

Hari ini ayahku dihukum mati.
Suasana Trowulan saat itu kelabu. Awan tebal seperti berduka mendengar seorang tokoh kerajaan tak bersalah harus dihukum mati. Namaku Jaka Wira ada ditengah ribuan rakyat yang menonton seorang Jendral perang yang akan dipancung. Yang akan dihukum itu ayahku dan aku tak mengerti kenapa harus dihukum. Hari inilah yang mengubah nasibku sebagai anak jendral yang tak tahu kesalahan bapakku.
Lapangan besar itu dipenuhi pedagang , petani, saudagar dan prajurit yang mengelilingi panggung kayu ditengah lapangan.
Tak terkecuali semua ingin menyaksikan eksekusi seorang pengkhianat. Aku berdiri di tengah kerumunan.
Di panggung ayahku seorang laki laki yang berlutut dengan tangan dirantai. Panglima Wira Bhumi nama ayahku. Dianggap sebagai pahlawan yang menjaga kehormatan Majapahit kini tak berdaya menunggu hukuman .
Dia yang mengajariku berkuda, memanah, bermain pedang dan keris mulai kecil.
Selalu berkata bahwa kehormatan seorang ksatria lebih berharga daripada nyawanya.
Kini kepala Wira Bhumi akan dipenggal di depan rakyat yang pernah ia lindungi.
"Pengkhianat!"
Seseorang berteriak.
"Pengkhianat kerajaan!"
Teriakan itu disambut puluhan suara lain.
Lalu ratusan.
Tak lama kemudian seluruh alun-alun dipenuhi caci maki.
Rakyat kecil tak tahu apa apa dan tidak mengenal dekat ayahku. Mereka juga tak tahu ketika ayahku berperang penuh luka.
Mereka tidak pernah melihat bagaimana ayahku menolak hadiah emas demi memastikan para prajurit mendapatkan makanan yang layak
Mereka percaya pada apa yang dikatakan istana. Bahwa Panglima Wira Bhumi menjual rahasia kerajaan kepada musuh. Wira Bhumi menerima emas dari pemberontak dan berencana menggulingkan raja.
Semua itu fitnah. Dunia memang dipenuhi kebohongan tapi kebenaran akan muncul.
Akubtahu fitnah .Karena tiga malam sebelum ditangkap, ayah sendiri mengatakan kepadaku.
"Ayah dijebak, Jaka."
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Seorang pria berpakaian kebesaran kerajaan naik ke panggung.
Patih Mahesa Jingga.
Orang kedua paling berkuasa setelah raja.
Wajahnya tenang.
Ia membuka gulungan naskah dari lembaran kayu dan mulai membacakan putusan.
"Dengan ini kerajaan Majapahit menjatuhkan hukuman mati kepada Wira Bhumi atas kejahatan pengkhianatan terhadap negara, persekongkolan dengan musuh, dan makar terhadap takhta."
Sorak-sorai terdengar dari berbagai arah.
Mahesa Jingga melanjutkan tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Hukuman akan dilaksanakan hari ini."
Aku melihat ayah mengangkat kepala.
Yang membuat aneh .Tidak ada rasa takut di wajahnya. Tak menyesal dan marah.
Yang ada justru ketenangan yang membuat dadaku bergolak.
Tatapan ayah menyapu kerumunan.
Mencari seseorang.
Lalu mata kami bertemu.
Untuk sesaat dunia terasa berhenti.
Aku melihat senyum kecil muncul di wajah ayahku , seorang Satria.
Senyum yang ia berikan ketika aku berhasil memanah sasaran saat kecil.
Senyum yang sama ketika ia mengangkatku ke atas bahunya.
Hatiku merasa sefrekuensi dengan ayah
"Ayah..." bisikku.
Meski jaraknya jauh, aku bisa melihat bibirnya bergerak.
Jangan menangis. Tapi aku tak bisa menahan air mata itu jatuh.
Namun air mata tetap mengalir.
Seorang algojo bertubuh besar melangkah maju membawa pedang panjang.
Matahari muncul dari balik persembunyian.
Cahayanya menyinari panggung eksekusi.
Ayah menoleh ke arah Mahesa Jingga.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Suara ayah menggema ke seluruh alun-alun.
Kerumunan perlahan menjadi sunyi.
Mahesa Jingga mengangguk.
"Katakanlah."
Ayah berdiri setegak mungkin meski rantai membelenggu kedua tangannya.
"Aku tidak bersalah."
Kerumunan kembali berteriak hu....
Namun ayah melanjutkan.
"Aku tidak pernah mengkhianati Majapahit."
Suara ejekan dan umpatan terdengar.
Beberapa orang melempar tanah , batu ke arah panggung.
"Aku telah mengabdikan hidupku untuk kerajaan ini."
Wajah ayah tetap tenang.
