
Listrik Bukan Sembarang Listrik
Taurik|Bersambung
- Jumlah kata
- 46.1K
- Popular
- 409
- Subscribe
- 93
- Jumlah kata
- 46.1K
- Popular
- 409
- Subscribe
- 93
Sinopsis
Jaka hanya tukang Ac biasa namun hidupnya berunah setelah rersengat arus listrik, dia punya kekuatan yang merubah hidupnya ….
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Listrik Kapasitor
"Jak! Buruan naik, kamarku panas banget ini!"
Jaka berhenti di ambang pintu dengan tangga lipat di bahu. Umurnya dua puluh dua tahun, kulitnya sawo matang, kaos oblongnya basah keringat. Dia punya bengkel servis AC kecil di pojok perumahan, yang makin sepi sejak bengkel Pak Darman di depan komplek mendadak laris.
Pagi tadi, Pak Darman sempat lewat depan bengkelnya dengan motor baru, lalu meludah ke selokan.
"Tutup aja bengkelmu, Jak. Pelanggan udah nggak ada yang percaya sama tukang servis kampungan."
Jaka cuma bisa diam. Sewa bengkelnya sudah nunggak dua bulan.
Di depannya berdiri Mbak Maya, tiga puluh tahun, janda penghuni Blok C. Bapak-bapak satu perumahan hafal jam berapa dia keluar menyiram tanaman.
Siang ini dia cuma pakai daster bali motif macan tutul dengan tali tipis di bahu. Kain rayonnya menempel di badan yang basah keringat, mengikuti lekuk pinggang sampai pinggul.
Mbak Maya mengipas lehernya dengan majalah. Setiap kibasan, kerah dasternya ikut tertarik turun.
‘Waduh. Kibas lagi, Mbak. Sekali lagi.’ batinnya.
"I-iya, Mbak. Ini lagi nyiapin tang sama freon," jawab Jaka. Wajahnya serius, alisnya berkerut. Wajah teknisi yang sedang menghitung tekanan freon.
Padahal yang dia hitung bukan freon.
Kamar itu pengap. Bau parfum vanila bercampur wangi sprei langsung masuk ke hidungnya. Jaka memanjat tangga dan membuka casing AC.
"Dinamo kipasnya konslet, Mbak. Kabelnya putus digigit tikus."
"Bisa dibenerin, kan?"
"Bisa. Tangan saya ini udah pegang ratusan AC, Mbak."
‘Pinggang janda belum pernah, sih.’ Gumamnya.
Dia menarik kabel tembaga itu. Ujung tangnya menyenggol kapasitor yang masih menyimpan arus sisa.
Bzzzttt!
Arus itu menghantam lengannya. Tubuh Jaka kejang. Ada rasa panas yang masuk lewat telapak tangan, menjalar ke dada, lalu berputar di sana. Pandangannya gelap.
"Jak! Awas!"
Bruk!
Jaka jatuh dari tangga. Dia tidak mendarat di lantai ubin. Dia mendarat di kasur springbed, tepat di atas Mbak Maya yang tadi mencoba menangkapnya.
Hening.
Jaka membuka mata. Wajah mereka cuma berjarak sejengkal. Napas Mbak Maya hangat di dagunya. Daster macan tutul itu tersingkap sampai paha, dan telapak tangan kanan Jaka mendarat di pinggang Mbak Maya, langsung di kulit, di bawah kain yang terangkat.
‘Halus. Hangat. Waduh, halus banget.’ Batin Jaka, yang kemudian langsung tersadar.
"M-maaf, Mbak..."
Sebelum dia sempat menarik tangan, sisa panas di dadanya mengalir turun ke telapak tangan, lalu keluar.
Zzzt.
Mbak Maya membelalak. Pinggangnya yang tiap hari pegal karena kelamaan duduk mengurus jualan online mendadak hangat. Hangatnya merambat ke punggung, ke perut, lalu naik sampai dada. Geli. Enak. Bikin napasnya putus-putus.
"Aaahhh..."
Lenguhan panjang itu lolos dari bibirnya. Punggungnya melengkung. Kedua tangannya, yang tadi siap mendorong Jaka, malah mencengkeram lengannya.
Jaka membeku. Otaknya yang baru kesetrum sekarang kesetrum dua kali.
"Jak... tangan kamu..." Mbak Maya menatapnya dengan mata sayu. Pipinya merah. "Kok enak banget... Jangan dilepas dulu..."
Wajah Jaka tetap serius. Itu keahlian yang dia latih bertahun-tahun di depan pelanggan cerewet.
"Nggak bisa, Mbak. Itu arus sisa. Bahaya kalau kelamaan."
‘Bodoh! Bilang bisa! Bilang bisa, Jak!’ batinya.
Dia menarik tangannya pelan dan bangkit dari kasur. Pelan, bukan buru-buru. Teknisi profesional nggak boleh kelihatan grogi.
