
SANDYA AGUNG PENGEMBARA KECIL PENGUASA AURA
49UN9|Bersambung
- Jumlah kata
- 42.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 42.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Novel ini menceritakan atau mengkisahkan seorang anak laki laki yang keluarganya menjadi korban keberingasan negaranya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Vibes Dingin dan Red Flag di Ujung Tanduk
Hutan belantara Gunung Kabut itu vibes-nya emang dark dan aesthetic buat mereka yang suka healing, tapi real talk, ini sama sekali bukan tempat buat mereka yang gampang overthinking atau napasnya nggak stabil. Di ketinggian ini, udara tipis, dingin, dan literally menusuk paru-paru.
Tapi buat Sandya Agung yang kini berusia lima belas tahun, lingkungan yang toxic dan mematikan ini adalah dojo terbaik yang bisa ia minta.
Sandya duduk bersila di atas dahan pohon raksasa yang tertutup lumut. Matanya terpejam, napasnya teratur. Satu, dua, tiga... Ia menarik udara dingin itu masuk, membiarkannya berputar di dalam dada, lalu menghembuskannya perlahan. Ini adalah legacy dari Sang Pencipta. Berabad-abad lalu, manusia pertama dianugerahi kemampuan untuk menyerap energi kehidupan, yang sekarang kita kenal sebagai Aura.
Kekuatan itu nggak sama pada setiap orang; ia dibentuk oleh mindset, kecerdasan, dan lingkungan. Tapi, plot twist terbesar yang cuma diketahui sama segelintir orang jenius—seperti almarhum ayahnya—adalah bahwa densitas atau kepekatan aura itu nggak ditentukan oleh born talent atau cheat code lahir. Aura itu soal seberapa jago lo ngolah pernapasan dan kondisi fisik lo.
Desis... Aura tipis berwarna kebiruan mulai merembes dari pori-pori Sandya. Nggak meledak-ledak, nggak berisik. Aura itu pekat, lowkey, dan mematikan, seolah menyatu dengan kabut pagi.
"Lo sih ya, detak jantungnya lo tekan sampe lowkey kayak orang mati, Nak," sebuah suara berat memecah focus Sandya.
Sandya membuka matanya. Paman Raka, adik dari almarhum ayahnya, sedang berdiri di batang pohon di bawahnya. Pria itu membawa dua ekor kelinci hutan yang sudah dibersihkan. Raka adalah satu-satunya support system yang tersisa, penyelamat yang menyeret Sandya dari tumpukan mayat orang tuanya sepuluh tahun yang lalu, setelah Raja Pertama—sepupu Sandya yang power-hungry dan red flag parah—membunuh mereka dengan cara yang paling keji.
"Kalau detak jantungku melambat, densitas auraku bakal stacking di pusat tubuh, Pam," jawab Sandya dengan suara datar. Ia melompat turun, mendarat tanpa suara meski ketinggian dahan itu hampir sepuluh meter. Parkour-nya emang udah next level. "Aura yang meledak-ledak itu cuma buat flexing. Aura yang silent but deadly baru yang real deal."
Raka menghela napas, menatap keponakannya dengan tatapan campuran antara kagum dan concern. Sandya ini emang different. Umur 15 tahun tapi mindset-nya udah kayak sepuh. Julukan 'Jenius di Antara Para Jenius' yang dulu disematkan pada ayahnya, kini reborn dalam diri bocah ini. Sandya nggak pernah nangis saat lihat darah orang tuanya menggenang. Dia nggak pernah breakdown atau teriak-teriak minta tolong pada langit. Saat itu, mata hitam Sandya cuma natap tajam, nge-record setiap detail wajah para pembunuh, setiap gerakan otot mereka, dan setiap bug dalam formasi aura mereka. Cold blooded abis.
"Raja makin desperate," kata Raka sambil mulai menyalakan api unggun kecil. "Kepala kita kini di-bounty seribu keping emas. Pasukan penjaga batas makin rajia, paranoia banget nyisir desa-desa di kaki gunung."
Sandya duduk di dekat api, menghangatkan tangannya. Wajahnya nggak nunjukin ketakutan, melainkan kalkulasi tingkat dewa. "Sepupuku itu emang insecure parah. Densitas auranya mungkin high tier di generasinya, tapi dia tahu dia nggak bakal pernah nyamain level ayahku. Dia gaslight dan bunuh ayah-ibuku cuma karena trust issue dan takut tersaingi. Dan orang yang insecure, Pam, biasanya skill issue."
"Lo nggak boleh nge-underestimate dia, Sandya. Dia pegang kendali ibukota. Dia punya ribuan pengguna aura tingkat tinggi di circle-nya."
"Aku nggak nge-underestimate, Pam. Aku lagi mapping jalannya," balas Sandya tenang. Matanya yang tajam natap api. "Kekuatan itu bukan soal siapa yang punya aura paling pekat. Kekuatan itu soal siapa yang paling savage dan licik dalam memanfaatkannya."
Tiba-tiba, telinga Sandya berkedut. Napasnya terhenti sepersekian detik.
"Pam," bisik Sandya, suaranya nyaris tak terdengar. "Tiga orang. Jarak dua ratus meter dari utara. Vibes aura mereka nggak stabil, langkah mereka berat. Bukan pasukan kerajaan. Pemburu hadiah amatiran yang FOMO mau dapet duit."
Raka langsung berdiri, tangannya meraih pedang di punggungnya. "Gue yang urus mereka. Lo stay di sini."
