
- Jumlah kata
- 1.1M
- Popular
- 862.1K
- Subscribe
- 8.0K
Sinopsis
Vano Brahman berada di dunia, di mana energi spiritual bersinar kembali dan monster-monster buas berkelahi tanpa henti. Setiap sekolah di tempat itu telah berubah menjadi sekolah bela diri. Sebagai seorang junior yang menekuni seni bela diri, dia terpaksa berhenti sekolah karena tidak memiliki uang. Jalan hidupnya yang ingin menekuni seni bela diri pun terputus ... Sampai saat dia mengaktifkan sistem panel virtual. "Ting! Bunuhlah satu nyamuk, kekuatanmu akan bertambah 1 poin." Setelah beberapa waktu ... Seorang ahli bela diri muda berusia delapan belas tahun menjadi pemain terkeren dalam Kompetisi Pejuang Elit! Semua teman-temannya pun terkejut, “Kita belum lulus, tapi kamu yang berhenti sekolah malah menjadi dewa perang?”
Ulasan
24 ulasan
Jonathan
22/12/23 02:23
Aku jadi ingat temanku yang tidak lanjut sekolah tapi dia cukup sukses membangun bisnisnya. Dia seperti halnya tokoh utama, selalu belajar dan berlatih. Temanku selalu belajar bagaimana caranya membangun usaha yang baik dan bagaimana mengatur keuangannya dengan baik sehingga dia bisa jadi sukses seperti sekarang. Ketika temanku menjadi boss untuk perusahaan kecilnya, aku yang telah sekolah tinggi akhirnya hanya menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Tapi sejauh ini cerita ini cukup menarik, aku menunggu episode selanjutnya dan menceritakan kisah menarik ini ke temanku itu.
PILIHANMistique
Bab 1
Pak Dodit Bagaskara yang merupakan wali kelas itu mengetik di ponselnya, "Anak-anak, standar nilai ujian fisik tahun ini adalah memiliki energi darah sebesar 120. Jika energi darah itu bisa mencapai nilai 150, kalian bisa masuk program unggulan. Tinggal sepuluh hari lagi, semangat anak-anak."
Setelah pesan itu dikirimkan, grup kelas XII-9 tiba-tiba menjadi ramai.
"Sekarang nilaiku 117, pil penambah energi darah bukanlah masalah yang terlalu besar."
"Nilaiku 145, aku punya peluang untuk mendapat nilai tertinggi."
"Nilai energi darah Mia sudah mencapai 160."
"Tak heran dia adalah murid top di sini, aku benar-benar iri padanya."
"Bagaimana dengan Vano? Sebelumnya, dia juga bisa dianggap setara dengan murid yang paling top, bukan?"
"Untuk apa membicarakannya? Dia sudah berhenti sekolah selama setengah tahun."
Dalam sebuah ruangan usang, Vano berbaring di atas tempat tidur. Cahaya dari ponselnya terpantul di wajah tampannya.
"Semua orang tampak sangat percaya diri."
"Jika kalian lulus ujian bela diri, kalian dapat memasuki Universitas Seni Bela Diri untuk melanjutkan studi."
"Pada dasarnya semua orang bisa menjadi seorang ahli bela diri ..."
Vano mengerucutkan bibirnya. Bohong jika dibilang kalau dirinya tidak merasa iri.
Akibat kebangkitan energi spiritual, banyak binatang buas menjadi liar dan monster berkeliaran. Setelah senjata api benar-benar tidak berfungsi lagi. Para ahli bela diri pun menjadi satu-satunya kekuatan inti dalam mempertahankan tanah air mereka.
Para ahli bela diri bukan hanya memiliki status yang terhormat dan menikmati berbagai hak sosial istimewa.
Mereka juga lebih mudah menghasilkan kekayaan yang tidak dapat dibayangkan oleh orang biasa.
Setiap hari, Vano pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Semua yang hal dilakukannya adalah pekerjaan kotor dan berat.
Vano bekerja dari pagi hingga malam, agar bisa mendapatkan lebih dari dua ratus ribu rupiah.
Bagi ahli bela diri, membunuh monster paling rendah sekalipun bisa mendapatkan beberapa puluh juta.
Sedangkan, jika membunuh hewan-hewan buas kelas atas, hewan itu dapat dijual dengan harga ratusan juta. Bahkan, bisa mendapatkan milyaran rupiah.
Di satu sisi, mereka memiliki status sebagai orang yang dihormati. Mereka bisa menikmati hak istimewa dan memiliki kehidupan yang mewah.
Di sisi lain, jika hidup di lapisan bawah, mereka harus berjuang keras dan mengarungi hari dengan susah payah.
Perbedaan besar di antara ahli bela diri dan yang bukan telah lama terbentuk.
