
Misteri yang Tak Berujung
Agung Nathanael|Bersambung
- Jumlah kata
- 85.1K
- Popular
- 123
- Subscribe
- 17
- Jumlah kata
- 85.1K
- Popular
- 123
- Subscribe
- 17
Sinopsis
Doni (32 tahun), seorang pemburu harta karun tampan, cerdas, dan ahli bela diri taktis, tidak pernah menduga bahwa arca emas Ganesha era Kerajaan Kahuripan yang baru ia dapatkan akan membawanya ke pusaran bahaya. Di bawah segel Garudamukha Raja Airlangga, terdapat kode kriptografi kuno yang mengarah pada pusaka dan kitab rahasia penata negara yang hilang seribu tahun lalu.Penyelidikan rahasia Doni membentur dinding ketika rumahnya diserang oleh sindikat kolektor ilegal internasional. Di tengah pelarian dan pencarian jawaban, jalan Doni bersilangan dengan Siska (22 tahun), seorang mahasiswi arkeologi semester akhir yang cantik, pencinta seni, dan sangat idealis tentang perlindungan cagar budaya. Siska awalnya menganggap Doni sebagai "penjarah liar" yang merusak sejarah, sementara Doni menganggap Siska sebagai "gadis manja pengetik skripsi" yang terlalu banyak teori.Namun, ketika sindikat bersenjata mulai memburu mereka berdua, Doni dan Siska terpaksa bekerja sama. Bermodalkan kecerdasan taktis Doni, pengetahuan sejarah Siska yang mendalam, sepasang karambit modern, dan selera humor di tengah maut, mereka harus berlomba dengan waktu menyusuri candi-candi tersembunyi yang dipenuhi jebakan mematikan dan penjaga gaib.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Arca Emas Airlangga
Ruang bawah tanah rumah Doni lebih mirip laboratorium mad scientist yang berselingkuh dengan museum purbakala.
Di satu sudut, terdapat deretan monitor melengkung dengan barisan kode enkripsi yang terus berjalan.
Di sudut lain, berjajar lemari kaca kedap udara berisi keris-keris sepuh yang memancarkan aura dingin, seolah berbisik meminta tumbal.
Doni, tiga puluh dua tahun, lajang, dan memiliki ketampanan yang sering membuat kasir minimarket salah memasukkan nominal kembalian, sedang membungkuk di atas meja kerja.
Ia hanya mengenakan kaus kutang hitam yang membungkus otot lengannya dengan sempurna.
"Kalau kurator tua di pasar antik itu tahu benda ini asli, dia pasti sudah jantungan," gumam Doni sendiri.
Di hadapannya, bertengger sebuah arca emas seukuran kepalan tangan. Arca itu berwujud Dewa Ganesha dari era Kerajaan Kahuripan abad ke-11. Doni meneteskan cairan kimia non-korosif formula buatannya sendiri ke dasar arca, lalu menyalakan lampu ultraviolet.
Seketika, ruangan yang remang itu dipenuhi pendar cahaya biru neon. Di dasar arca, guratan mikro yang selama seribu tahun tersembunyi oleh kerak bumi mulai terlihat jelas. Itu adalah lambang Garudamukha—segel resmi Raja Airlangga.
Namun, ada yang aneh. Cakar sang Garuda tidak mencengkeram ular seperti biasa, melainkan tiga buah titik yang membentuk rasi bintang Orion."Bukan sembarang hiasan," bisik Doni. Matanya berbinar.
"Ini koordinat. Seseorang sengaja menyembunyikan lokasi petilasan Airlangga sebelum kerajaannya dibelah jadi Jenggala dan Kediri."
Tiba-tiba, bulu kuduk Doni berdiri. Suhu ruangan turun drastis secara tidak wajar. Aroma melati samar yang entah dari mana datangnya mulai tercium.
Dari sudut matanya, Doni melihat bayangan hitam seolah melintas di balik lemari koleksi kerisnya.Doni menghela napas panjang, sama sekali tidak panik.
"Mbah, tolong ya. Saya cuma mau meneliti, bukan mau mencuri dari leluhur. Kalau mau ikut nonton, silakan, tapi jangan tiup-tiup leher. Dingin."
Aroma melati itu perlahan memudar, berganti dengan suara bip halus yang familier.
Bip. Bip. Bip.
Layar monitor Doni berubah merah. Sensor inframerah di pagar halaman rumahnya mendeteksi tiga siluet manusia bergerak dengan kecepatan tidak biasa.
Mereka melompati dinding beton setinggi tiga meter tanpa suara. Profesional.
"Ah, merusak suasana malam saja," keluh Doni.
Ia meraih arca emas Ganesha, memasukkannya ke dalam kantong taktis di celana kargonya.Doni berjalan santai ke arah dinding.
Ia menarik sebuah laci rahasia dan mengambil sepasang karambit ganda berbahan baja karbon hitam matte.
Senjata tradisional Minang yang sudah dimodifikasi secara modern."Tiga tamu tak diundang," Doni tersenyum tipis, meregangkan lehernya hingga berbunyi krek.
"Mari kita lihat, apa mereka membawa sopan santun saat bertamu."
Tiga siluet hitam berhasil menembus kaca jendela lantai atas tanpa suara. Mereka bergerak seperti hantu, mengenakan pakaian taktis hitam lengkap dengan topeng balaklava.
Di tangan mereka, tergenggam pisau komando berkilau. Mereka tidak tahu, di ruang bawah tanah, Doni sedang memperhatikan mereka lewat layar monitor sambil mengunyah keripik singkong.
"Jaman sekarang merampok masih pakai baju hitam-hitam. Kurang referensi fashion," gumam Doni.
Ia mematikan lampu laboratoriumnya. Ruangan seketika gelap gulita, hanya menyisakan pendaran biru samar dari sisa cairan UV di atas meja.
Doni menyelinap ke balik pilar beton, sepasang karambit hitamnya tersemat di sela-sela jari, siap mematuk.
Klek.
Pintu ruang bawah tanah perlahan terbuka.
Penyusup pertama melangkah masuk, mengacungkan pisaunya ke depan.
Langkahnya sangat pelan, namun bagi telinga terlatih Doni, itu terdengar seperti deburan ombak.
Wusss!
Doni bergerak dari kegelapan. Tanpa suara, ia mencengkeram pergelangan tangan penyusup pertama, memutarnya 180 derajat hingga terdengar bunyi krek yang memuaskan, lalu menghantamkan siku kirinya tepat ke rahang pria itu.
Penyusup pertama ambruk seperti karung beras sebelum sempat berteriak.
Dua penyusup lainnya tersentak dan langsung merangsek maju bersamaan. Penyusup kedua menebaskan pisaunya secara horizontal, mengincar leher Doni. Doni merendahkan tubuhnya, melakukan gerakan sapuan kaki silat yang membuat musuhnya limbung.
Di saat yang sama, tangan kanan Doni yang memegang karambit bergerak cepat, menyayat pelindung kaki taktis musuhnya hingga darah segar merembes.
Penyusup ketiga, yang bertubuh lebih besar, mencoba memeluk Doni dari belakang untuk mengunci gerakannya.
"Hei, aku masih lajang tapi tidak selera denganmu!" seru Doni.
Menggunakan momentum, Doni menghentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung si raksasa.
Saat kuncian melemah, Doni memutar tubuh, menyarangkan tendangan berputar tepat di ulu hati lawan hingga terlempar menabrak lemari kaca.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, ketiga profesional itu terkapar di lantai, mengerang kesakitan.
Doni menyalakan lampu utama, membuat ruangan kembali terang benderang. Ia berjongkok di depan penyusup kedua yang masih setengah sadar, menodongkan ujung lancip karambit-nya ke bawah dagu pria itu.
"Siapa yang menyuruh kalian? Kolektor lokal atau bos asing?" tanya Doni dengan nada santai, namun matanya sedingin es.
Pria itu meludah darah, menolak bicara. Sebelum Doni sempat menggertak lebih jauh, ponsel salah satu penyusup di lantai bergetar. Doni mengambilnya. Ada sebuah pesan teks yang masuk dari nomor tak dikenal:
"Arca emas harus didapatkan malam ini. Gadis arkeologi itu sudah memberikan lokasi koordinat palsu di museum. Jangan sampai Doni mendahului kita."
Doni mengernyitkan alis. "Gadis arkeologi? Siapa lagi ini?"
Ia segera memeriksa basis data pendaftaran kurator dan mahasiswa yang sempat mengakses arsip digital sejarah Kahuripan di Perpustakaan Nasional minggu lalu—sistem yang sebelumnya sudah Doni retas secara iseng.
Di layar monitornya, muncul sebuah profil akademis.
Foto digital memperlihatkan seorang wanita muda berwajah manis dengan rambut dikuncir kuda, memakai kacamata berbingkai bulat, dan tersenyum ramah ke arah kamera.
* Nama: Siska Amelia
* Status: Mahasiswi S1 Arkeologi, Universitas Indonesia.
* Topik Skripsi: Analisis Struktur Geografis dan Simbolisme Garudamukha pada Artefak Kahuripan.
Doni bersiul kecil. "Wah, tampaknya kita punya hobi yang sama, Dek Siska. Sialnya, saingan kita malam ini bawa pistol."
Fokus Doni yang sepenuhnya tersedot ke layar komputer selama beberapa detik menjadi celah fatal.
Di belakangnya, perampok bertubuh raksasa ternyata menyembunyikan sebilah pisau lipat kecil di dalam manset lengannya.
Dengan gerakan senyap dan sangat cepat, ia memotong ikatan zip-tie miliknya, lalu membebaskan kedua rekannya.
PRANG! BANNG!
Doni tersentak dan langsung berbalik badan, namun terlambat.
Penyusup raksasa itu baru saja menghantamkan kursi besi ke arah lampu utama hingga pecah, membuat ruangan seketika gelap gulita.
Di tengah kegelapan, terdengar suara langkah kaki taktis yang bergerak cepat dan desingan tubuh yang melompat keluar melewati jendela atas.Doni menyalakan senter taktis di senjatanya, menyorot ke arah jendela yang kini kosong. Angin malam berembus masuk, menerbangkan beberapa lembar kertas di mejanya. Ketiga perampok itu sudah lenyap tanpa suara.
"Sialan," umpat Doni, tersenyum kecut pada keteledorannya sendiri. "Aku harus bergerak cepat," batinnya. Lalu,
Doni langsung menyambar jaket kulitnya, memasukkan arca Ganesha ke dalam tas ransel taktis, dan melompat ke atas motor sport hitamnya yang terparkir di garasi rahasia. Ia harus menemukan Siska sebelum sindikat kejam itu menjadikannya target berikutnya.
Daftar bab
67 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








