
WARISAN PENGOBATAN DARI LANGIT
Purple Flow|Bersambung
- Jumlah kata
- 139.0K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 178
- Jumlah kata
- 139.0K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 178
Sinopsis
Arhan Wardana, pemuda miskin berusia 21 tahun, terdesak oleh hutang ayahnya dan penyakit mematikan yang perlahan merenggut nyawa ibunya. Dalam keputusasaan, Arhan menangis hingga tertidur. Namun dalam mimpinya, ia tiba di sebuah tempat pengobatan kuno dan bertemu seorang pria tua misterius yang telah menunggunya. Sebuah warisan ilmu pengobatan kuno masuk ke dalam tubuh Arhan, memberinya pengetahuan tentang ramuan yang bahkan tidak pernah ia pelajari. Saat terbangun, Arhan menyadari bahwa semua pengetahuan itu masih ada di dalam pikirannya. Kini ia memiliki satu tujuan... menyelamatkan nyawa ibunya. Namun, sejak saat itu, hidup Arhan berubah drastis. Dengan pengetahuan pengobatan kuno yang dimilikinya, ia perlahan bangkit dari kemiskinan dan mulai dikenal banyak orang. Kesuksesan serta pesonanya membuat banyak wanita mulai mendekat. Perjalanan Arhan untuk menyelamatkan ibunya ternyata menjadi awal dari takdir yang jauh lebih besar... sebuah kehidupan baru yang dipenuhi kekayaan, kekuasaan, cinta, dan persaingan dari banyak wanita yang ingin berada di sisinya. Apakah mungkin Arhan bisa mengendalikan dirinya dari semua itu?
Ulasan
1 ulasan
Purple Flow
15/9/26 10:49
Hai, readers... jangan lupa mampir di buku baruku. Setelah membaca jangan lupa tinggal kan komentar yang bikin author semangat dan jangan lupa subscribe ya🥰 Terimakasih 🙏🏻
Bab 1 : Akhirnya Kau Datang Juga
Sore telah berganti malam.
Arhan Wardana berjalan menyusuri jalan tanah menuju rumah kecilnya. Langkah pemuda berusia dua puluh satu tahun itu terasa berat.
Di pundaknya tergantung sebuah karung lusuh yang hanya berisi beberapa singkong, ubi, dan sayuran yang kondisinya sudah tidak terlalu bagus.
Bagi orang lain, semua itu mungkin hanyalah sisa hasil panen yang tidak layak dijual. Namun bagi Arhan, makanan tersebut adalah penyelamat.
Seharian tadi ia membantu membersihkan kebun milik seorang warga. Setelah pekerjaannya selesai, pemilik kebun mengizinkannya mengambil sisa hasil panen yang masih tertinggal di tanah.
Arhan menerimanya tanpa banyak berpikir. Ia tidak peduli harus makan makanan sisa. Baginya, yang terpenting malam ini ia dan ibunya masih bisa mengisi perut.
Setelah berjalan cukup jauh, Arhan akhirnya berhenti di depan rumah kecilnya. Dinding kayu rumah itu sudah mulai lapuk. Beberapa bagian atap bahkan bocor ketika hujan turun deras. Rumah sederhana tersebut menjadi satu-satunya tempat yang masih bisa mereka sebut sebagai rumah.
Arhan menghela napas panjang sebelum membuka pintu. “Ibu... Arhan pulang.”
Tidak ada jawaban.
Kening Arhan langsung berkerut. Perasaan tidak nyaman muncul di dalam dadanya. Ia segera berjalan menuju kamar kecil di sudut rumah.
Di sana, Ibunya yang bernama Winarsih, yang biasa dipanggil Ibu Narsih, terbaring di atas kasur tipis.
Wajah wanita itu terlihat pucat. Tubuhnya semakin kurus dari hari ke hari. Napasnya terdengar berat, bahkan untuk sekadar mengubah posisi tubuh saja ia harus mengerahkan banyak tenaga.
Arhan segera duduk di samping tempat tidur. “Ibu sudah makan?”
Ibu Narsih membuka mata perlahan. “Belum.”
Arhan memaksakan senyum. Ia mengangkat karung yang dibawanya. “Arhan bawa makanan.” Ia mengeluarkan beberapa singkong dan sayuran dari dalam karung. “Maaf, cuma ini yang Arhan dapat hari ini, Bu. Tapi besok Arhan janji akan mencari uang lagi. Arhan juga akan membelikan obat untuk Ibu.”
Ibu Narsih hanya tersenyum tipis. “Jangan terlalu memaksakan dirimu, Han.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Kamu sudah terlalu kurus.”
Arhan terdiam. Ia menundukkan wajah agar ibunya tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa dirinya sering menahan lapar agar Ibu Narsih bisa makan lebih banyak?
Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa uang yang dimilikinya bahkan tidak cukup untuk membeli obat hari itu, sementara penyakit ibunya semakin parah?
Selama ini Arhan sudah membawa Ibu Narsih berobat ke beberapa tempat. Namun hasilnya selalu sama.
Penyakit yang diderita ibunya tergolong langka. Bahkan beberapa tabib yang pernah memeriksanya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki obat yang mampu menyembuhkannya.
Namun Arhan tidak ingin percaya. Ia masih berharap suatu hari nanti ada seseorang yang bisa menyembuhkan ibunya. Sayangnya, masalah keluarganya tidak berhenti sampai di sana.
Brak!
Suara pintu depan yang dibuka dengan kasar membuat Arhan tersentak.
“Arhan!”
Suara seorang pria terdengar dari ruang depan.
Arhan langsung mengenalinya... rentenir. Ia segera berdiri dan keluar dari kamar. Di ruang depan, tiga orang pria bertubuh besar berdiri dengan wajah penuh ancaman. Beberapa bagian tubuh mereka dihiasi tato.
“Mana Parjo?” tanya salah seorang dari mereka.
“A-Ayah tidak ada,” jawab Arhan gugup.
“Apa? Tidak ada lagi?”
Pria itu terlihat semakin kesal. Tangannya meraih sebuah gelas yang berada di atas meja, lalu membantingnya ke lantai.
Prang!
Pecahan kaca berserakan.
Arhan tersentak. “Astaga! Kalian jangan membanting barang di rumahku!”
Pria tersebut mendengus. Tanpa peringatan, ia mendorong tubuh Arhan dengan keras.
Bugh!
Tubuh Arhan terjatuh ke lantai.
“Aarrgghh!”
Arhan meringis sambil memegangi perutnya.
Pria itu kemudian tersenyum sinis. “Rasakan itu. Ini baru permulaan.” Ia menatap Arhan dengan tatapan mengancam. “Kalau ayahmu tidak bisa membayar hutangnya, kamu yang akan terus kami siksa.”
Arhan perlahan bangkit. Tangannya mengepal erat. “Aku akan membayarnya,” jawabnya tegas.
Meskipun dirinya sendiri tidak tahu dari mana uang itu akan diperoleh, Arhan tetap berusaha menyanggupinya.
Ketiga pria tersebut justru tertawa sinis. “Kamu?” Tatapan mereka turun ke pakaian Arhan yang lusuh.
“Kamu mau bayar pakai apa?”
Arhan tidak menjawab. Ia memang tidak memiliki apa-apa. Rumah ini pun hampir tidak mempunyai barang berharga. Ayahnya telah menghabiskan sebagian besar uang mereka untuk berjudi. Hutang menumpuk pada banyak rentenir, sementara pria yang membuat semua hutang itu justru menghilang entah kemana. Kini semuanya menjadi tanggung jawab Arhan.
“Kami beri waktu seminggu,” kata pria itu. “Kalau kamu masih belum bisa membayar semua hutang ayahmu, rumah ini akan kami sita.”
Setelah memberikan ancaman terakhir, ketiga pria itu pergi meninggalkan rumah.
Pintu kembali tertutup.
Arhan hanya berdiri diam, tangannya masih mengepal erat. Ia ingin marah, tapi entah kepada siapa. Seolah sejak kecil, nasib tidak pernah berpihak padanya?
Arhan akhirnya kembali masuk ke kamar. Tatapannya langsung tertuju kepada Ibu Narsih yang masih terbaring di atas kasur. Wanita itu tampak memejamkan mata.
Namun Arhan tahu, ibunya mendengar semuanya.
“Bu...” Suara Arhan bergetar.
Tidak ada jawaban.
Arhan perlahan duduk di lantai di samping tempat tidur. Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku harus bagaimana?” Bahu Arhan mulai bergetar. “Aku sudah berusaha." Ia mengusap wajahnya. “Aku bekerja di kebun orang dan melakukan pekerjaan apa saja. Tapi kenapa uangnya masih tidak pernah cukup?” Tangisnya semakin pecah.
“Ayah punya hutang... Ibu sakit... Aku bahkan tidak bisa membelikan Ibu obat.” Arhan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku capek, Bu."
Arhan selama ini selalu berusaha terlihat kuat, tapi kali ini ia merasa ingin menyerah.
“Apa aku memang tidak bisa menyelamatkan Ibu?”
Ibu Narsih perlahan membuka mata, ada rasa sesak di dadanya yang tak tertahankan. Ia juga tidak ingin melihat Arhan susah. Tapi dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebelum sempat menjawab, Arhan sudah menundukkan kepala. “Maafkan Arhan, Bu.”
Tangisnya terdengar jelas di dalam rumah kecil yang sunyi.
Malam semakin larut.
Setelah menangis begitu lama, tubuh Arhan akhirnya tidak mampu bertahan. Ia tertidur di lantai, tepat di samping tempat tidur ibunya.
Tapi malam itu, sebuah kejadian aneh terjadi. Dalam tidurnya, Arhan tiba-tiba merasakan tubuhnya seperti terjatuh ke tempat yang sangat jauh.
Semua itu terasa begitu nyata. Seolah-olah tubuhnya sedang ditarik menuju sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal. Beberapa saat kemudian, Arhan membuka mata.
Matanya langsung membelalak, ia tidak lagi berada di rumah. Arhan kini berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.
Di hadapannya terbentang sebuah kompleks bangunan yang sangat luas. Pendopo-pendopo kayu berdiri megah di tengah halaman. Pilar-pilar bangunan dipenuhi ukiran aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kabut tipis bergerak perlahan di antara pepohonan.
Namun hal yang paling menarik perhatian Arhan adalah aroma yang memenuhi udara.
Aroma tanaman obat, akar kering, bunga, rempah, dan berbagai ramuan yang tidak mampu dikenali oleh hidungnya.
Arhan berjalan perlahan. “Tempat apa ini?”
Rasa penasaran membuatnya terus melangkah.
Ia kemudian memasuki salah satu bangunan. Di dalamnya terdapat ratusan guci, botol kaca, mangkuk batu, tungku, serta rak-rak tinggi yang dipenuhi berbagai tanaman. Beberapa tanaman bahkan memancarkan cahaya samar.
Arhan terdiam kagum. “Ini... seperti tempat pengobatan?”
Ia terus berjalan menyusuri ruangan tersebut.
Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah pendopo yang berdiri di tengah kompleks.
Di sana duduk seorang pria tua yang usianya mungkin sekitar enam puluh tahun. Rambutnya telah memutih. Janggut panjang menghiasi dagunya. Ia mengenakan pakaian berwarna putih kecokelatan dan duduk bersila dengan tenang.
Di sekelilingnya terdapat berbagai tanaman serta mangkuk-mangkuk berisi ramuan. Arhan tidak tahu mengapa, tetapi kakinya bergerak sendiri mendekati pria itu.
Semakin dekat, perasaan aneh di dalam dadanya semakin kuat. Tiba-tiba, pria tua itu membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Arhan.
Anehnya, pria itu sama sekali tidak terkejut melihat kehadirannya.
Justru senyum tipis terukir di wajahnya. “Akhirnya kau datang juga, anak muda.”
Daftar bab
127 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
127 bab








