

“Maaf, untuk saat ini kami membutuhkan kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja.”
Dimas tersenyum tipis.
Kalimat itu sudah terdengar terlalu akrab di telinganya.
“Baik, Pak. Terima kasih atas waktunya.”
Pemuda itu berdiri dari kursi plastik, sedikit membungkukkan badan, lalu keluar dari sebuah minimarket dengan map cokelat di tangan.
Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, senyum sopan di wajah Dimas langsung menghilang.
Ia menatap langit.
Matahari siang terasa seperti sengaja berada tepat di atas kepalanya.
“Pengalaman lagi.”
Dimas menghela napas.
“Kalau semua mencari yang berpengalaman, saya harus mendapatkan pengalaman pertama dari mana?”
Tentu saja tidak ada yang menjawab.
Dimas melirik map cokelat di tangannya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi ijazah SMA, KTP, kartu keluarga, pasfoto, serta surat lamaran yang sudah sedikit kusut.
Hari ini saja, lima tempat telah ia datangi.
Sebuah toko pakaian.
Bengkel.
Kafe.
Toko elektronik.
Dan terakhir minimarket ini.
Hasilnya?
Nol.
Dimas memasukkan map ke dalam tas ransel yang warnanya sudah mulai pudar.
Ponselnya bergetar.
Ia mengeluarkannya.
Saldo: Rp184.750
Dimas memandangi angka itu beberapa detik.
“Masih kaya.”
Ia memasukkan ponsel kembali ke saku.
“Setidaknya kalau standar kayanya diturunkan sangat jauh.”
Dimas berjalan menyusuri trotoar.
Usianya baru delapan belas tahun.
Beberapa bulan lalu ia baru menyelesaikan SMA.
Tidak ada kuliah yang menunggunya.
Tidak ada orang tua yang bisa membayar uang semester.
Tidak pula ada rumah keluarga yang bisa menjadi tempatnya kembali ketika semuanya gagal.
Ayah dan ibunya sudah tidak ada.
Sejak saat itu Dimas terbiasa melakukan hampir semuanya sendiri.
Ia tidak suka menceritakan hal itu kepada orang lain.
Bukan karena ingin terlihat kuat.
Dimas hanya merasa tidak ada gunanya menjelaskan kesulitan kepada semua orang yang ditemuinya.
Mereka juga punya masalah masing-masing.
Dan rasa kasihan tidak akan membayar makan malamnya.
Yang Dimas butuhkan sekarang adalah pekerjaan.
Apa saja.
Selama halal dan menghasilkan uang, ia bersedia melakukannya.
Dua puluh menit berjalan kaki kemudian, aroma ayam goreng dari sebuah warung membuat langkah Dimas melambat.
Perutnya ikut memberikan pendapat.
Dimas melihat papan harga.
Nasi + Ayam Goreng — Rp18.000
Tangannya secara refleks merogoh saku.
Kemudian berhenti.
Rp184.750.
Jika membeli makan seharga Rp18.000...
Dimas menghela napas.
Ia berjalan lagi.
Beberapa puluh meter kemudian, ia berhenti di sebuah warung kecil.
“Bu, nasi sama telur satu.”
“Dibungkus?”
“Makan sini.”
“Sepuluh ribu.”
Jauh lebih bersahabat.
Dimas duduk di bangku panjang.
Tidak lama kemudian sepiring nasi, telur goreng, sedikit sayur, dan sambal diletakkan di hadapannya.
Ia makan perlahan.
Di meja sebelah, tiga pemuda seusianya sedang berbicara.
“Jadi kamu benar masuk kampus itu?”
“Iya. Minggu depan mulai ospek.”
“Enak sekali. Saya masih menunggu pengumuman.”
Pembicaraan mereka terus berlangsung.
Kampus.
Jurusan.
Kos.
Laptop baru.
Rencana masa depan.
Dimas tidak sengaja mendengarnya.
Ia menatap telur goreng di piring.
Ada sedikit rasa iri.
Bukan kepada laptop mereka.
Bukan juga karena mereka bisa kuliah.
Dimas iri karena mereka terdengar seperti tahu ke mana hidup mereka akan berjalan.
Sementara dirinya?
Besok saja belum jelas.
Namun Dimas segera menggeleng.
“Tidak ada gunanya.”
Ia menghabiskan makanannya.
Setelah membayar, saldo hidupnya secara tidak resmi turun menjadi:
Rp174.750.
Sore menjelang ketika Dimas akhirnya tiba di tempat tinggalnya.
Tempat itu bukan apartemen.
Bahkan menyebutnya rumah kontrakan mungkin terlalu murah hati.
Sebuah kamar kos berukuran sekitar tiga kali tiga meter.
Kasur tipis berada di sudut.
Kipas angin kecil berdiri di atas meja.
Ada lemari plastik, beberapa pakaian, dua buku bekas, charger ponsel, botol air, dan sebuah laptop tua yang sudah hampir setahun tidak bisa digunakan.
Itulah sebagian besar harta milik Dimas.
Ia melempar tas ke atas kasur.
Lalu ikut menjatuhkan tubuhnya.
“Luar biasa.”
Dimas menatap langit-langit.
“Lima lamaran. Lima penolakan.”
Ia mengangkat tangan.
“Produktif sekali.”
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dimas membukanya.
Pemilik Kos
Dimas, jangan lupa pembayaran kamar tiga hari lagi ya.
Dimas menutup mata.
Sewa kamarnya Rp450.000 per bulan.
Uang yang dimilikinya bahkan tidak sampai setengahnya.
Ia mengetik:
Baik, Bu.
Kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi:
Siap, Bu.
Dihapus lagi.
Pada akhirnya ia hanya mengirim:
Baik, Bu. Terima kasih sudah mengingatkan.
Pesan terkirim.
Dimas meletakkan ponsel di dada.
“Rp174.750.”
Tiga hari.
Ia menghitung dalam kepala.
Bahkan kalau besok mendapatkan pekerjaan, belum tentu gaji langsung diberikan.
Dimas duduk.
Pandangannya jatuh pada laptop rusak di atas meja.
“Kalau kamu masih hidup, mungkin setidaknya saya bisa mencari kerja daring.”
Laptop itu tentu tidak menjawab.
Dimas menekan tombol power.
Tidak terjadi apa-apa.
“Bagus.”
Ia mengangguk.
“Kita sama-sama pengangguran.”
Entah kenapa ia tertawa sendiri.
Hanya sebentar.
Setelah itu kamar kembali sunyi.
Dimas mengambil salah satu buku bekas di meja.
Buku mengenai dasar-dasar bisnis.
Ia membelinya beberapa bulan lalu seharga lima belas ribu rupiah dari lapak buku bekas.
Sudah beberapa kali mencoba membacanya.
Biasanya hanya bertahan sekitar dua puluh halaman sebelum menyerah.
Hari ini ia membuka halaman yang dilipat.
Membaca dua paragraf.
Kemudian menutupnya kembali.
Pikirannya terlalu penuh.
“Pekerjaan...”
Dimas mengambil ponsel.
Mencari lowongan.
Pelayan restoran.
Minimal pengalaman satu tahun.
Admin.
Menguasai spreadsheet.
Desain grafis.
Menguasai beberapa aplikasi.
Sales.
Memiliki kendaraan pribadi.
Dimas terus menggulir layar.
Semakin lama semakin malas membacanya.
Ia tidak punya banyak kemampuan yang bisa dijual.
Itulah kenyataannya.
Dimas mungkin bukan orang bodoh.
Nilainya di sekolah cukup baik.
Tetapi cukup baik ternyata tidak terlalu berguna ketika seseorang keluar dari gerbang sekolah tanpa uang, koneksi, atau keterampilan khusus.
“Harus belajar sesuatu.”
Ia mengatakannya kepada dirinya sendiri.
Masalah berikutnya langsung muncul.
Belajar apa?
Butuh berapa lama?
Dan bagaimana ia membayar kos sambil belajar?
Dimas mengusap wajah.
“Kalau hidup punya menu tutorial, seharusnya jangan disembunyikan.”
Tepat ketika kalimat itu keluar dari mulutnya—
Ting!
Dimas berhenti.
Ia melihat ponsel.
Tidak ada notifikasi.
Ting!
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini jelas bukan berasal dari ponselnya.
Dimas mengangkat kepala.
Sesuatu muncul di udara.
Tepat di depannya.
Sebuah layar transparan berwarna biru.
Dimas tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Ia mengedip.
Layar itu masih ada.
Dimas menggeser tubuh ke kanan.
Layar tersebut mengikuti arah pandangannya.
Ia menggeser ke kiri.
Tetap sama.
Dimas menatap botol air di meja.
Kemudian layar.
Botol.
Layar.
“Baik.”
Ia menarik napas.
“Saya mungkin terlalu lapar.”
Tulisan mulai muncul.
[MENCARI HOST...]
[HOST DITEMUKAN.]
[MEMVERIFIKASI KESESUAIAN...]
10%...
34%...
71%...
100%.
Dimas berdiri.
“Apa ini?”
Tidak ada jawaban.
Tulisan berikutnya muncul.
[KOMPATIBILITAS MEMENUHI PERSYARATAN.]
[MENGINISIALISASI PROGRESSION SYSTEM...]
Dimas membaca setiap kata dengan perlahan.
“System?”
Ia mengulurkan tangan.
Jarinya melewati layar tersebut.
Tidak ada sensasi apa pun.
Dimas mundur.
Hal pertama yang muncul di pikirannya adalah ia sedang berhalusinasi.
Tetapi ia sadar sepenuhnya.
Tidak demam.
Tidak minum obat.
Apalagi alkohol.
Layar kembali berubah.
PROGRESSION SYSTEM
Host: Dimas
Usia: 18 Tahun
Level: 0
Evaluasi Awal Sedang Dilakukan...
Dimas menelan ludah.
Beberapa baris muncul satu per satu.
Kondisi Fisik: Rendah
Kondisi Finansial: Sangat Rendah
Pengetahuan: Dasar
Keahlian Profesional: Tidak Ada
Pekerjaan: Tidak Ada
Aset: Sangat Rendah
Jaringan Profesional: Tidak Ada
Alis Dimas berkedut.
“Tidak perlu sedetail itu.”
System mengabaikannya.
Menghitung Evaluasi Keseluruhan...
F
Dimas terdiam.
Sebuah huruf F besar melayang di hadapannya.
“...”
Entah kenapa bagian ini terasa lebih menyakitkan daripada lima penolakan kerja tadi.
“Baru muncul sudah menghina.”
Ting!
Tulisan baru muncul.
[EVALUASI SELESAI.]
Kesimpulan: Host memiliki ruang perkembangan yang sangat besar.
Dimas membaca dua kali.
Kemudian tertawa kecil.
“Itu cara yang sangat sopan untuk mengatakan hidup saya berantakan.”
Anehnya, sebuah jawaban muncul.
[INTERPRETASI DAPAT DITERIMA.]
Senyum Dimas langsung hilang.
“Kamu bisa mendengar saya?”
[PROGRESSION SYSTEM TERHUBUNG LANGSUNG DENGAN HOST.]
Dimas duduk perlahan.
Ini bukan sekadar gambar.
Benda—atau apa pun itu—merespons perkataannya.
“Kalau kamu benar-benar System...”
Dimas berhenti.
Pertanyaan pertama yang muncul sebenarnya sangat sederhana.
“Bisa memberi saya uang?”
System menjawab hampir seketika.
[TIDAK.]
“Setidaknya pertimbangkan dulu.”
[TIDAK.]
Dimas mengembuskan napas.
“Baik. Saya mulai tidak menyukai hubungan kita.”
Layar berubah lagi.
[SYSTEM TIDAK DIRANCANG UNTUK MEMBERIKAN KESUKSESAN INSTAN.]
[SYSTEM MEMBERIKAN SARANA PERKEMBANGAN.]
[HASIL DITENTUKAN OLEH TINDAKAN HOST.]
Dimas yang tadinya bercanda menjadi sedikit serius.
“Sarana?”
[BENAR.]
[STARTER PACKAGE TERSEDIA.]
Mata Dimas langsung kembali fokus.
“Hadiah?”
[BENAR.]
“Gratis?”
Ada jeda sepersekian detik.
[BENAR.]
Dimas langsung duduk tegak.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”
Sebuah menu baru terbuka.
STARTER PACKAGE
Host: DIMAS
Starter Abilities:
1. RAPID LEARNING — Lv.1
Meningkatkan kemampuan Host dalam mempelajari dan menguasai pengetahuan serta keterampilan.
2. APPRAISAL — Lv.1
Memungkinkan Host memperoleh informasi dasar dan estimasi nilai terhadap target yang memenuhi persyaratan.
3. SPATIAL DOMAIN — Lv.1
Membuka akses awal terhadap kemampuan ruang milik Host.
Informasi lebih lanjut tersedia setelah aktivasi.
Dimas membaca ketiganya tanpa berkedip.
Rapid Learning.
Appraisal.
Spatial Domain.
Ia belum sepenuhnya memahami kemampuan terakhir, tetapi hanya dari namanya saja sudah terdengar tidak normal.
Kemudian layar bergerak ke bawah.
Ternyata masih ada sesuatu.
SPECIAL STARTER REWARD
SYSTEM PERSONNEL ×10
Spesialisasi: INFORMATION TECHNOLOGY
Usia: 20 Tahun
Gender: Acak
Loyalitas kepada Host: ABSOLUT
Kompetensi: Profesional
Identitas Legal: Terverifikasi
Biaya Pemeliharaan 7 Hari Pertama: GRATIS
Dimas membaca.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ia menunjuk tulisan itu.
“Tunggu.”
[MENUNGGU.]
“Sepuluh orang?”
[BENAR.]
“Manusia?”
[SYSTEM PERSONNEL.]
“Apa bedanya?”
System menampilkan informasi tambahan.
SYSTEM PERSONNEL
Personel yang disediakan secara eksklusif oleh System.
• Memiliki identitas legal yang valid.
• Memiliki kompetensi sesuai spesialisasi.
• Memiliki kepribadian individual.
• Loyalitas kepada Host bersifat absolut.
• Tidak akan mengkhianati Host.
• Dapat menerima instruksi langsung dari Host.
• Dapat mengakses fitur tertentu dari Spatial Domain.
Dimas tidak mengatakan apa pun.
Beberapa menit lalu ia adalah pengangguran yang sedang memikirkan bagaimana membayar kos.
Sekarang sesuatu yang tidak diketahui asalnya menawarkan tiga kemampuan aneh dan sepuluh orang profesional.
Akal sehatnya menyuruh untuk takut.
Sebagian dirinya memang takut.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa takut itu.
Harapan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dimas merasa seolah-olah sebuah pintu muncul di hadapannya.
Ia belum tahu apa yang ada di balik pintu tersebut.
Bisa jadi keberuntungan.
Bisa juga masalah yang jauh lebih besar.
Namun Dimas tahu satu hal.
Kalau ia tetap diam di kamar ini, tiga hari lagi ia bahkan tidak mampu membayar tempat untuk tidur.
Di bagian bawah layar terdapat dua pilihan.
[CLAIM STARTER PACKAGE]
YES NO
Dimas menatap tombol YES.
“Kalau saya menekan ini, tidak ada kontrak aneh seperti menjual jiwa, kan?”
[TIDAK ADA.]
“Tidak ada utang satu triliun?”
[TIDAK ADA.]
“Tidak ada misi bunuh diri?”
[SYSTEM MENILAI PERTANYAAN HOST TERLALU BANYAK.]
Dimas terdiam.
Kemudian tertawa.
“Baiklah.”
Ia mengangkat tangan.
Jarinya mendekati tombol di udara.
Hari ini ia telah ditolak lima tempat kerja.
Uangnya tinggal Rp174.750.
Tiga hari lagi sewa kamar harus dibayar.
Ia tidak tahu seperti apa kehidupannya minggu depan.
Tetapi mungkin...
hanya mungkin...
semua itu akan mulai berubah malam ini.
Dimas menekan—
YES.
Ting!
Cahaya biru memenuhi pandangannya.
[STARTER PACKAGE BERHASIL DIKLAIM.]
[RAPID LEARNING Lv.1 — AKTIF.]
[APPRAISAL Lv.1 — AKTIF.]
[SPATIAL DOMAIN Lv.1 — AKTIF.]
[SYSTEM PERSONNEL ×10 — SIAP DITEBUS.]
Dimas belum sempat bereaksi ketika satu pemberitahuan terakhir muncul.
[APAKAH HOST INGIN MEMANGGIL 10 SYSTEM PERSONNEL SEKARANG?]
YES NO
Dimas menatap kamar kosnya yang hanya berukuran tiga kali tiga meter.
Lalu menatap tulisan 10 PERSONNEL.
Kemudian kembali melihat kamarnya.
“...”
Untuk pertama kalinya sejak System muncul, Dimas menemukan masalah yang bahkan System tidak perlu menjelaskan.
Sepuluh orang mau ditaruh di mana?
— Bab 1 Selesai —