
kacamata teknologi dan supranatural
Karya saya|Bersambung
- Jumlah kata
- 32.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 32.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
warning cerita ini memuat adegan dewasa disetiap lima bab nya. harap tidak membukanya jika anda tidak berkenan
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Eps 1 Kacamata Teknologi dan supranatural
Di sebuah alam yang tidak pernah diketahui manusia, berdiri sebuah kerajaan jin dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Kerajaan itu bernama Kerajaan Gapeh. Wilayahnya membentang melewati hutan kabut, pegunungan hitam, lembah api, hingga kota-kota jin yang dipenuhi bangunan megah. Namun, luasnya wilayah kerajaan ternyata tidak sebanding dengan kualitas pemimpinnya.
Kerajaan Gapeh dipimpin oleh seorang raja jin bernama Raden Prabu Ambun. Ambun dikenal sebagai raja yang keras. Suaranya mampu membuat prajurit langsung berdiri tegak. Tatapannya membuat pejabat kerajaan menundukkan kepala. Jika sedang marah, tidak ada jin yang berani berada terlalu dekat dengannya. Akan tetapi, di balik punggung sang raja, hampir seluruh rakyat memiliki penilaian yang sama.
Raja bodoh.
Bahkan ada yang menyebut Ambun sebagai jin terbodoh yang pernah dilahirkan di alam jin. Anehnya, Ambun sendiri tidak pernah menyadari hal tersebut.
Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Sebuah pesta kecil digelar di salah satu ruangan istana. Ambun duduk dengan nyaman di atas permadani empuk yang dihiasi benang emas. Beberapa dayang duduk anggun membawa makanan dan minuman.
“Bagaimana? Apakah wajahku terlihat semakin berwibawa?” tanya Ambun sambil mengusap dagunya.
“Luar biasa, Paduka,” jawab salah seorang dayang cepat.
Ambun tersenyum puas.
Di tengah suasana tersebut, seorang jin tua memasuki ruangan. Ia adalah Cuculib, Menteri Teknologi Kerajaan Gapeh. Tangannya membawa sebuah kotak berwarna hitam.
“Selamat ulang tahun, Paduka Raja,” ucap Cuculib sambil membungkuk.
“Apa hadiahmu?”
Cuculib membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kacamata dengan bingkai hitam mengilap. “Ini adalah penemuan terbaru saya. Kacamata teknologi supranatural.”
Ambun mengangkat alis. “Teknologi supranatural?”
“Benar. Kacamata ini dapat menjawab pertanyaan apa pun, membaca pikiran seseorang, mencari informasi tersembunyi, bahkan melakukan prediksi berdasarkan data yang dikumpulkannya.”
Mata Ambun langsung berbinar. “Berarti aku bisa mengetahui apa yang dipikirkan rakyat tentangku?”
Cuculib terdiam sejenak. “Secara teknis... bisa, Paduka.”
Ambun segera mengenakan kacamata itu. Dalam sekejap, pandangannya berubah. Tulisan-tulisan aneh bermunculan di atas kepala para dayang. Ambun membaca tulisan pertama.
“Raja bodoh ini merasa tampan, padahal aku muak melihat mukanya.”
Senyumnya langsung menghilang. Ia membaca tulisan berikutnya.
“Si bodoh ini bernasib bagus. Bisa jadi raja, padahal dia sangat bodoh.”
Mata Ambun membesar. “Apa?!”
Tulisan lain muncul.
“Kenapa hari ini dia ulang tahun? Kenapa dia tidak mati saja?”
Wajah Ambun memerah. “BERHENTI!”
Para dayang terkejut. Ambun berdiri sambil membanting meja kecil di sampingnya. “Jadi selama ini kalian menganggapku bodoh?!”
Tidak ada yang berani menjawab. Namun kacamata itu terus memperlihatkan isi pikiran mereka. Semakin banyak yang dibaca, semakin panas hati Ambun.
“PENGKHIANAT!”
Keributan pun pecah di dalam ruangan. Para dayang menjerit meminta ampun kesakitan, Ambun mengamuk tanpa kendali membabibuta. Seorang prajurit setia bernama Seno yang berjaga di dekat pintu memilih segera meninggalkan ruangan. Ia tahu masalah ini akan menjadi semakin besar.
Seno bergegas mencari seseorang yang harus mengetahui kejadian tersebut. Orang itu adalah Ratu Ayu, istri Raja Ambun. Saat Seno menemukan Ratu Ayu, sang ratu sedang santai bermain kartu bersama beberapa temanya.
“Yang Mulia...” Seno menelan ludah. “Ada masalah besar di ruangan Raja.”
Ratu Ayu langsung meletakkan kartunya. “Masalah apa?”
Seno menceritakan tentang kacamata pemberian Cuculib. Wajah Ratu Ayu seketika berubah pucat.
Bukan karena marah.
Melainkan karena takut.
Jika kacamata itu benar-benar bisa membaca pikiran, maka satu pertanyaan langsung muncul di kepalanya.
Bagaimana kalau suaminya membaca isi pikirannya juga? Bagaimana dia bisa membodohi suaminya?
---
Setelah mengamuk habis-habisan di ruang pesta, Raja Ambun akhirnya kehabisan tenaga. Tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang besar di kamar kerajaan. Napasnya masih terdengar berat. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan pakaian kebesarannya bahkan sudah tidak serapi sebelumnya.
Beberapa pelayan berdiri jauh dari tempat tidur. Tidak ada yang berani mendekat. Mereka masih trauma dengan kejadian beberapa saat lalu.
Pintu kamar kemudian terbuka perlahan. Ratu Ayu masuk dengan langkah tenang. Ia berusaha memasang wajah prihatin meskipun dalam pikirannya sendiri sedang merasa sangat cemas.
“Bagaimana keadaanmu, Baginda?” tanyanya.
Ambun membuka matanya. “Buruk.”
Ratu Ayu duduk di sisi ranjang. “Aku sudah mendengar semuanya dari Seno.”
Ambun menghela napas panjang. “Mereka semua menganggapku bodoh.”
Ratu Ayu segera menggeleng. “Tidak semuanya, Baginda.”
Ambun menatap istrinya. “Benarkah?”
“Tentu.” Ratu Ayu tersenyum lembut. “Menurutku Baginda bukan bodoh.”
Wajah Ambun sedikit cerah. “Benarkah?”
“Baginda hanya... kurang pintar.”
Ambun terdiam.
Ambun mengangguk pelan. “Benar juga. Aku memang bukan bodoh. Aku hanya kurang pintar menggunakan otak.”
Ratu Ayu hampir tertawa, tetapi berhasil menahannya. “Ya. Tepat sekali.”
Ambun kemudian mengeluh lagi. “Aku tidak menyangka rakyatku berpikir seperti itu. Padahal aku selalu berusaha menjadi raja yang hebat.”
Ratu Ayu mengangguk sambil memasang wajah penuh simpati. “Yang penting Baginda jangan terlalu memikirkan ucapan mereka.”
Sambil berbicara, mata Ratu Ayu perlahan bergerak ke meja kecil di samping ranjang. Di sana tergeletak benda yang membuatnya sejak tadi gelisah. Kacamata teknologi supranatural milik Cuculib.
Ambun rupanya terlalu lelah untuk memperhatikannya. Ratu Ayu terus berbicara untuk mengalihkan perhatian suaminya. “Baginda sebaiknya beristirahat. Jangan memikirkan masalah tadi.”
“Ya... mungkin aku memang harus tidur.”
Ambun memejamkan mata. Ratu Ayu menunggu beberapa detik. Ia memastikan napas Ambun mulai teratur. Perlahan, tangannya bergerak menuju meja.
Sedikit demi sedikit.
Jarinya hampir menyentuh kacamata tersebut.
Ambun tiba-tiba bergerak.
Ratu Ayu langsung membeku.
“Hmm...” gumam Ambun.
Ratu Ayu tersenyum gugup. “Baginda belum tidur?”
“Belum.”
Ratu Ayu menarik tangannya kembali. “Aku hanya ingin memastikan bantalmu nyaman.”
“Bantal ini memang nyaman.”
“Syukurlah.”
Beberapa detik kemudian Ambun kembali memejamkan mata.
Ratu Ayu kembali mencoba.
Kali ini berhasil.
Tangannya mengambil kacamata tersebut tanpa menimbulkan suara. Ia segera menyembunyikannya di balik pakaiannya. “Kalau begitu aku permisi sebentar,” katanya.
Ambun hanya mengangguk.
Ratu Ayu keluar dari kamar dengan langkah tenang. Begitu pintu tertutup, ekspresinya langsung berubah serius. “Benda ini harus segera dibuang.” Ia berjalan cepat menuju ruangan belakang istana dan memanggil Seno.
Prajurit itu segera datang. “Ada apa, Yang Mulia?”
Ratu Ayu menunjukkan kacamata tersebut. “Ini sumber masalahnya.”
Seno langsung mengerti. “Jadi kita harus menghancurkannya?”
“Jangan, nanti bila dia melihat serpianya, ia akan marah.” Ratu Ayu berpikir sejenak.
“Kita harus membuangnya jauh jauh.”
Seno mengangguk. “Baik, saya akan membuangnya jauh jauh”
Ayu pun menyuruh Seno “Bungkus seperti paket biasa.”
Seno terkejut. “Paket?”
“Ya. Buat serapi mungkin. Jangan sampai siapa pun curiga.”
Seno menerima kacamata tersebut. “Setelah itu?”
Ratu Ayu menatapnya tajam. “Bawa keluar istana dan buang sejauh mungkin.”
Seno mengangguk mantap. “Siap, Yang Mulia.”
Ratu Ayu menarik napas lega. Ia berharap setelah kacamata itu pergi, kehidupan kerajaan akan kembali normal. Namun mereka belum menyadari bahwa benda tersebut akan menjadi awal dari kekacauan yang jauh lebih besar.
---
Seno segera melaksanakan perintah Ratu Ayu. Ia membawa kacamata teknologi supranatural itu ke sebuah ruangan penyimpanan di belakang istana. Ruangan tersebut dipenuhi berbagai macam barang bekas, mulai dari kotak kayu, kain pembungkus, hingga peralatan kerajaan yang sudah tidak digunakan. Seno mengambil sebuah kardus berukuran sedang. Ia memasukkan kacamata tersebut ke dalamnya, lalu membungkusnya dengan kertas kado tebal agar bentuk benda di dalamnya tidak terlihat. Setelah itu, kardus dikemas rapi agar orang tidak mencurigai isinya.
Seno memandangi paket itu. “Kalau ada yang bertanya, ini apa?” Ia berpikir sebentar. “Paket retrunt.” Namun Seno merasa jawabannya belum cukup puas terencana. “Kalau ditanya paket siapa?” Ia kembali berpikir. “Peketku, masak paket nenek moyangmu.” Seno mengangguk puas. “Ok, sudah terencana.” Tanpa sadar ia mulai berbicara seperti jin sakit jiwa.
Ia membawa kardus tersebut melewati lorong istana. Beberapa prajurit yang berjaga hanya melirik sebentar. “Bawa apa, Seno?” tanya salah seorang prajurit.
Seno langsung memasang wajah serius. “Paket.”
“Sen, ada yang bilang hajat sembarangan dihalaman kamu tau pelakunya?” tanya prajurit itu diluar perencanaan Seno.
“Punyaku lah, masak punya nenek moyangmu.” ucap Seno sambil berlalu.
Prajurit itu langsung terdiam. Ia terkejut mendengar pengakuan Seno. Ia kembali menoleh keSeno. Namun Seno sudah meninggalkan tempat itu.
Begitu berhasil melewati gerbang istana, ia menghela napas lega. Ia tidak sadar dengan pengakuanya pada penjaga akibat terburu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Cuculib.
Seno menatap kembali ke arah istana. “Kalau cuma membuang kacamata, sumber masalahnya masih ada.” Ia membayangkan Cuculib membuat kacamata baru.
Kemudian membuat versi kedua.
Versi ketiga.
Bahkan mungkin versi yang bisa membaca pikiran satu kerajaan sekaligus.
Seno bergidik. “Tidak. Jin itu juga harus disingkirkan.” Seno segera mencari Cuculib.
Tidak butuh waktu lama sampai ia menemukan sang Menteri Teknologi sedang berjalan sambil membawa beberapa alat penelitian.
“Cuculib!”
Cuculib menoleh. “Oh, Seno. Ada apa?”
Seno tersenyum ramah. “Aku membawa hadiah untukmu.”
“Hadiah?”
“Ya.”
Cuculib tampak curiga. “Apa?”
Seno mengeluarkan sebuah botol kecil. Botol tersebut ternyata botol bekas minuman Y..ult. “Ini minuman kesehatan.”
Cuculib menatap botol itu. “Ya..lt?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Seno menjawab dengan wajah serius. “Supaya kamu... cinta pada ususmu.”
Cuculib mengernyit. “Bukankah itu slogan?”
“Minum saja.”
Karena tidak menyadari niat Seno, Cuculib menerima botol tersebut. Namun sebelum ia sempat membukanya, Seno melakukan sesuatu yang membuat Cuculib terkejut. “Eh?! Apa yang kau lakukan?!” Tubuh Cuculib tiba-tiba menyusut karena terkena mantra penangkap yang sebelumnya sudah disiapkan Seno.
Dalam sekejap, Cuculib masuk ke dalam botol Yakult.
“SEEEENOOO!”
Seno segera menutup botol tersebut. Dari dalam terdengar suara Cuculib. “Keluarkan aku!”
Seno memasukkan botol itu ke dalam tas. “Maaf, Culib. Ini demi keselamatan kerajaan.”
“Kenapa aku dimasukkan ke botol?!”
“Karena kau sumber masalah.”
“Aku cuma memberikan hadiah!”
“Hadiahmu terlalu canggih!” Seno kemudian berjalan menuju sebuah tempat terbuka di luar wilayah kerajaan. Ia berdiri di atas bukit dan melihat ke dua arah.
Ke barat.
Ke timur.
Seno memegang paket kacamata di tangan kanannya. “Kalau benda ini jatuh di tempat yang jauh, semoga tidak ada yang menemukannya.” Ia mengayunkan tangan.
WUSSS!
Paket berisi kacamata itu melayang jauh ke arah barat. Setelah itu Seno mengambil botol Yakult berisi Cuculib. “Dan kau... ke arah sebaliknya.”
WUSSS!
Botol itu dilempar ke arah timur. Dari kejauhan terdengar suara Cuculib. “SEEEENOOOOOO!”
Seno menghela napas lega. “Kali ini pasti selesai.” Ia menepuk-nepuk tangannya lalu berjalan pulang menuju istana.
Seno tidak tahu bahwa paket yang dilemparnya ke barat sedang melintasi batas alam jin dan menuju dunia manusia. Lebih buruk lagi, ia juga tidak tahu bahwa kacamata tersebut bukan sekadar teknologi biasa. Benda itu akan mempertemukan dunia teknologi dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkan manusia. Dan sejak malam itu, kehidupan seseorang di dunia manusia akan berubah selamanya.
Daftar bab
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








