
PEWARIS AJIAN LEGENDARIS
MaxySkay|Bersambung
- Jumlah kata
- 88.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
- Jumlah kata
- 88.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
Sinopsis
Bimasena, anak tak diakui yang tumbuh di desa terpencil, belajar bela diri murni dari kakeknya, Resi Abiasa, seorang Mahaguru yang menyamar sebagai petani biasa. Saat ia mulai menapaki jalan Ajian Bayu Bajra, keris tanpa sarung yang disimpan ibunda mengungkap rahasia besar tentang warisan darah leluhur dan takdir yang harus ia emban untuk menyelamatkan keseimbangan alam semesta.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1
Keringat menetes di pelipis Bimasena, jatuh membasahi tanah yang lembap. Napasnya keluar masuk perlahan, menahan getaran halus di telapak tangannya. Di hadapannya, batu besar seukuran meja makan berdiri kokoh, permukaannya kasar tertutup lumut.
"Kuda-kuda harus menancap ke tanah, Bima. Bukan sekadar berdiri di atasnya," suara Kakek Abiasa terdengar tenang dari belakang. "Kalau kakimu goyah, setengah tenagamu hilang sebelum menyentuh sasaran."
Bimasena menggeser kakinya, merasakan tanah dingin di bawah telapak. Ia menurunkan berat badan, menyatukan tubuh dengan bumi. Tangan kanan mengepal di depan dada, diputar perlahan seolah memadatkan udara di antara kedua lengannya.
"Pikirkan dulu sebelum kau pukul," kata Kakek. "Jangan biarkan amarah yang memegang kendali. Amarah itu seperti api yang membakar sarangnya sendiri dulu sebelum menjalar."
Bimasena menarik napas dalam, menghembus perlahan. Di dalam hatinya, ia merapal mantra tanpa suara, memusatkan kesadaran di pusat dadanya. Kepalan tangan ditarik ke belakang sejajar bahu, menahan, memadatkan.
"BAYU BAJRA!"
Pukulan meluncur lurus. Buk!
Batu itu tak pecah. Hanya bergeser sedikit, debu beterbangan. Tangannya terasa perih. Bimasena menarik tangannya kembali, menatap batu itu dengan kening berkerut.
Kakek mengangguk pelan. "Belum menyatu. Tenagamu terpecah — sebagian di tangan, sebagian di bahu, sebagian lagi hilang karena kau terburu-buru. Ulangi."
Bimasena mengelap keringat di lengan. Ia menata kembali kuda-kuda, siap mengulang. Tapi sebelum ia sempat mengangkat tangan, suara teriakan kasar memecah kesunyian desa.
"KELUARKAN SEMUA YANG BERHARGA!"
Langkah kaki berat mendekat. Lima orang berbadan kekar muncul dari balik pepohonan, masing-masing membawa golok tajam. Wajah mereka beringas, mata mereka menyapu halaman gubuk dengan tatapan serakah.
Bimasena melangkah ke depan, berdiri di antara mereka dan pintu gubuk. "Kalian tidak boleh masuk. Pergilah sebelum kalian menyesal."
Pemimpin perampok tertawa kasar, mengayunkan golok ke udara. "Anak ayam mau berkokok? Minggir, atau kami buat kau tidur selamanya!"
"Tidak akan," Bimasena mempertegas kuda-kudanya. "Pergilah sendiri, sebelum diusir dengan cara yang tidak menyenangkan."
"Usir? Kau?" Pria itu meludah ke tanah. "Kita lihat siapa yang diusir hari ini. Kalau tidak minggir dalam hitungan tiga, kau tidak akan bisa berdiri lagi."
Sebelum Bimasena bisa bergerak, sebuah tangan mendarat lembut di bahunya. Tekanannya ringan, namun ia merasa tertahan oleh batu karang yang kokoh. Ia menoleh, melihat Kakek Abiasa berdiri di sampingnya.
"Mundur dulu, Bima," ucap Kakek pelan namun tegas. "Biarkan Kakek yang bicara dulu. Belum saatnya kau bertarung."
"Tapi Kakek, mereka membawa senjata tajam!" bisik Bimasena cemas.
"Kalau bicara bisa menyelesaikan tanpa darah, mengapa harus bertarung?" Kakek tersenyum tipis, lalu melangkah maju mendekati kelima orang itu.
Pemimpin perampok tertawa lebih keras. "Kau mau melawan kami, Kakek tua? Pulanglah ke tempat tidurmu!"
Kakek berhenti beberapa langkah di depan mereka. Wajahnya tenang, matanya menatap mereka satu per satu. Suaranya pelan namun jelas terdengar:
"Anak muda, biasanya orang yang baru punya ilmu sejumput menganggap air kobokan adalah lautan."
Para perampok terdiam sejenak, lalu tertawa keras sampai memegangi perut.
"Kakek ini sudah gila!" teriak salah satu dari mereka. "Serang! Ambil semua, bakar gubuk ini!"
Kelima orang itu melangkah maju bersamaan, golok terangkat tinggi. Bimasena menegang, siap melompat ke depan. Tapi Kakek lebih dulu bergerak.
Ia tidak berlari. Tidak berteriak. Tangan kanannya diangkat perlahan setinggi bahu, lalu dikibaskan ke depan — seolah menepis debu di ujung lengan bajunya. Gerakan halus, nyaris tak terlihat.
Namun seketika itu juga, angin menderu kencang. Gelombang tenaga tak kasat mata menyambar kelima perampok sekaligus. Tubuh mereka terangkat dari tanah, terlempar ke belakang dengan kekuatan dahsyat, lalu menabrak pintu gubuk hingga kayu pecah berantakan.
Bunyi benturan keras bercampur erangan kesakitan.
Mereka tergeletak di tanah, wajah pucat, napas tersengal. Beberapa mulut mengeluarkan darah segar. Golok-golok yang tadi tajam kini terlempar jauh ke rumput. Mata mereka terbelalak menatap Kakek — bukan karena sakit, melainkan karena ketakutan murni. Mereka sadar, orang tua yang tadi mereka anggap lemah bukan orang sembarangan.
"Pergilah," ucap Kakek tenang. "Dan jangan pernah kembali. Kalau kalian kembali, kibasan tangan berikutnya tidak akan selemah ini. Kalian tidak akan selamat untuk kedua kalinya."
Tak perlu diucapkan dua kali. Mereka saling bantu bangun dengan susah payah, merangkak mundur, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu tanpa berani menoleh.
Ketenangan kembali, tapi udara terasa berbeda sekarang — lebih berat, lebih penuh rahasia.
Bimasena berdiri mematung. Matanya tak berkedip menatap Kakek. Selama ini ia hanya melihat seorang kakek yang sederhana, yang mengajarkan bercocok tanam dan gerakan silat dasar. Ia tak pernah menyangka...
"Kakek..." suaranya hampir berbisik. "Tadi... apa yang Kakek lakukan?"
Kakek menoleh, senyum tipis menyungging di bibirnya. "Itu belum apa-apa, Bima. Itu baru sekadar mengusir. Kalau Kakek benar-benar melepaskan kekuatan penuh, mereka tidak akan bisa berdiri lagi sama sekali."
Ia melangkah mendekat, menatap cucunya dengan dalam.
"Kau tanya bagaimana caranya? Kekuatan itu bukan soal seberapa keras kau memukul, atau seberapa hebat ajian yang kau hafal. Kekuatan sejati itu soal keseimbangan — antara napas, hati, dan kesadaran. Kalau kau bisa menyatukan ketiganya, tenaga akan mengalir keluar begitu saja, tanpa perlu dipaksa."
Kakek menunjuk batu besar di sudut halaman.
"Kau sudah belajar gerakan. Tapi yang paling penting belum kau pahami: kekuatan itu harus terkendali. Ia harus melayani kau, bukan sebaliknya. Kalau kau terburu-buru ingin menjadi hebat, seperti kelima orang tadi... kau akan hancur oleh kekuatanmu sendiri."
Bimasena menatap kepalan tangannya sendiri. Ada getaran halus yang masih ia rasakan di telapak, seolah ada sesuatu yang bangun sebentar lalu kembali tidur.
"Terus... apa yang harus aku lakukan, Kek?"
"Latihan. Bukan hanya memukul batu sampai tangan bengkak. Tapi latihan menenangkan hati. Latihan mengendalikan napas saat marah, saat takut, saat bersemangat. Latihan memahami dirimu sendiri sebelum mencoba memahami kekuatan di luar dirimu."
Kakek menatap pintu yang hancur sejenak. "Nanti kita perbaiki ini bersama. Tapi sekarang, lanjutkan latihanmu. Kali ini, jangan cuma lihat apakah batu pecah atau tidak. Rasakan dulu tenaga di dalam dirimu. Panggil pelan-pelan. Biarkan ia mengenalimu, sama seperti kau mengenalnya. Jangan terburu-buru."
Bimasena mengangguk perlahan. Ia kembali ke posisi semula, menata kuda-kuda, menata napas. Di dalam hatinya, ia kembali merapal mantra. Tangan kanannya mengepal di depan dada, diputar perlahan, ditarik ke belakang...
Tapi sebelum ia sempat menghantam, Kakek tiba-tiba mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.
"Berhenti dulu, Bima," ucapnya pelan, suaranya berubah rendah dan waspada.
Bimasena berhenti, tangan masih mengepal. "Ada apa, Kakek? Apakah mereka kembali?"
Kakek tidak menjawab langsung. Matanya menatap tajam ke arah pinggiran hutan, ke balik rimbunnya daun-daun pohon beringin tua.
"Lihat ke sana," bisik Kakek sambil menunjuk dengan gerakan kepala. "Di balik semak-semak yang gelap itu."
Bimasena menyipitkan mata. Awalnya ia tak melihat apa-apa, hanya bayangan gelap dan dedaunan yang tertiup angin. Tapi saat matanya mulai terbiasa, ia melihatnya.
Sepasang mata.
Bercahaya kuning kemerahan, menatap lurus ke arah mereka. Diam. Tak bergerak. Tak berkedip. Hanya menatap.
"Kakek..." Bimasena merasakan bulu kuduknya berdiri. "Itu... apa itu?"
"Entah," jawab Kakek pelan, suaranya terdengar berat. "Tapi sepertinya... kedatangan perampok tadi bukan sekadar kebetulan. Ada yang lain yang ikut bersama mereka, mengikuti dari jauh, menunggu momen yang tepat."
Sepasang mata itu perlahan mundur, menjauh, lalu menghilang sepenuhnya di balik bayangan gelap hutan seolah tak pernah ada. Tapi perasaan berat di dada Bimasena tak hilang.
Dan di kejauhan, di atas puncak pohon-pohon tinggi, terdengar suara gemuruh guntur yang menggelegar, padahal langit di atas mereka masih cerah dan biru. Belum tentu turun hujan..
Daftar bab
72 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








