
Bangkitnya Pedang Tengkorak
Mr. AL|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.3K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 263
- Jumlah kata
- 65.3K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 263
Sinopsis
Sebilah pedang terkutuk milik dedengkot aliran hitam di masa lalu yang lama menghilang, diramalkan akan muncul kembali dengan kekuatan yang lebih mengerikan. Berita itu membuat heboh dunia persilatan. Para pendekar, terutama dari aliran hitam, menunggu dengan perasaan suka cita. Mereka tak sabar untuk mengetahui siapa gerangan yang kelak akan mendapatkannya. Dapat dipastikan dengan kemunculan pedang legenda tersebut, aliran hitam akan kembali berjaya setelah dua abad lamanya mereka terkungkung oleh hegemoni aliran putih. Di sisi lain, para pendekar aliran putih merasa was-was dengan ramalan yang berkembang. Mereka khawatir dan takut tatanan kehidupan yang sudah diperbaiki akan kembali hancur jika pedang terkutuk itu muncul kembali.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pertemuan Aliran Putih
Di dalam aula perguruan Naga Emas yang luas, ratusan pendekar dari berbagai perguruan aliran putih tampak khidmat mendengarkan penyampaian dari seorang pria tua berjubah putih. Sesekali dari para pendekar itu mengangkat tangannya, jika ada penjelasan dari pria tua itu yang dirasanya kurang bisa diterima dengan baik.
"Nanti saya beri waktu untuk bertanya. Tolong Sekarang dengarkan dulu apa yang dikatakan Ki Suryalaksa," kata moderator acara, menyela acara yang mulai sedikit diwarnai interupsi dari tamu undangan.
Suasana di dalam aula luas itupun hening. Mereka menunggu Ki Suryalaksa yang merupakan ketua perguruan Pedang Langit untuk melanjutkan pemaparan terkait berita yang saat ini sedang viral di dunia persilatan.
"Menurut ramalan yang saat ini sedang berkembang, Pedang Tengkorak akan muncul ketika matahari dan bulan pada posisi sejajar. Terakhir kejadian fenomena alam itu muncul tiga abad yang lalu, jadi sejauh ini saya belum bisa memastikan kapan kejadian yang sama akan kembali terjadi. Mungkin nanti Tetua Surojoyo yang ahli perbintangan bisa menjelaskan." Ki Suryalaksa menoleh ke arah Ki Surojoyo yang duduk di samping kanannya.
Ki Surojoyo mengangguk yang disebut namanya memberi anggukan kecil.
"Dalam pertemuan kali ini, saya ingin mendengar sumbangsih saudara semua, apa usul dan pendapat yang bisa saudara berikan untuk mengantisipasi munculnya Pedang Tengkorak?" sambung Ki Suryalaksa.
Suasana di aula perguruan Naga Emas menjadi begitu hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Semua sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Hingga beberapa saat lamanya dan tidak ada yang bersuara sama sekali memberi usulan, Ki Suryalaksa pun kembali membuka suara.
“Sambil menunggu usulan apa yang nanti mungkin saudara-saudara berikan, alangkah lebih baiknya kalau kita mendengarkan Ki Surojoyo yang akan menjelaskan lebih jelas tentang perhitungan yang sudah beliau lakukan. Silakan Ki,” ucap Ki Suryalaksa.
Ki Surojoyo mengangguk. Ketua perguruan Pedang Bintang itu kemudian berdiri dan langsung memberikan penjelasan terkait kapan waktunya Matahari dan Bulan dalam posisi sejajar.
“Dalam tiga hari terakhir, saya sudah melakukan penghitungan dengan beberapa metode. Dan hasilnya semua sama, Matahari akan berada dalam posisi sejajar dengan Bulan itu masih dua puluh tahun lagi.” Ki Surojoyo memandang seluruh tamu undangan yang hadir dan duduk rapi di hadapannya.
“Waktu dua puluh tahun lagi mungkin masih lama buat aliran hitam, tapi akan terasa cepat bagi kita aliran putih. Itu jika kita tidak segera menemukan solusi yang tepat untuk mengantisipasi kemunculan pedang tengkorak. Bahkan kalau memungkinkan, kita harus menghalangi kemunculan pedang terkutuk itu,” imbuhnya, kemudian kembali duduk.
Seorang pria berperawakan kurus dengan penampilan lusuh, serta rambut panjang tidak terawat, kemudian mengangkat tangannya. Dia adalah Ki Guntur Geni, seorang pendekar sakti yang suka hidup berkelana. Dia tidak memiliki perguruan atau satu pun murid yang mewarisi semua ilmu kanuragannya. Teman satu-satunya hanyalah seekor harimau besar yang seringkali mengikutinya.
Ki Guntur Geni bukannya tidak mau memiliki murid, hanya saja dia belum menemukan sosok yang pas untuk menerima semua ilmu kanuragan yang dimilikinya. Ada kriteria tersendiri agar ilmu yang dimilikinya bisa terwaris secara sempurna kepada muridnya.
“Aku lebih setuju untuk menghalangi kemunculan pedang Tengkorak, Saudara-saudara. Tapi masalahnya, kita tidak tahu dimana nantinya pedang terkutuk itu akan muncul. Sedangkan kita sendiri tahu kalau daratan Jawadwipa ini sangatlah luas. Belum lagi daratan Swarnadwipa, atau Balidwipa dan daratan-daratan lainnya yang mungkin menjadi salah satu tempat kemunculan pedang tengkorak.”
“Lalu usulmu bagaimana, Ki?” tanya Ki Suryalaksa.
“Di dalam aula ini hadir semua ketua perguruan yang ada di Nusantara, jadi usul yang bisa kuberikan adalah, setiap perguruan wajib untuk menjaga dan mengetahui setiap kejadian di wilayahnya masing-masing. Bagi yang perguruannya saling berdekatan bisa berkolaborasi atau bekerja sama untuk melakukannya. Hindari dulu persaingan yang terjadi, sebab ada masalah lebih besar yang sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu saja,” balas Ki Guntur Geni menjelaskan pendapatnya.
Apa yang dikatakan pendekar bertubuh kurus itu sebenarnya relevan dengan kenyataan yang ada. Sudah jamak jika perguruan yang letaknya berdekatan saling berlomba untuk bisa terlihat lebih baik dibanding perguruan lainnya.
“Aku setuju dengan usulan Ki Guntur Geni. Sebisa mungkin aku akan berusaha mencari tahu apa tanda-tanda yang terjadi menjelang kemunculan pedang tengkorak. Jika nanti aku sudah menemukannya, kita akan mengadakan pertemuan lagi untuk membahasnya,” ucap Ki Surojoyo.
Seluruh tamu undangan yang ada di dalam aula perguruan Naga Emas juga turut menyetujui usulan Ki Guntur Geni. Semua sadar jika persaingan yang terjadi di antara mereka demi terlihat lebih baik dan lebih besar dibanding lainnya, merupakan sesuatu yang percuma jika nantinya aliran hitam kembali berkuasa.
***
10 tahun kemudian …
Di sebuah pasar desa yang berada di kaki gunung Semeru, sesosok bocah berusia kurang dari 10 tahun duduk bersimpuh sambil memegangi perutnya di depan kedai makan yang terlihat sepi dari pengunjung. Sudah dua hari ini dia belum makan dan hanya minum saja untuk menipu lambungnya yang melilit kelaparan.
Tak berselang lama, seorang pria yang juga pemilik kedai, keluar dari kedainya sambil membawa timba yang terbuat dari kayu dan berjalan mendekati bocah tersebut.
Byur!
Tanpa disangka-sangka, pria pemilik kedai menyiram bocah itu dan kemudian membentaknya dengan keras.
“Pergi kau pembawa sial! Kau sudah membuat kedaiku sepi dari pengunjung!” teriaknya, lalu menendang bocah itu tepat mengenai perutnya.
Tak pelak, bocah berkelamin lelaki itupun merintih kesakitan dengan tubuh meringkuk di tanah. Dia berusaha bangkit, tapi pria itu tanpa ampun kembali menendangnya dengan keras.
Bocah itu terjerembab di tanah, hingga membuat pakaiannya yang sudah lusuh semakin terlihat kotor oleh debu yang menempel.
“Pergi! Kau dan kedua orang tuamu yang sudah membusuk di neraka adalah pembawa sial bagi desa ini!” hardik pemilik kedai, kemudian meludahi bocah itu dan mengenai mukanya.
“Jika aku masih melihatmu berkeliaran di desa ini, aku akan menghajarmu hingga kau mati menyusul kedua orang tuamu!” sambung pria itu, lalu berjalan pelan menuju kedainya.
Bocah lelaki yang sebenarnya berwajah tampan itu berusaha bangkit berdiri. Rasa sakit yang dirasakannya tak sebanding dengan penghinaan terhadap kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Dia tidak tahu apa penyebab orang tuanya meninggal, sebab saat itu dia sedang mencari
Setelah bisa berdiri, dilihatnya sebuah batu kali berukuran satu kepal tangan yang tergeletak di dekatnya. Tanpa berpikir panjang, batu tersebut diambilnya dan berjalan secepat yang dia mampu menyusul pria pemilik kedai.
Setelah hanya berjarak dua meter, dengan sekuat tenaga bocah itu melemparkan batu yang dipegangnya, dan tepat mengenai kepala bagian belakang pria pemilik kedai.
Suara melolong kesakitan pun terdengar dari pemilik kedai yang bertubuh cukup kekar. Tangannya memegangi bagian belakang kepalanya yang sudah mengucurkan darah segar.
Daftar bab
63 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








