

.........
Malam itu dingin. Angin berbisik di antara celah-celah jendela kelas yang sudah lama tak terpakai. Justin duduk di kursinya, menatap lurus ke papan tulis yang penuh coretan kapur. Suasana kelas kosong itu terasa berat, seolah ada sesuatu yang mengintainya dari sudut ruangan.
"Justin, kamu kenapa diem aja?" suara Raka, sahabatnya, membuyarkan lamunannya.
Justin menghela napas pelan, berusaha mengabaikan perasaan tidak nyaman yang menggelitik tengkuknya. "Gak apa-apa," jawabnya singkat.
Siska, yang duduk di sebelah Raka, menatapnya dengan curiga. "Serius? Muka lo pucet banget, Just."
Justin menelan ludah. Ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya. Sejak tadi, ada sosok berdiri di sudut kelas, menatapnya tanpa mata.
Sosok itu hitam legam, lebih gelap dari kegelapan ruangan itu sendiri. Bayangan dengan tubuh manusia, tetapi tanpa wajah. Hanya kekosongan.
Dan yang lebih menyeramkan, hanya Justin yang bisa melihatnya.
—
Hari pertama di SMA Bhakti Nusa seharusnya menjadi awal yang menyenangkan bagi Justin, tetapi ia sudah merasakan ada sesuatu yang salah sejak ia pertama kali melangkahkan kaki ke sekolah itu.
Koridor sekolah tua itu dipenuhi aura aneh. Dinding-dindingnya yang kusam seperti menyimpan cerita yang tak terucapkan. Beberapa jendela memiliki retakan besar, dan di beberapa sudut, catnya sudah mengelupas.
"Lo yakin mau sekolah di sini, Just?" tanya Raka, menepuk bahunya saat mereka berjalan menuju kelas.
"Emangnya kenapa?" Justin berusaha terdengar biasa saja.
"Tempat ini..." Raka melirik ke kanan dan kiri, lalu menunduk sedikit. "...katanya angker."
Justin hanya mendengus pelan. Ia sudah terbiasa mendengar cerita seperti itu. Hampir di setiap tempat yang ia datangi, selalu ada energi yang terasa berbeda dari dunia yang bisa dilihat oleh orang biasa.
"Semua sekolah tua juga punya cerita mistis, Rak," ujar Justin santai.
"Tapi ini beda," Siska tiba-tiba ikut berbicara. "Aku dengar, ada siswa yang pernah hilang di sekolah ini, dan sampai sekarang gak ditemukan."
Justin berhenti berjalan. Ia menatap Siska dengan alis terangkat. "Maksudmu... hilang? Kayak diculik?"
Siska menggeleng pelan. "Bukan. Dia... menghilang begitu saja."
—
Di dalam kelas, suasana mulai ramai. Para siswa sibuk mencari tempat duduk dan saling berkenalan. Justin memilih duduk di dekat jendela, membiarkan pikirannya melayang ke cerita yang baru saja ia dengar.
Namun, sesuatu mengalihkan perhatiannya.
Dari sudut matanya, ia melihat sosok berdiri di depan pintu kelas.
Seorang siswa.
Pakaiannya sama seperti seragam mereka—putih abu-abu—tetapi ada sesuatu yang tidak beres. Bajunya kusut dan lusuh, wajahnya pucat pasi, dan mata hitamnya tampak kosong.
Justin menoleh, berharap itu hanya imajinasinya. Tapi ketika ia kembali menatap ke pintu... sosok itu sudah hilang.
—
Jam istirahat, Justin, Raka, dan Siska berkumpul di kantin.
"Kalian pernah dengar tentang siswa yang hilang itu?" Justin akhirnya bertanya.
Siska mengangguk. "Namanya Andi. Katanya dia menghilang di sekolah ini sekitar lima tahun lalu. Hari itu dia datang ke sekolah seperti biasa, tapi setelah jam pelajaran selesai, dia gak pernah keluar dari gedung ini."
"Waktu dicari, gak ada yang nemuin dia?" Raka bertanya dengan nada skeptis.
Siska menggeleng. "Gak ada. Cuma ada tas dan bukunya di mejanya, tapi dia sendiri gak ada."
Justin merasakan bulu kuduknya meremang. "Ada yang pernah lihat dia setelah itu?"
Siska tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Katanya ada beberapa siswa yang pernah melihat sosok mirip Andi di sekitar sekolah... tapi gak ada yang berani ngomong langsung ke guru-guru."
Raka terkekeh. "Mungkin mereka cuma kebanyakan nonton film horor."
Justin ingin ikut tertawa, tapi ia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa hal seperti ini bukan sekadar cerita.
Karena tadi pagi, ia merasa sudah melihat Andi.
—
Malam harinya, Justin tak bisa tidur. Ia terus memikirkan sosok yang ia lihat di pintu kelas. Apakah itu benar-benar Andi? Atau hanya pikirannya yang terlalu banyak membaca cerita seram?
Tiba-tiba, lampu kamarnya berkedip.
Justin menegang. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi kemudian terdengar suara berbisik di telinganya.
"Tolong aku..."
Justin membeku.
Suara itu dingin dan serak, seperti berasal dari seseorang yang sudah lama tidak berbicara.
Dengan tangan gemetar, ia menoleh ke sudut kamar.
Dan di sana, berdiri sosok yang sama dengan yang ia lihat di sekolah.
Mata hitamnya kosong, tetapi mulutnya perlahan bergerak, mengulang kata yang sama.
"Tolong aku..."
—
Keesokan harinya, Justin tiba di sekolah dengan wajah lelah. Ia tidak bisa tidur semalaman setelah kejadian di kamarnya.
"Lo kenapa? Kayak zombie," ujar Raka sambil duduk di sampingnya.
Justin ragu sejenak, lalu berbisik, "Gue ngelihat dia lagi."
Raka mengernyit. "Siapa?"
"Andi."
Raka dan Siska saling berpandangan. "Lo yakin itu dia?" tanya Siska pelan.
Justin mengangguk. "Dia bilang... 'tolong aku'."
Suasana di antara mereka mendadak tegang.
Setelah beberapa saat, Siska menarik napas dalam-dalam. "Kalau gitu, kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu."
Raka menelan ludah. "Dan kalau memang ada sesuatu yang menahan dia di sini... kita harus bantu dia pergi."
Justin mengangguk. Ia tak bisa terus menghindari ini.
Mata ketiganya telah melihat kebenaran, dan kini, ia harus mencari cara untuk mengungkap misteri yang tersembunyi di SMA Bhakti Nusa.