Bahkan tanpa menyebutkan tentang identitas atau kemewahan yang mereka terima, jika kita hanya membicarakan tentang pendapatan ini, siapa yang tidak ingin menjadi ahli bela diri?
Semua orang pasti berpikir seperti itu.
Namun, menjadi seorang ahli bela diri bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan sembarangan.
Nilai energi darah mereka harus mencapai 200.
Hari ini sangat panas.
Vano membalikkan tubuhnya dan mengayunkan kipas yang ada di tangannya dengan sepenuh tenaga.
Omong-omong tentang energi darah, sebelum berhenti sekolah, energi darahnya 82.
Sekarang, energi darah itu masih 82 dan sangat stabil.
Setelah meninggalkan sekolah, bukan berarti kita tidak bisa meningkatkan semangat dan vitalitas kita lagi.
Namun, Anda harus kaya.
Harga sebuah pil penambah energi darah yang paling umum bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Vano harus menahan diri untuk tidak makan dan minum selama beberapa bulan untuk bisa membelinya.
Menjadi seorang ahli bela diri bukanlah sesuatu yang dapat dicapai hanya dengan satu pil penambah energi darah saja.
Setiap pagi, Vano meninggalkan rumah dan pulang setelah matahari terbenam.
Dia pulang dengan kondisi tubuh yang lelah. Kemudian, dia makan malam dengan santapan sederhana.
Setelah pulang kerja, Vano yang lelah itu hanya ingin berbaring di tempat tidur.
Selama enam bulan terakhir ini, kesulitan akan hal-hal mendasar ini juga telah mengikis semangatnya.
Vano tidak berani memikirkan hal-hal seputar ahli bela diri atau semacamnya.
Punya sebuah tempat tinggal yang bisa melindungi dari angin dan hujan, serta perut yang kenyang saja sudah membuatnya merasa sangat puas.
Setiap harinya, hari-hari berat ini yang membuat Vano lelah setengah mati.
Vano yang berusia 18 tahun itu seolah dapat merasakan kehidupan di usia 80 tahun.
Adapun, teman sekelasnya yang terburuk sekalipun telah meninggalkannya jauh di belakang.
Jarak antara Vano dan mereka hanya akan semakin membesar. Dia ditakdirkan untuk tidak ;agi menjadi manusia di dunia ini.
Dengan agak sedih, Vano meletakkan ponselnya ke samping dan mulai tidur. "Brrr brrr brrr ..." Sebelum Vano tertidur seekor nyamuk terbang mendekatinya dan mendarat di wajah Vano.
"Plak!"
Nyamuk itu langsung terbunuh.
Vano tinggal di sebuah bangunan kuno yang buruk pencahayaannya. Ruangan itu juga sangat lembap dan ada banyak nyamuk. Situasi seperti ini sangat umum terjadi. Jadi, dia sama sekali tidak memperdulikannya dan terus tidur. Akan Tetapi, pada detik berikutnya:
"Ting! Membunuh satu nyamuk, energi darah bertambah sebesar 0.01 poin."
Vano pun langsung terbangun. Dia menatap panel virtual di hadapannya.
"Nama: Vano"
"Usia: 18"
"Peringkat: Tidak ada"
"Energi darah: 82.01/200"
Vano menepuk-nepuk pipinya sendiri dan terus memastikan bahwa ini bukan mimpi. Dia sangat gembira.
Dia telah hidup di dunia ini selama delapan belas tahun. Akhirnya masa kejayaannya sudah tiba.
"Sistem, perkenalkanlah dirimu."
Namun, tidak ada respom.
"Sistem?"
Vano pun mengerti, tampaknya sistem ini tidak terlalu cerdas.
Namun, tidak peduli pintar atau tidak, sistem panel virtual itu mampu meningkatkan energi darah.
Vano menyadari bahwa nyamuk yang baru saja dia pukul mati itu bisa meningkatkan energi darahnya sebesar 0,01.
Sedangkan, sebutir pil penambah energi darah bisa meningkatkan energi darah sebanyak 6 poin.
Bukankah itu berarti, membunuh 600 nyamuk sama dengan memiliki satu butir pil energi dan darah? Vano pun menjadi gembira.
Dirinya mungkin tidak dapat membeli pil penambah energi darah seharga puluhan juta. Namun, dia bisa memukul 600 nyamuk.
Vano tiba-tiba mendapat dorongan semangat. Bahkan rasa lelah di tubuhnya seharian ini, rasanya tidak begitu melelahkan lagi.
Vano pun melihat sekelilingnya. Ada tiga nyamuk lagi pada kelambu.
"Plak!" Vino membunuh satu nyamuk.
"Ting! Membunuh satu nyamuk, energi darah bertambah sebesar 0.01 poin."
"Plak!"
"Ting! Membunuh satu nyamuk, energi darah bertambah sebesar 0.01 poin."
"Plak!"
"Ting! Membunuh satu nyamuk, energi darah bertambah sebesar 0.01 poin."
Ada sebuah kehangatan yang terpancar dari tubuh Vino.
Meskipun sangat lemah, Vano bisa merasakan peningkatan energi darah di dalam dirinya. Semua nyamuk di kelambu itu sudah dibasmi sepenuhnya.
Vano pun bangun dari tempat tidur dan mengenakan sepatunya. Dia menghabiskan waktu selama lebih dari dua puluh menit di dalam ruangan itu.
Akhirnya, dia berhasil membunuh enam nyamuk. Saat ini, nilai energi darahnya adalah 82.1 poin.
Namun, sekarang tidak ada lagi tanda-tanda nyamuk di dalam ruangan itu. Entah apakah karena nyamuk-nyamuk itu bersembunyi atau telah melarikan diri.
Awalnya, Vano hanya berpikir bahwa dirinya hanya perlu menangkap 600 nyamuk saja. Namun, tampaknya tidak semudah itu.
"Hah?" Vano tiba-tiba melihat lalat di atas meja makan.
Jika nyamuk menghasilkan poin, bisakah lalat melakukannya?
"Plak!"
Vano membunuh seekor lalat dengan raket nyamuk.
"Ting, membunuh seekor lalat, energi darah bertambah sebesar 0.01 poin."
Vano merasa sangat gembira. Ternyata, lalat pun bisa menghasilkan poin. Kepalanya langsung dipenuhi ide-ide.
Tentu saja pikirannya langsung tertuju pada tempat sampah di kompleks perumahan.
Setiap kali pergi membuang sampah, lalat selalu menghinggapi sampah-sampah dalam jumlah yang banyak itu dan terbang dengan tidak beraturan.
Saat memikirkan hal itu, Vano tiba-tiba tidak bisa tinggal diam di rumahnya lagi.
Dia pun membawa semprotan pembunuh serangga dan langsung keluar rumah.
Vano sangat lelah dan ingin tidur lebih awal.
Namun, sekarang sudah malam dan sudah jam delapan lebih.
Ada beberapa orang di lingkungan perumahan yang sedang berjalan-jalan.
Sebagian besar dari mereka adalah para orang tua, baik pria maupun wanita.
Sebenarnya, Vano sangat iri kepada mereka.
Jika Vano tetap sama seperti dirinya yang dulu, mana mungkin dia punya uang pensiun?
Dia hanya bisa bekerja sampai dirinya tidak sanggup melakukannya lagi.
Dia harus bekerja sampai mati. Sungguh, ini adalah hal yang sangat menyedihkan.
Untung saja Vano memiliki sistem panel virtual
ini. Jadi, dia sangat menghargai kesempatan ini.
Vano pun tiba di depan sebuah tempat sampah. Lalat berwarna hitam gelap terbang dengan kacau-balau dan dengan suara bergemuruh. Vano mulai menyemprot dengan menggunakan insektisida. Seekor demi seekor lalat perlahan-lahan jatuh ke bawah.
"Ting! membunuh seekor lalat, energi darah ..."
" Ting! membunuh seekor lalat, energi darah ..."
...
...
Hal ini tentunya lebih cepat dari pada memakai raket nyamuk yang ada di rumah.
"Vano, apa yang sedang kamu lakukan?" Seorang pria tua yang bungkuk berjalan mendekat dengan tangan yang dikaitkan di belakang.
"Oh, halo Kakek Hans! Saat sedang tidak ada kerjaan, aku membasmi lalat di sekitar sini untuk melayani masyarakat," jawab Vano sambil tersenyum.
Kakek Hans yang nama lengkapnya adalah Hans Bakti itu tinggal di unit yang sama dengan Vano. Rumah Vano berada di lantai empat, sedangkan Hans tinggal di lantai satu yang memiliki sebuah halaman kecil. Vano sering kali melihat kakek Hans berkebun di halaman belakang rumahnya.
"Baguslah kalau kamu punya niat seperti ini. Namun, metode yang kamu gunakan kurang tepat."
"Pestisida dalam botol ini efektif jika disemprotkan di rumah dengan jendela tertutup. Namun, jika digunakan di luar, efektivitasnya akan sangat berkurang."
"Di rumahku ada pestisida, ada semprotannya juga. Apa kamu mau memakainya? Kalau mau, aku ambilkan untukmu." Hans adalah orang yang sangat berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya. Dengan mata berbinar, Vano berkata "Boleh, terima kasih banyak, Kakek Wang."
Hans tersenyum sambil berkata, "Semuanya ini juga untuk melayani rakyat, tunggu ya."
Daftar bab
967 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
967 bab








