
HASRAT LIAR SI MANDUL
SAMPRAWIRA|Bersambung
- Jumlah kata
- 158.7K
- Popular
- 946
- Subscribe
- 334
- Jumlah kata
- 158.7K
- Popular
- 946
- Subscribe
- 334
Sinopsis
Di usia 21 tahun, SAM, pemuda tampan dengan tubuh atletis, memutuskan merantau ke Jakarta demi mengubah nasib. Ia tinggal sederhana di sebuah kost di Jakarta Barat dan bekerja di sebuah kafe dekat Terminal Kalideres. Di tengah kerasnya kehidupan kota, SAM menemukan peluang tak terduga melalui media sosial. Dengan akun bernama “Pacar Sewaan”, ia mencoba menawarkan jasa sebagai teman kencan bagi mereka yang membutuhkan sosok pasangan. Namun, SAM menyimpan sebuah keunikan yang membuat dirinya berbeda dari pria kebanyakan—sebuah rahasia yang ia juluki “Si Mandul”, yang dipercaya memiliki kemampuan fisik luar biasa. Dari pertemuan demi pertemuan, SAM mulai merasakan bahwa menjadi pacar sewaan bukan sekadar cara mendapatkan uang. Kota Jakarta mempertemukannya dengan berbagai orang, kesempatan, perasaan, dan pilihan yang perlahan mengubah hidupnya. Akankah SAM berhasil menemukan peruntungan yang ia cari di Jakarta? Atau justru sebuah hubungan tak terduga akan mengubah seluruh rencananya? Ikuti kisah SAM dalam perjalanan penuh rahasia, hasrat, drama, dan kejutan di kota metropolitan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Malam itu sebuah ide gila datang
Jakarta Barat, jam setengah dua pagi.
Panasnya nempel beneran di kulit, kayak jaket basah yang gak bisa dilepas.
Kipas angin tua di kamar kostku cuma berputar pelan, bunyi krek-krek-krek tiap kali baling-balingnya muter, seolah-olah dia sendiri juga udah capek kerja tiap malam.
Ruangan ini kecil banget, tiga kali tiga meter aja. Kasur tipis di lantai, satu meja kayu yang kakinya pendek sebelah, kursi goyang, dan tumpukan baju rapi di sudut dinding.
Dindingnya tipis banget dari sini kedengeran suara televisi kamar sebelah, dengkuran orang tidur, bahkan suara orang ngomong sendiri di kamar sebelah.
Aku duduk di tepi kasur, punggung bersandar dinding, tangan pegang HP yang layarnya remang-remang.
Di layar itu ada catatan pengeluaran bulan ini. Aku baca pelan-pelan tiap barisnya, padahal udah hafal banget angkanya. Sewa kost, belanja harian, ongkos angkot, uang kiriman ke rumah. Lalu di bawahnya, penghasilan dari kafe tempatku kerja. Kurang. Jauh banget. Bahkan kalau aku nabung semuanya, bulan depan tetep gak cukup.
Aku hembuskan napas panjang, kasar, terus usap wajah pakai kedua tangan. Badan ini pegal banget, seharian berdiri di balik meja kafe, nyeduh kopi, senyum ke orang-orang yang lewat, melayani yang kadang jutek, kadang cuma diam. Pulangnya kaki rasanya kayak mau patah, tapi dompet tetep kerasa ringan.
“Gini terus kapan majunya, Sam?” gumamku sendiri, suaranya pelan, hampir cuma bisik. Takut kedengeran orang lain, padahal di kamar ini cuma ada aku.
Pikiranku mulai ngelantur. Tiap hari di kafe, aku lihat banyak banget orang. Ada yang datang sendirian, duduk berjam-jam, minum satu gelas kopi, natap jendela kayak nungguin sesuatu yang gak pernah datang. Ada yang datang berdua, duduk berhadapan, tapi sepanjang waktu gak ngomong satu kata pun. Cuma diam, main HP, kayak orang asing yang kebetulan duduk sebelahan. Banyak banget orang di kota besar ini yang rame di luar, tapi di dalemnya… sepi banget.
Pikiran itu muncul lagi. Yang tadi-tadi cuma lewat sekilas, kayak bayangan, tapi malam ini dia nempel. Gak mau pergi.
“Pacar sewaan… ya?”
Aku ketawa kecil, sinis, ke diri sendiri. Gila. Itu ide gila banget. Siapa juga yang mau bayar orang cuma buat nemenin? Itu kayak jasa yang gak masuk akal. Tapi tiap kali mataku balik ngeliat angka pengeluaran di HP, ide itu balik lagi, makin kenceng, makin keras. Dan yang lebih parah, aku mulai mikir: kenapa gak?
Aku tarik napas dalem, terus buka media sosial. Jari-jariku gemetar dikit pas ngetik. Gak mau pamer, gak mau sok keren, gak mau nulis yang bikin orang salah paham. Cuma jujur aja, apa adanya. Aku ngetik pelan-pelan, hapus, tulis ulang, hapus lagi, sampai akhirnya dapet kata-kata yang pas di hati:
Nama Akun: Pacar Sewaan
Halo, aku Sam.
Gak kaya, gak punya jabatan apa-apa, gak punya mobil mewah atau rumah gede. Cuma pemuda yang lagi berusaha bertahan hidup di kota ini, dan kayaknya… banyak orang juga butuh temen, kan?
Aku bisa jadi pendamping kamu ke acara keluarga, nikahan temen, makan malam, jalan-jalan sore, atau sekadar duduk bareng ngobrol tanpa dihakimi. Aku akan bersikap sebaik dan sesopan mungkin, kayak pasangan yang baik. Tapi aku gak akan minta lebih dari yang kamu kasih. Batasan kamu, itu batasan aku. Kita sepakati semuanya duluan, gak ada yang dipaksa.
Kalau kamu butuh sosok di sebelahmu, walau cuma sebentar, kabar aja. Makasih.
Aku baca tulisan itu berulang kali. Jantungku berdebar kenceng banget, kayak habis lari naik tangga ke lantai sepuluh. Rasanya kayak baru aja nulis sesuatu yang terlarang, sesuatu yang malu-malu buat diomongin. Tapi aku udah nulis. Dan dengan tangan yang masih agak gemetar, aku tekan tombol buat akun itu. Selesai. Sekarang dunia yang bakal jawab.
Aku taruh HP di kasur, terus rebahan, natap langit-langit kamar yang gelap. Suara kota Jakarta masih kedengeran sampe sini—klakson jauh, suara motor lewat, bunyi orang berteriak di jalan. Ribuan orang di luar sana, dan aku di kamar kecil ini, nungguin sesuatu yang bahkan gak yakin bakal datang.
“Apa sih yang aku lakuin ini… Keluarga di kampung kalau tau pasti nanggung malu ya?” batin aku. Tapi terus kebayang wajah Ibu di rumah, yang tiap hari kerja di ladang, tangannya kasar, mukanya lelah, selalu bilang “jaga dirimu di Jakarta, Nak”. Dan aku tahu, aku harus lakuin apa aja buat bantu dia. Gak peduli seberapa aneh jalannya.
Lima belas menit lewat. Gak ada notifikasi. Tiga puluh menit. Masih kosong. Satu jam. Aku mulai senyum kecut ke diri sendiri, “Iyalah, Sam. Siapa juga yang percaya beginian. Pasti dikira penipuan.” Aku mulai mikir buat hapus aja akun itu, besok pagi lanjut kerja di kafe, terima aja nasib yang ada.
Tapi pas tanganku mau ambil HP, tiba-tiba layarnya nyala. Bergetar pelan. Satu pesan masuk.
Jantungku berhenti sebentar. Aku ambil HP itu pelan-pelan, seolah takut kalau gerak cepet pesannya bakal hilang. Kubuka. Isinya:
“Benar bisa? Besok malam jam 7, ada nikahan temen di hotel SCBD. Aku butuh orang yang bisa jadi pacarku sebentar. Aku capek banget ditanya-tanya kapan nikah tiap kali ketemu mereka. Bisa?”
Aku baca itu tiga kali, biar yakin aku gak salah lihat. Ada orang beneran butuh. Ada orang yang sama kayak aku, merasa sendirian di tengah keramaian.
Tangan kananku pegang HP, tangan kiri genggam erat selimut. Aku tarik napas dalem, hembuskan pelan, terus mulai ngetik balasan.
Sam: Bisa. Aku datang. Pakai pakaian rapi kan?
Aku kirim. Detik-detik setelah itu kerasa lama banget. Tiap detik rasanya kayak satu jam. Apa dia berubah pikiran? Apa aku terlalu lambat balasnya?
Belum semenit, pesan masuk lagi.
“Iya. Terima kasih ya, Sam. Aku Rina. Sampai ketemu besok malam.”
Aku taruh HP di samping bantal, terus natap langit-langit lagi, tapi kali ini rasanya beda. Panas di kamar ini kerasa gak terlalu mengganggu lagi. Kipas angin yang bunyi berisik itu pun… kayaknya mulai kedengeran biasa aja.
“Rina… Besok malam.”
Aku balikin badan, miring ke dinding, mataku mulai berat, tapi hatiku gak bisa tenang. Besok aku bakal ketemu orang asing, pura-pura jadi pacarnya, masuk ke tempat yang sama sekali gak aku kenal. Gak tau apa yang bakal terjadi, gak tau gimana rasanya, gak tau apakah aku bisa jaga rahasia ini sepanjang waktu itu.
Tapi satu hal aku tau, hidupku mulai berubah malam ini. Entah ke arah mana, tapi pintu yang udah kubuka tadi… kayaknya gak bisa kututup lagi.
Dan di tengah kegelisahan itu, satu pertanyaan muncul pelan-pelan di kepalaku, bikin aku gak langsung tidur: Kalau besok aku ketemu Rina… dan aku mulai nyaman sama dia… gimana caranya aku nahan diri buat gak jatuh cinta? Padahal aku tau, aku ini Si Mandul, yang gak akan pernah bisa jadi pasangan sungguh-sungguh buat siapa pun.
Pikiranku berhenti di situ. Dan malam itu, aku tidur dengan satu keyakinan: besok bakal jadi hari pertama dari hidup yang sama sekali baru. Entah bagus atau buruk, aku gak tau. Tapi aku udah gak bisa mundur.
Daftar bab
168 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
168 bab








