
- Jumlah kata
- 52.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
PANJI KEDELAPAN oleh Tujo Me Utangnya cuma sepuluh ekor teri. Tapi dalam semalam, La Tenraga jadi buronan nomor satu seluruh negeri. Penyebabnya? Sisik naga tiba-tiba muncul di dadanya. Raja sudah mati, tahta kosong, dan satu-satunya orang yang bisa mendudukinya adalah pelaut miskin yang bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya. Kampungnya terbakar. Ayah angkatnya mengorbankan diri sambil menyebut nama yang seharusnya terkubur. Sekarang kepalanya dihargai emas, pasukan bertopeng memburunya, dan sahabatnya, Baso, malah sibuk bertanya apakah pelarian ini dapat makan siang. Tujuh panji menguasai Luwara. Satu panji lagi sengaja dihapus dari sejarah. Dan Tenraga mungkin adalah keturunannya. Siapa yang menghapus panji kedelapan? Dan kenapa semua orang takut ia kembali?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 · Utang Sepuluh Ekor Teri
Sepuluh ekor teri.
Cuma sepuluh. Kecil-kecil, kering, dan kalau ditimbang tidak cukup untuk mengganjal perut seekor kucing. Tapi bagi Bang Dullah, rentenir ikan paling kejam dari Teluk Labuan Tallu, sepuluh ekor teri adalah soal harga diri.
"TENRAGA! BERHENTI KAU, ANAK SETAN!"
La Tenraga tidak berhenti. Ia berlari di atas dermaga kayu yang licin, melompati tumpukan jaring, menunduk di bawah jemuran ikan asin, dan nyaris menabrak seorang nenek yang sedang menawar harga garam.
"Maaf, Nek! Nanti kuganti!"
"Ganti dulu utangmu, Nak!" sahut si nenek, yang ternyata juga menagih.
Tenraga mengumpat dalam hati. Seluruh kampung rupanya sudah tahu.
Di belakangnya, Bang Dullah mengejar dengan perut bergoyang seperti ombak pasang. Dua orang anak buahnya menyusul sambil membawa pentungan kayu ulin. Mereka tampak sangat bersemangat untuk sebuah perkara yang nilainya tidak sampai harga sebungkus nasi kuning.
"Tera! Sini!"
Sebuah tangan menjulur dari dalam keranjang ikan besar di ujung dermaga. Tenraga menukik masuk tanpa berpikir. Aroma amis menghantam hidungnya seperti tamparan.
"Baso?"
"Ssst!" Baso Lappa, sahabatnya sejak kecil, tukang masak kapal yang lebih takut pada ikan daripada pada setan, menempelkan jari ke bibir. Wajahnya berkeringat, matanya berbinar penuh keyakinan yang selalu muncul tepat sebelum bencana. "Tenang. Aku punya ide cemerlang."
"Ide cemerlangmu yang kemarin membuat perahu kita tenggelam di empang."
"Itu karena empangnya terlalu dangkal untuk ide sebesar itu. Dengar. Kita pura-pura mati."
Tenraga menatapnya lama. "Pura-pura mati."
"Kau rebah, aku menangis. Bang Dullah punya hati. Mungkin."
"Bang Dullah tidak punya hati, Baso. Dia menukar hatinya dengan timbangan."
Terlambat. Keranjang itu terangkat tinggi, dan sinar matahari menyilaukan mata mereka. Wajah Bang Dullah yang bulat dan merah muncul di atas, tersenyum lebar seperti harimau menemukan rusa pincang.
"Oh. Ada dua ekor teri baru rupanya."
Baso langsung rebah dan memejamkan mata. Tenraga, dengan wajah paling datar yang pernah ada, ikut berbaring di sebelahnya.
Hening.
"Hmm," gumam Bang Dullah. "Sayang sekali. Dua anak muda mati mendadak di keranjang ikan." Ia mengetuk-ngetuk pentungan ke telapak tangannya. "Kebetulan, aku punya peti mati bekas. Murah. Bisa dicicil."
Mata Baso terbuka lebar. "Cicilan?"
"Tiga bulan, bunga sepuluh persen."
"Kami hidup! Kami hidup!" teriak Baso, melompat keluar dan berlari secepat kakinya sanggup. "Tera, lari! Ini bukan ide cemerlang, ini ide bunuh diri!"
"Itu ide*mu*!"
Mereka berdua berlari lagi, kali ini sambil tertawa dan menangis bersamaan. Di tengah pelarian, Tenraga merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya hangat. Bukan hangat karena berlari, tetapi seperti ada bara kecil yang berdenyut di balik kulitnya. Refleks, tangannya menyentuh bagian itu.
Panas. Sekilas, lalu hilang.
Aneh.
Ia tidak sempat memikirkannya, sebab sebuah suara berat memotong udara dari ujung gang.
"Cukup."
Bang Dullah dan anak buahnya langsung berhenti seperti dipaku. Seorang lelaki paruh baya berdiri di sana, bersarung lusuh, tubuhnya kurus dan hitam terbakar matahari, dengan sebuah jaring tersampir di bahu. Matanya tenang, tapi tenang yang berbahaya.
"Ambo' Sennang," gumam Bang Dullah, dan seketika nada garangnya menciut. "Aku hanya menagih yang menjadi hakku."
"Sepuluh ekor teri."
"Hak tetaplah hak."
Ambo' Sennang merogoh kantong sarungnya, mengeluarkan beberapa keping tembaga, dan melemparkannya ke tanah. "Lunas. Dengan bunga. Sekarang pergi, sebelum aku lupa bahwa kau juga pernah berutang budi pada keluargaku."
Bang Dullah memungut koin itu dengan wajah masam, mendengus, lalu menggiring anak buahnya pergi sambil menggerutu soal anak muda zaman sekarang.
Tenraga menunduk. "Ambo', aku bisa membayar sendiri."
"Dengan apa? Hasil mencuri teri di gudang orang?"
"Aku tidak mencuri. Aku meminjam tanpa izin."
Baso, yang bersembunyi di belakang Tenraga, berbisik, "Itu pembelaan paling jujur dan paling bodoh yang pernah kudengar."
Ambo' Sennang menghela napas panjang. Ia lalu tersenyum tipis, dan untuk sesaat Tenraga melihat sesuatu di balik senyum itu: kelelahan yang sudah lama dipikul sendirian.
"Pulang. Makan dulu."
---
Sore itu mereka duduk di beranda rumah panggung kecil yang menghadap laut. Nasi jagung dan ikan kuah asam terhidang di atas tikar pandan. Baso makan dengan lahap, seolah tidak pernah hampir dipukul tiga puluh menit sebelumnya.
"Ambo'," kata Tenraga akhirnya, "malam ini aku mau melaut."
Sendok Ambo' Sennang berhenti di udara.
"Aku tahu musim sedang buruk, tapi kalau aku bisa membawa pulang tangkapan besar, utang kita lunas. Aku tidak mau lagi dikejar-kejar Bang Dullah."
"Tidak."
"Tapi—"
"Tidak, Tera."
Nada itu membuat Baso berhenti mengunyah. Biasanya Ambo' Sennang adalah orang paling sabar yang pernah mereka kenal. Tapi kali ini ada sesuatu yang retak di suaranya.
"Kenapa?" Tenraga berusaha menahan emosi. "Kenapa Ambo' selalu seperti ini? Setiap kali aku menyebut laut lepas, Ambo' menatap seolah laut itu pernah membunuh orang yang Ambo' sayangi."
Ambo' Sennang tidak menjawab. Ia hanya memandang jauh ke cakrawala, lalu tangannya bergerak pelan mengusap ujung sarung lamanya. Di sana, hampir tak terlihat, ada sulaman kecil yang sudah pudar: seekor makhluk bersisik dengan ekor melingkar.