"Nggak," Sandya berdiri, memungut beberapa batu tajam dan daun beracun dari sekitar api unggun. "Mereka datang buat kepala kita. Kalau Pam yang bunuh mereka, aura Pam bakal ke-spill sama anjing-anjing kerajaan. Biarin gue. Aura gue masih mode incognito. Mereka nggak bakal nge-detect apa-apa."
Sebelum Raka bisa nge-gas melarang, Sandya udah melesat masuk ke dalam semak belukar, bergerak kayak hantu. Ghosting mode: on.
Tiga pria berbadan kekar dengan pakaian lusuh muncul di sekitar area perkemahan. Mereka membawa golok yang dialiri aura merah redup.
"Woy, bau daging panggang. Pasti target kita ada di deket sini," gumam pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di pipinya.
Mereka melangkah masuk ke dalam lingkaran perkemahan, ngira tempat itu kosong. Namun, langkah pemimpin itu tiba-tiba terhenti. Kakinya tersangkut tali tipis yang hampir nggak kasat mata.
Wush!
Sebuah dahan pohon terpelanting, menjatuhkan segenggam serbuk daun beracun tepat ke wajah pria itu. "Argh! Mata gue! Toxic banget!" teriaknya, menggaruk wajah dengan panik.
Dua rekannya langsung nyalain aura, bersiap nyerang. "Siapa di sana?! Keluar lo!"
Dari balik bayangan pohon, Sandya melangkah keluar. Wajahnya tenang, nggak ada sedikitpun emosi marah atau takut. Dia cuma natap mereka kayak seorang scientist yang lagi ngamatin serangga.
"Kalian berisik," kata Sandya datar. "Literally ganggu peace gue."
"Bocah sialan!" Salah satu pemburu itu menerjang, mengayunkan golok beraura ke arah leher Sandya. Serangan itu cepet, cukup cepet buat membunuh orang dewasa biasa.
Tapi Sandya nggak menghindar dengan lompat-lompat. Dia cuma nggeser kepalanya dua inci ke kiri. Golok itu meleset, motong beberapa helai rambutnya. Dalam fraksi detik yang sama, tangan kanan Sandya yang megang batu tajam meluncur ke bawah, motong pergelangan tangan pria itu dengan presisi bedah. Clean cut.
Darah mancur. Pria itu menjerit, nge-drop goloknya.
Pemimpin yang matanya masih perih coba meraba-raba dan nyalain auranya buat nyerang buta. Sandya nggak kasih dia second chance. Dengan gerakan yang hemat dan efisien, Sandya melangkah masuk ke jarak dekat, nusukin batu tajam yang udah diruncingin tepat ke celah di antara tulang selangka pemimpin itu, nembus paru-parunya. One shot.
Pemimpin itu terbatuk, muntahin darah, lalu ambruk ke tanah tanpa suara.
Satu-satunya pemburu yang tersisa, yang dari awal loading-nya lambat, kini mematung. Dia natap ketiga rekannya yang terluka parah atau mati dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Bocah di hadapannya nggak punya aura yang meledak-ledak, tapi tatapan mata hitam itu bikin dia ngerasa kayak lagi natap dasar jurang yang dark banget. Traumatized parah.
"L-lo..." pria itu gemetar, mundur perlahan. "Lo adalah bocah di poster sayembara... Anak dari pengkhianat!"
Sandya memiringkan kepalanya sedikit. Dia nggak salty atau marah disebut anak pengkhianat. Baginya, kata-kata haters cuma sampah.
"Sampaikan ke circle anjing-anjing kerajaan di luar sana," ucap Sandya, suaranya dingin membelah udara pagi. "Gunung ini private area. Dan kalau kalian balik lagi, gue nggak bakal motong pergelangan tangan kalian. Gue bakal motong pita suara kalian. Ghosting selamanya."
Pria itu nggak butuh peringatan kedua. Dia langsung turn back dan lari terbirit-birit menembus hutan, ninggalin ketiga rekannya yang nge-lag kesakitan.
Sandya nggak ngejar. Dia cuma ngambil napas, membiarkan aura tipisnya kembali reset ke dalam tubuhnya. Dia natap tangannya yang berlumuran darah, lalu bersihinnya pake daun. Nggak ada rasa jijik, nggak ada rasa bersalah. Dunia ini emang toxic, dan dia udah belajar sejak kecil bahwa belas kasihan itu kemewahan yang cuma dipunya sama mereka yang nggak pernah kehilangan segalanya.
Raka keluar dari persembunyiannya, natap tubuh para pemburu itu dengan tatapan kompleks. "Lo nggak bunuh mereka, Sandya?"
"Orang mati nggak bisa spill cerita, Pam," jawab Sandya sambil jalan kembali ke api unggun, ngambil daging kelinci yang udah matang. "Biarin mereka hidup. Biar jadi marketing gratis. Biar orang tahu Gunung Kabut itu no-go zone. Kita butuh reputasi, bukan cuma tumpukan mayat."
Sandya gigit daging itu, natap ke arah selatan, ke arah di mana ibukota kerajaan berdiri megah. Di sana, sepupunya duduk di atas tahta yang dibangun dari darah ayah dan ibunya.
Tunggu aja, batin Sandya, sebuah senyum tipis yang penuh dengan kalkulasi savage terukir di bibirnya. Gue bakal datang. Bukan sebagai pahlawan yang bawa peace and love. Tapi sebagai nightmare yang bakal nge-reset tahta lo jadi nol.
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








