Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DULU AKU SAMPAH, SEKARANG PARA DEWI BEREBUT MENJADI MILIKKU

DULU AKU SAMPAH, SEKARANG PARA DEWI BEREBUT MENJADI MILIKKU

Tujo Me | Bersambung
Jumlah kata
40.9K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / DULU AKU SAMPAH, SEKARANG PARA DEWI BEREBUT MENJADI MILIKKU
DULU AKU SAMPAH, SEKARANG PARA DEWI BEREBUT MENJADI MILIKKU

DULU AKU SAMPAH, SEKARANG PARA DEWI BEREBUT MENJADI MILIKKU

Tujo Me| Bersambung
Jumlah Kata
40.9K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalHaremSupernatural
Arga mendapatkan akses ke sistem yang mampu memberinya kekayaan, pengetahuan, kemampuan bertarung, dan kekuatan supernatural. Namun, sistem itu tidak sekadar mengubah hidupnya. Sistem tersebut ternyata berkaitan dengan warisan seorang Kaisar Dewa yang telah menghilang ribuan tahun lalu. Ketika Arga mulai bangkit, ia bertemu dengan wanita-wanita yang berada di puncak dunia: CEO muda, dokter jenius, pewaris keluarga bela diri, pembunuh bayaran, putri kerajaan supernatural, penyihir kuno, hingga dewi yang seharusnya tidak pernah jatuh cinta kepada manusia. Mereka memiliki alasan berbeda untuk mendekatinya. Ada yang mengagumi kekuatannya, ada yang tertarik pada kepribadiannya, ada yang memiliki utang nyawa kepadanya, dan ada pula yang menyimpan rahasia tentang identitas aslinya. Namun, semakin tinggi Arga naik, semakin jelas bahwa sistem yang memberinya segalanya mungkin juga sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi korban dalam permainan para dewa.
Bab 1: Sampah Bernama Arga

Hari ini aku dibuang dua kali.

Pertama, oleh atasanku. Kedua, oleh perempuan yang kuperjuangkan tiga tahun. Tapi aku belum tahu itu saat pagi masih berbau debu kardus dan lakban di gudang PT Mitra Sentosa Logistik.

Namaku Arga Pratama. Dua puluh empat tahun. Di kantor, orang memanggilku "Sampah", tentu saja di belakangku, dengan sopan.

Bukan karena aku malas. Aku datang paling pagi dan pulang paling malam. Aku mengangkat kardus yang tidak ada yang mau angkat, menandatangani surat jalan yang tidak ada yang mau tanda tangani. Orang seperti itu di dunia ini punya satu nama: orang yang boleh disalahkan.

---

Pukul enam pagi, kontrakan petak di Tambun, Bekasi.

Arga membuka mata karena bau telur gosong. Ia tidak punya kompor yang bisa menyala dengan benar, tapi Bima selalu berhasil membakar apa saja.

"Sarapan, Gar!" Bima mengangkat piring seng berisi sesuatu yang lebih mirip arang berbentuk bulat. "Spesial. Hari ini gajian, jadi telurnya kubuat gosong dua sisi. Tanda syukur."

"Itu tanda dosa," kata Arga sambil duduk.

"Makan aja. Protein itu protein, mau gosong atau tidak." Bima menepuk dada dengan bangga. "Aku ini koki bintang lima, cuma bintangnya jatuh semua."

Arga memotong telur itu. Pisaunya bunyi krek, seperti memotong sandal jepit. Ia tetap makan, karena di kontrakan ini tidak ada yang berani menyia-nyiakan makanan.

Di pintu kulkas yang sudah mati sejak bulan lalu, Bima menempelkan stiker bertuliskan GAJI HARI INI = HARI KEMENANGAN. Kulkasnya kosong. Hanya ada sebotol air dan selembar foto kecil seorang wanita berkerudung yang tersenyum.

Arga menyentuh foto itu sebentar. Ibunya. Besok hari ziarah. Ia sudah menyisihkan tiga ratus ribu dari gaji yang belum cair, untuk bunga dan sedikit doa.

"Kalau gajimu telat lagi," kata Bima sambil mengunyah, "aku jual ginjalku. Ginjalku mahal, tapi aku tetap harus makan."

"Ginjalmu isinya sambal doang."

Mereka tertawa. Itu tawa terakhir Arga hari itu.

Ia memakai kemeja gudang yang sikunya sudah ditambal dua kali. Ponselnya diam di saku. Chat terakhirnya dengan Maya tiga bulan lalu masih berhenti di centang abu-abu, dan ia sudah berhenti berharap itu berubah biru.