Mbak Maya mendesah kecewa. Dia duduk, lalu merapikan daster dengan gerakan yang lambat sekali.
"Kamu tuh ya, Jak," katanya sambil melirik. "Jatuhnya pas banget. Tangannya juga pas banget. Mesum kamu."
"Mbak, jangan fitnah tukang servis. Itu tangan jatuh, bukan tangan yang jalan."
"Halah. Tangan jatuh kok mendaratnya di dalem daster."
"Itu gravitasi, Mbak. Saya nggak ngatur."
Mbak Maya menahan senyum. "Tapi pinggang Mbak beneran enteng lho sekarang. Kram yang dari minggu lalu langsung ilang."
Wuuusss...
Angin dingin menyembur ke punggung Jaka. Dia menoleh. AC yang casingnya masih terbuka, yang kabel dinamonya belum disambung, menyala sendiri. Swing-nya bergerak naik turun.
"Lho? Kok nyala?"
"Wah, pinter banget kamu, Jak! Belum diapa-apain udah dingin!"
Jaka menatap telapak tangannya. Di ujung jarinya masih ada percikan biru yang tipis sekali.
‘Setrum kapasitor tadi... pindah ke badanku?’
Dia memasang casing, melipat tangga, dan menyambar tas perkakas.
"Udah beres, Mbak. Lima puluh ribu aja, ongkos cek. Saya pamit, ada pelanggan lain."
Mbak Maya melangkah menghalangi pintu. "Eh, buru-buru amat."
"Kerjaan, Mbak."
"Besok sore ke sini lagi, ya." Dia menyelipkan uang ke saku kaos Jaka, dan jarinya sengaja lama di sana. "Pinggang Mbak... kayaknya masih perlu dicek."
Jaka mengangguk dengan wajah teknisi paling jujur sedunia.
‘Janda. Rumah sendiri. Kamar ber-AC. Mbak Maya, andai kamu istriku.’
Lalu otaknya menghitung lagi. Perumahan ini punya dua ratus rumah. Dua ratus AC. Dan banyak suami yang jarang pulang.
*****
Sore harinya, Jaka duduk bersila di depan kipas angin reyot di bengkelnya. Badannya segar. Capek seharian hilang. Lengan yang tadi kena setrum tidak ada bekas luka sedikit pun.
Dia iseng mengangkat kompresor bekas di pojok bengkel, yang biasanya harus diangkat berdua. Terangkat. Dengan satu tangan.
Dia memandangi tangannya, lalu memusatkan pikiran ke rasa hangat di dadanya.
Zrrrt.
Hangat itu naik ke leher, lalu ke mata. Kelopaknya berkedut. Saat dia membuka mata, tembok batako bengkelnya memudar. Dia bisa melihat jalur kabel merah dan biru di dalam tembok, lengkap dengan satu titik yang mengelupas dan berpendar merah.
"Edan. Pantes temboknya sering nyetrum!"
Dia memutar kepala. Pandangannya menembus tembok, menyeberang jalan, sampai ke teras rumah Blok C.
Mbak Maya sedang menyapu halaman, masih dengan daster macan tutul yang tadi siang.
Mata Jaka belum bisa diatur. Kain rayon itu menipis... menipis... lalu hilang.
Jaka berhenti bernapas.
Punggung putih. Pinggang ramping yang tadi siang ada di telapak tangannya. Pinggul yang bergoyang pelan setiap kali sapu lidi diayun. Lalu Mbak Maya membungkuk memungut daun kering, dan Jaka mencengkeram lututnya sendiri sampai buku jarinya memutih.
Glek.
‘Mati aku. Ini mata apa bioskop?’
Plak!
Dia menampar pipinya sendiri. "Fokus... fokus ke kabel..."
Saat dia membuka mata lagi, pemandangan itu berubah. Kulit dan lekuk tubuh memudar, berganti warna-warna energi. Dan yang dia lihat kali ini bikin bulu kuduknya berdiri.
Di pundak dan pinggang Mbak Maya, melilit gumpalan kabut hitam pekat yang bergerak-gerak. Bentuknya memanjang, kakinya banyak. Kelabang. Kelabang hitam sebesar lengan, menempel dan mengisap sesuatu dari tubuh janda itu.
Kabut yang sama menempel tebal di mesin outdoor AC di dinding teras.
"Jak! Jaka!"
Mbak Maya melambai dari seberang jalan.
"Sini sebentar dong! AC ruang tamuku malah keluar hawa panas! Padahal baru minggu lalu dicuci sama orang bengkel Pak Darman!"
Jaka menatap kelabang hitam yang melingkar di pinggang Mbak Maya.
Kelabang itu pelan-pelan mengangkat kepala, lalu menatap balik ke arahnya.
Daftar bab
44 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








