Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Semakin Dihina Semakin Sakti

Semakin Dihina Semakin Sakti

Adbian | Bersambung
Jumlah kata
74.1K
Popular
240
Subscribe
80
Novel / Semakin Dihina Semakin Sakti
Semakin Dihina Semakin Sakti

Semakin Dihina Semakin Sakti

Adbian| Bersambung
Jumlah Kata
74.1K
Popular
240
Subscribe
80
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperSistemSupernatural
Setiap kali Riko dihina atau diremehkan orang lain, sistem di dalam tubuhnya memberikan hadiah berupa pil penambah umur dan kekuatan tingkat tinggi.
Bab 1: Ludah di Sepatu Tua

Pasar Gedhe selalu riuh oleh suara jeritan pedagang ayam, gesekan roda gerobak kayu, dan baunya yang khas—campuran antara rempah-rempah basah dan selokan yang tersumbat. Di tengah hiruk-pikuk itu, Riko bersandar pada tiang kayu sebuah toko kelontong yang dinding catnya sudah mengelupas. Tangannya menggenggam erat sapu lidi yang pinggirannya mulai rontok.

Riko baru delapan belas tahun. Badannya kurus, bahunya sedikit bungkuk, dan mukanya selalu tampak seperti orang yang belum tidur tiga hari. Di pasar ini, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya anak yatim piatu yang diberi izin menumpang tidur di gudang belakang toko Pak Tejo dengan imbalan menyapu area pasar dari subuh sampai matahari terbenam.

"Heh, Sampah! Sapu yang bersih! Matamu ditaruh di mana, hah?"

Suara berat dan serak itu meluncur bersama bau alkohol yang menyengat. Budi, anak mandor pasar yang badannya sebesar lemari dua pintu, berjalan mendekat. Langkah kakinya berat, membuat beberapa pedagang tempe di pinggir jalan menunduk, tidak berani mencari masalah.

Riko menunduk lebih dalam. "Sudah disapu, Mas Budi. Ini tinggal daun-daun kering—"

Cthak!

Budi meludah tepat di atas sepatu kain Riko yang sudah bolong di bagian jempolnya. Cairan pekat itu merembes cepat ke kaos kaki kumalnya.

"Tanganmu lelet. Anak haram tidak tahu diri seperti kamu ini harusnya sadar posisi. Kalau bukan karena Pak Tejo kasihan, kamu sudah mati membusuk di selokan dari dulu. Muka pas-pasan, otak tumpul, tenaga cuma sekelas cacing tanah. Dasar beban dunia!" Budi tertawa terbahak-bahak, diikuti dua anak buahnya yang berdiri di belakangnya.

Para pedagang di sekitar hanya diam. Ada yang merasa iba, tapi lebih banyak yang memalingkan wajah. Di pasar ini, melawan Budi sama saja menyerahkan mata pencaharian.

Riko mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa panas membakar dadanya. Ia sudah terbiasa dihina sejak kecil, tapi setiap kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, rasanya tetap saja perih. Ia mengepalkan tangannya di gagang sapu hingga buku-buku jarinya memutih.

Tepat saat Riko menahan napas untuk meredakan emosinya, sebuah suara aneh terdengar mendengung tajam di dalam kepalanya. Suara itu mekanis, dingin, tapi sangat jelas.

Ding!

[Pencapaian Terbuka: Dihina Secara Terbuka oleh Manusia Level Rendah.]

[Tingkat Penghinaan: Sedang (Melibatkan kontak fisik tidak langsung dan penghinaan garis keturunan).]

[Memproses Evaluasi...]

[Karakter Target menunjukkan kebencian murni dan rasa superioritas tanpa alasan yang valid.]

[Selamat! Anda Menerima Hadiah Sistem:]

Pil Penambah Umur (Tingkat Rendah) x1 (+5 Tahun Umur Maksimal, Memperbaiki Kerusakan Organ Dalam).

Pil Pembersih Sumsum (Tingkat Tinggi) x1 (Menghilangkan Seluruh Impunitas Tubuh, Meningkatkan Kekuatan Fisik Secara Permanen).

Riko mematung. Matanya melotot menatap angin hampa. Di depan pandangannya, muncul semacam layar transparan berwarna biru muda yang hanya bisa dilihat olehnya. Di dalam layar itu, terdapat gambar dua buah pil kecil berwarna perak dan emas yang melayang-layang.

"Bocah gila. Malah melamun," bentak Budi lagi. Ia mengangkat kakinya yang mengenakan sepatu boot kulit tebal dan menendang ember plastik di dekat Riko hingga pecah. "Dengar tidak, Cacing? Besok kalau area ini masih kotor saat aku lewat, mukamu yang bakal tak pakai buat ngepel jalanan!"

Ding!

[Pencapaian Terbuka: Diancam dan Diremehkan Kembali dalam Waktu Kurang dari 1 Menit.]

[Tingkat Penghinaan: Ringan-Sedang.]

[Selamat! Anda Menerima Hadiah Sistem:]

Pil Penguat Tulang Baja x1 (Meningkatkan Ketahanan Kepadatan Tulang hingga 300%).

Riko menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Ini... ini bukan halusinasi karena aku belum makan siang, kan?" bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Kamu ngomong apa, Hah?!" Budi mendorong bahu Riko hingga Riko terdorong ke belakang dan punggungnya membentur tiang kayu. "Punya mulut itu dipakai buat jawab, bukan komat-kamit kayak dukun cabul!"

Budi dan dua anak buahnya tertawa makin keras. Suara tawa mereka menarik perhatian beberapa pembeli yang melintas.

Riko bernapas terengah-engah. Namun, anehnya, rasa sakit hati yang tadinya membakar dadanya perlahan menghilang. Digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa hebat. Tanpa sadar, pikirannya memfokuskan perhatian pada layar biru di depannya.

Bagaimana cara mengambilnya? pikir Riko.

Seketika, sebuah sensasi hangat muncul di dalam genggaman tangan kirinya yang berada di dalam saku celana komprang yang longgar. Riko meraba saku celananya. Ada tiga butir benda bulat kecil berkilat dengan tekstur licin dan aroma wangi rempah yang sangat menenangkan.

"Hei! Malah memasukkan tangan ke saku! Kamu meremehkan aku?" Budi terlihat mulai tersulut emosi karena reaksi Riko tidak sesuai harapannya. Biasanya, Riko akan gemetar, meminta maaf berulang kali, atau setidaknya menundukkan kepala dalam-dalam sampai menangis. Tapi kali ini, mata Riko justru memancarkan kilatan aneh yang sulit diartikan.

Budi mengangkat tangan kanannya, melayangkan sebuah tamparan keras melayang ke arah pipi kiri Riko.

Riko refleks memejamkan mata dan memasukkan salah satu pil—yang paling kecil berwarna perak—ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat tanpa berpikir panjang.

Glek.

Pil itu meleleh seketika di atas lidahnya, berubah menjadi cairan hangat yang mengalir cepat menembus tenggorokan, turun ke dada, lalu menyebar ke seluruh pembuluh darahnya seperti lidah api yang menari-nari.

Plak!

Tamparan Budi mendarat tepat di pipi Riko. Suaranya nyaring memantul di sudut pasar.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

Budi justru meringis kesakitan sambil menarik tangannya kembali. Tangannya gemetar hebat, telapak tangannya memerah seolah-olah baru saja menampar tembok beton tebal. "Bangsat! Pipi apa ini? Kenapa keras sekali?" maki Budi sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kesemutan hebat.

Sementara itu, Riko tidak bergeming sedikit pun. Kepala Riko bahkan tidak tertoleh oleh tamparan keras itu.

Di dalam tubuh Riko, suara gemertak halus terdengar dari balik kulitnya. Setiap otot, sendi, dan urat darahnya seolah diperas, dibersihkan dari kotoran masa lalu, lalu dirajut kembali dengan benang-benang energi yang jauh lebih kokoh. Rasa lelah yang menumpuk bertahun-tahun lenyap seketika. Pandangannya yang tadinya agak kabur kini menjadi sangat terang. Ia bisa melihat setiap serat kayu pada tiang toko di depannya, bahkan bisa mendengar kepakan sayap lalat dari jarak lima meter.

Riko mengangkat hatinya. Pengalaman ini benar-benar gila.

"Mas Budi..." suara Riko keluar. Lebih berat, lebih tenang, dan tidak ada sedikit pun nada ketakutan di dalamnya. "Tangan Mas Budi... baik-baik saja?"

Budi yang sedang meringis makin terpancing emosinya. Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum dan anak buahnya, mukanya memerah padam seperti kepiting rebus.

"Kotoran anjing! Kamu sengaja memasang besi di balik bajumu, ya?!" berontak Budi. Ia menarik pisau lipat kecil dari pinggangnya. "Aku bikin cacat kamu hari ini!"

Orang-orang di sekitar pasar mulai berteriak kaget. Beberapa pedagang wanita menjerit kecil dan menutup mata.

"Budi! Jangan main pisau!" teriak Pak Tejo yang baru keluar dari dalam toko sambil membawa nota belanjaan.

Tapi Budi sudah gelap mata. Ia melangkah maju dan mengayunkan pisaunya lurus ke arah dada Riko.

Riko tidak bergerak melangkah mundur. Ia hanya berdiri tenang. Di dalam sakunya, jemari Riko masih menyentuh dua pil tersisa—Pil Pembersih Sumsum Tingkat Tinggi dan Pil Penguat Tulang Baja. Sensasi aliran energi hangat di dalam dadanya membuat pikirannya menjadi sangat jernih. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dunia terasa berjalan lebih lambat di matanya.

Saat ujung pisau Budi tinggal berjarak beberapa sentimeter saja dari pakaian Riko, sebuah jendela sistem kembali membumbung di depan matanya.

Ding!

[Pencapaian Terbuka: Menghadapi Ancaman Pembunuhan dari Manusia Lemah.]

[Penghinaan Tambahan Detected: "Kotoran Anjing".]

[Selamat! Anda Menerima Hadiah Sistem:]

Pil Kekuatan Gajah Purba x1 (Menambahkan Kekuatan Fisik Mentah sebesar 500 kg Permanen).

Teknik Dasar Pernapasan Angin Malam (Metode Kultivasi Tingkat Rendah).

Riko tersenyum tipis. Sebuah senyuman kecil yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di Pasar Gedhe sebelumnya.

Ujung pisau itu akhirnya menyentuh kain baju Riko.

Data Panel Status Riko

Nama: Riko

Umur Tambahan: +5 Tahun

Kondisi Fisik: Tahap Pembersihan Sumsum (Awal)

Kekuatan Fisik Mentah: 150 kg (Normal: 40 kg)

Teknik/Skill: Teknik Dasar Pernapasan Angin Malam (Belum Dipelajari)

Inventaris Hadiah:

Pil Pembersih Sumsum Tingkat Tinggi x1 (Belum Digunakan)

Pil Penguat Tulang Baja x1 (Belum Digunakan)

Pil Kekuatan Gajah Purba x1 (Belum Digunakan)

Lanjut membaca
Lanjut membaca