
Detektif tampan dan Kesaksian Arwah
Feerista|Bersambung
- Jumlah kata
- 27.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
- Jumlah kata
- 27.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
Sinopsis
Seorang detektif pembunuhan dengan reputasi gemilang dikenal karena kemampuannya memecahkan kasus-kasus sulit. Namun, tak banyak yang tahu bahwa setiap keberhasilannya dibantu oleh kemampuan melihat arwah para korban. Hingga suatu hari, Raka ditugaskan menangani kasus hilangnya putri Komisaris Kepolisian. Tidak ada jasad yang ditemukan, tidak ada jejak yang cukup untuk mengungkap keberadaannya. Kasus itu seolah menemui jalan buntu. Namun, sejak kasus tersebut dimulai, arwah sang putri justru terus mengikuti Raka ke mana pun ia pergi. Kehadirannya perlahan membawa Raka pada petunjuk-petunjuk yang tak mungkin ditemukan oleh manusia biasa. Di tengah penyelidikan, perasaan yang tak seharusnya tumbuh mulai hadir. Raka perlahan jatuh cinta kepada perempuan yang bahkan tak lagi memiliki kesempatan untuk hidup bersamanya. Ketika kasus itu akhirnya menemukan titik terang, Raka dihadapkan pada kenyataan yang mungkin jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan. Karena untuk mengungkap kebenaran tentang kematian perempuan yang dicintainya, Raka harus siap menghadapi rahasia yang selama ini tersembunyi di balik kasus tersebut.
Ulasan
6 ulasan
Ocha Ruby
13/9/26 07:55
sebuah kisah misteri detektif yang tidak terlalu menegangkan dipadu dengan elemen horor dan ada komedinya pula, yang berbeda dengan kisah detektif lainnya yang menegangkan dari awal sampai akhir.
Krownhill
12/9/26 06:37
pengenalan karakter utama langsung terasa kuat.. konflik utamanya menarik.. unsur romance antara manusia hidup dsn arwah menciptakan dinamika romansa manis tapi bernuansa teagis, ini poin yg sangat bagus dan menarik..
Kau bisa Melihatku?
"Pak, berkas kasus ini sudah lengkap dan sudah diserahkan ke kejaksaan."
"Baik. Kamu rapikan, lalu arsipkan di P-21."
Rekan kerjaku yang bernama Jihan keluar dari ruanganku setelah memberikan beberapa berkas kasus yang baru saja selesai kutangani.
Sekarang aku bisa bernapas lega setelah perjalanan panjang memecahkan kasus pembunuhan seorang gadis SMA yang begitu menyebalkan. Bukan karena aku tidak suka menangani kasusnya, hanya saja gadis itu selalu mengganggu tidurku.
Seperti sekarang. Dia sedang menatapku dari sudut ruangan. Senyumnya begitu menyebalkan hingga membuatku memijat pangkal hidung.
"Hei, sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang dan jangan mengganggu istirahatku lagi, oke?"
Arwah gadis itu mendekat dengan tatapan menyebalkan yang sama. Aku memalingkan wajah, tetapi gadis itu selalu saja muncul tepat di depan wajahku.
"Kau ingin sekali cepat-cepat berpisah denganku?"
"Hmm."
Aku memasang wajah sedatar mungkin agar arwah ini segera pergi dari hadapanku. Energi ku sudah terkuras habis karenanya.
"Kak, bisa tidak kau memberiku senyuman perpisahan?"
Aku menghela napas kasar. Kemudian, kutarik kedua ujung bibirku ke atas dengan terpaksa agar arwah ini cepat menghilang dari hadapanku.
"Walaupun senyummu terpaksa, aku tetap menyukainya. Kau sangat tampan, Kak Raka. Kalau begitu, aku pamit, ya. Aku akan menunggumu di surga, Kak. Kita akan berjodoh di sana."
Arwah itu perlahan berjalan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan cahaya putih yang menyilaukan mataku.
Kutatap beberapa penghargaan yang berjejer rapi di dinding ruanganku. Semua itu adalah penghargaan yang kudapatkan selama tujuh tahun bekerja di kepolisian, Mabes Polri Jakarta Timur.
Aku menjadi polisi termuda yang memiliki pangkat cukup tinggi dengan penghargaan yang lumayan banyak. Aku mampu menangani berbagai kasus dalam waktu relatif singkat dengan bukti-bukti yang cukup kuat.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa semua itu berkat bantuan para arwah korban yang memberiku petunjuk melalui ingatan terakhir mereka.
Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat. Aku tersenyum kecil mengingat para arwah itu yang seolah menjadi saksi atas kematian mereka sendiri.
Cklek.
Suara pintu ruanganku terbuka. Aku melihat Tyo, sahabat sekaligus rekan investigasiku, masuk sambil membawa dua gelas kopi hitam. Ia kemudian duduk di sofa yang ada di ruang kerjaku.
"Bagaimana? Arwah Chika sudah pergi?" tanyanya dengan senyum meledek yang menunjukkan deretan giginya yang menyebalkan.
"Hmm, barusan saja pamit. Malam ini gua bisa tidur nyenyak tanpa harus mendengar ocehannya."
"Haha. Gua penasaran, pasti dia sangat menggemaskan ketika berbicara. Gua sudah bisa membayangkannya setelah melihat fotonya dan mendengar cerita dari orang tuanya."
"Kalau begitu, kenapa enggak lo aja yang ngurusin dia?"
"Kalau gua bisa tukar mata gua sama mata lo, gua mau kok melihat para hantu cantik itu."
