Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Transformasi Bandol Si Penggali Kubur Berkat Susuk Empu Mandira.

Transformasi Bandol Si Penggali Kubur Berkat Susuk Empu Mandira.

Rendra69 | Bersambung
Jumlah kata
31.9K
Popular
205
Subscribe
97
Novel / Transformasi Bandol Si Penggali Kubur Berkat Susuk Empu Mandira.
Transformasi Bandol Si Penggali Kubur Berkat Susuk Empu Mandira.

Transformasi Bandol Si Penggali Kubur Berkat Susuk Empu Mandira.

Rendra69| Bersambung
Jumlah Kata
31.9K
Popular
205
Subscribe
97
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperPria MiskinHarem
Dihina, ditolak cinta, dan hidup melarat sebagai penggali kubur—itulah takdir Bagas sebelum malam keramat di makam sang empu mengubah segalanya. Dirasuki susuk legendaris, ia bangkit dengan ketampanan memukau, hoki tanpa batas, dan kekuatan supranatural. Dari desa terpencil hingga hingar-bingar kota metropolitan, Bagas membangun imperium bisnis, membalas tuntas orang-orang yang dulu merendahkannya, serta menaklukkan hati para wanita dari berbagai kalangan. Namun, di balik puncak kekuasaan dan kilau harta, mampukah ia menanggung kutukan maut dari susuk yang merasukinya?
Bab 1: Permulaan.

Pagi yang cerah menyelimuti Desa Cikangkung. Matahari perlahan terbit dari ujung timur, menerangi jalanan desa yang mulai dipenuhi warga dengan kesibukan masing-masing.

Di desa kecil itulah tinggal seorang pemuda 24 tahun yang lugu bernama Bagas Aditya. Ia dikenal sebagai anak yang kurang mujur dan yatim piatu. Namun, nama Bagas mungkin tidak begitu dikenal oleh orang-orang.

Sebagian besar warga justru lebih sering memanggilnya dengan nama Bandol—julukan yang sudah ada sejak dia kecil.

Panggilan Bandol melekat bukan tanpa sebab; dengan alasan sejal kecil sering sakit sakitan, tubuhnya kerempeng, gampang sekali masuk angin, dan terlihat menyedihkan layaknya kambing kurus.

Sial dalam rupa, apes dalam urusan harta, dan yang paling mengenaskan: lambat dalam berpikir, itulah ciri khas atau setidaknya label yang diberikan orang sekampung kepada Bandol.

Di teras rumah panggungnya yang reot, Kakek Rahman menghela napas panjang sambil melinting tembakau. Lelaki tua itu menatap cucu satu-satunya yang baru saja datang dengan wajah lesu dan pakaian dipenuhi lumpur kering.

"Ndol... semalam katanya kamu dimarahi lagi ya sama Pak RT?" tanya Kakek Rahman dengan suara serak, membuka obrolan kecil yang membuat bahu Bagas semakin merosot.

Bandol menyeka keringat di keningnya menggunakan punggung tangan, lalu mendesah berat. "Iya, Kek. Lagi-lagi Bandol yang disalahkan."

"Ada apa lagi, emang padinya kamu taruh mana? Masa begitu saja bisa salah?" kejar sang kakek, nada suaranya menyiratkan keheranan sekaligus kebiasaan menghadapi kecerobohan cucunya.

Bandol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya menyeringai kaku karena bingung. "Bandol disuruh naruh karung gabah hasil panen warga di gudang sebelah timur, Kek. Tapi... ya, Bandol taruh di kandang kambing Pak RT sebelah barat."

Kakek Rahman langsung menepuk jidatnya sendiri. "Ya Allah, Ndol Ndol! Ya Jelas saja Pak RT mengamuk! Gudang sama kandang kambing itu beda jauh, baunya saja sudah lain! Kenapa bisa keliru begitu?"

"Bandol bingung, Kek. Pas jalan ke sana, pikiran Bandol mendadak kosong kayak diselimuti kabut. Tiba-tiba kaki Bandol melangkah sendiri ke kandang," bela Bandol lirih, suaranya terdengar begitu polos sekaligus memprihatinkan.

"Makanya, kalau orang ngomong itu didengarkan pakai kepala, bukan cuma pakai dengkul!" Kakek Rahman menggeleng-gelengkan kepala, merasa ampun dengan keterbatasan cara berpikir cucunya itu. "Udah fisiknya sering sakit-sakitan, kerjanya serabutan jadi penggali kubur, lambat pula kalau mencerna perintah. Pantas saja warga desa selalu menganggapmu sebelah mata."

Bandol hanya bisa menunduk. Kata-kata kakeknya memang tajam, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sudah kebal. Hidupnya memang sudah dicap sebagai lambang kesialan berjalan.

Jangankan harta benda, untuk sekadar dipandang layak sebagai manusia saja rasanya sangat sulit ia dapatkan di desa ini.

Belum sempat Bandol meratapi nasibnya lebih lama, sebuah suara decakan sinis mendadak memecah keheningan pagi dari arah jalan setapak depan rumah.

"Wah, wah... lihat siapa ini si Pandir Bandol! Pagi-pagi sudah bikin onar di rumah Pak RT, ya?" teriak sebuah suara cempreng yang sangat dikenal Bandol.

Bandol mendongak. Di sana, berdiri Mang Udin, tetangga sebelah yang terkenal paling suka mencibir, sedang berkacak pinggang menatapnya dengan senyum meremehkan.

Di sampingnya, Siti—gadis kembang desa yang sejak lama diam-diam disukai Bandol—berdiri sambil menutup hidung, seolah-olah aroma tubuh Bandol yang bau lumpur kuburan menyinggung penciumannya.

"Ada perlu apa pagi-pagi mangkal di sini, Din?" tanya Kakek Rahman dengan nada tidak suka, berusaha melindungi cucunya.

Mang Udin tertawa meremehkan, lalu melirik tajam ke arah Bandol. "Sengaja lewat, Pak Rahman. Mau ngasih tahu si Bandol ini, jangan berharap macam-macam mau melamar ponakan saya atau gadis lain di desa. Udah miskin, dekil, lemot pula otaknya! Mau dikasih makan apa anak orang kalau kerjanya cuma gali kubur dan salah taruh padi?"

Siti ikut menimpali dengan suara sinis, melirik Bandol penuh jijik. "Iya, ih. Kemarin waktu kamu nyatain perasaan di dekat balai desa, jujur ya, aku risih banget. Sadar diri sedikit napa, Bandol. Kamu itu cuma penggali kubur pembawa sial!"

Jantung Bandol berdegup kencang. Hatinya seperti diiris pisau gelati mendengar penolakan telak yang disaksikan langsung oleh kakeknya. Bukan hanya ditolak mentah-mentah, ia kembali diinjak-injak harga dirinya.

"Aku... aku cuma mau berusaha jadi lebih baik, Siti," cicit Bandol pelan, suaranya bergetar menahan malu dan amarah yang tertahan di dada.

"Usaha? Hahaha! Sampai kiamat juga hidupmu bakal di situ-situ terus, jadi pesakitan!" cerca Mang Udin makin menjadi-jadi sebelum akhirnya berbalik pergi bersama Siti sambil tertawa terbahak-bahak.

Sejak kepergian Mang Udin dan Siti, suasana di depan rumah kembali sunyi. Hanya suara burung dan sesekali kokok ayam yang terdengar bersahutan. Bandol masih duduk di anak tangga, menatap tanah dengan pandangan kosong.

Kakek Rahman masuk ke dalam rumah untuk mengambil segelas air. Ketika kembali, ia mendapati Bagas masih dalam posisi yang sama.

"Ndol."

Bandol tidak menjawab.

"Jangan terlalu dipikirkan omongan orang. Kalau kamu terus memasukkan semua hinaan ke hati, kapan kamu mau hidup tenang?"

Bandol mengangkat wajahnya. "Kek, apa benar Bandol memang seburuk itu?"

Kakek Rahman terdiam beberapa saat. Pertanyaan sederhana itu justru terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan Mang Udin.

"Tidak ada manusia yang benar-benar sial sejak lahir," jawabnya akhirnya. "Kadang hidup cuma sedang menguji seberapa kuat seseorang bertahan."

Bandol menunduk kembali. Ia tidak sepenuhnya memahami ucapan kakeknya, tetapi entah kenapa kata-kata itu sedikit menenangkan hatinya.

----

Menjelang sore, Bandol kembali bekerja. Ia membantu membersihkan rumput liar di sekitar pemakaman umum. Pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak beberapa tahun terakhir.

Tidak banyak orang mau menggali kuburan, apalagi ketika tanah sedang keras dan bebatuan memenuhi dasar liang. Namun bagi Bandol, pekerjaan itu tetap lebih baik daripada menganggur.

Sepulang dari membersihkan makam, Bandol berjalan menyusuri jalan desa dengan langkah santai. Perutnya sejak tadi berbunyi, sementara tenggorokannya terasa kering seperti belum dialiri air seharian.

Ia ingin sekali membeli nasi dan segelas teh manis, tetapi ketika merogoh saku celananya, yang ditemukan hanya selembar daun kering dan dua butir kerikil.

"Nasib, nasib..." gumamnya sambil menghela napas.

Di depan sebuah warung sederhana milik Vellan, aroma gorengan hangat langsung menyeruak ke hidungnya. Ada tempe, bakwan, dan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Bandol berhenti tanpa sadar. Matanya terpaku pada makanan itu.

Beberapa pemuda desa yang sedang nongkrong di bangku panjang langsung menyadari kehadirannya.

Dodi, salah satu pemuda yang paling suka mengejek Bandol.

"Wah, lihat tuh! Si Bandol datang. Dol, kamu ngerti hitungan enggak?" tanyanya sambil tertawa.

Bandol mengerutkan kening. "Hitungan apa, Di?"

"Hitungan duit!" jawab Dodi disambut gelak tawa teman-temannya. "Jangan-jangan kamu berdiri di depan warung karena lupa kalau beli makanan itu harus bayar!"

Yang lain kembali tertawa.

Bandol hanya diam. Wajahnya menunduk, tetapi matanya masih sesekali mencuri pandang ke arah gorengan.

Vellan, perempuan cantik pemilik warung, akhirnya ikut bersuara.

"Sudahlah, Dol. Kalau memang tidak punya uang, jangan cuma berdiri seperti patung di situ. Pergi sana, jangan mengganggu pembeli."

Ucapan itu membuat dada Bandol terasa sesak. Ia mengangguk kecil, lalu berbalik meninggalkan warung dengan perut kosong dan hati yang jauh lebih lapar akan penghargaan.

Bandol mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga jarinya memutih. Di dalam tatapan matanya yang sayu, terselip sebuah bara dendam kesumat yang mulai membara.

Suatu saat nanti, batin Bandol berteriak, aku akan buktikan kalau aku tidak akan selamanya menjadi si sial yang diinjak-injak!

Lalu Bandol beranjak pergi.....

Tanpa Bandol dan kakeknya ketahui, takdir gila sedang bersiap mengubah jalan hidup pemuda itu.

Malam nanti, sebuah tugas menggali kuburan di makam keramat sang empu akan menjadi titik balik yang memutarbalikkan seluruh hinaan ini menjadi kejayaan mutlak.

Lanjut membaca
Lanjut membaca