

Hujan turun deras malam itu.
Air mengalir di sepanjang jalanan kota, membawa daun-daun kering dan sampah kecil menuju selokan. Lampu kendaraan memantul di aspal basah, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak di antara kabut tipis.
Ryan berjalan sendirian di trotoar.
Jaket hitamnya sudah mulai basah di bagian bahu. Payung yang dibawanya berkali-kali diterpa angin, sementara tas ransel yang menggantung di punggung terasa semakin berat.
Ryan melihat layar ponselnya.
21.43.
"Harusnya tadi langsung pulang."
Dia menghela napas.
Seharian ini sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang aneh. Hanya rutinitas biasa: kuliah, mengerjakan tugas, makan seadanya, kemudian membantu Kevin menyelesaikan sebuah pekerjaan sampai malam.
Masalahnya, Kevin sudah pulang lebih dulu.
Dan sekarang Ryan harus berjalan hampir dua puluh menit untuk sampai ke rumah.
Ia memasukkan ponsel ke saku. "Besok gue nggak mau bantuin Kevin lagi." Baru beberapa langkah, Ryan mendengar suara aneh.
Krek.
Ia berhenti.
Suara itu berasal dari gang sempit di sebelah kirinya. Ryan menoleh.
Gang tersebut hanya diterangi satu lampu kuning tua yang berkedip-kedip. Bangunan di kanan dan kiri terlihat gelap. Beberapa tanaman liar tumbuh di antara retakan semen.
Ryan menatap gang itu beberapa detik.
"Perasaan tadi nggak ada suara."
Ia mengangkat bahu.
Mungkin kucing.
Ryan hendak berjalan lagi.
Krek.
Suara itu terdengar sekali lagi.
Kali ini lebih dekat.
Ryan mengernyit.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Hujan masih turun.
Ryan mengambil ponselnya dan menyalakan senter.
Cahaya putih menyapu gang.
Kosong.
Tidak ada manusia.
Tidak ada kucing.
Tidak ada apa pun.
Ryan tersenyum kecil.
"Parno sendiri."
Ia memutar tubuh. Lalu berhenti.
Ada sesuatu di bawah kakinya. Ryan menunduk.
Aspal basah. Sepatunya. Dan—
tidak ada bayangan.
Ryan terdiam.
Ia menggerakkan tangan kanannya.
Bayangannya tidak bergerak.
Ia mengangkat tangan kiri.
Tetap tidak ada.
Ryan perlahan mengangkat payung.
Tidak ada bayangan payung.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Apa...?"
Ia melihat lampu jalan di atas kepalanya.
Cahaya itu cukup terang untuk menghasilkan bayangan.
Tetapi tubuhnya seperti tidak memilikinya.
Ryan mundur satu langkah.
Bayangan orang lain seharusnya berada di belakang tubuhnya.
Namun yang ada hanya genangan air.
"Aneh..."
Kemudian terdengar suara dari dalam gang.
"Jangan bergerak."
Ryan membeku.
Suara laki-laki.
Ryan menyorotkan senter ke arah suara.
Seorang pria berdiri sekitar sepuluh meter di depannya.
Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.
Rambutnya basah, tetapi anehnya air hujan seperti berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh tubuhnya.
Pria itu mengenakan jaket abu-abu.
Matanya menatap Ryan dengan serius.
"Kamu Ryan?"
Ryan langsung waspada.
"Lo siapa?"
Pria itu tidak menjawab.
Sebaliknya, dia memperhatikan kaki Ryan.
Kemudian wajahnya berubah.
"Jadi benar..."
Ryan semakin curiga.
"Benar apanya?"
Pria itu berjalan mendekat.
"Bayanganmu hilang."
Ryan mundur.
"Lo tahu soal ini?"
"Lebih dari yang kamu kira."
Ryan hendak bertanya lagi.
Namun tiba-tiba—
DUUM!
Tanah bergetar.
Lampu-lampu di sepanjang jalan padam bersamaan.
Suara kendaraan menghilang.
Hujan yang sebelumnya deras tiba-tiba berhenti.
Bukan mereda.
Berhenti.
Satu tetes air hujan bahkan menggantung di udara tepat di depan wajah Ryan.
Ryan menatapnya dengan napas tertahan.
"Apa yang terjadi?"
Pria itu melihat ke langit.
Wajahnya pucat.
"Sudah dimulai."
"Apa?"
"Ryan, kamu harus pergi dari sini."
"Kenapa?"
Pria itu menatapnya.
"Karena mereka sudah menemukanmu."
Langit tiba-tiba berubah.
Sebuah garis merah muncul di antara awan.
Perlahan garis itu melebar.
Seperti retakan besar pada kaca.
KRRRRAAAK!
Retakan tersebut membelah langit.
Ryan mundur beberapa langkah.
Dari balik retakan itu muncul kabut hitam.
Kabut tersebut berputar dan turun menuju kota.
Pria itu langsung mengangkat tangan.
Cahaya biru menyala di telapak tangannya.
Ryan menatap dengan mata membesar.
"Lo..."
Sebelum Ryan selesai berbicara, sebuah suara menggema dari langit.
"Serahkan pewaris terakhir."
Ryan merasakan seluruh tubuhnya merinding.
Pewaris?
Siapa?
Pria di depannya mengepalkan tangan.
"Jangan dengarkan mereka."
"Tapi mereka ngomong soal siapa?"
Pria itu menatap Ryan.
"Kamulah orangnya."
Ryan tertawa gugup.
"Ini nggak lucu."
"Aku serius."
Kabut hitam mulai berkumpul di ujung jalan.
Sesuatu muncul dari dalamnya.
Makhluk itu memiliki tubuh tinggi dengan bentuk menyerupai manusia, tetapi seluruh tubuhnya diselimuti asap hitam. Dua mata merah menyala di wajah yang nyaris tidak memiliki bentuk.
Ryan mundur.
"Apa itu?"
"Jangan lihat matanya."
Terlambat.
Makhluk tersebut menatap Ryan.
Dalam sekejap, kepalanya terasa seperti dihantam sesuatu.
DUK!
Ryan jatuh berlutut.
Sebuah suara muncul di kepalanya.
Bukan suara makhluk itu.
Bukan suara pria di depannya.
Suara seorang wanita.
Lembut.
Panik.
"Ryan... kalau suatu hari mereka menemukanmu, jangan percaya siapa pun."
Ryan memegang kepalanya.
"Apa...?"
Penglihatannya berubah.
Ia melihat sebuah ruangan terbakar.
Seorang wanita menggendong bayi.
Seorang pria berdiri di depan pintu sambil memegang pedang yang diselimuti cahaya biru.
Ada darah di lantai.
Ada banyak orang.
Kemudian pria itu berteriak:
"Bawa Ryan pergi!"
Penglihatan menghilang.
Ryan tersentak.
"Ayah..."
Kata itu keluar tanpa sadar.
Ryan bahkan tidak tahu kenapa ia mengatakannya.
Orang tuanya sudah meninggal sejak ia kecil.
Setidaknya itulah yang selama ini ia percaya.
Makhluk hitam di depan mereka bergerak.
Pria berjacket abu-abu langsung melesat.
BOOM!
Benturan energi menghancurkan sebagian dinding di samping gang.
Ryan terlempar.
Tubuhnya menghantam tanah.
Sakit.
Sangat sakit.
Namun yang lebih menyakitkan adalah kepalanya.
Ingatan-ingatan yang selama ini terkunci mulai bermunculan.
Gunung.
Api.
Suara jeritan.
Seorang bayi.
Dan sebuah simbol berbentuk lingkaran dengan tujuh garis.
Ryan memegang dadanya.
Sesuatu di dalam tubuhnya terasa bergerak.
Duk.
Satu denyut.
Duk.
Denyut kedua.
Kemudian—
DUUUUM!
Energi hitam meledak dari tubuh Ryan.
Makhluk itu berhenti.
Pria berjacket abu-abu juga terdiam.
Mata Ryan berubah gelap.
Udara di sekitarnya bergetar.
Genangan air di bawah kakinya terangkat.
Dan untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, Energi Nusa yang telah dianggap musnah kembali muncul.
Pria itu berbisik:
"Mustahil..."
Ryan berdiri perlahan.
"Apa... yang terjadi padaku?"
Tidak ada jawaban.
Karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah terjadi.
Bayangan Ryan akhirnya muncul di tanah.
Tetapi bayangan itu tidak mengikuti gerakannya.
Bayangan tersebut perlahan mengangkat kepalanya.
Kemudian—
tersenyum.
Sebuah suara keluar dari bayangan itu.
Suara yang sama sekali berbeda dari suara Ryan.
"Lama sekali, Ryan."
Ryan membeku.
Dan dari kejauhan, makhluk bermata merah itu justru berlutut.
"Yang Mulia telah kembali."
Malam itu, Ryan akhirnya mengetahui bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan.
Namun dia belum mengetahui satu hal.
Orang yang selama ini ia kira sebagai ayahnya... bukanlah ayah kandungnya.