

Rinai air yang awalnya membasahi aspal jalan ibu kota mendadak berubah menjadi hujan lebat. Adrian merapatkan jaket parasut di tubuhnya yang mulai merembes hingga ke kulit, mempercepat laju sepeda motor matic di antara kemacetan sore kota Jakarta. Di tangan kirinya, ada sekotak kue tart mini berlogo toko roti premium terayun-ayun kecil dekat stang motornya. Hari ini merupakan hari jadi pernikahannya yang keempat tahun dengan Aluna. Meski target penjualan bulan ini sebagai sales otomotif kembali seret, Adrian dengan sengaja menyisihkan sisa komisi insentif terakhirnya demi melihat senyum indah sang istri malam ini.
Adrian menepikan motor di bawah kolong jembatan layang agar kue yang dibelinya tidak kehujanan, bergabung dengan beberapa pengendara lain yang ikut berteduh di sana. Lelaki itu menyeka sisa air yang sudah membasahi wajahnya, lalu merogoh ponsel dari saku celana kanan.
Senyum tipis mengembang di bibirnya saat membayangkan mimik wajah sang istri ketika menerima kue yang ia bawa.
‘Dia pasti akan kaget karena aku sempat-sempatnya ingat dengan hari pernikahan kami di sela kesibukanku,’ batinnya bangga.
Aluna adalah wanita karier yang sedang naik daun, sementara dirinya hanya seorang sales motor di salah satu showroom sepeda motor yang terseok-seok mengejar target penjualan setiap akhir bulan. Pesta kecil nanti malam yang telah direncanakannya adalah upaya Adrian untuk membuktikan, jika sesibuk apa pun kesehariannya maka sebagai suami akan selalu ingat hari penting mereka berdua.
Ting!
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk dari nomor asing yang tidak terdaftar di kontaknya. Adrian mengernyitkan dahi dengan heran. Lelaki itu langsung membukanya karena merasa kepo, ternyata ada tiga lembar foto beresolusi tinggi yang langsung otomatis terunduh.
Jantung Adrian seolah berhenti berdetak tepat pada detik pertama matanya menangkap visual di layar ponselnya. Foto pertama yang menampilkan suasana kelab malam dengan cahaya temaram, dipenuhi kerlip lampu neon warna-warni. Di sudut sofa ruang VIP, terlihat seorang wanita dengan gaun hitam berpotongan dada rendah memperlihatkan belahan dada si wanita, sedang tertawa renyah seakan tidak risih sama sekali.
Wanita itu memegang segelas sloki dengan kepala yang bersandar mesra pada bahu seorang pria paruh baya bertubuh gempal. Keintiman yang terlihat seharusnya dilakukan sepasang suami istri.
Adrian menggelengkan kepala, mencoba menepis apa yang barusan dilihatnya. Tidak mungkin istri yang selama ini teramat dicintainya bermain api di belakangnya.
"Gak mungkin ... ini pasti bukan Aluna, dia gak mungkin bersama lelaki hidung belang kayak gitu," monolognya menghibur diri, seolah merapalkan mantra penolak bala demi kebaikan hati.
Namun, saat jemarinya mengusap layar untuk membuka foto kedua dan ketiga, pikiran yang tadinya berusaha ditepis malah membuat pertahanan batinnya merasa kalah. Foto itu diambil dari jarak dekat secara sembunyi-sembunyi oleh seseorang. Adrian bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat kecil di bawah telinga kanan wanita itu, dan juga kalung emas putih berinisial 'A' yang dibelikannya pada tahun pertama pernikahan mereka di leher si wanita, hingga tawa khas yang biasanya ia nikmati hampir setiap pagi.
Wanita yang ada di foto itu terlihat membiarkan jemari sang lelaki hidung belang sedang mengelus paha mulusnya, sebelum berakhir dengan bibir mereka yang bertaut di bawah kilatan lampu remang-remang kelab malam.
“In-ini gak mungkin!”
Darah Adrian mendadak terasa mendidih, merambat cepat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Tangannya gemetar hingga ponsel yang dipegangnya hampir saja terlepas ke genangan air. Napasnya memburu, memicu sesak di dada yang terasa begitu menyakitkan.
Rasa hangat yang tadi menyelimuti hatinya, kini menguar begitu saja dibawa oleh kencangnya angin disertai hujan lebat, berubah jadi kekecewaan yang teramat dalam. Rasa marah dan terhina, serta rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu yang menghancurkan harga dirinya sebagai seorang suami.
Adrian menatap kotak kue di stang motornya. Kue ulang tahun pernikahan yang ia beli dengan niat tulus itu menjelma menjadi simbol kebodohannya selama ini. Tanpa berpikir panjang lagi, Adrian menyambar kotak kue itu dengan kasar lalu melemparnya ke tumpukan sampah dengan kasar dan berakhir hancur.
Adrian kembali menyalakan motornya, masa bodoh dengan hujan lebat yang disertai angin kencang. Lelaki itu menerobos hujan deras tanpa mengenakan mantel hujan, membiarkan butiran air sebesar biji jagung menghantam wajahnya yang panas oleh amarah.
***
Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam saat suara kunci diputar dan pintu rumah terbuka. Adrian duduk terpaku di atas sofa dalam kegelapan, hanya hawa dinginnya malam telah membuat perasaannya sedingin batu nisan di kuburan.
Aluna melangkah masuk dengan langkah kaki gontai. Sepatu hak tingginya dijinjing di tangan kanan, sementara tas tangan bermerek mahal menggelantung di lengan kirinya. Aroma alkohol berbaur dengan parfum mewah langsung menyeruak memenuhi ruangan begitu ia masuk.
Adrian menyalakan lampu utama secara mendadak, membuat Aluna terlonjak kaget sambil mengerjapkan mata indahnya beberapa kali dan memegangi dadanya. Degup jantungnya berdetak menggila seakan baru saja dipergoki sedang berselingkuh dengan orang lain oleh suaminya.
"Mas? Kamu belum tidur? Kenapa duduk dalam gelap?" tanya Aluna dengan suara sedikit bergetar, entah kenapa sirinya merasa aura suaminya malam ini sedikit berbeda.
Adrian menatap istrinya lumayan lama, mencari sisa-sisa rasa bersalah karena lupa ‘momen penting’ pernikahan mereka sekaligus pria itu memindai jejak pria tua yang bisa saja tertinggal pada tubuh istrinya.
"Kamu dari mana saja, Aluna? Kenapa pulang selarut ini tanpa kabar?" tanya Adrian dengan suara datar, menahan pemicu emosi yang bisa meledak kapan saja.
Aluna mendecakkan lidah, memijat pelipisnya dengan raut wajah gusar. "Kan sudah aku bilang berulang kali lewat pesan, Mas. Kalau aku ada meeting sama klien penting perusahaan sampai larut. Tolonglah … aku ini udah capek banting tulang buat memenuhi kebutuhan rumah tangga kita yang semakin tinggi. Jadi jangan mulai interogasi yang enggak-enggak, deh! Aku ini capek!"
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya dan tanpa melirik kalender kecil di dinding yang sudah dilingkari spidol merah, Aluna berjalan lurus menuju kamar. Hanya dalam hitungan menit, wanita itu sudah meringkuk di bawah selimut tebal dengan dengkuran halus. Wanita itu benar-benar melupakan hari sakral pernikahan mereka.
Adrian berdiri di ambang pintu kamar, menatap tubuh istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Rasa sakitnya kini berubah menjadi kekosongan yang amat dalam. Istrinya baru saja berbohong dengan begitu mulus, seolah dirinya sebagai seorang suami sudah tk lagi dianggap sebagai kepala keluarga.
“Ya tuhan … beri hamba kesabaran ….”
***
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa berbeda, meski aroma nasi goreng buatan Adrian terhidu kemana-mana membuat perut ingin cepat mencicipinya, tapi lelaki itu hanya diam, mengaduk kopi hitamnya tanpa selera. Di seberang meja, Aluna sibuk memeriksa tablet kerjanya sambil mengunyah.
"Oh ya, Mas," ucap Aluna memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet.
"Mulai sore ini, Mamaku dan Kinanti mau numpang nginap di rumah kita untuk beberapa minggu ke depan. Rumah mereka yang di Bali mau direnovasi total, jadi nggak ada tempat tinggal sementara. Bayar hotel kemahalan, jadi lebih baik uangnya buat bantu kebutuhan dapur kita saja."
Gerakan tangan Adrian yang sedang memegang sendok seketika terhenti. Melinda, ibu tiri Aluna yang suka berpenampilan seksi dan selalu memandang remeh dirinya, serta Kinanti, adik tiri Aluna yang manja dan penuh gairah muda bakalan seatap dengannya? Adrian sangat yakin jika kehadiran mereka di rumah kecil ini sudah jelas akan menambah rumit isi kepalanya yang sudah di ambang batas waras.
"Menginap di sini?" ulang Adrian, nadanya menyiratkan rasa keberatan. "Rumah kita ini kecil, Aluna. Kenapa mereka nggak sewa apartemen murah saja?"
Aluna langsung meletakkan tabletnya ke meja, menatap Adrian dengan pandangan remeh.
"Mas, mereka itu keluargaku. Lagipula, cicilan rumah ini dan sebagian besar biaya kebutuhan kita kan aku yang bayar, mana mungkin dari gaji kecilmu itu bisa sendiri. Berarti aku juga punya hak untuk mengizinkan ibu dan adikku tinggal di sini. Walau mereka ibu dan adik tiriku, tapi mereka baik kok."
Kata-kata itu menohok ulu hati Adrian seperti palu godam. Kalimat itu adalah senjata andalan Aluna yang selalu berhasil membungkam mulutnya yang hanya punya gaji sebatas UMR. Dominasi finansial yang timpang membuat Adrian tidak lebih dari seorang ‘suami numpang’ di rumahnya sendiri.
Sebelum Adrian sempat membalas, sudah terdengar klakson mobil mewah yang berbunyi nyaring dua kali di depan pagar rumah mereka. Aluna segera merapikan pakaian kerjanya, menyambar tas, lalu bergegas berdiri tanpa memberi suaminya celah bicara lagi.
Padahal ini hari Minggu, hari di mana seharusnya sepasang suami istri beristirahat dan menghabiskan waktu bersama, tapi anehnya Aluna tetap memutuskan untuk pergi bekerja.
"Aku berangkat dulu ya, Mas. Sudah dijemput sama mobil kantor," pamit Aluna singkat tanpa berniat menyalimi tangan suaminya seperti dulu.
Adrian hanya bisa memandang dari balik jendela kaca saat Aluna melangkah keluar pagar. Satu unit mobil sedan mewah berpelat nomor khusus sudah menunggu di sana. Seorang pria paruh baya bertubuh gempal yang sangat mirip dengan pria di dalam foto semalam, tampak menurunkan kaca mobilnya, memberikan senyuman lebar yang disambut Aluna dengan senyuman yang sangat manis.
Pintu mobil ditutup rapat, lalu kendaraan mewah itu melesat pergi meninggalkan debu yang berterbangan.
“Apa ini akan menjadi akhir rumah tanggaku?” katanya entah bertanya pada siapa.
Adrian berbalik badan dengan perlahan, kembali menghadap ke arah meja makan yang kini terlihat berantakan. Lelaki itu mulai mengumpulkan piring-piring kotor sendirian, meratapi hidup yang terasa tidak adil.
Harga dirinya sebagai seorang suami, telah jatuh dan terinjak-injak hingga ke titik paling rendah. Di rumah yang ia bangun dengan impian indahnya surga pernikahan, ternyata sang istri hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang pecundang yang menumpang hidup pada wanita.