"Enggak semua hantu itu cantik. Bahkan, gua pernah diganggu nenek-nenek."
"Oh, nenek yang nyogok lo pakai nasi goreng itu, ya? Biar lo mau nangani kasusnya?"
"Hmm."
"Hahaha. Tapi ada untungnya juga. Seminggu lo enggak perlu masak. Setiap pulang kerja, sudah ada makanan di meja."
Aku tidak menggubris ucapan Tyo. Kuseruput perlahan kopiku sambil melihat berita hari ini tentang penangkapan pelaku yang dilakukan tadi pagi.
Tidak terasa, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 21.00.
Kuhabiskan tegukan terakhir kopiku, lalu bersiap untuk pulang. Tyo hanya melihatku membereskan tas tanpa bertanya apa-apa.
"Gua pulang dulu."
"Istirahat lo sana. Sudah tiga hari lo enggak tidur. Bahkan, mata lo aja lebih seram daripada hantu."
"Gua begini aja masih lebih ganteng daripada lo."
Setelah mengucapkan itu, aku langsung keluar dan meninggalkannya sendirian.
"Sialan lo! Iya lagi!"
Aku hanya tersenyum kecil mendengar makian sahabatku itu.
Kini aku sudah berada di parkiran. Terlihat mobil Pajero hitamku terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri.
Namun, saat hendak masuk ke mobil, aku tersentak ketika melihat seorang gadis mengenakan gaun selutut sedang duduk di jok belakang.
Segera kualihkan pandangan agar sosok itu tidak menyadari bahwa aku bisa melihatnya.
"Eh, siapa dia? Sepertinya aku salah masuk mobil lagi. Huh... sudah berapa kantor polisi yang kudatangi, masih saja salah. Kenapa aku bisa lupa, sih, di mana kantor Papa? Sudahlah, aku turun saja."
Aku melihat gadis itu menggerutu dari pantulan kaca dasbor. Sampai akhirnya, dia sadar sedang diperhatikan.
Aku segera mengalihkan pandangan dan bersikap tenang seolah-olah tidak melihat apa pun.
"Bego banget sih lo, Raka. Harusnya malam ini lo bisa tidur, bukannya mengurusi para arwah itu. Semoga aja tuh cewek enggak sadar kalau gua bisa lihat dia."
Aku menggerutu dengan suara sangat kecil agar gadis di belakangku tidak mendengarnya.
"Tunggu... malam ini aku ikut dia saja. Besok aku ikut lagi ke sini. Siapa tahu Papa malam ini sudah pulang. Daripada aku menunggu di sini dan malah diganggu hantu genit, mending cuci mata lihat cowok ganteng ini. Hihi."
Aku menghela napas panjang.
Astaga. Ingin rasanya aku memarahi dan mengusirnya dari mobilku. Tapi nanti dia malah memintaku mencari keberadaan papanya lagi.
Tahan, Raka. Untuk malam ini saja, kau harus tahan godaan.
Kulajukan mobilku menerobos dinginnya malam. Jalanan sudah terlihat sepi, mungkin karena habis hujan sehingga orang-orang malas keluar.
---
Setelah sampai di lobi apartemen, kulihat dari kaca mobil bahwa gadis itu sudah tidak ada.
Kubuang napas lega.
Setidaknya dia tidak ikut masuk ke kamarku dan menggangguku lagi.
Namun, perasaan lega itu tidak berlangsung lama.
Tepat setelah aku memasuki lift, gadis itu tiba-tiba berdiri di sampingku.
Ternyata dia mengikutiku sampai rumah.
Dan benar saja. Begitu aku masuk ke kamar, dia sudah menungguku di depan kamar mandi.
"Oh, astaga. Kenapa gadis ini begitu agresif?"
"Hihi, kapan lagi aku bisa melihat cowok tampan mandi?"
Aku segera mengambil handuk dan bersiap membersihkan diri.
Aku buka satu persatu kancing kemejaku, dan saat ini tangan gadis itu sedang meraba otot perut ku. Bagaiman pun, aku adalah cowok normal, yang akan bereaksi saat area sensitif ku di sentuh. Karena tidak tahan aku mundurkan tubuh ku dan berjalan ke arah Shower.
Namun, karena gadis itu masih berada di sana, aku memilih mandi dengan celana yang tetap menutupi bagaian bawah tubuhku.
"Eh, kenapa dia mandi pakai celana? Cowok kalau mandi itunya enggak dicuci?Aneh banget."
Itu karena kau ada di depanku!
Walaupun kau hantu, kau tetap seorang gadis. Aku tidak mau melakukan hal-hal aneh hanya karena kau tidak bisa melihat batasan.
Karena tidak tahan dengan tingkahnya, kusudahi mandiku dan segera berjalan menuju ruang ganti. Aku mengganti pakaian secepat mungkin sebelum hantu itu kembali mengikutiku.
Akhirnya, aku sudah berbaring di tempat tidur.
Namun, aku belum bisa tidur dengan tenang karena saat ini hantu itu justru sedang meniup-niup wajahku.
"Rambutnya menutupi wajah gantengnya. Aku jadi susah melihatnya. Huh... bagaimana sih cara menyingkirkannya?"
Aku sudah tidak tahan. Aku benar-benar ingin memarahinya.
"Kau bisa berhenti tidak? Aku ingin tidur!"
Hantu itu tiba-tiba terdiam.
Matanya menatapku lekat-lekat.
"Kau... bisa melihatku?"
Bersambung...
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








