Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mengejar Kebencian

Mengejar Kebencian

DaoisttjmlCe | Bersambung
Jumlah kata
47.3K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Mengejar Kebencian
Mengejar Kebencian

Mengejar Kebencian

DaoisttjmlCe| Bersambung
Jumlah Kata
47.3K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivasiPertualanganSupernatural
"Bunuh. Di duniaku, yang tersisa hanyalah pembantaian. Dan hanya melalui pembantaian ini, aku akan tahu bahwa aku masih hidup. Bunuh. Jika aku tidak membunuh, dunia akan berpikir bahwa aku telah mati. Jika aku tidak membunuh, maka yang tersisa dariku hanyalah kebencian yang semakin memanas, layaknya lahar di dasar neraka yang membakar tubuhku inci demi inci. Jika aku tidak membunuh, maka aku akan mengecewakan hatiku, pikiranku, setiap sel di tubuhku, orang tuaku, saudaraku, dan seluruh warga desa. Benar atau salah, aku tidak peduli. Jadi, aku, Ardhana Wiratama Adhyaksa, hanya bisa membunuh."
Bab 1 - Anak yang Teramat Sangat Biasa

Alam semesta, sebagaimana yang disepakati oleh sebagian besar filsuf yang belum pernah dipukul kepalanya dengan batu, memiliki selera humor yang sangat spesifik.

Jenis humor yang gemar melempar kerikil tajam tepat ke arah tumit orang yang paling tidak siap, lalu bersedekap menanti mereka tersandung dengan cara yang paling bertentangan dengan hukum gravitasi dasar.

Tapi, dari sekian banyak manuver konyol untuk tersandung di dunia fana ini, ada satu variasi yang paling spektakuler, paling tidak masuk akal, dan hampir selalu melibatkan kepulan asap berbau belerang…

Tersandung menuju keabadian.

Anda pasti kenal kisah-kisahnya. Tipe cerita tentang pemuda malang yang secara harfiah dilindas oleh roda takdir, dilempar ke jurang paling gelap, lalu, alih-alih patah tulang, dia malah menemukan warisan milik Dewa Petir yang sedang mengambil cuti panjang.

Atau kisah tentang gadis desa yang tanpa sengaja menelan sebuah pil berbentuk mirip kotoran kambing, lalu mendadak sanggup mendengar bisikan emosional dari sebongkah besi tua dan berdebat sengit mengenai tarif pajak tanah bersama seekor serigala berekor sembilan.

Di titik ini, rasanya wajar jika Anda bergumam, "Ah, itu kan cuma dongeng pengantar tidur untuk anak-anak bertulang lunak yang butuh dorongan moral untuk bangun pagi." Anda mungkin menambahkan dengan penuh keyakinan, "Dunia nyata tidak berjalan seperti itu. Orang yang jatuh dari tebing tidak menemukan warisan rahasia, mereka menemukan dasar tebing, biasanya dengan kecepatan yang sangat tidak nyaman."

Secara statistik, Anda sembilan puluh sembilan persen benar.

Tapi, tepat di sisa satu persennya, di suatu belahan kosmos yang lokasinya tidak terlalu jauh jika Anda paham cara melipat peta realitas dengan benar, berdirilah sebuah gunung. Gunung ini tidak terlampau megah, tidak pula terlalu kerdil. Gunung yang cukup bersahaja, tempat satu-satunya hal penting yang terjadi adalah tumbuhnya jamur liar dan bersembunyinya para hewan yang mungkin belum pernah Anda ketahui.

Di salah satu lerengnya yang agak miring, terdapat sebuah desa.

Adhyaksa.

Bangunan-bangunannya terbuat dari kayu yang, jika ditinjau dari sudut pandang sosiologi rayap, merupakan kompleks perumahan bintang lima yang sangat mewah. Bagi warganya yang kurang beruntung dalam urusan properti, gua lokal yang agak lembab sudah cukup memadai untuk ditempati.

Di salah satu gua itulah bermukim sebuah keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki.

Anak yang biasa saja.

Sangat biasa.

Teramat sangat biasa.

Anak yang sangat pasif-transparan ini menyandang nama Ardhana Wiratama Adhyaksa.

Sebuah nama yang, jika diterjemahkan dengan rasa percaya diri berlebih, kurang lebih berarti: “Putra Agung dari Lembah Abadi yang Ditakdirkan Menyinari Dunia.”

Setiap anak biasa memang membutuhkan nama yang beratnya sanggup mematahkan tulang leher.

Ardhana tinggal di Desa Adhyaksa, sebuah nama yang terdengar cukup agung untuk sebuah desa kecil di lereng gunung.

Orang yang pertama kali memberi nama desa ini pastilah seorang raja yang sedang mabuk inspirasi, seorang bangsawan yang kehilangan kerajaannya, atau sekadar penyair pengangguran yang kebetulan menemukan bidang tanah kosong dan memahat kata “Adhyaksa" di sebuah batu.

Harapan mulianya adalah agar warga desa menjadi sosok-sosok tangguh yang suatu hari mampu menembus batas kehebatan.

Sayangnya, takdir memiliki cara unik untuk menertawakan harapan.

Mayoritas warga desa adalah petani dengan punggung pegal, peternak yang hewannya sering dicuri oleh anak-anak (itu termasuk Ardhana) serta penebang kayu yang lebih sering bertengkar dengan pohon daripada menumbangkannya.

Bagi segelintir warga yang cukup beruntung dianugerahi serat otot elastis, paru-paru seperti tabung besi, dan bakat luar biasa, mereka akan dicekoki ramuan berbau aneh, lalu menjalani pelatihan untuk menjadi seorang Kultivator.

Kultivator, tentu saja.

Fenomena sosial di mana seseorang menghabiskan puluhan tahun bermeditasi di atas batu dingin, membaca kitab suci setebal batu nisan, mempelajari bahasa kuno yang bahkan para leluhur sendiri tidak mengerti, mencari makhluk ajaib bernama yang disebut Mahyuta, hanya untuk meningkatkan tingkat kemampuan mereka.

Dan yang paling krusial, memiliki jubah yang sanggup berkibar secara dramatis di dalam ruangan tertutup tanpa hembusan angin sedikit pun.

Suatu efek visual yang tidak berguna untuk pertarungan, tapi sangat esensial bagi harga diri.

Dan sebagaimana lazimnya tradisi kuno di mana anak-anak kecil bercita-cita menjadi hal paling tidak realistis yang bisa dipikirkan otak mereka, Ardhana sangat, amat sangat, ingin menjadi seorang Kultivator.

Sayangnya bagi masa depannya (dan dunia pada umumnya), dia hanyalah seorang bocah dua belas tahun yang memiliki bakat alami untuk mencuri ternak tetangga dan memotong kayu.

Yang terakhir itu terpaksa dia lakukan karena, tentu saja, itulah profesi ayahnya.

Dia dipaksa…

Ehem.

Maksudnya, Ardhana dengan penuh kesadaran, rasa hormat kepada keluarga, dan sukacita yang sama sekali tidak dipaksakan, selalu membantu pekerjaan ayahnya.

Ayahnya sendiri adalah tipe pria yang sangat "baik hati". Begitu baiknya sampai-sampai Ardhana sering dihadiahi omelan bersuara bass setiap kali bocah itu memberanikan diri untuk "membantu".

Sang ibu, di sisi lain, adalah mantan kembang desa yang anggun, cantik, dan memiliki kesabaran setebal benteng kerajaan.

Dia adalah tipe ibu yang menyayangi Ardhana dengan kelembutan yang membuat siapa pun heran.

Ardhana sangat menyayangi ibunya.

Saking sayangnya, jika ada pengelana asing yang bertanya, "Siapa orang yang paling kau hormati di dunia ini?", dia akan menjawab "Ibu" tanpa ragu sedikit pun.

Dia baru akan menambahkan "dan Ayah" setelah si penanya berjalan menjauh minimal satu kilometer.

Secara berkala, dia kerap merenungkan misteri terbesar di desanya:

Bagaimana bisa ibunya yang seanggun seorang bangsawan kerajaan mau menikah dengan ayahnya, seorang penebang kayu pemarah yang ketampanannya sangat standar dan isi dompetnya selalu tampak seperti habis dirampok?

Meski begitu, dia cukup menghargai keluarganya.

Dia adalah anak yang berbakti…

Kadang-kadang.

Lebih seringnya, dia adalah sumber migrain massal.

Kelakuannya bahkan sukses membuat Kepala Desa rajin berdoa di makam leluhur setiap malam Jumat, memohon dengan penuh ketulusan agar Ardhana memiliki aperture dengan bakat.

Dengan begitu, desa bisa mengirimnya jauh-jauh ke sebuah sekte dengan alasan "mengembangkan potensi". Ah, sebuah cita-cita yang sungguh mulia bagi seluruh warga, kan?

