Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bocah Super dan Sembilan Ibu Penyayang

Bocah Super dan Sembilan Ibu Penyayang

Phantom Night | Bersambung
Jumlah kata
62.3K
Popular
244
Subscribe
69
Novel / Bocah Super dan Sembilan Ibu Penyayang
Bocah Super dan Sembilan Ibu Penyayang

Bocah Super dan Sembilan Ibu Penyayang

Phantom Night| Bersambung
Jumlah Kata
62.3K
Popular
244
Subscribe
69
Sinopsis
PerkotaanSekolahTeknologiKonglomeratSi Genius
Terlahir sebagai putra dari Aldi Bagaskara, pendiri kerajaan bisnis raksasa sekaligus pemilik Sistem Investasi Kehidupan, membuat Arka Bagaskara sejak lahir telah berada di puncak kehidupan yang hanya bisa diimpikan banyak orang. Namun, Arka bukanlah bocah biasa. Di usianya yang baru menginjak lima tahun, ia telah memiliki kecerdasan yang melampaui para jenius, daya ingat yang luar biasa, serta kekuatan fisik yang membuat orang dewasa tercengang. Dimanapun ia berada, selalu ada kejadian tak terduga yang mengubah hidup orang-orang di sekitarnya. Meski memiliki segalanya, Arka tetaplah seorang anak kecil yang ingin bermain, belajar, mencari teman, dan merasakan hangatnya kasih sayang keluarga. Dikelilingi oleh sembilan ibu yang mencintainya sepenuh hati, ia tumbuh dalam limpahan kasih yang membuat hidupnya penuh warna, tawa, dan petualangan. Di balik senyum polosnya, tak seorang pun menyadari bahwa bocah kecil itu perlahan sedang menapaki jalan menuju sosok yang bahkan mungkin akan melampaui sang ayah. Sebab, takdir Arka bukan hanya menjadi pewaris sebuah kerajaan bisnis, melainkan menciptakan legenda baru dengan caranya sendiri.
Bab 1

Pagi yang cerah menyelimuti sebuah kediaman megah di tengah kawasan elite di Kota Riverstone.

Rumah itu bukan sekadar besar. Bangunannya berdiri di atas lahan yang luas, dikelilingi taman hijau yang tertata sempurna, kolam air mancur, jalan setapak dari batu marmer, serta berbagai jenis bunga yang dirawat oleh puluhan pekerja setiap harinya.

Di dalam rumah tersebut, segala sesuatu tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Sampai akhirnya terdengar teriakan seorang wanita mengguncang lorong utama.

“TUAN MUDA ARKAAAA!”

Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun sedang berlari sekuat tenaga melewati koridor panjang rumah tersebut.

Rambut hitamnya sedikit berantakan. Kemeja putih yang dikenakannya sudah tidak lagi rapi. Salah satu sisi bajunya bahkan keluar dari celana pendek hitam yang dipakainya.

Namun, wajah bocah itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Sebaliknya, dia justru tertawa lebar.

“Hahaha!”

Di belakangnya, beberapa pengasuh wanita berlari dengan napas terengah-engah.

“Tuan Muda! Berhenti!”

“Jangan lari terlalu cepat!”

“Nanti kamu jatuh!”

“Pelan-pelan!”

Namun bocah bernama Arka Bagaskara itu sama sekali tidak peduli. Kakinya terus bergerak dengan kecepatan yang membuat para pengasuh kesulitan mengejarnya.

Padahal mereka adalah wanita dewasa yang berada dalam kondisi fisik yang cukup baik. Tetapi mengejar seorang anak kecil seolah-olah sedang mengejar kelinci yang ketakutan ternyata jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan.

“Tuan Muda Arka!”

Salah seorang pengasuh hampir menangkap ujung bajunya. Namun, Arka tiba-tiba mempercepat langkah.

“Hah?!” Tangan wanita itu hanya berhasil menyentuh udara kosong.

Arka menoleh ke belakang sambil terus berlari, wajahnya dipenuhi senyum kemenangan.

“Lambat!”

“Anak itu!” Pengasuh tersebut hampir kehilangan keseimbangan.

Arka kembali tertawa. Kemudian, seolah merasa belum cukup mengganggu mereka, bocah itu berhenti sesaat, lalu berbalik dan menjulurkan lidahnya.

“Bleee!” Kedua tangannya kemudian mengangkat telinganya sendiri.

“Nenek kura-kura!”

“Apa?!” Para pengasuh terdiam selama beberapa detik.

Arka langsung tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha! Tangkap aku kalau bisa!” Lalu dia kembali berlari.

“ARKA BAGASKARA!” Salah seorang pengasuh berteriak frustasi.

“Kalau Tuan Muda jatuh, kami yang akan dimarahi!”

“Tidak akan jatuh!” Jawaban Arka terdengar percaya diri, bahkan terlalu percaya diri.

Dia tidak menoleh lagi, matanya hanya tertuju ke depan.

Namun, ada satu hal yang tidak diperhitungkannya.

Di ujung lorong, seseorang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai rapi.

Usianya mendekati tiga puluh tahun. Wajahnya cantik, tetapi memiliki aura yang membuat orang-orang di sekitarnya secara otomatis menjadi lebih berhati-hati.

Wanita itu berjalan dengan tenang. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara ribut dari kejauhan.

Alisnya sedikit berkerut.

“Ada apa lagi?”

Belum sempat dia bertanya kepada siapapun, tubuh kecil Arka menabrak sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.

Bruk!

“Ugh!” Arka terduduk di lantai, keningnya sedikit memerah. Dia mengusap kepalanya sambil mengerutkan wajah.

“Aduh…”

Namun sesaat kemudian, dia menyadari bahwa benda yang ditabraknya bukan dinding.

Arka perlahan mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedang menatapnya dari atas.

Senyum di wajah Arka langsung menghilang, wajahnya membeku. Tubuh kecilnya bahkan secara refleks mundur beberapa sentimeter.

Wanita itu menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Hening. Sangat hening.

Para pengasuh yang baru saja tiba di tempat tersebut juga langsung berhenti. Tidak ada satupun yang berani bersuara. Sebab mereka semua tahu siapa wanita itu.

Elsa Dinata, ibu kandung Arka Bagaskara, dan bagi Arka, Elsa adalah salah satu orang paling menakutkan di rumah ini.

Bukan karena Elsa membencinya. Justru sebaliknya, Elsa sangat menyayangi putranya.

Hanya saja, kasih sayang Elsa tidak pernah berarti membiarkan Arka melakukan apa pun sesukanya. Terutama ketika bocah itu mulai berbuat nakal.

Elsa menunduk sedikit.

“Arka.” Suara itu lembut. Terlalu lembut. Namun, justru karena itulah Arka semakin takut.

“I-iya, Mama…”

Elsa melirik ke arah para pengasuh yang berdiri beberapa meter di belakang Arka. Kemudian pandangannya kembali kepada putranya.

“Sepertinya Mama sedang melihat sesuatu yang menarik.”

“Menarik…?” Arka menelan ludah.

“Ya.” Elsa tersenyum tipis.

“Tadi Mama mendengar seseorang berteriak agar kamu berhenti berlari.”

Arka diam, wajahnya berubah pucat.

“Mama juga mendengar seseorang berkata bahwa kalau kamu terus berlari, kamu bisa jatuh.”

Arka semakin diam, bahkan tubuhnya sedikit gemetar.

“Lalu Mama melihat kamu menjulurkan lidah kepada pengasuhmu.”

Arka menundukkan kepala.

“Dan…” Elsa melipat kedua tangannya di depan dada.

“…Mama juga melihat kamu memegang kedua telingamu sambil mengejek mereka.”

Arka tidak menjawab, dia diam seribu bahasa.

Salah seorang pengasuh menahan senyum. Bukan karena lucu, tetapi karena lega. Akhirnya ada seseorang yang bisa menghentikan bocah iblis kecil itu.

“Arka.” Elsa menghela napas.

“Iya, Mama…”

“Lihat Mama.”

Arka perlahan mengangkat wajah.

“Apa yang Mama katakan kepadamu kemarin?”

Arka berpikir beberapa detik, kemudian menjawab dengan suara kecil.

“Jangan berlari di dalam rumah.”

“Lalu?”

“Jangan mengganggu pengasuh.”

“Lalu?”

Arka semakin mengecilkan suara. “Harus mendengarkan kalau orang dewasa bicara.”

“Bagus.” Elsa mengangguk, kemudian ekspresinya berubah serius.

“Sekarang, apakah kamu melakukan semua itu?”

“Tidak…” Arka menggeleng pelan.

“Jadi?”

Arka terdiam, sebelum akhirnya menghela napas.

“Arka salah.”

“Dan?”

“Arka minta maaf.”

Elsa menatapnya beberapa detik, kemudian berkata tegas, “Bukan kepada Mama.”

Arka menoleh ke arah para pengasuh, wajahnya terlihat sedikit malu.

Dia berdiri, kemudian membungkukkan tubuhnya.

“Maaf…” Suaranya sangat kecil.

Elsa mengangkat alis. “Lebih keras.”

Arka menarik napas. “Maaf!”

Para pengasuh tersenyum.

“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Yang penting jangan diulangi lagi.”

Arka mengangguk. Namun ketika dia hendak kembali duduk, Elsa langsung berkata, “Dan jangan pikir masalahnya selesai.”

“Eh?” Tubuh Arka langsung kaku.

Elsa menunjuk sofa di ruang keluarga.

“Duduk.”

Arka berjalan pelan, sangat pelan, tidak seperti beberapa detik sebelumnya ketika dia berlari secepat kilat.

Dia kemudian duduk di sofa. Elsa ikut duduk di sampingnya. Sementara para pengasuh memilih mundur.

Mereka tahu bahwa sekarang adalah urusan keluarga.

Arka duduk dengan kedua tangan di atas lutut, kepalanya tertunduk.

Elsa menatap putranya. Beberapa saat kemudian, ekspresinya melunak.

“Arka.”

“Iya, Mama?”

“Kamu tahu kenapa Mama marah?”

Arka mengangguk. “Karena Arka nakal.”

“Bukan hanya itu.” Elsa mengusap rambut putranya yang berantakan.

“Kamu punya tubuh yang berbeda dari anak-anak lain.”

Arka terdiam, dia tahu itu.

Sejak kecil, dirinya memang berbeda. Bahkan ketika masih berusia beberapa tahun, kekuatan fisiknya sudah jauh melampaui anak-anak seusianya.

Awalnya semua orang mengira itu hanya kebetulan. Namun semakin besar Arka, semakin jelas bahwa kekuatan tersebut bukan sesuatu yang normal.

Elsa menatapnya serius. “Kalau kamu berlari seperti tadi dan menabrak sesuatu yang keras, mungkin kamu tidak apa-apa.” Elsa berhenti sejenak. “Tapi bagaimana kalau yang kamu tabrak adalah orang lain?”

Arka tidak menjawab.

“Kamu bisa melukai mereka.”

“Arka tidak bermaksud begitu…”

“Mama tahu.” Elsa tersenyum kecil.

“Mama tahu kamu tidak berniat menyakiti siapa pun.” Kemudian suaranya berubah lebih lembut.

“Tapi tidak semua orang memiliki tubuh sekuat kamu.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca