
- Jumlah kata
- 61.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
Sinopsis
Senja mulai turun di Desa Kalimati. Cahaya matahari yang sejak siang menyengat kepala para petani perlahan berubah menjadi warna keemasan dari barat. Dari lereng gunung, air mengalir deras menuju persawahan warga melalui saluran irigasi yang membelah dua desa kalimati dengan desa kali Rahayu. Suara gemericik air berpadu dengan suara burung yang mulai kembali ke sarangnya. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah, rumput, dan entah kenapa sedikit bau ikan asin dari rumah warga di kejauhan. Itu membuat isi perut yang kosong berbunyi. Namun, di tengah suasana damai itu, terdengar suara seorang pemuda yang sama sekali tidak damai. "Haduh... haduh... haduh!" Seorang pemuda berkulit sawo matang, bertubuh cukup tegap, dan wajah lumayan tampan sedang berdiri di dalam saluran irigasi dengan celana digulung sampai lutut. Namanya Revan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
Penduduk asli Desa Kalimati yang terkenal bukan karena ketampanannya, bukan pula karena kekayaannya. Melainkan karena satu hal pria miskin bekerja keras.
Kalau ada pekerjaan berat di desa, entah bagaimana namanya selalu muncul paling pertama. Bahkan sebelum rapat dimulai yang di adakan desa, sebelum daftar tugas dibuat resmi oleh desa pada semua para petani.
Sekarang Revan sedang membersihkan saluran irigasi sawah kearah sungai besar yang tersumbat oleh lumpur, rumput liar, ranting, dan berbagai macam sampah yang terbawa arus.
Tangannya memegang cangkul kecil pendek. Wajahnya sudah penuh noda lumpur beraroma khas bercampur keringat dan panasnya mentari sore.
Bahkan ada sehelai rumput menempel di dahinya seperti hiasan rambut. Kalau dilihat dari jauh, Revan tampak seperti petani yang kelelahan. Kalau dilihat dari dekat, ia tampak seperti petani yang baru kalah berkelahi dengan sawah.
Revan mengusap keringatnya sambil terus membersihkan irigasi sawah dengan cangkulnya tanpa menoleh ke arah siapa pun.
"Siapa sebenarnya manusia yang membuang sampah ke sini?"
Revan mengeluh banyak sampah di irigasi sawah. Ia mencongkel tumpukan lumpur dengan cangkul.
"Kalau ketemu orangnya, mau aku suruh dia tinggal di dalam got selama tiga hari. Sudah tahun 2026 masih saja jorok buang sampah sembayang di sungai."
Belum selesai mengomel, cangkulnya mengenai sesuatu.
KLANG!
Revan terkejut.
"Apa lagi ini?"
Ia memasukkan tangannya ke dalam lumpur bercampur air dan menarik benda tersebut.
Ternyata sebuah bra terdapat batu kecil di dalamnya.
"astaga.. barang apa lagi ini."
Revan menatap bra itu dengan wajah datar dan sedikit kesal. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kaget, malu, atau penasaran. Hanya ada ekspresi seseorang yang mencoba tenang seperti sudah terlalu sering menemukan benda aneh sampai hidupnya terasa seperti acara kuis berhadiah.
"Bra sebelah kiri. Pasti ada pasangannya."
Ia melihat ke kanan dan kiri mencari yang lainnya.
"Mana pasangannya?"
Revan kembali mengorek lumpur dengan cangkul di tangan mencari sebelahnya.
Beberapa detik kemudian, ia menemukan bra sebelah kanan. Ia mengangkat kedua bra itu.
"Wah, ternyata mereka akhirnya bertemu. Setelah bertahun-tahun terpisah oleh takdir."
Revan tersenyum menyatukan kedua bra tersebut di atas tanggul irigasi sawah.
"Semoga kalian bahagia."
Tiba-tiba terdengar suara dari pematang sawah.
"REVAN!"
Revan menoleh menatap orang yang memanggilnya.
Seorang petani tua berdiri sambil berkacak pinggang kebetulan lewat. Wajahnya menunjukkan campuran antara kesal, bingung, dan menyesal karena tadi memutuskan untuk melihat ke arah saluran irigasi.
"Kenapa, Pak?"
"Ngapain kamu malah menikahkan bra? Mendoakan agar bahagia. Kamu sendiri saja belum menikah. Cepat cari calon."
Revan terdiam. Ia menatap kedua bra di tangannya, lalu menatap petani tua itu.
"Aku sedang menjalankan tugas kemanusiaan, Pak. Soal calon istri, susah pak. Kebanyakan wanita sekarang yang dia butuhkan uang bukan cinta. Untuk itu aku nabung sampai kaya,baru cari istri. 5 istri aku yakin dapat."
"Kemanusiaan apanya? "
"Menyatukan dua insan yang lama terpisah." Jawab Raka.
Petani itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar anak aneh. Tapi kenyataannya kamu benar, biaya kehidupan ini semakin mahal. Wanita sekarang tidak suka di ajak nikah di kantor KUA. Mereka inginkan acara mewah dan dengan mahar dan lamaran mewah."
"Tapi tidak semua sih, pasti ada wanita mau di ajak nikah sederhana. Terpenting hidup bersama dengan damai dan rukun." Ucap Petani tua itu.
"iya pak, doakan saja aku mendapatkan wanita seperti itu. wanita model jaman dulu, memandang dengan tekun bekerja, beribadah. Dan tutur sapa dan baik." Ucap Revan .
"Iya sudah, paman kesana bantu yang lainnya. Kamu setelah selesai, langsung pulang. Lanjutkan besok saja."
Pak petani tua itu pergi dengan cangkul di punggungnya. Kearah pintu irigasi.
Revan kembali bekerja. Namun baru beberapa menit mengangkat lumpur, ia menemukan benda lain. Sebuah celana pendek milik wanita lainnya.
Revan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Ini punya siapa lagi?!"
Petani tadi belum melangkah jauh melihat langsung berteriak.
"Jangan diangkat tinggi-tinggi, Van!"
"Lho, kenapa?"
"Kalau pemiliknya lewat, bisa malu!" Ucapnya.
Revan melihat celana itu dengan serius, seolah sedang memeriksa barang bukti dalam kasus kriminal besar.
"Kalau begini caranya, aku curiga saluran irigasi ini bukan cuma mengalirkan air."
"Apa lagi?"
"Kenangan masa lalu warga desa."
Petani itu langsung pergi.
"Kerjakan saja!"
Revan tertawa kecil.
Namun saat hendak membuang celana tersebut ke tempat sampah, tiba-tiba terdengar suara sepeda dari arah belakang dari barat bayangkan sepedanya menerpa tubuh Revan.
Kring... kring...
Seorang wanita cantik sedang mengayuh sepeda melewati pematang sawah.
Wanita itu bernama Erina Keyra. Wajahnya cantik, rambutnya panjang, dan penampilannya jauh lebih rapi dibandingkan Revan yang saat ini sudah seperti manusia yang baru keluar dari lumpur. Bedanya, manusia yang baru keluar dari lumpur biasanya langsung mandi. Revan justru masih sibuk mengangkat sampah.
Erina memperlambat sepedanya ketika melihat Revan.
"Revan?"
Revan menoleh menatapnya. Ia langsung mengenali wanita tersebut.
"Erina, ternyata kamu. Ada apa?"
Mereka ternyata pernah bersekolah di SMP yang sama. Namun hubungan mereka tidak pernah terlalu dekat.
Erina juga terkenal sebagai gadis yang cukup sombong ketika masih sekolah. Ia selalu tampil rapih, berbicara seperlunya, dan memiliki tatapan yang bisa membuat anak-anak nakal mendadak ingat semua dosa mereka sejak kelas satu.
Erina turun dari sepeda dan menstandar sepedanya. Dan berjongkok menatap tajam Revan.
"Sedang apa kamu? Main lumpur kaya B2."
Revan menunjuk saluran irigasi.
"Menurutmu begitu, tapi kenapa kamu melihat ku jika aku seperti B2."
Erina memperhatikan tubuh Revan yang penuh lumpur.
"Jangan bilang kamu mandi di sawah? Dan ingin di panggil B2. Tadi aku hanya bercanda saja."
Revan menghela napas.
"Aku sedang membersihkan irigasi. Kamu serius dalam berkata. "
"ha ha ."
Erina menahan tawa jahat. Tapi terlihat manis di bawah redup sinar mentari.
"Dan Kenapa wajahmu seperti manusia gagal dibuat?"
Revan memicingkan mata mendengar ucapan itu.
"Karena aku sedang bekerja. Bukan sedang nonton kamu. dasar wanita sombong."
"Kerja kok kotor sekali." Ucapnya lagi.
"Namanya juga kerja. Bukan pemotretan foto majalah remaja."
"Hi hi.." Erina terkekeh.
Revan kembali mencangkul mencoba menghiraukan keberadaan wanita di atasnya.
Namun tiba-tiba cangkulnya mengangkat sesuatu dari dalam lumpur. Sebuah pakaian dalam wanita.
Revan menatap benda itu. Erina juga menatapnya tertegun.
Suasana mendadak hening. Bahkan suara burung seolah ikut berhenti, mungkin karena ingin tahu bagaimana Revan akan menjelaskan penemuan kali ini.
Revan perlahan berkata,
"Ini milik mu, ukurannya pas..."
Erina langsung memalingkan wajah.
"sembarang... Buang! Kamu cabul pasti membayangkan yang tidak tidak pada ku."
"Aku juga mau buang. Dan aku bukan pria seperti yang kamu pikirkan."
"Tapi ..."
Revan tersenyum penuh arti menatap wanita di atasnya.
"Jangan dekat-dekat! Jauhkan pikiran mu soal aku, aku bukan memakai model seperti itu."celetuk Erina itu. dia tahu apa yang di pikirkan pria di bawahnya.
Revan mengangkat kedua tangannya.
"Aku belum melakukan apa-apa. Pikiran mu terlalu jauh. apa beneran ini ukurannya sama dengan mu."
"Pokoknya jauhkan! Jangan berpikir kotor soal itu." jawab Erina.
Revan berjalan ke tempat sampah sambil membawa benda itu menggunakan ranting. Ia sengaja tidak menyentuhnya langsung, seolah benda tersebut bisa tiba-tiba mengajukan tuntutan hukum.
"Tenang. Aku juga tidak tertarik padamu wanita sombong.dan Aku bukan pria seperti itu."
"kau.."
Erina melotot.
"sudahlah. Siapa yang bilang kamu tertarik wanita memakai celana model seperti itu."
Revan berhenti.
"Aku cuma bilang tidak tertarik. Bukan membahas mu. Kamu pakai apapun aku tidak tertarik padamu."
"Itu sama saja! Pikiran mu pasti tentang ku. dasar wanita miskin mesum.." Ucapnya.
"Hais.."
"Wanita sulit di pengertian. Kalau aku bilang tertarik, kamu marah dan bilang kita tidak level. Aku bilang tidak tertarik, kamu juga marah."
Revan mengangkat bahu tidak mengerti.
"Jadi sebenarnya kamu ingin aku bilang apa?" Tambahnya.
Erina terdiam.
"Pokoknya jangan banyak bicara! Dan jangan menargetkan ku. Aku tidak suka dengan pria seperti mu."
Revan tersenyum pahit. "Mungkin itu jawaban paling aman untuk mu. pergilah..."
Erina mendengus. Ia kemudian memperhatikan tumpukan sampah di saluran irigasi.
"Kenapa banyak sekali sampah pakaian seperti itu?"
Revan menghela napas menatap tumpukan sampah. Lalu menjawab.
"Itu juga yang ingin aku tanyakan. apa iya manusia jenis mu suka sekali buang milik mereka."
Ia menunjuk ke arah saluran.
"Setiap kali membersihkan irigasi, aku selalu menemukan barang aneh. Kebanyakan milik bangsamu."
"Contohnya ini?"
"Sandal, celana, pakaian wanita, dalaman wanita, ember, botol, bahkan kemarin aku menemukan panci. Bahkan balon perlindungan kehamilan." ucap Revan panjang lebar.
Erina mengerutkan dahi setelah mendengar balon dewasa.
"Maksudmu kondom itu?"
"Iya." jawab singkat Revan sambil lanjutkan pekerjaannya.
"Ngapain benda seperti itu ada di irigasi? Apakah di tengah malam, sawah menjadi tempat seperti hotel? kelihatannya masih baru." Ucap Erina terlihat kesal.
Revan mengangkat kedua tangannya.
"Mungkin pemiliknya selesai tanam timun pakai balon ini, lalu balonnya kegedean dan dibuang. Sawah juga dianggap hotel bintang 5 mungkin. Hotel murah."
Erina tidak tahan mendengar ucapan Revan.
"Hahaha. Kamu membuatku mengerti sesuatu!"
Revan ikut tersenyum. Namun kemudian Revan melihat sesuatu dari kejauhan.
"Eh?"
"Apa?" Ucap Erina.
Revan menunjuk ke arah saluran irigasi.
"Sepertinya ada yang hanyut."
Erina ikut melihat kearah yang di tunjukkan oleh Revan.
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