"Habiskan makanmu," katanya akhirnya. "Besok Ambo' ajak kau memperbaiki jaring."
Percakapan selesai. Tenraga menahan ribuan pertanyaan di dadanya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
---
Menjelang magrib, Tenraga duduk sendirian di ujung dermaga. Baso menyusul sambil membawa sepiring pisang goreng yang entah ia curi dari mana.
"Jangan marah pada Ambo'," katanya. "Orang tua memang suka berahasia. Seperti ibuku menyembunyikan uang di dalam panci."
"Aku tidak marah."
"Mukamu seperti habis menelan duri ikan."
Tenraga hampir tertawa. Tapi tawanya tertahan oleh sesuatu yang lain.
Laut terlalu tenang.
Bukan tenang yang damai. Tenang yang janggal. Ombak berhenti, angin berhenti, bahkan burung camar yang biasanya ribut di tiang-tiang dermaga lenyap tanpa suara. Langit yang tadi jingga mendadak abu-abu, seolah ada tangan raksasa yang menutupi matahari.
"Baso."
"Hmm?"
"Kau merasa itu juga?"
Baso berhenti mengunyah. Wajahnya perlahan memucat. "Aku merasakan sesuatu. Tapi mungkin itu cuma perutku."
"Kau baru makan lima pisang goreng."
"Kalau begitu itu bukan perutku." Ia menelan ludah. "Itu firasat."
Dari kejauhan, anjing-anjing kampung mulai menggonggong. Satu, dua, lalu serentak seluruhnya. Dan tiba-tiba, semua berhenti. Sama sekali.
Sunyi yang menakutkan.
Di sudut dermaga, ikan-ikan yang biasanya melompat-lompat di permukaan air menghilang satu per satu. Tenraga berdiri perlahan, tangannya tanpa sadar menekan dada. Bara kecil itu berdenyut lagi, lebih kuat dari sebelumnya, seperti sebuah peringatan.
"Tera," bisik Baso. "Itu apa?"
Jauh di tengah laut, kabut tipis mulai bergerak. Bukan tertiup angin, melainkan menyibak, seolah ada sesuatu di dalamnya yang mendorongnya ke samping.
Lalu muncul tiang kapal.
Tinggi. Hitam. Dan di puncaknya, berkibar sebuah bendera hitam bergambar naga bersisik emas.
Napas Tenraga tertahan.
Semua orang di kampung itu tahu satu hal sejak kecil: kapal kerajaan dilarang menyentuh pesisir Labuan Tallu. Tidak ada yang tahu alasannya. Tidak ada yang berani bertanya. Aturan itu lebih tua dari ingatan siapa pun, dan tak pernah sekali pun dilanggar.
Sampai malam ini.
Lambung kapal itu perlahan menembus kabut, besar seperti benteng yang berlayar, bergerak lurus menuju dermaga mereka.
"Tera..." suara Baso kini bergetar. "Kalau ini bercanda, aku akan membunuh siapa pun yang mengaturnya."
Dari belakang mereka terdengar suara jaring jatuh ke papan kayu.
Tenraga menoleh.
Ambo' Sennang berdiri di ujung dermaga. Wajahnya putih seperti kapur, matanya terpaku pada bendera hitam di kejauhan. Tangannya gemetar, dan sulaman naga di sarungnya tampak jelas diterpa cahaya senja terakhir.
"Ambo'?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia berjalan cepat, mencengkeram bahu Tenraga dengan kekuatan yang menyakitkan.
"Tera. Dengar Ambo'. Masuk ke rumah. Sekarang."
"Tapi itu kapal—"
"SEKARANG!"
Teriakan itu menggema, membuat bulu kuduk Baso berdiri.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Tenraga menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada kapal di kabut. Untuk pertama kali seumur hidupnya, suara Ambo' Sennang tidak terdengar seperti perintah.
Itu terdengar seperti permohonan.
(Bersambung ke Bab 2 · Badai Tak Diundang)
Daftar bab
39 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








