
MUHAMMAD BANU PENGUASA DUNIA GAIB
Nuriyanto|Bersambung
- Jumlah kata
- 102.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
- Jumlah kata
- 102.3K

Nuriyanto|Bersambung
Muhammad Banu: Penguasa Dunia Gaib Muhammad Banu adalah seorang jurnalis investigasi di Kota Malang yang dikenal berani, rasional, dan selalu mengandalkan bukti. Baginya, kisah tentang hantu, jin, atau dunia gaib hanyalah mitos yang digunakan untuk menutupi kejahatan manusia. Namun kehidupannya berubah ketika ia ditugaskan menyelidiki hilangnya sejumlah pendaki di Gunung Arjuno. Di lokasi kejadian, Banu menemukan berbagai kejanggalan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Kompas berputar sendiri, jejak kaki menghilang begitu saja, dan suara-suara misterius terus memanggil namanya dari balik kabut. Sejak penyelidikan itu dimulai, mimpi buruk yang menghantuinya sejak kecil semakin sering datang. Dalam mimpinya selalu muncul sebuah gerbang batu raksasa yang dijaga makhluk-makhluk mengerikan. Sebuah suara terus memanggilnya untuk membuka gerbang tersebut. Tak lama kemudian, sebuah kotak kayu tua tanpa pengirim tiba di apartemennya. Di dalamnya terdapat keris pusaka, kalung batu hitam, dan surat berisi satu kalimat: "Saatnya pewaris terakhir membuka pintu dunia gaib." Malam itu juga, Banu melihat makhluk gaib untuk pertama kalinya. Dunia yang selama ini ia anggap mustahil ternyata benar-benar ada. Penyelidikan yang awalnya hanya sebuah liputan berubah menjadi perjalanan mengungkap rahasia terbesar tentang dirinya sendiri. Ia mengetahui bahwa sejak lahir dirinya telah dipilih sebagai pewaris garis keturunan Penjaga Gerbang, sebuah keluarga kuno yang bertugas menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib. Ratusan tahun lalu, para leluhur Banu menyegel seorang Raja Kegelapan yang dikenal sebagai Maharaja Azhrak, penguasa bangsa jin sesat yang berambisi menaklukkan dunia manusia. Sebelum disegel, Azhrak bersumpah akan bangkit kembali ketika Pewaris Terakhir lahir. Kini, segel itu mulai melemah. Organisasi rahasia Ordo Bayangan Hitam, yang selama puluhan tahun menyusup ke berbagai lembaga pemerintahan, kepolisian, perusahaan besar, hingga kelompok spiritual, diam-diam berusaha membangkitkan kembali Azhrak. Mereka membutuhkan darah sang pewaris untuk membuka Gerbang Dunia Gaib sepenuhnya. Sejak saat itu, Banu diburu oleh manusia, iblis, dan makhluk gaib. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan para sekutu yang memiliki kemampuan luar biasa: seorang ahli manuskrip kuno, pendekar spiritual, mantan anggota organisasi gelap, dan penjaga pusaka Nusantara. Bersama mereka, Banu menjelajahi berbagai tempat angker di Indonesia, mulai dari hutan larangan, gua kuno, candi tersembunyi, kota tua, hingga kerajaan gaib yang tak pernah tercatat dalam sejarah. Di setiap perjalanan, Banu menemukan pusaka-pusaka leluhur yang membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam dirinya. Ia mampu melihat makhluk gaib, menggunakan energi spiritual, membuka segel kuno, bahkan memanggil para penjaga dari alam lain. Namun setiap kekuatan baru memiliki harga yang harus dibayar. Sedikit demi sedikit, batas antara sisi kemanusiaannya dan kekuatan gaib
Panggilan dari Dunia yang Terlupakan
Dua puluh lima tahun kemudian.
Muhammad Banu menjalani kehidupan yang tampak biasa. Ia bekerja sebagai jurnalis investigasi di sebuah media daring di Kota Malang. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai pria tenang, tajam dalam berpikir, dan tidak mudah percaya pada cerita mistis.
Baginya, setiap peristiwa harus dibuktikan dengan fakta.
Namun beberapa bulan terakhir, hidupnya berubah.
Setiap malam, ia bermimpi berada di sebuah hutan yang dipenuhi kabut. Di kejauhan selalu tampak sebuah gerbang batu raksasa yang dipenuhi ukiran kuno.
Setiap kali ia mencoba mendekat, terdengar suara berat yang memanggil namanya.
"Banu..."
"Banu..."
"Bukalah gerbang itu..."
Ia selalu terbangun sebelum menyentuh gerbang tersebut.
Mimpi itu terus berulang.
Semakin nyata.
Semakin mengganggu.
Suatu sore, pemimpin redaksi memanggilnya.
"Banu, ada tugas baru."
"Apa?"
"Selidiki serangkaian hilangnya pendaki di Gunung Arjuno."
Banu menghela napas.
"Kasus kriminal?"
"Tidak ada yang tahu."
"Polisi tidak menemukan jejak."
"Masyarakat bilang mereka diculik makhluk gaib."
Banu hanya tersenyum tipis.
"Makhluk gaib tidak meninggalkan sidik jari."
"Tapi pelaku manusia selalu melakukannya."
Ia menerima tugas itu tanpa menyadari bahwa penyelidikan tersebut akan mengubah seluruh hidupnya.
Malam harinya, saat sedang menyiapkan perlengkapan liputan, listrik di apartemennya tiba-tiba padam.
Gelap.
Sunyi.
Kemudian...
Terdengar suara ketukan dari arah pintu.
Tok...
Tok...
Tok...
Banu membuka pintu.
Tak ada siapa pun.
Namun di lantai...
Tergeletak sebuah kotak kayu tua.
Tanpa nama.
Tanpa alamat.
Perlahan ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah keris kecil berwarna hitam, sebuah surat tua yang menguning, dan kalung bermata batu hitam yang terasa begitu akrab.
Surat itu hanya berisi satu kalimat.
> "Saatnya pewaris terakhir membuka pintu dunia gaib."
Belum sempat Banu mencerna isi surat itu...
Seluruh lampu apartemen menyala bersamaan.
Di balik jendela...
Sesosok bayangan hitam bermata merah berdiri memandangnya.
Banu membeku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia menyaksikan sesuatu yang tak dapat dijelaskan oleh logika.
Dan malam itu menjadi awal perjalanan Muhammad Banu menuju takdir yang telah menunggunya sejak kecil.
____________________
BAB 1
Bagian 2 – Bayangan yang Mengikuti
Banu berdiri terpaku.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Bayangan bermata merah di balik jendela itu tidak bergerak sedikit pun. Tingginya hampir menyentuh kusen atas. Tubuhnya diselimuti kabut hitam yang berputar perlahan seperti asap.
Banu mengucek matanya.
"Mustahil..."
Ia melangkah mendekati jendela.
Namun...
Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, sosok itu menghilang begitu saja.
Yang tersisa hanyalah pantulan wajahnya sendiri di kaca.
Banu mengembuskan napas panjang.
"Mungkin aku terlalu lelah."
Meski mencoba menenangkan diri, firasat buruk terus mengusik pikirannya.
Ia kembali memperhatikan isi kotak kayu tua di atas meja.
Keris hitam itu tampak sederhana. Sarungnya terbuat dari kayu berwarna gelap dengan ukiran yang telah memudar dimakan usia. Saat Banu menggenggam gagangnya, rasa hangat menjalar dari telapak tangannya hingga ke seluruh tubuh.
Brak!
Kotak kayu itu tiba-tiba menutup sendiri.
Banu terkejut hingga menjatuhkan keris ke lantai.
Namun anehnya...
Tidak terdengar suara benturan.
Keris itu melayang beberapa sentimeter di atas lantai, diselimuti cahaya keemasan yang samar.
Dari arah lorong apartemen terdengar langkah kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Langkahnya lambat.
Berat.
Semakin mendekat.
Banu mengintip melalui lubang pintu.
Lorong itu kosong.
Tetapi suara langkah masih terdengar.
Tok...
Tok...
Tok...
Seolah ada seseorang yang berjalan, namun tak terlihat oleh mata.
Buluk kuduk Banu meremang.
Tiba-tiba lampu lorong padam.
Gelap gulita.
Lalu terdengar suara seorang perempuan berbisik tepat di depan pintunya.
"Banu..."
"Tolong aku..."
Suara itu lirih.
Penuh kesedihan.
Banu mengenali suara itu.
"Ibu...?"
Tangannya refleks memutar gagang pintu.
Baru saja pintu terbuka beberapa sentimeter, kalung batu hitam di atas meja memancarkan cahaya terang.
Cahaya itu menyelimuti tubuh Banu.
Suara perempuan tadi berubah menjadi tawa yang mengerikan.
"Hihihihihi..."
Seketika pintu terbanting menutup sendiri.
Brak!!
Dari balik pintu terdengar suara benturan keras, seperti ada sesuatu yang menghantamnya berkali-kali.
Dum!
Dum!
Dum!
Kayu pintu bergetar hebat.
Banu mundur beberapa langkah sambil menggenggam keris hitam.
Entah mengapa, tanpa pernah mempelajarinya, ia mengangkat keris itu ke depan dada.
Dalam sekejap, ukiran-ukiran kuno di bilah keris menyala keemasan.
Sebuah gelombang cahaya memancar ke seluruh ruangan.
Suara benturan mendadak berhenti.
Sunyi.
Beberapa detik kemudian...
Ponsel Banu berdering.
Layar menampilkan nomor tak dikenal.
Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Terdengar suara seorang pria tua yang tenang.
"Jangan keluar dari apartemen malam ini."
Banu terdiam.
"Siapa Anda?"
"Kau sudah ditemukan."
"Mereka tahu bahwa Pewaris Terakhir telah bangkit."
"Siapa 'mereka'?"
Belum sempat pria itu menjawab...
Sambungan telepon terputus.
Di saat yang sama, dari luar jendela apartemen, puluhan pasang mata merah menyala perlahan muncul di tengah gelapnya malam.
_____________
BAB 1
Bagian 3 – Pewaris Terakhir
Banu membeku.
Puluhan mata merah itu menatap lurus ke arahnya dari atap gedung, dahan pohon, hingga sudut-sudut gelap jalan di bawah apartemen.
Tidak ada satu pun yang berkedip.
Tidak ada satu pun yang bergerak.
Namun aura dingin yang mereka pancarkan terasa menyesakkan dada.
"Ini... tidak mungkin..."
Banu memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.
Mata-mata merah itu masih ada.
Bahkan kini jumlahnya bertambah.
Brak!
Tiba-tiba jendela apartemen pecah berkeping-keping.
Angin dingin menerobos masuk, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang menyengat.
Kabut hitam memenuhi ruangan.
Dari dalam kabut itu, muncul sosok berjubah hitam dengan wajah yang tertutup tudung.
Di tangannya tergenggam sebuah tongkat kayu berukir.
"Akhirnya kami menemukanmu..."
Suara sosok itu terdengar berat dan serak.
"Bertahun-tahun kami mencarimu, Muhammad Banu."
Banu menggenggam keris erat.
"Siapa kalian?"
Sosok itu tertawa pelan.
"Kami adalah pembuka gerbang."
"Dan kau..."
"...adalah kuncinya."
Belum sempat Banu menjawab, sosok berjubah itu mengangkat tongkatnya.
Kabut hitam berubah menjadi belasan tangan menyeramkan yang melesat ke arah Banu.
Dengan naluri yang bahkan ia sendiri tidak mengerti, Banu mengayunkan kerisnya.
Sreet!
Cahaya keemasan membelah udara.
Seluruh tangan hitam itu lenyap seketika.
Sosok berjubah mundur dua langkah.
"Mustahil..."
"Segelnya sudah mulai terbuka..."
Mendadak, kalung batu hitam di leher Banu bersinar terang.
Kilatan cahaya memenuhi ruangan.
Dalam cahaya itu, Banu melihat kilasan-kilasan aneh.
Seorang pria berjubah putih bertarung melawan ribuan makhluk kegelapan.
Sebuah gerbang batu raksasa yang disegel dengan rantai-rantai bercahaya.
Dan seorang anak kecil yang memegang kalung batu hitam...
Anak itu adalah dirinya sendiri.
"Apa... sebenarnya yang terjadi?"
Suara lain tiba-tiba menggema dari luar apartemen.
"Cukup!"
Sebuah cahaya putih melesat menembus jendela.
Seorang pria tua berambut putih mendarat di depan Banu.
Ia mengenakan pakaian sederhana, tetapi di punggungnya terselip sebuah pedang panjang bersarung kayu hitam.
Tatapannya tajam.
Penuh wibawa.
"Kau terlambat, Kiai..."
ejek sosok berjubah hitam.
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Belum."
Dalam satu gerakan cepat, ia menghunus pedangnya.
Sinar putih memancar memenuhi ruangan.
Sosok berjubah hitam menjerit.
Tubuhnya berubah menjadi kabut dan menghilang bersama pekikan yang menggema hingga ke luar apartemen.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Banu masih berdiri mematung.
Pria tua itu menatapnya beberapa saat, lalu berkata pelan,
"Namaku Kiai Mahesa."
"Selama dua puluh lima tahun, aku menunggumu."
Banu mengernyit.
"Menungguku? Untuk apa?"
Kiai Mahesa menarik napas panjang.
"Karena mulai malam ini..."
"...hidupmu sebagai manusia biasa telah berakhir."
Di luar apartemen, awan hitam kembali bergulung.
Jauh di balik kegelapan, sepasang mata merah raksasa perlahan terbuka.
Sebuah suara kuno bergema dari balik dimensi yang tersegel.
"Pewaris telah bangkit..."
"Mulailah Perburuan."
_______________
BAB 1
Bagian 3 – Gerbang Takdir
Suasana di dalam apartemen menjadi sunyi.
Banu masih memegang keris hitam di tangan kanannya. Napasnya belum beraturan setelah menyaksikan sosok berjubah hitam menghilang menjadi kabut.
Pria tua berambut putih itu melangkah mendekat.
Sorot matanya tajam, tetapi tidak memancarkan permusuhan.
"Namaku Kiai Mahesa," ucapnya tenang. "Aku sudah menunggumu selama dua puluh lima tahun."
Banu menatapnya penuh curiga.
"Menungguku? Siapa sebenarnya Anda? Dan apa maksud semua ini?"
Kiai Mahesa memandang kalung batu hitam yang tergantung di leher Banu.
"Itu bukan kalung biasa. Kalung itu adalah Segel Arwah Cahaya, pusaka yang diwariskan turun-temurun kepada Penjaga Gerbang."
"Penjaga Gerbang?"
"Gerbang yang memisahkan dunia manusia dan dunia gaib."
Banu menggeleng pelan.
"Ini pasti mimpi."
"Tidak."
Kiai Mahesa menggeleng.
"Yang kau alami selama ini justru kenyataan yang selama bertahun-tahun disembunyikan darimu."
Ia mengeluarkan sebuah foto tua yang sudah menguning.
Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri sedang menggendong seorang anak kecil.
Banu membelalak.
"Itu... ayah dan ibuku."
"Dan anak kecil itu adalah dirimu."
Banu mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar.
Namun ada satu hal yang membuatnya terkejut.
Di belakang keluarganya berdiri sosok pria berjubah putih yang wajahnya tidak terlihat jelas.
"Itu siapa?"
Kiai Mahesa menarik napas panjang.
"Itulah guruku... Penjaga Gerbang Ketiga Belas."
"Ia menyelamatkanmu pada malam kedua orang tuamu dibunuh."
Tubuh Banu seakan membeku.
"Dibunuh?"
"Selama ini polisi mengatakan mereka meninggal karena kecelakaan."
"Itu bukan kecelakaan."
Kiai Mahesa menatap langsung ke mata Banu.
"Mereka dibunuh oleh Ordo Bayangan Hitam."
Ruangan mendadak terasa semakin dingin.
Nama itu kembali muncul.
Nama yang diucapkan sosok berjubah hitam sebelumnya.
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah organisasi kuno yang telah hidup ratusan tahun."
"Mereka menyusup ke mana-mana. Pemerintahan, perusahaan, bahkan kelompok keagamaan dan organisasi masyarakat."
"Tujuan mereka hanya satu."
"Membangkitkan Penguasa Dunia Gaib."
Banu mengepalkan tangan.
"Kalau begitu... kenapa aku?"
Kiai Mahesa tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap keris hitam yang masih berada di tangan Banu.
"Kau adalah pewaris terakhir dari garis Penjaga Gerbang."
"Hanya darahmu yang mampu membuka atau menutup Gerbang Dunia Gaib."
Mata Banu membelalak.
Seketika, rasa nyeri yang luar biasa menyerang kepalanya.
Bayangan-bayangan asing bermunculan.
Ia melihat gerbang batu raksasa yang diselimuti rantai emas.
Makhluk-makhluk mengerikan mencoba menerobos keluar.
Di depan gerbang itu berdiri seorang pria berjubah putih yang memegang keris yang sama persis dengan milik Banu.
Lalu...
_________
73 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







