Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kota Dua Dunia

Kota Dua Dunia

Awen Nicholas | Tamat
Jumlah kata
168.6K
Popular
6.2K
Subscribe
328
Novel / Kota Dua Dunia
Kota Dua Dunia

Kota Dua Dunia

Awen Nicholas| Tamat
Jumlah Kata
168.6K
Popular
6.2K
Subscribe
328
Sinopsis
FantasiFantasi TimurMisteriSpiritualKarya Kompetisi
"Damon Greyson" menjalani hidup biasa di kota futuristik Skyreach, sampai suatu malam ia menemukan portal tersembunyi yang membawanya ke dunia bawah tanah penuh sihir dan makhluk mistis. Ternyata, Damon adalah kunci untuk mencegah kebangkitan kekuatan gelap yang mengancam kedua dunia. Terperangkap di antara kenyataan modern dan rahasia magis kuno, Damon harus menguasai kekuatan yang tak pernah ia ketahui sambil melawan ancaman yang semakin besar. Bisakah Damon menyelamatkan dua dunia yang terancam hancur, atau akan terjatuh dalam kegelapan?
BAB 1 : Di Bawah Langit Skyreach

Langit malam di kota Skyreach seperti biasa dipenuhi kilauan lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, mencakar awan di atasnya. Jalan-jalan utama penuh dengan lalu lintas, suara klakson, dan kilauan neon dari papan iklan holografik yang menyala terang. Warga kota berjalan cepat, sibuk dengan kehidupan modern mereka yang tak pernah berhenti, sementara deretan kendaraan otonom melaju tanpa henti, menambah kebisingan kehidupan metropolis ini. Bagi kebanyakan orang, Skyreach adalah pusat dunia modern, kota masa depan yang selalu berinovasi, tempat di mana mimpi teknologi menjadi kenyataan.

Namun bagi Damon Greyson, kota ini tak lebih dari sebuah jebakan. Sebuah rutinitas yang monoton, di mana setiap hari terasa seperti pengulangan dari hari sebelumnya. Setiap pagi ia bangun, menatap langit-langit kamarnya yang sempit, lalu berangkat bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan teknologi terbesar di Skyreach. Pekerjaannya melibatkan memperbaiki komputer, mengatasi kerusakan sistem keamanan, dan mengelola perangkat lunak yang membuat gedung-gedung tinggi tetap berfungsi.

Damon menjalani hidup yang biasa saja. Tidak ada yang spesial darinya. Rambut hitamnya selalu tampak acak-acakan, seperti orang yang baru saja bangun dari tidur siang yang terlalu lama. Wajahnya tak pernah benar-benar memperlihatkan ekspresi bahagia, lebih sering menunjukkan kelelahan dan ketidakpedulian. Namun, di balik semua rutinitas yang monoton itu, ada sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya, seperti perasaan tidak tenang yang sulit dijelaskan—seolah-olah ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak pernah benar-benar ia miliki, tapi sangat ia butuhkan.

Malam itu, hujan rintik-rintik membasahi kota. Lampu neon yang memantul di trotoar basah membuat suasana semakin kelam. Jalanan yang biasanya ramai mulai sepi, meninggalkan sisa-sisa keramaian yang mulai mereda. Damon berjalan cepat menuju apartemennya, melewati gang-gang sempit yang sering ia gunakan sebagai jalan pintas. Ini adalah rutenya setiap hari—tidak ada yang berubah, tidak ada yang istimewa.

Namun, di salah satu gang yang biasa ia lewati, ada sesuatu yang aneh malam ini. Di sudut tembok bata yang biasanya hanya dibiarkan gelap dan terabaikan, Damon melihat cahaya samar. Sebuah kilauan biru keperakan memancar dari retakan tembok, seperti kilau cahaya yang memantul dari permata atau logam mulia.

Damon berhenti, keningnya berkerut dalam. “Apa ini?” gumamnya pelan. Matanya tertarik pada kilauan itu, seperti magnet yang tak terlihat. Rasa penasaran yang muncul tiba-tiba membuatnya melangkah mendekat, meskipun akal sehatnya mengatakan untuk terus berjalan dan melupakan hal aneh ini.

Saat ia mendekati tembok itu, kilauan cahaya semakin jelas. Itu bukan pantulan cahaya dari sumber biasa—bukan dari lampu neon atau layar holografik. Cahaya ini seolah-olah hidup, memancar dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Pada retakan tembok, ia melihat simbol aneh yang berpendar. Sebuah lingkaran dengan pola rumit di tengahnya, seperti lambang kuno yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, berkilau dengan energi yang tak bisa dijelaskan.

Tanpa sadar, Damon mengulurkan tangannya. Jemarinya gemetar saat mendekati simbol itu, seperti ada kekuatan tak terlihat yang menariknya lebih dekat. Begitu jarinya menyentuh permukaan dingin tembok itu, dunia di sekitarnya seakan berhenti.

Waktu melambat. Suara bising jalanan yang biasanya memenuhi telinga Damon perlahan menghilang. Cahaya neon di sekitar memudar, digantikan oleh kegelapan yang menelan segalanya. Jantung Damon berdegup kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya. Tubuhnya terasa ringan, seperti ditarik ke dalam ruang kosong yang tanpa batas.

Lalu, dalam sekejap, semua berubah.

Damon tidak lagi berada di Skyreach. Ia berdiri di tempat yang asing, di dunia yang sangat berbeda dari kota modern yang baru saja ia tinggalkan. Tanah di bawah kakinya bukan lagi aspal keras, melainkan jalanan berbatu yang kasar dan kuno. Cahaya yang sebelumnya redup kini berasal dari lentera-lentera kecil yang melayang di udara, berpendar dengan cahaya lembut yang misterius. Langit di atasnya bukan langit malam biasa—itu adalah langit yang dipenuhi dengan cahaya yang tampak seperti bintang, namun lebih dekat dan lebih menakutkan, seperti stalaktit yang memancarkan cahaya magis dari langit-langit gua.

Damon melangkah mundur, rasa takut merayapi tubuhnya. “Apa... apa ini?” Ia bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memutar badannya, matanya mencoba menangkap apa pun yang bisa menjelaskan di mana ia berada. Tapi yang ia lihat hanya reruntuhan bangunan tua, dengan arsitektur yang asing dan aneh, tampak seperti sisa-sisa peradaban kuno yang telah lama terkubur di bawah tanah.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakangnya. Insting Damon langsung bereaksi, tubuhnya berputar dengan cepat, matanya terbelalak waspada.

Di sana, berdiri seorang wanita berambut panjang berwarna perak, dengan jubah hitam yang berkibar ditiup angin. Wajahnya tirus dan dingin, matanya berwarna hijau zamrud menatap Damon dengan intensitas yang membuat tubuhnya gemetar. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tapi dari cara ia menatap Damon, terlihat jelas bahwa ia sudah menunggu.

“Kamu sudah datang,” kata wanita itu, suaranya lembut namun penuh wibawa. Tidak ada tanda-tanda keterkejutan atau kekhawatiran, seolah-olah kehadiran Damon di tempat ini sudah diprediksi sejak lama.

"Siapa kau? Di mana aku?" tanya Damon, suaranya terdengar serak dan cemas. Dadanya terasa sesak, pikirannya penuh dengan kebingungan yang tak terbendung.

Wanita itu melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. "Namaku Kaelyn," katanya singkat, matanya tak lepas dari tatapan Damon. “Dan kamu berada di Dunia Bawah. Sebuah dunia yang tersembunyi di bawah Skyreach, jauh dari pengetahuan manusia biasa.”

Damon merasa semakin bingung. Dunia Bawah? Skyreach? Apa maksudnya semua ini? “Aku tidak mengerti,” gumamnya, kepalanya berputar mencoba meresapi apa yang baru saja terjadi. Ia mengingat sentuhan simbol di tembok itu—apakah semua ini adalah hasil dari sentuhan itu?

Kaelyn mengangguk pelan, seolah-olah mengerti kebingungannya. “Kamu tidak perlu mengerti semuanya sekarang, Damon Greyson,” katanya dengan nada yang lebih lembut, meski masih ada ketegasan dalam suaranya. “Yang perlu kamu tahu adalah bahwa dunia ini—Dunia Bawah—telah lama menunggu kehadiranmu.”

Damon terdiam, menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebingungan. Menunggunya? Apa maksudnya? "Kenapa aku?" tanyanya, suaranya lebih pelan. “Aku hanya... seorang teknisi. Aku tidak punya hubungan dengan dunia ini.”

Kaelyn tersenyum tipis, tapi itu bukan senyum ramah. Itu adalah senyum seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang bisa ia ungkapkan. "Itu bukan pilihanmu," katanya pelan. "Ini adalah takdirmu. Dan takdir tidak peduli siapa kamu, atau apa yang kamu pikirkan tentang dirimu."

Sebelum Damon bisa merespons, suara gemuruh terdengar di kejauhan, mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Kaelyn segera menoleh ke arah suara itu, wajahnya berubah serius. "Mereka sudah datang," katanya dengan nada penuh kewaspadaan.

"Mereka? Siapa mereka?" tanya Damon, kini benar-benar panik. Tetapi Kaelyn tidak menjawab, sebaliknya ia meraih tangan Damon dengan cepat, menariknya menjauh dari tempat mereka berdiri. "Kita harus pergi sekarang," perintahnya.

Damon, meski terkejut dan penuh kebingungan, tidak punya pilihan lain selain mengikuti wanita misterius itu. Suara gemuruh semakin dekat, dan dalam sekejap, perjalanan Damon ke dunia yang lebih besar dan berbahaya dari yang pernah ia bayangkan telah dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca