Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Menjadi Tak Terkalahkan

Aku Menjadi Tak Terkalahkan

pipit nur avita | Bersambung
Jumlah kata
48.0K
Popular
101
Subscribe
21
Novel / Aku Menjadi Tak Terkalahkan
Aku Menjadi Tak Terkalahkan

Aku Menjadi Tak Terkalahkan

pipit nur avita| Bersambung
Jumlah Kata
48.0K
Popular
101
Subscribe
21
Sinopsis
PerkotaanAksiMonsterSpiritualMisteri
Arka adalah siswa tanpa bakat yang selalu diremehkan di Akademi Arcapolis. Namun, hidupnya berubah ketika sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di dalam dirinya. Setiap pertarungan membuatnya semakin kuat dan setiap level membuka kekuatan baru. Dari siswa terlemah, Arka perlahan menjadi sosok yang tak terkalahkan. Namun, semakin kuat dirinya, semakin banyak rahasia tentang masa lalunya yang mulai terungkap.
Bab 1 - Murid Tanpa Bakat

Pagi itu, Kota Arcapolis dipenuhi suara kendaraan terbang yang melintas di antara gedung-gedung tinggi. Layar hologram raksasa di setiap sudut jalan menampilkan berita yang sama.

HARI KEBAKITAN BAKAT TELAH TIBA.

Bagi para remaja berusia tujuh belas tahun, hari itu bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah penentu masa depan.

Di dunia yang telah berubah sejak munculnya energi misterius bernama Mana, manusia memiliki kesempatan untuk membangkitkan kemampuan khusus. Ada yang mampu mengendalikan api, memanipulasi angin, memperkuat tubuh, bahkan memanggil makhluk dari dimensi lain.

Semakin kuat bakat seseorang, semakin tinggi pula statusnya.

Dan hari ini, semua siswa kelas akhir harus menjalani tes kebangkitan.

Di antara ratusan siswa yang berkumpul di depan Akademi Arcapolis, seorang pemuda berdiri sendirian.

Namanya Arka Mahendra.

Rambutnya hitam sedikit berantakan. Seragam sekolahnya sederhana dan tidak memiliki lambang keluarga besar seperti kebanyakan siswa lainnya.

Arka menatap bangunan megah di hadapannya.

Akademi Arcapolis merupakan sekolah terbaik bagi para pengguna Mana. Hanya mereka yang memiliki bakat tinggi yang biasanya bisa diterima.

Arka menarik napas panjang.

“Semoga kali ini berbeda.”

Sejak kecil, Arka selalu dianggap aneh.

Ketika anak-anak seusianya mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, dirinya tidak pernah mengalami apa pun.

Teman-temannya mampu mengangkat benda berat, menghasilkan percikan listrik, atau berlari dengan kecepatan luar biasa.

Arka?

Tidak ada.

Bahkan pemeriksaan Mana ketika berusia sepuluh tahun menunjukkan bahwa jumlah Mana dalam tubuhnya berada jauh di bawah rata-rata.

Karena itu, banyak orang menyebutnya murid tanpa bakat.

“Hei, bukankah itu Arka?”

Sebuah suara terdengar dari belakang.

Arka menoleh.

Seorang pemuda tinggi berjalan bersama beberapa temannya. Namanya Daren Wijaya, salah satu siswa paling populer di sekolah.

Daren terkenal karena berasal dari keluarga pengguna Mana.

Bakatnya bahkan sudah dipastikan sebelum mengikuti tes.

“Kudengar hari ini kita akan menentukan peringkat kemampuan masing-masing,” ujar Daren sambil tersenyum mengejek.

Salah satu temannya tertawa.

“Kalau begitu Arka mungkin tidak perlu ikut. Hasilnya sudah jelas.”

Beberapa siswa di sekitar mereka ikut tertawa.

Arka hanya diam.

Dia sudah terlalu sering mendengar hal semacam itu.

Daren mendekat.

“Jangan terlalu berharap, Arka. Akademi ini bukan tempat untuk orang sepertimu.”

Arka menatapnya.

“Aku tidak pernah meminta pendapatmu.”

Senyum Daren menghilang sesaat.

Kemudian dia mendengus.

“Kita lihat nanti.”

Bel berbunyi.

Para siswa mulai memasuki gedung utama.

Di dalam aula, terdapat sebuah kristal besar berwarna biru yang berdiri di atas sebuah altar.

Kristal Kebangkitan.

Satu per satu siswa dipanggil untuk menyentuh kristal.

“Nomor 112!”

Seorang gadis maju.

Tangannya menyentuh kristal.

BOOM!

Cahaya merah menyala.

“Elemen Api!”

Para pengawas langsung mencatat hasilnya.

“Potensi B!”

Tepuk tangan terdengar.

Siswa berikutnya mendapatkan kemampuan angin.

Yang lainnya mendapatkan kemampuan penguatan tubuh.

Semakin lama, suasana semakin meriah.

Hingga akhirnya—

“Nomor 327. Arka Mahendra.”

Aula mendadak terasa lebih sunyi.

Arka berjalan menuju altar.

Ratusan pasang mata menatapnya.

Dia berdiri di depan kristal.

“Letakkan tanganmu,” kata pengawas.

Arka mengangguk.

Tangannya menyentuh permukaan kristal.

Tidak terjadi apa-apa.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Kristal tetap gelap.

Bisikan mulai terdengar.

“Benar-benar tidak punya bakat.”

“Mana dalam tubuhnya pasti terlalu rendah.”

“Kasihan.”

Arka menggigit bibir.

Pengawas mencoba mengaktifkan alat sekali lagi.

“Ulangi.”

Arka kembali menyentuh kristal.

Kali ini kristal bergetar.

Semua orang terdiam.

Namun bukannya menyala, kristal justru mengeluarkan suara retakan kecil.

Krek.

Pengawas langsung menarik tangannya.

“Apa?”

Sebuah layar hologram muncul.

Semua orang dapat melihat hasilnya.

NAMA: ARKA MAHENDRA

LEVEL: 1

BAKAT: TIDAK TERIDENTIFIKASI

POTENSI: F

KEMAMPUAN: TIDAK ADA

Aula langsung dipenuhi suara tawa.

“Potensi F!”

“Dia bahkan tidak memiliki kemampuan!”

“Bagaimana bisa masuk ke sini?”

Arka menundukkan kepala.

Dadanya terasa sesak.

Dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Tetapi melihat hasil itu muncul di depan semua orang tetap terasa menyakitkan.

Pengawas menghela napas.

“Arka, berdasarkan hasil ini, kamu tidak memenuhi standar untuk menjadi pengguna Mana.”

Arka mengepalkan tangan.

“Jadi… aku gagal?”

Pengawas terdiam sebentar.

“Benar.”

Satu kata itu terasa seperti palu yang menghantam dirinya.

Arka berbalik dan berjalan meninggalkan aula.

Tidak ada yang menghentikannya.

Tidak ada yang peduli.

Begitu keluar dari gedung, dia terus berjalan hingga tiba di sebuah lorong kosong di belakang akademi.

Arka menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Kenapa?”

Dia menatap kedua tangannya.

Selama bertahun-tahun, dia berusaha.

Berlatih.

Belajar.

Bermimpi.

Namun semuanya berakhir dengan satu huruf.

F.

Tiba-tiba—

TING!

Arka mengangkat kepala.

“Apa itu?”

Sebuah layar transparan berwarna biru muncul di hadapannya.

Tidak ada orang lain.

Tidak ada alat proyektor.

Layar itu benar-benar muncul dari udara.

Arka mundur.

Tulisan perlahan terbentuk.

[Mendeteksi pengguna yang sesuai.]

Arka terdiam.

Kemudian tulisan berikutnya muncul.

[Sinkronisasi dimulai.]

[Memeriksa kondisi tubuh…]

[Mana: 3]

[Potensi: Tidak Terbatas]

Mata Arka membesar.

“Potensi… tidak terbatas?”

Sebelum sempat memahami semuanya, layar kembali berubah.

[Sistem Level-Up berhasil diaktifkan.]

[Selamat datang, Arka Mahendra.]

[Mulai hari ini, batas kemampuanmu tidak lagi ditentukan oleh bakat.]

Jantung Arka berdegup lebih cepat.

Sebuah panel baru muncul.

[Misi Pemula]

Tujuan: Naikkan level untuk pertama kalinya.

Hadiah: Kemampuan dasar.

Batas waktu: 24 jam.

Arka menatap tulisan itu dengan tidak percaya.

“Naik level?”

Di dunia ini, level pengguna Mana biasanya hanya dapat meningkat setelah latihan bertahun-tahun.

Namun sistem di hadapannya mengatakan sesuatu yang berbeda.

[Pemberitahuan.]

[Sumber energi terdeteksi di sekitar pengguna.]

[Monster kelas rendah berada 300 meter dari posisi Anda.]

Arka membeku.

Monster?

Di dalam kota?

Itu seharusnya mustahil. Wilayah akademi dilindungi penghalang Mana.

Namun kemudian terdengar suara aneh dari ujung lorong.

Grrrr…

Arka perlahan menoleh.

Dari balik bayangan sebuah bangunan, sepasang mata merah muncul.

Seekor makhluk hitam berjalan keluar.

Tubuhnya menyerupai serigala, tetapi ukurannya dua kali lebih besar.

Arka mundur satu langkah.

Tangannya gemetar.

Makhluk itu menggeram.

Layar biru kembali muncul.

[Target ditemukan.]

[Monster: Shadow Hound]

[Level: 2]

[Misi Pemula dapat diselesaikan dengan mengalahkan target.]

Arka menatap monster itu.

Dia hanyalah murid tanpa bakat.

Levelnya bahkan baru satu.

Sementara monster di depannya berada satu tingkat lebih tinggi.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebuah suara kecil muncul di dalam hati Arka.

Aku tidak ingin terus menjadi orang yang lemah.

Dia mengepalkan tangan.

Jika ini benar-benar kesempatan yang diberikan kepadanya, dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Arka melangkah maju.

“Kalau aku harus mulai dari bawah…”

Tatapannya berubah.

“…maka aku akan naik sampai tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku.”

Shadow Hound menerjang.

Arka bersiap menghadapi serangan pertamanya.

Dan pada saat itulah—

[Pertempuran dimulai.]

[Misi Pemula aktif.]

[Target: Shadow Hound.]

[Hadiah: Kemampuan pertama.]

Hari ketika seluruh akademi menganggap Arka sebagai murid terlemah…

ternyata menjadi hari pertama perjalanan seorang legenda.

Lanjut membaca
Lanjut membaca