Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Si Kembar: Perjalanan Sang Pejuang

Si Kembar: Perjalanan Sang Pejuang

Kang Muhamad Wisnu | Bersambung
Jumlah kata
28.4K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Si Kembar: Perjalanan Sang Pejuang
Si Kembar: Perjalanan Sang Pejuang

Si Kembar: Perjalanan Sang Pejuang

Kang Muhamad Wisnu| Bersambung
Jumlah Kata
28.4K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanSekolahPertualanganPria MiskinZero To Hero
Haidan dan Hazan, saudara kembar yang sejak kecil harus kehilangan sosok ayah. Keduanya tumbuh melalui kasih sayang dan perjuangan seorang ibu. Di sekolah, tak jarang kedua saudara kembar itu mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya dari teman-teman sekelasnya. Hinaan dan cacian mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi keduanya. Haidan dan Hazan menemukan cinta pertamanya dengan cara yang unik... Hazan bertemu dengan Alena saat ia di bawa ke kantor guru karena memanjat pagar sekolah, sedang Haidan sang kakak jatuh cinta dalam pandangan pertama saat ia mencoba melindungi kakak kelasnya dari bola basket yang malah mengenai wajahnya. Perjalanan hidup Haidan dan Hazan memang tak mudah, selalu ada saja rintangan yang harus dilalui. Namun itulah yang membuat hidup terasa indah, ada berbagai rasa di dalam setiap cerita...
Bab 1 Cinta Pandangan Pertama

"Ayo, Zan! Gerbangnya keburu ditutup!" teriak Haidan sambil terus berlari menuju gerbang sekolah.

Di belakangnya, Hazan masih berusaha mengejar dengan nafasnya yang mulai tersengal.

"Woi, tungguin dong, Dan!" balas Hazan.

"Cepetan! Masa lari aja—"

Langkah Haidan tiba-tiba mendadak terhenti.

Kedua matanya terlihat membulat saat ia melihat pintu gerbang sekolah tepat di hadapannya yang kini sudah tertutup rapat.

Seorang satpam bahkan baru saja menguncinya.

"Yah..."

Brukk!

Karena Haidan berhenti secara tiba-tiba, sontak saja Hazan yang tak sempat mengerem pun langsung menabrak tubuh saudara kembarnya itu.

"Aduh!"

Tubuh Haidan sampai terdorong beberapa langkah ke depan.

"Lo kenapa malah berhenti sih, Dan?!" protes Hazan sambil memegangi kedua lututnya.

Nafasnya masih tersengal akibat berlari.

Haidan tak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah gerbang yang kini sudah benar-benar tertutup.

"Lo lihat ke depan dulu, Zan!" ujar Haidan.

"Emangnya ada apa sih?" Hazan perlahan mulai mengangkat kepalanya.

Begitu ia melihat gerbang sekolah yang sudah terkunci, raut wajahnya pun seketika langsung berubah.

"Aduh..." Ia terdiam beberapa saat, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Kita telat, Dan..."

"Makanya gue langsung berhenti, Zan."

"Waduh..." Hazan seketika langsung menelan saliva nya. "Kalau sampai Ibu tahu kita telat lagi, bisa panjang urusannya, Dan."

Haidan nafasnya nafasnya panjang.

Bukannya menjawab, ia justru malah berbalik menghadap saudara kembarnya itu.

"Dengerin gue dulu, Zan."

Hazan langsung menyipitkan matanya. "Apaan?"

"Gue punya ide."

Hazan langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan saudara kembarnya itu. "Ah, enggak deh, Dan."

"Belum juga gue kasih tahu idenya, malah langsung gak mau aja lo, Zan," respon Haidan.

"Tapi ide-ide lo nggak pernah bagus, Dan."

"Heh!" Haidan sontak saja langsung memasang wajah kesal. "Dengerin dulu makanya!"

Hazan hanya terkekeh kecil.

"Oke, oke. Emangnya lo mau ngapain, sih?"

Haidan mendekat, lalu ia berbisik pelan ke telinga saudara kembarnya itu.

Beberapa detik setelah itu, ekspresi Hazan seketika langsung berubah.

"Serius, lo?"

Haidan langsung mengangguk dengan mantap. Tak ada sedikit pun keraguan dalam raut wajahnya.

"Serius, dong!"

Hazan lalu menatap gerbang sekolah yang tinggi itu, kemudian kembali menatap saudara kembarnya.

"Dan..."

"Apa?"

"Kalau ketahuan, kita bukan cuma dimarahin Ibu."

Hadian tersenyum tipis. "Gue tahu."

"Kita bisa dipanggil guru loh, Dan..."

"Iya, gue juga tahu."

"Lah, terus?"

Haidan lalu menepuk bahu saudara kembarnya. "Makanya jangan sampai ketahuan."

Hazan terdiam, lalu ia menghela nafasnya pasrah.

"Kenapa sih setiap kali telat sekolah, gue selalu ikut terseret setiap rencana gila lo, Dan?"

Haidan lalu tertawa kecil mendengar ucapan Hazan. "Karena kita kembar, Zan... Haha."

"Lah, hubungannya apa coba?!"

"Udah, lo nurut aja! Yang lahir duluan itu gue!"

Hazan lalu menghembuskan nafasnya. "Iya deh iya, si paling kakak..."

"Udah jangan banyak bicara, ayo jalan!"

Haidan segera menarik tangan Hazan menjauh dari gerbang utama.

Dengan wajah pasrah, Hazan pun mengikutinya.

Dalam hatinya, ia hanya bisa berharap satu hal... semoga kali ini mereka tak benar-benar ketahuan.

Kedua saudara kembar itu pun berjalan memutar melewati sisi gedung sekolah.

Haidan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau tak ada seorang pun guru yang melihat.

"Dan..." panggil Hazan pelan.

"Apa?"

"Lo yakin cara ini aman?" tanya Hazan, ia masih ragu untuk mengikuti ide kakaknya itu.

Haidan langsung mengangguk mantap. "Tenang aja, Zan. Gue tahu jalan rahasia."

Hazan seketika langsung mengernyitkan dahinya. "Jalan rahasia apaan? Kayak mata-mata aja lo tahu jalan rahasia segala."

"Gue serius, Zan. Jalan yang biasa dipakai sama petugas sekolah."

Hazan lalu memandang saudara kembarnya itu dengan tatapan penuh curiga. "Sejak kapan lo tahu?"

Haidan tersenyum bangga. "Sejak gue pernah dihukum buat bersihin halaman sekolah."

"Jadi selama ini lo belajar jalur kabur dari pengalaman dihukum?" respon Hazan. "Wah, parah banget lo, Dan."

"Udah jangan banyak ngomong, Zan! Ikuti aja apa kata gue."

Hazan hanya bisa menggelengkan kepala. "Gini nih mentang-mentang jadi kakak..."

Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai di belakang gedung sekolah.

Di sana terlihat ada sebuah pagar yang tidak terlalu tinggi.

Haidan lalu langsung menunjuk ke arah pagar itu. "Nah, lewat sini."

Hazan langsung membelalakkan matanya. "Lo serius?"

"Ya serius, Zan. Emangnya kenapa?"

"Woi, Dan! itu pagar sekolah!"

"Ya makanya jangan sampai ketahuan dong, Zan."

"Huhh..." Hazan seketika langsung menghembuskan nafasnya. "Masalahnya kalau kita ketahuan—"

Belum sempat Hazan menyelesaikan ucapannya, Haidan seketika langsung memotong nya. "Udah, jangan banyak mikir!"

Tanpa berkata apa pun lagi, Haidan langsung memanjat pagar itu.

Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil melewati bagian atas pagar dan melompat turun ke sisi lainnya.

Setelah itu, ia kemudian menoleh ke arah Hazan.

"Ayo giliran lo, Zan!"

Hazan lalu menarik nafasnya panjang. "Kenapa sih hidup gue selalu begini kalau ngikutin, lo?"

Walaupun berkata seperti itu, ia akhirnya ikut memanjat dan langsung melompat.

"Nah, gacor juga kan cara gue?" tanya Haidan dengan bangganya.

"Iya deh iya, kali ini harus gue akui," respon Hazan sedikit terpaksa.

"Hei!" Tiba-tiba ada suara dari arah belakang.

Keduanya pun seketika langsung membeku, Haidan dan Hazan sangat mengenali suara itu.

"Mati gue..." gumam Hazan.

Haidan perlahan menoleh... Begitu pun dengan Hazan yang ikut menoleh dengan wajahnya yang terlihat sedikit pucat.

Beberapa meter di belakang mereka, seorang guru piket sudah berdiri dengan kedua tangan bersedekap.

Bukan hanya itu saja, tatapannya juga terlihat cukup tajam.

"Kalian berdua!" teriak guru piket itu.

Haidan langsung menelan saliva nya. "Iya, Pak?"

"Baru datang ke sekolah?" tanya guru piket itu, suaranya terdengar begitu dingin.

Haidan lalu tersenyum kaku. "Eee... iya, Pak."

Guru piket itu pun lalu menunjuk pagar di belakang mereka.

"Terus kenapa masuknya lewat pagar?"

Haidan terdiam, sedangkan Hazan terlihat langsung menundukkan kepalanya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Sampai akhirnya Haidan mencoba tersenyum.

"Kalau saya bilang gerbangnya sudah ditutup, Bapak percaya?"

Tatapan guru itu semakin tajam. "Menurut kamu?"

Haidan seketika langsung kehilangan senyumannya.

Hazan bahkan langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Habislah kita..." gumamnya.

"Ikut Bapak ke kantor..." ujar guru piket itu.

Mau tak mau, keduanya pun akhirnya berjalan mengikuti guru piket itu.

Sepanjang perjalanan, Hazan terus menyalahkan Haidan dalam hatinya.

Sampai akhirnya ia sudah tak tahan lagi untuk mengatakannya secara langsung.

"Ini semua gara-gara lo, Dan!" ujar Hazan.

Haidan yang berjalan di sampingnya langsung berbisik.

"Jangan nyalahin gue! Tadi lo juga ikut manjat, kan?"

"Ya karena lo maksa!"

"Yang penting kita masuk."

"Masuk sih masuk, tapi masuk kantor guru lebih tepatnya!"

Haidan lalu langsung menahan tawanya.

Begitu mereka sampai di depan kantor, keduanya langsung terdiam.

Guru piket lalu membuka pintu kantor.

"Masuk!" ujarnya setelah pintu kantor terbuka.

Haidan dan Hazan pun masuk dengan langkah yang berat.

Namun, baru beberapa langkah keduanya memasuki ruangan... langkah kaki Hazan tiba-tiba melambat.

Pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah seorang perempuan yang sedang duduk di salah satu meja di sisi ruangan.

Perempuan itu nampak sangat cantik dalam pandangan Hazan. Seragamnya terlihat begitu bersih dan tertata.

Di hadapan perempuan itu terlihat ada beberapa buku, lembar soal, dan sebuah papan nama kecil bertuliskan Tim Olimpiade Sains.

Siswi itu kini sedang berbicara dengan seorang guru.

"Bu, untuk materi yang bagian ini berarti saya pelajari sampai bab terakhir, ya?" tanya siswi itu.

"Iya, Alena. Terutama bagian yang kemarin masih kurang."

Perempuan yang ternyata bernama Alena itu pun langsung mengangguk. "Baik, Bu."

Hazan terdiam.... entah kenapa langkahnya benar-benar berhenti.

Suara guru piket yang sejak tadi terus terdengar di telinganya seakan menghilang secara perlahan.

Matanya hanya tertuju ke arah siswi itu.

"Alena? Kok gue baru denger nama itu, ya?" batin Hazan.

Nama itu memang baru saja ia dengar, namun entah mengapa hanya dengan melihatnya saja, Hazan merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya.

Degh!

Jantungnya terasa seolah berdetak sedikit lebih cepat.

Alena kemudian mengangkat wajahnya dan tatapan mereka seketika langsung bertemu.

Untuk sesaat... Hazan hanya bisa terdiam.

Alena sendiri terlihat sedikit bingung saat ia menyadari kalau Hazan sedang menatapnya.

Namun bukannya merasa terganggu, ia justru malah memberikan senyuman kecil.

Degh!

Sontak saja jantung Hazan kembali terasa seolah berdetak lebih kencang. Lalu ia buru-buru mengalihkan pandangan.

"Waduh! Bisa-bisa gue pingsan di sini..." gumam Hazan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca