan pernah bisa berhasil. Hal itu sangat menarik.

Keter mengikuti ksatria itu dan mengawasinya. Sudah jelas bahwa pendatang baru itu tidak akan menjawab jika ia bertanya, dan yang terpenting, ia tidak perlu bersusah payah melakukannya; orang-orang Liqueur tidak memiliki kesabaran seperti Keter.

"Kekekeke."

"Hehehe."

Dalam beberapa langkah saja, ksatria itu langsung dikerumuni oleh orang-orang Liqueur dalam sekejap. Semua orang memegang senjata, jadi tidak ada ruang untuk salah mengira mereka sebagai penduduk lokal ramah yang ingin menunjukkan arah. Ksatria itu dengan cepat menarik pedangnya, seolah-olah ia sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi.

Syurrr!

Aura biru yang tajam terpancar dari bilah pedang ksatria itu—kekuatan yang bisa melukai orang biasa secara fatal hanya dengan goresan belaka; kekuatan yang hanya bisa diimpikan oleh para preman kelas teri. Itu adalah Aura Blade, bilah pedang destruktif yang mampu memotong baja seperti kertas.

Di dunia luar, itu adalah kekuatan yang hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang terpilih. Bahkan para preman terburuk pun akan takut pada kekuatan tersebut, tetapi orang-orang Liqueur tidak mundur sama sekali. Itu karena aura adalah pengetahuan dasar di Liqueur.

Ssssshh!

Aura mulai terpancar dari senjata orang-orang Liqueur. Orang-orang ini, yang bertahan hidup di lingkungan yang keras, secara alami dapat menggunakan aura tanpa ada yang mengajari mereka. Aura itu meletup-letup seperti air yang mendidih alih-alih terbentuk rapi seperti aura seorang ksatria, tetapi hal itu justru membuatnya terlihat semakin mengerikan.

Ekspresi sang ksatria langsung menggelap dengan cepat, seolah-olah ia tidak menyangka bahwa semua orang Liqueur bisa menggunakan aura. Orang-orang Liqueur perlahan mendesak ksatria itu seolah-olah mereka sedang mempermainkan mangsa mereka. Kemudian, ksatria itu membuka mulutnya dengan tenang.

"Sebelum kita bertarung, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian."

Suaranya terdengar seolah-olah ia telah siap menghadapi kematian, tetapi itu tidak cukup untuk menghentikan orang-orang Liqueur. Ksatria itu melanjutkan perkataannya seolah-olah ia memang tidak mengharapkan jawaban dari mereka sejak awal.

"Keter. Apa yang harus kulakukan untuk bisa menemuinya?"

Saat itulah orang-orang Liqueur berhenti bergerak. Perlahan-lahan, wajah mereka berkerut membentuk kerutan yang garang.

"Sial... Apakah ini satu lagi lelucon Keter?"

"Pantas saja ada pendatang baru yang berjalan masuk sendirian. Mana mungkin hal seperti itu terjadi!"

"Keparat! Kau pikir kami akan tertipu lagi, Keter?! Tidak untuk yang ke empat kalinya!"

Beberapa saat yang lalu, orang-orang Liqueur itu masih tertawa dengan penuh ancaman, tetapi sekarang, mereka berteriak penuh amarah. Sang ksatria tidak mengerti apa yang mereka katakan, sehingga ia dibuat terkejut oleh perubahan situasi yang begitu mendadak.

Saat ia menatap punggung orang-orang Liqueur yang beranjak pergi, ia berteriak, "Tolong tunggu! Aku akan membayar kalian! Tolong beri tahu aku di mana aku bisa menemukan Keter!"

Namun, semua yang ia dengar sebagai balasan hanyalah umpatan.

"Kenapa kau tidak bertanya pada ibumu saja?!"

Sang ksatria ditinggalkan seorang diri, tetapi ia terus menginterogasi orang-orang tanpa menyerah.

Berbagai pikiran berkecamuk di benak Keter. Bagaimana mungkin seorang ksatria dari dunia luar mengetahui keberadaannya? Itu tidak mungkin. Tidak masuk akal bagi seorang orang luar untuk mengenalnya; ia lahir di Liqueur, dan tidak mungkin ada yang bisa keluar dari tempat ini. Namun, hal yang mustahil itu kini telah terjadi.

Dan pertanyaan yang paling penting adalah mengapa ksatria ini mencari Keter. Apa sebenarnya yang ia inginkan dari Keter hingga rela tinggal di sini selamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya gila, tetapi Keter memiliki kesabaran terbesar di seluruh Liqueur, jadi ia bisa menunggu sedikit lebih lama lagi. Lagi pula, ini bisa saja sebuah jebakan. Satu-satunya hal yang ia rugikan dengan menunggu hanyalah sedikit waktu.

Maka, Keter terus mengamati sang ksatria hingga malam tiba.

"Uhuk..."

Di tengah malam, ksatria itu terjatuh sambil memegangi perutnya. Ia telah disergap saat sedang mencoba mencari tempat tidur malam itu.

"Hehe. Tidak ada seorang pun yang akan menyentuhmu karena mereka takut pada Keter, tapi aku berbeda."

Ksatria itu telah ditusuk oleh seorang anak laki-laki. Anak yang dikenal sebagai Black Shadow ini adalah seorang pembunuh bayaran kelas satu. Ratusan orang telah mati di tangannya.

Tepat saat Black Shadow hendak menghabisi sang ksatria, ksatria itu memejamkan mata dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Maafkan aku, Tuan. Aku gagal menyelesaikan misi ini. Ini tidak bisa dimaafkan."

Krek!

Itu adalah suara tengkorak yang hancur berkeping-keping—bukan kepala sang ksatria, melainkan kepala Black Shadow.

Mata ungu Keter bersinar di dalam kegelapan.

Dengan bayangan yang mengelilinginya seperti jubah, Keter berbisik kepada tubuh Black Shadow, "Terima kasih karena telah meremehkanku."

Berkat Black Shadow, Keter merasa yakin: ksatria yang jatuh pingsan di hadapannya itu tidak sedang memasang jebakan. Ia benar-benar seorang ksatria dari dunia luar, dan ia datang ke sini untuk menemui Keter.

Lanjut membaca
Lanjut membaca