---

Pukul sebelas siang, gudang PT Mitra Sentosa Logistik.

Arga baru selesai menurunkan dua puluh kardus ketika Sari dari bagian admin berdiri di pintu dengan wajah pucat.

"Gar, dipanggil Pak Hendro. Sekarang."

Nada Sari tidak biasa. Ia tidak menatap mata Arga.

Ruang Pak Hendro dingin oleh AC dan wangi parfum yang terlalu mahal untuk gaji seorang manajer gudang. Pak Hendro duduk di balik meja kaca, memutar-mutar cangkir kopi seolah sedang menonton film kesukaannya.

"Duduk, Arga."

Arga duduk. Sepatunya masih berdebu.

"Aku sedih harus bicara soal ini." Pak Hendro memutar layar laptop. Daftar paket tampil, satu baris disorot merah. "Paket elektronik kemarin. Nilainya dua belas juta. Tanda tangan penerimaan atas namamu. Barangnya tidak ada."

"Pak, saya tanda tangan karena kurir bilang semuanya sudah dicek. Saya tidak pernah membawa..."

"Aku percaya kamu." Pak Hendro tersenyum. "Sungguh. Tapi direksi tidak. Mereka maunya ganti rugi."

"Kalau begitu cek CCTV, Pak."

Senyum itu tidak bergeser sedikit pun. "CCTV gudang belakang rusak sejak minggu lalu. Kebetulan sekali, ya?"

Dada Arga terasa menyempit. Kebetulan.

"Kalau boleh dicicil..."

"Cicilan itu namanya potong gaji, Arga." Pak Hendro mencondongkan badan, suaranya selembut kain sutra. "Kamu anak baik. Kasihan ibumu kalau tahu anaknya dituduh pencuri."

Nama ibunya disebut di ruangan itu seperti ludah di lantai. Arga mengepalkan tangan di bawah meja.

"Saya bukan pencuri."

Suaranya bergetar. Ia benci betapa kecil suaranya terdengar di ruangan seluas itu.

Pak Hendro menyesap kopinya, lama, seperti sengaja memberi Arga waktu untuk merasa kecil. "Kamu tahu apa masalahmu, Arga? Kamu terlalu jujur untuk dunia ini. Orang jujur itu mudah dijadikan tumbal. Mereka tidak punya siapa-siapa yang akan membela."

Arga menatapnya. Untuk sepersekian detik, ia merasa ada sesuatu di balik senyum itu, sesuatu yang puas.

"Aku tidak bilang begitu." Pak Hendro mengangkat bahu. "Aku cuma bilang ada yang hilang dan kamu yang tanda tangan. Logika sederhana. Orang pintar tidak mempersulit."

Hening. AC berdengung. Arga merasa sedang ditawari tali yang ujungnya sudah diikat ke lehernya sendiri.

---

Pak Hendro menyodorkan selembar kertas.

Slip gaji.

Arga membaca angkanya. Lalu membaca lagi. Lalu sekali lagi, seolah angka bisa berubah kalau dipelototi cukup lama.

> Gaji pokok: Rp3.800.000

> Potongan ganti rugi: Rp3.800.000

> Total diterima: Rp0

> Sisa kewajiban: Rp8.200.000

Ujung jarinya dingin. Telinganya berdenging. Parfum Pak Hendro tiba-tiba terasa terlalu tajam, seperti memaksa masuk ke paru-parunya.

"Bulan depan potongannya lanjut," kata Pak Hendro ringan. "Kalau mau mundur sekarang boleh, tapi tetap harus lunas."

"Pak, saya baru dua tahun kerja di sini. Saya tidak pernah telat, tidak pernah izin..."

"Justru itu." Pak Hendro tersenyum kasihan, seperti kepada anak kucing yang basah. "Kamu satu-satunya yang tidak akan melawan."

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada tuduhannya. Arga ingin berdiri, ingin membalik meja kaca itu, ingin berteriak sampai seluruh gudang mendengar. Tapi tubuhnya hanya diam, seperti biasa, seperti selalu.

Tiga bulan Arga menabung untuk ziarah dan tahlilan ibunya. Tiga bulan ia makan nasi dengan kecap. Semua itu menguap dalam satu lembar kertas.

---

Arga keluar dari ruangan itu dengan langkah seperti orang mabuk.

Di lorong gudang, para rekan kerja pura-pura sibuk. Dedi memindahkan kardus yang sama dua kali. Yanto membetulkan tali sepatu yang tidak lepas. Tidak ada yang menatapnya. Tidak ada yang bertanya.

"Sabar, Gar," bisik Dedi tanpa menoleh, saat Arga lewat. "Jangan cari masalah sama beliau."

Satu-satunya yang menatap Arga adalah Sari. Bibirnya bergerak seperti ingin bicara, lalu menutup lagi. Ia hanya menyelipkan sebungkus tisu ke tangan Arga, lalu pergi cepat-cepat seperti habis melakukan kejahatan.

Arga memandangi bungkus tisu itu. Sebungkus tisu. Itu satu-satunya pembelaan yang ia dapat hari ini.

Di pintu samping, lewat kaca yang berdebu, Arga melihat Pak Hendro berjalan ke tempat parkir sambil menenteng sebuah kardus sedang. Ia membuka bagasi mobil hitamnya, memasukkan kardus itu, lalu menutupnya pelan-pelan, seolah takut ada yang mendengar.

Arga mengerutkan kening.

Tapi kepalanya terlalu sakit untuk berpikir. Ia menunduk dan terus berjalan.

---

Warteg Bu Tini, pukul tujuh malam.

"Makan," kata Bu Tini tanpa bertanya, lalu menaruh sepiring nasi dengan telur balado dan tempe orek di depan Arga. Ia mengelap tangan ke daster dan menatap Arga seperti ibu menatap anak yang pulang dengan lutut berdarah.

"Bu, saya belum bayar..."

Bu Tini mengambil buku catatan kumal dan menulis keras-keras: Utang Arga: nol rupiah. Hari ini traktir. Ia menutup buku itu dengan bunyi plak.

"Kalau ada yang protes, suruh protes ke saya."

"Bu Tini, ini bukan..."

"Ibumu dulu langganan Ibu juga, Gar. Dia selalu bayar paling awal, dan selalu pamer anaknya paling rajin." Bu Tini menyodok tempe dengan sendok seolah itu musuhnya. "Jadi makan. Biar nanti kalau ibumu lihat dari atas, dia tidak malu."

Bima duduk di sebelah Arga, mengunyah dengan mulut penuh. Ia sudah mendengar semuanya dari Sari lewat chat.

"Gar," katanya serius. "Aku tahu ini berat."

Arga mengangguk.

"Tapi kalau mereka mau ganti rugi," lanjut Bima, "suruh potong gaji Pak Hendro saja. Kan lebih banyak."

Arga tertawa. Pendek, getir, bergetar. Tawa itu pecah menjadi sesuatu yang lebih basah, dan air matanya jatuh menetes ke atas nasi.

Bu Tini pura-pura sibuk dengan gorengan. Bima menyodorkan tisu dan menyimpan komentarnya untuk dirinya sendiri.

Itu pertama kalinya Arga menangis sejak ibunya wafat.

---

Pukul sepuluh malam, teras kontrakan.

Arga duduk di kursi plastik dengan kaki ditekuk. Besok ia akan berdiri di depan makam ibunya dengan tangan kosong, tanpa bunga, tanpa kabar baik. Ia bertanya pada langit yang berawan: apa lagi yang bisa diambil dari hidupnya?

Langit tidak menjawab.

Ponselnya bergetar.

Ia mengira itu pesan penagih utang. Tapi nama yang muncul membuat napasnya berhenti.

Maya.

Tiga bulan Maya tidak membalas pesannya. Tiga bulan ia hanya jadi centang abu-abu.

Tiga tahun sebelumnya, Maya duduk di bangku taman kampus sambil menyuapi Arga bakwan, tertawa karena Arga lupa membawa uang. "Nanti aku yang traktir kalau kamu sudah sukses," katanya waktu itu. Arga masih menyimpan struk bakwan itu di dompet. Ia tahu itu bodoh. Ia tidak pernah membuangnya.

Dua bulan terakhir, ia belajar bahwa orang yang berjanji akan menunggu kadang hanya mencari alasan untuk berhenti.

Pesan itu pendek:

> Datang ke rumahku malam ini. Ada yang penting.

Dada Arga berdegup kencang, bodoh dan penuh harap. Ia sudah berdiri sebelum sadar apa yang ia lakukan.

Kemeja yang tadi pagi ia pakai masih berbau debu gudang. Ia menciumnya, mengernyit, lalu mengambil jaket lusuh dari gantungan. Bima sudah tertidur di tikar sambil memeluk bantal. Arga menutup pintu pelan-pelan, takut membangunkannya, takut ditanya ke mana ia akan pergi dengan wajah secerah itu.

Aku tidak tahu bahwa malam itu, untuk kedua kalinya hari ini, aku akan dibuang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca