
Ayah Pilihan Pangeran Cilik
sfieroh|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
- Jumlah kata
- 65.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
Sinopsis
Demi sebuah misi rahasia, seorang pria misterius rela menanggalkan harga dirinya dan menyamar sebagai pelayan baru di istana. Tugasnya sederhana: menyapu lantai dan mematuhi perintah. Namun, takdirnya berubah total saat ia tidak sengaja menarik perhatian pangeran cilik, putra tunggal dari sang putri kerajaan yang baru saja kehilangan suaminya. Bukan bangsawan tinggi atau jenderal perang yang dipilih sang pangeran untuk menjadi ayah barunya, melainkan dirinya—seorang pelayan yang dianggap paling rendah di istana. Kini, di bawah tatapan curiga Putri Anggun yang dingin namun rapuh, ia harus memainkan peran ganda yang berbahaya. Di satu sisi, ia harus menjadi pelindung yang tulus bagi sang pangeran kecil dari intrik politik istana yang mematikan. Di sisi lain, ia harus menyembunyikan identitas aslinya yang sesungguhnya jauh lebih megah daripada takhta kerajaan itu sendiri. Akankah penyamarannya terbongkar saat benih cinta mulai tumbuh di antara dirinya dan sang putri?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1
Lantai marmer aula barat istana begitu dingin, sedingin tatapan para penjaga baju zirah yang mengawasi setiap gerak-gerik pria itu. Ia menunduk dalam-dalam, menggenggam erat gagang sapu kayu kasar di tangannya. Pakaian pelayan yang dikenakannya terasa kaku, murahan, dan terlalu sempit di bagian bahunya yang tegap. Potongan kain itu sangat kontras dengan jubah sutra bersulam benang perak yang biasa ia kenakan sebelum malam terkutuk itu menghancurkan seluruh hidupnya.
Di tempat ini, ia dikenal sebagai Rey—seorang pria tanpa masa lalu yang beruntung bisa mendapatkan pekerjaan kasar berkat bantuan seorang koneksi lama di luar tembok kota. Namun di balik nama samaran dan wajah yang sengaja dikotori noda jelaga itu, ia adalah seorang panglima perang yang dikhianati oleh negaranya sendiri. Keith adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian berdarah yang melenyapkan seluruh klan bangsawan dan keluarganya.
Di sinilah ia sekarang, merendahkan diri menjadi pelayan kasta terendah hanya demi satu tujuan yang membakar dadanya: menyusup ke jantung kekuasaan dan mengungkap dalang utama di balik konspirasi darah tersebut. Berdasarkan dokumen rahasia yang ia temukan, semua petunjuk mengarah ke istana barat ini.
“Kerja yang becus! Jangan sampai ada satu butir debu pun saat Yang Mulia Putri lewat!” bentak seorang kepala pelayan berbadan tambun, memecah lamunan Keith
. Suara pria paruh baya itu melengking tinggi, memantul di antara pilar-pilar tinggi aula.
Rey tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk patuh dengan gerakan lambat yang diatur sedemikian rupa agar terlihat seperti pelayan bodoh yang penurut. Ia membiarkan kepalanya tetap menunduk, menyembunyikan kilatan amarah dan dingin yang berpendar di matanya. Biarkan saja mereka menginjak harga diriku sekarang, batiknya mantap.
Bagi seorang prajurit yang telah melewati ratusan pertempuran, sapu di tangannya saat ini tak ada bedanya dengan pedang; keduanya hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhir. Bedanya, kali ini ia harus bertarung dalam diam, tanpa darah yang terciprat ke dinding.
Tiba-tiba, suara tiupan terompet perak bergema dari arah gerbang utama istana barat, menandakan kedatangan anggota inti keluarga kerajaan. Suasana aula yang tadinya bising oleh derap langkah para pekerja dan gesekan alat pembersih langsung hening seketika. Ketegangan mendadak merayap, mencekik udara di sekitar mereka.
“Cepat berlutut! Semuanya, tiarap dan jangan mendongak jika kalian masih sayang nyawa!” perintah sang kepala pelayan dengan suara berbisik yang panik, sambil dirinya sendiri tergesa-gesa menjatuhkan tubuh tambunnya ke lantai.
Seluruh pekerja dan pelayan langsung menjatuhkan diri ke lantai marmer yang sedingin es, menempelkan dahi mereka ke permukaan batu sebagai tanda penghormatan tertinggi sekaligus tanda ketundukan mutlak. Rey buru-buru mengikuti gerakan mereka, mengambil posisi berlutut di dekat sebuah pilar batu besar yang memberikan sedikit bayangan.
Dari sudut matanya yang menyipit menatap lantai, ia melihat sepasang sepatu beludru hitam berhias permata kecil berjalan anggun. Langkah kaki itu terdengar konstan dan berwibawa, diikuti oleh langkah kaki kecil yang agak ragu-ragu di sampingnya.
Putri Anggun.
Wanita itu berjalan dengan punggung yang tegak lurus, memancarkan wibawa seorang penguasa sejati yang tak tergoyahkan oleh badai apa pun. Namun, Rey yang terlatih selama bertahun-tahun untuk membaca gerak-gerik musuh dan sekutu, bisa melihat dengan jelas sesuatu yang disembunyikan oleh dunia. Ada aura kesedihan yang pekat dan kelelahan yang luar biasa pada wajah cantiknya yang pucat.
Gaun hitam pekat tanda berkabung yang dikenakan sang putri menyapu lantai marmer dengan suara desau halus yang memilukan. Sejak sang raja—suaminya—wafat secara mendadak dan misterius sebulan lalu, Putri Anggun harus berdiri sendirian di puncak kekuasaan. Wanita itu terpaksa menjadi perisai bagi putra mahkota kecilnya dari serigala-serigala politik di dewan kerajaan yang haus akan takhta kosong itu.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Langkah kaki kecil di samping sang putri mendadak berhenti. Tepat di depan tempat Rey yang sedang berlutut.
“Vien, ada apa? Kita harus segera ke ruang pertemuan dewan. Para menteri sudah menunggu,” bisik Putri Anggun. Suaranya terdengar lembut di telinga putranya, namun Rey bisa menangkap nada kecemasan yang mendalam di dalamnya. Pertemuan dewan hari ini adalah penentu apakah takhta pangeran kecil akan tetap aman atau direbut paksa oleh para bangsawan korup.
Langkah kecil itu tetap bergeming di tempatnya. Rey menahan napas di balik posisi berlututnya saat melihat sepasang sepatu kecil milik pangeran cilik itu berputar, menghadap tepat ke arah tubuhnya yang besar.
“Ibu, tunggu,” sebuah suara anak kecil yang polos namun lantang memecah keheningan aula barat yang mencekam. Pangeran Vien, bocah berusia lima tahun yang menjadi tumpuan masa depan kerajaan itu, menatap ke arah Rey dengan mata bulatnya yang jernih dan bebas dari dosa.
“Vien, kita tidak punya banyak waktu untuk bermain,” Putri Anggun mencoba menarik lembut tangan mungil putranya, bersiap melangkah kembali.
“Dia, Ibu. Vien mau Paman ini,” ujar Pangeran Vien tegas. Jari mungilnya menunjuk tepat ke arah kepala Rey yang terunduk.
Jantung Rey berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Ia tetap mempertahankan posisinya, membeku layaknya patung batu yang tak bernyawa. Pikirannya berputar cepat. Bagaimana mungkin seorang bocah yang belum pernah kutemui seumur hidup bisa menunjukku dengan begitu yakin di antara puluhan pelayan yang ada di sini? Apakah penyamaranku telah bocor?
“Vien, apa yang kau katakan? Dia hanya seorang pelayan baru yang bertugas membersihkan aula,” sahut sang putri, dahinya berkerut dalam. Matanya yang indah kini memancarkan kewaspadaan tingkat tinggi. “Ibu sedang mencarikanmu seorang pengawal pribadi yang tangguh dari kalangan ksatria utama, atau seorang pelindung sihir yang hebat dari menara… bukan seorang pelayan kasar.”
“Bukan pengawal, Ibu! Vien tidak mau ksatria jahat itu! Vien mau Paman ini yang jadi Ayah Baru Vien!”
Kalimat bocah itu bagaikan petir di siang bolong yang meremukkan seluruh dinding keheningan istana. Beberapa pelayan di sekitar Rey terdengar menarik napas tertahan karena saking terkejutnya. Bahkan sang kepala pelayan bertubuh tambun di belakang mereka hampir saja tersedak air liurnya sendiri, wajahnya memucat seketika. Meminta seorang pelayan rendahan yang kotor untuk menduduki posisi sebagai suami dari seorang putri kerajaan dan ayah bagi calon raja adalah sebuah skandal besar yang bisa menghancurkan martabat istana.
Putri Anggun tersentak hebat, tubuhnya menegang kaku. Wajah cantiknya yang semula pucat kini diwarnai rona merah antara terkejut dan marah. Langkah anggunnya langsung berbalik, berjalan cepat mendekati putranya—yang berarti wanita itu kini berdiri tepat di hadapan Rey, hanya berjarak dua langkah saja. Aroma samar bunga mawar yang elegan, segar, namun menenangkan langsung menyerbu indra penciuman Kael.
"Vien, jangan bicara sembarangan. Ini tempat umum, dan kau adalah seorang calon raja,” bisik Putri Anggun dengan nada yang mulai meninggi dan tegas. Ia berusaha keras meredam situasi sebelum desas-desus buruk ini menyebar ke telinga para mata-mata menteri yang berkeliaran di koridor istana.
“Vien tidak sembarangan, Bunda!” potong pangeran kecil itu, suaranya mulai bergetar dan matanya yang bulat berkaca-kaca menahan tangis. Ia mencengkeram jubah hitam ibunya dengan erat, seolah-olah mencari perlindungan dari ketakutan yang tak terlihat. “Paman ini… Vien melihatnya di mimpi Vien tadi malam. Dia yang mengusir monster-monster hitam berpedang yang mau menangkap Vien di hutan gelap. Vien tahu itu dia! Wajahnya sama persis! Vien mau dia, Bunda!”
Daftar bab
54 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