"Tetapi hari ini aku mati sebagai pengkhianat."
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya mengarah ke langit.
"Lihatlah para leluhur dan para Dewa"
Suasana menjadi sunyi kembali.
"Jika aku benar-benar bersalah, biarlah namaku dilupakan."
Memori ingatanku tak mudah melupakan pesan itu.
"Tetapi jika aku difitnah..."
Suara ayah semakin lantang.
"Maka suatu hari nanti kebenaran akan datang."
Aku melihat Mahesa Jingga dengan wajah misterius dan mendengar apa yang diwasiatkan ayah
Untuk pertama kalinya, patih itu terlihat bermain cantik tanpa ekspresi jelas
Ayah tersenyum.
"Seseorang akan mengungkap semuanya."
Lalu perlahan, ia menoleh ke arahku.
Tatapan kami kembali bertemu.
Dan aku tahu.
Kalimat itu ditujukan kepadaku.
Jaka Wira.
Putranya.
Seseorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk jadi penyelamatnya.
Tiba-tiba perasaanku tak karuan.
Bukan karena takut.
Melainkan kemarahan yang membakar seluruh tubuhku.
Aku ingin naik ke atas panggung.
Aku ingin menusukkan keris ke dada Mahesa Jingga.
Aku ingin semua ini berakhir.
Tetapi aku merasa tak mampu karena terlalu lemah dan kecil di mata banyak orang.
Masih seperti anak kecil tak berdaya melihat sendiri ayahnya dipenggal.
Algojo mengangkat pedangnya.
Bendera Majapahit berkibar liar.
Seakan alam pun menunggu dengan menahan napas.
"Ayah!" teriakku.
Suara itu keluar tanpa bisa kutahan.
Beberapa orang menoleh ke arahku.
Ayah tersenyum lagi. Lalu mengangguk pelan. Seolah sedang berpamitan.
Pedang itu bergerak.
Satu tebasan. Sepersekian detik tebasannya.
Terlalu cepat.
Aku bahkan tidak sempat berkedip.
Darah segar mengalir deras.
Kepala ayah jatuh ke atas panggung.
Dunia runtuh.
Suara kerumunan membuat telingaku budeg.
Tubuhku ringan. Ingin pingsan. Aku jatuh berlutut di tanah.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Ayah tidak mungkin mati selalu kuat.
Ayah selalu menang dan merupakan pahlawanku.
Namun tubuh yang tergeletak di atas panggung itu tidak bergerak lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami arti kehilangan.
Air mataku jatuh tanpa henti. Seseorang menepuk bahuku.
Aku menoleh.
Seorang pria tua berjubah kotor di belakangku. Aku tidak mengenalnya.
Tetapi matanya tajam. Sangat tajam menyorot mataku.
"Kalau ingin hidup, ikut aku sekarang."
Aku tak mengerti dan mencoba berpikir.
"Apa?"
Pria tua itu tidak menjawab.
Tatapannya mengarah ke sisi lain lapangan.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Empat prajurit kerajaan sedang berbicara dengan seorang perwira.
Salah satu dari mereka menunjuk ke arahku.
Jantungku berjalan cepat.
"Mereka mencarimu."
Tubuhku tegang.
"Mengapa?"
Pria tua itu tersenyum pahit.
"Karena anak pengkhianat biasanya tidak dibiarkan hidup." Darahku terasa berhenti.
Aku kembali ke arah panggung.
Mahesa Jingga masih berdiri di sana.
Tatapannya menyapu kerumunan.
Lalu berhenti tepat ke arahku.
Meski terpisah puluhan langkah, aku merasakan sesuatu.
Patih itu tahu siapa aku.
Dan ia tahu aku hidup. Perlahan, sudut bibirnya mau bicara tapi tak jadi.
Senyuman misterius dan seperti senyuman serigala bertemu makanan.
Pria tua itu menarik lenganku.
"Sekarang pilih, Jaka Wira."
Aku terkejut mendengar namaku disebut.
"Bagaimana kau tahu—"
"Kalau ingin membalas kematian ayahmu, jangan mati hari ini."
Aku menatap panggung eksekusi.
Tubuh ayah masih terbaring di sana.
Matahari kini sepenuhnya muncul dengan terik
Cahayanya menyinari darah segar di panggung.
Di dalam hatiku, terukir pada saat itu. Sebuah sumpah untuk balas dendam.
Sumpah yang diucap akan ubah seluruh hidupku.
Aku akan mencari kebenaran dan akan membersihkan nama ayahku.
Suatu hari nanti...
Aku akan membuat orang-orang yang memfitnah membayar semuanya .Nyawa bayar nyawa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku mengikuti pria tua itu hilang dari pandangan.
Meninggalkan kota.
Menuju kehidupan baruku.
Tanpa kusadari, perjalanan panjang yang mengubah nasib Majapahit akan dimulai.