Sayangnya, takdir tampaknya terlalu menikmati pertunjukan komedi lokal ini untuk membiarkan Ardhana pergi.

Saat ini, sang calon legenda (mungkin) sedang telentang di atas dahan pohon yang cukup tebal untuk menopang beban dosanya.

Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, matanya yang hitam legam menatap hampa ke arah rindangnya dedaunan yang menolak masuknya sinar matahari.

Dia berbaring di sana dengan keagungan seekor koala yang sedang mengalami krisis eksistensial. Hingga kemudian, seekor, atau mungkin sehewan? Ah, persetan dengan tata bahasa!

Saat ini, seekor burung kecil terbang mendekat dan hinggap di dahan persis di atas kepalanya. Mereka saling pandang. Dua makhluk hidup yang sama-sama tidak memiliki agenda berguna hari itu.

"Hei, burung kecil. Bagaimana rasanya terbang?" Ardhana akhirnya membuka mulutnya dan mengeluarkan suara cempreng yang sanggup meretakkan kaca jendela jika ada.

"Chirp! Chirp!" sahut si burung sambil memiringkan kepala.

"Hah?" dia mengerutkan dahi. "Kau bilang rasanya sangat menyenangkan? Tentu saja! Aku sudah tahu, meski aku sendiri belum pernah terbang. Kau bisa bebas ke mana saja, sedangkan aku... ck, terjebak di desa ini bersama orang-orang menyebalkan."

"Hei, lihat! Ardhana bicara dengan burung lagi. Kan sudah kubilang, dia makin gila."

Sebuah suara terdengar dari bawah.

Itu adalah Adhikara, bocah sebayanya yang berambut ikal, berwajah lurus, dan memiliki hobi alami menjadi sosok yang menjengkelkan.

"Diam kau, Adhi!" Ardhana menjawab sinis tanpa mengubah posisinya. "Kau tidak akan pernah paham jalan pikiran calon Kultivator Agung. Aku sedang bertukar pengetahuan dengan burung ini. Asal kau tahu, dia ini Phoenix legendaris yang sedang menyamar!"

Tepat saat kata “Pheonix" selesai diucapkan, sang makhluk legendaris memutuskan untuk melepaskan beban pencernaannya.

Sebuah amunisi hangat yang baru saja melewati sistem pencernaan si burung mendarat tepat, presisi, dan tanpa ampun di atas wajah Ardhana, sebelum pemiliknya terbang pergi tanpa penyesalan moral sedikit pun.

"BWAHAHAHA!!!"

Gelombang tawa spontan meledak dari bawah pohon, begitu kerasnya hingga sanggup mengejutkan beberapa ekor serangga yang sedang tenang mengunyah daun.

Salah satu teman Ardhana bahkan sampai kehilangan keseimbangan, roboh ke tanah, dan berguling-guling di atas rumput dalam fase tawa yang mengancam keselamatan paru-parunya.

"Hah... hahaha! Seorang Kultivator... pfft, mana ada Kultivator Agung yang keningnya dijadikan target latihan tembak kotoran burung!" seru seorang bocah berambut tipis.

Dia mencoba berakting prihatin, tetapi usahanya gagal total karena tawanya justru melengking paling nyaring, membelah keheningan hutan.

Di atas dahan, urat-urat di dahi Ardhana mendadak menonjol, membentuk pola mirip peta wilayah yang rumit.

Dengan sisa-sisa martabat yang sudah hancur berkeping-keping, dia menegakkan tubuhnya, merogoh saku celana dengan gerakan gusar, dan menarik keluar sebongkah batu jalanan yang cukup padat.

"DIAM KALIAN, MANUSIA-MANUSIA TIDAK BERBUDAYA!" dia meraung, suara cemprengnya kini melengking naik satu oktaf.

Tanpa memikirkan resiko diplomatis atau hukum pembunuhan tak sengaja, Dia mengayunkan tangannya dan melempar batu itu sekuat tenaga ke arah kerumunan.

Gerombolan bocah itu langsung berhamburan seperti ayam kemasukan musang, berlari terbirit-birit menghindari amunisi susulan, tetapi tetap tak sanggup menghentikan tawa mereka yang bergema di sepanjang jalan desa.

"Cih, lihat saja nanti. Aku akan menjadi Kultivator Agung dan membuat kalian berlutut di hadapanku."

Ardhana mendengus, kemudian dia mengambil daun untuk mengusap kotoran di wajahnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca