
- Jumlah kata
- 106.6K
- Popular
- 150
- Subscribe
- 24
Sinopsis
Tiga tahun setelah kematian adiknya, Arga masih menolak percaya bahwa kecelakaan itu hanyalah akibat kelalaian seorang sopir truk. Sebuah tugas jurnalistik sederhana membawanya pada Bram Aditama, pengacara muda dari keluarga bisnis berpengaruh. Nama itu terhubung dengan saksi yang menghilang, berkas perkara yang dikosongkan, aliran dana rahasia, dan sebuah mobil sport merah yang terlihat pada malam kematian Mita. Di tengah penyelidikannya, Arga bertemu Saskia—arsitek berbakat dengan senyum yang perlahan menghidupkan kembali hatinya. Namun, ketika foto lama memperlihatkan Saskia berada di lingkaran keluarga Aditama, cinta dan kecurigaan mulai berjalan di jalur yang sama. Semakin dekat Arga pada kebenaran, semakin besar harga yang harus dibayar. Sebab, di balik kematian Mita tersembunyi sebuah jaringan yang mampu membeli hukum, menghapus bukti, dan membungkam siapa pun yang berani membuka jejak mereka. Termasuk Arga dan wanita yang mulai dicintainya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Mobil Merah
Mobil sport merah itu seharusnya tidak ada dalam foto Bram Aditama.
Arga memperbesar gambar di layar laptop hingga wajah-wajah para tamu pecah menjadi kotak-kotak warna. Foto tersebut diambil tiga tahun lalu di halaman sebuah kelab malam di Bandung, beberapa hari sebelum Mita tewas. Bram berdiri di tengah kerumunan dengan jas mahal dan gelas kristal di tangan. Di belakangnya, setengah tertutup bayangan kanopi, mobil merah itu memantulkan cahaya neon.
Arga berhenti bernapas.
Ia pernah mendengar mobil itu disebut sekali—oleh saksi mata yang kemudian mencabut keterangannya dan menghilang dari berkas perkara.
“Ada mobil sport merah melaju gila sebelum truk menabrak adikmu.”
Kalimat tersebut masih tersimpan dalam salinan catatan yang berhasil Arga foto sebelum dokumennya ikut lenyap.
Ia menoleh ke sudut meja. Di sana, sebuah bingkai kayu berdiri di antara koran lama dan salinan hasil otopsi. Mita tersenyum dari balik kaca, seolah hidupnya berhenti pada usia dua puluh empat tahun tetapi tuntutannya tidak.
Mita adalah jurnalis muda di Bandung. Pada akhir pekan, ia menjadi relawan pembaca buku audio di Studio Netra Bakti. Ia sering berkata bahwa orang tidak boleh kehilangan hak atas kebenaran hanya karena mereka tidak bisa melihat halaman yang sama.
Malam sebelum kecelakaan, Mita sempat meninggalkan pesan suara untuk Arga. Suaranya tergesa, tertutup bunyi kendaraan. Ia hanya mengatakan telah menemukan sesuatu yang lebih besar daripada sengketa lahan yang sedang ia liput dan berjanji akan menjelaskan esok pagi. Esok pagi tidak pernah datang. Pesan itu menjadi satu-satunya benda yang tidak berani Arga hapus, tetapi juga tidak sanggup ia putar terlalu sering.
Tiga tahun lalu, hukum menawarkan cerita yang jauh lebih sederhana: sopir truk mengantuk, jalan sepi, benturan keras, kematian. Perkara ditutup.
Arga tidak pernah mempercayainya.
Mobil Mita tidak meninggalkan jejak pengereman. Beberapa lembar laporan olah tempat kejadian perkara hilang. Saksi kunci menarik kesaksiannya melalui surat yang metadata dokumennya mencantumkan satu nama: Bram Aditama, pengacara keluarga pemilik Properti Langit Biru.
Nama yang sama baru saja muncul dalam pesan Pak Hadi, pemimpin redaksi Metropolitan.
Ponsel Arga tergeletak di samping laptop dengan layar masih menyala.
“Kasus baru. Sengketa lahan proyek apartemen Properti Langit Biru. Liputan singkat untuk halaman bisnis. Penasihat hukum: Bram Aditama, S.H.”
Arga membaca pesan itu untuk ketiga kalinya. Selama tiga tahun, Bram hanya berupa nama dalam metadata dan potongan arsip. Kini pria itu berada di balik perusahaan yang sedang membuka proyek besar—dan redaksi memberinya alasan sah untuk mendekat.
Jarinya mengetik dua kalimat.
“Aku ambil. Kirim semua dokumennya.”
Balasan Pak Hadi datang hampir seketika.
“Jangan jadikan ini perpanjangan kasus Mita.”
Arga menatap foto adiknya, lalu mengetik, “Saya tahu.”
Itu kebohongan pertama malam itu.
Menjelang subuh, kantor Metropolitan hanya diterangi lampu-lampu meja yang ditinggalkan menyala. Pak Hadi masih berada di kubikelnya, mengisap rokok sambil memeriksa halaman berita.
“Warga menuntut ganti rugi. Perusahaan mengklaim sertifikat mereka sah,” katanya tanpa menoleh. “Kau wawancarai kedua pihak, tulis berimbang, selesai.”
“Bram Aditama mengurus proyeknya.”
Pak Hadi akhirnya mengangkat kepala. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab. “Aku sudah membaca lampirannya.”
“Nama dia ada dalam surat pencabutan saksi Mita.”
“Dan itu belum membuktikan apa-apa.”
“Karena berkas aslinya hilang.”
Pak Hadi mematikan rokoknya. “Dengar, Ga. Kau boleh mengejar sengketa ini sebagai jurnalis. Begitu kau mengubahnya menjadi perburuan pribadi, koran ini tidak bisa melindungimu.”
Arga tersenyum tipis. “Sejak kapan koran ini bisa melindungi siapa pun?”
Pak Hadi tidak menjawab. Di luar ruangannya, mesin cetak mulai berdengung dan beberapa reporter dini hari berdatangan. Dunia redaksi kembali bergerak seperti biasa, seolah percakapan tentang seorang perempuan yang mati hanyalah gangguan kecil sebelum tenggat berikutnya.
Di meja kerjanya, Arga membuka semua jejak publik Bram: profil firma hukum, berita bisnis, unggahan acara amal, foto peresmian proyek. Ia hampir menutup peramban ketika menemukan dokumentasi kelab malam tersebut.
Mobil merah itu hanya menempati sebagian kecil latar foto. Nomor pelatnya tidak terbaca. Pemiliknya tidak terlihat. Namun bentuk lampu belakang, spoiler rendah, dan lekuk bodinya cocok dengan keterangan saksi. Arga membandingkannya dengan katalog kendaraan, foto komunitas otomotif, serta tangkapan layar rekaman jalan yang tersisa. Satu model muncul berulang kali. Jumlah pemiliknya di Bandung tidak banyak, tetapi daftar kepemilikannya tidak terbuka bagi publik.
Arga menyimpan salinan gambar, tanggal unggahan, dan alamat kelab. Lalu ia membuka dokumen sengketa lahan yang baru dikirim Pak Hadi.
Pada halaman terakhir terdapat jadwal konferensi pers Properti Langit Biru pagi itu.
Arga meraih jaketnya.
Tiga tahun ia mengetuk pintu yang sama tanpa jawaban. Kini pintu itu terbuka sedikit—dan di celahnya, sebuah mobil merah sedang menunggu.
Daftar bab
89 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








