
- Jumlah kata
- 77.8K
- Popular
- 369
- Subscribe
- 52
Sinopsis
Jangan coba mengunduh aplikasi yang kamu pikir menantang, karena bisa saja akan membuat hidupmu benar-benar terancam kedepannya.
Ulasan
2 ulasan
Aulia Hazuki
9/7/25 14:45
Halo kak ide ceritanya bagus, bikin penasaran buat baca. Mampir balik ke ceritaku yuk Kak "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik, terima kasih banyak kak🙏
Gege Gelong
1/5/25 11:01
Awalnya masih belum booomm... Baca bab 2 dah mulai kerasa, dan 3 dan 4 lumayan jleb mencekamnya, gak nyangka kalau Sistem juga punya horor unik, seru.... tapi sayang sdh tamat Thor😭
Awal
"Kenapa kita gak hindarin mereka saja," ucap Roni.
"Ya sudah, kita ke kafe sebelah," ujar Raka.
Roni dan Raka sengaja pergi ke kafe sebelah tanpa memberi tahu teman-teman se-geng mereka.
Mereka ingin menghindari komplotan mesum seperti si Yahya, Rangga, Kiki, dan Arwi, yang selalu berulah dan suka bercanda kelewat batas. Yang sampai membuat tersinggung juga.
"Kamu mau pesan apa? Pesan aja, nanti gue yang bayar," ujar Roni santai.
Raka melirik daftar menu, matanya membulat sedikit saat melihat harga. "Lumayan mahal. Emang duit lo cukup?" tanyanya dengan nada ragu.
Roni malah terkekeh. "Hehe, biasalah, ngepet duit orang tua. Nggak masalah kok!" katanya, seakan membenarkan ucapannya sendiri.
"Ya udahlah, yang penting perut keisi. Maklum, di kos-kosan lagi kering kayak kanebo," balas Raka sambil memanggil pelayan. "Mbak, saya mau yang ini dan ini..."
"Kalo gitu, gue ikut aja," tukas Roni.
Mereka menikmati makan siang sambil bersenda gurau, tertawa ringan, dan berbicara pelan saat membahas hal-hal pribadi. Namun, tiba-tiba suara lembut menginterupsi mereka.
"Halo, Mas!"
Seorang gadis berpakaian serba hitam berdiri di sebelah meja mereka. Matanya tampak sayu, wajahnya sedikit pucat.
"Iya, ada apa?" Raka menyapa sambil tersenyum ramah.
"Mas mau download aplikasi MAUT?" tanya gadis itu dengan suara lirih.
Roni mengernyit, tak percaya. "Apaaa? Maut? Emang ada aplikasi kayak gitu?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Selamat..." ujarnya tiba-tiba, membuat Roni dan Raka saling berpandangan.
"Maaf, nama kamu siapa? Duduk dulu," ajak Roni sambil menarik kursi kosong di sebelahnya. "Tadi kamu bilang selamat, maksudnya apa?"
Gadis itu terdiam sesaat, menundukkan kepala, lalu berbisik pelan, "Kalau kalian mau menolong aku, tolong download aplikasi itu. Aku... aku nggak bisa jelas-in." Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Nama kamu siapa?" tanya Raka penasaran.
"Anindya, biasa dipanggil Anin," jawabnya singkat, masih menunduk lesu.
Raka yang penasaran langsung mengeluarkan ponselnya, mencari aplikasi yang dimaksud. "Yang mana?"
Anin mendongak, matanya berbinar. "Sini, biar aku carikan," katanya, mengambil ponsel Raka. Bahkan air mata tipis terlihat mengalir di pipinya.
"Sampe terharu gitu? Kamu lucu deh," ujar Roni sambil geleng-geleng kepala. "Ya udah, gue juga mau download dong. Jangan lupa install di HP gue juga!"
Ia mengeluarkan ponselnya dari tas, menyerahkannya ke Anin dengan senyum santai.
Anin terdiam sejenak, raut wajahnya berubah aneh. "Mas serius?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Iya lah, siapa tahu gue jago mainnya," timpal Roni.
Anin menelan ludah. Tangannya gemetar saat menerima dua ponsel itu. Dengan napas berat, ia membuka Play Store, mengetik sesuatu, lalu menekan tombol INSTAL.
Sebelum mengembalikan ponsel itu, ia berbisik, "Semoga kalian mendapatkan penggantinya nanti... Maafkan aku."
Degh!
Roni dan Raka langsung saling berpandangan.
"Apa maksudnya?" gumam Raka.
Namun sebelum mereka sempat bertanya lebih lanjut, Anin sudah bangkit berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia bergegas keluar dari kafe.
Dan saat layar ponsel mereka menyala...
Sebuah notifikasi muncul.
"SELAMAT DATANG DI APLIKASI MAUT. PENGGANTI ANDA SEDANG DICARI..."
Mata Roni dan Raka membulat. Jantung mereka berdegup kencang.
Apa yang baru saja mereka install...?
BERSAMBUNG...
Daftar bab
62 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








