
Misteri Dusun Merbau
꯱ׁׅ֒ᨵׁׅυׁׅᥣׁׅ֪|Tamat
- Jumlah kata
- 43.7K
- Popular
- 221
- Subscribe
- 22
- Jumlah kata
- 43.7K
- Popular
- 221
- Subscribe
- 22
Sinopsis
Pengalaman menegangkan dari seorang mahasiswi bernama Alisha Azzahra, saat mengikuti kegiatan KKN di Dusun Jati, yang merupakan dusun terpencil. Alisha, dan teman-teman satu kelompoknya, selalu mendapat gangguan dari makhluk-makhluk astral di tempat singgah mereka selama melakukan kegiatan KKN. Namun, setelah diusut, ternyata makhluk-makhluk astral tersebut, datang dari Dusun Merbau, yang letaknya di seberang Dusun Jati. Lantas, apakah Alisha, dan teman-teman kelompoknya, akan bertahan di sana demi menyelesaikan kegiatan KKN mereka, atau justru mereka memilih pulang, karena takut, dan tidak tahan jika harus berlama-lama tinggal di sana dengan gangguan serta teror dari makhluk-makhluk astral tersebut?
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:34
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
Bab 1
Alisha telah bersiap, karena pagi ini, dia akan berangkat KKN bersama teman-teman kelompoknya.
KKN atau Kuliah Kerja Nyata, merupakan kegiatan yang memang difokuskan agar mahasiswa bisa memberi kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. KKN bukan hanya sekadar tugas akademis, tetapi juga merupakan wadah untuk mengembangkan rasa tanggung jawab sosial mahasiswa. Selain itu, KKN juga salah satu syarat wajib untuk kelulusan bagi para mahasiswa Strata-1.
Dalam satu kelompok Alisha, ada dua belas orang, yaitu Zia, Zidan, Namira, Alya dan Alisha sendiri. Mereka adalah teman satu fakultas Alisha. Sementara, teman dari fakultas lain, ada Aryan, Vanya, Wina, Evan, Rafli, Dimas, dan Rama.
Beberapa dari mereka, sudah berkumpul di halaman kampus menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka ke tempat KKN. Semua akomodasi, telah disiapkan dari kampus. Tidak hanya mereka, tetapi ada beberapa kelompok lain yang memang akan berangkat KKN pada hari ini juga.
“Kamu hati-hati ya, selama di sana,” ucap Reynand pada Alisha, penuh perhatian. Mereka juga sedang menunggu teman yang lain datang.
Reynand sudah sejak subuh tadi, datang ke indekos, dan memaksa ingin mengantar Alisha ke kampus, karena hari ini, Reynand sedang libur.
“Iya, Rey. Doain aja, semoga semuanya lancar,” jawab Alisha, dan Reynand hanya mengangguk kecil, dengan tatapan yang penuh arti menatap Alisha.
Sejak sampai di kampus tadi, Reynand terlihat sering memperhatikan Alisha. Terlebih, saat Alisha sedang mengobrol dengan temannya, pria itu diam-diam mencuri pandang ke Alisha. Ada rasa khawatir dalam hati Reynand, dan kekhawatirannya memang beralasan.
Alisha sendiri juga sudah merasakan perasaan yang tidak nyaman, setelah dirinya mendengar lokasi yang akan dia serta teman-teman sekelompoknya kunjungi untuk melakukan kegiatan KKN.
Alisha telah membayangkan, bagaimana keadaan lokasi di sana dari cerita yang disampaikan oleh salah satu dosen pembimbingnya. Namun, Alisha segera menepis pikiran-pikiran buruknya, dan berusaha tetap berpikir positif.
Alisha merasa, jika sikap Reynand semakin posesif akhir-akhir ini. Bahkan, pria itu sudah lebih dulu mencari tahu, bagaimana keadaan lokasi di sana, semenjak Alisha akan berangkat KKN hari ini.
Reynand juga memberi tahu keadaan lokasi di sana beberapa hari yang lalu. “Di sana banyak hutan, kamu harus selalu hati-hati, dan jangan pernah pergi sendirian!”
Alisha tidak begitu cemas dengan yang namanya manusia, tetapi dia cemas, karena adanya makhluk tak kasat mata. Namun, semenjak bersama Reynand, Alisha mulai bisa merasa lebih tenang, dan bisa mengendalikan rasa ketakutannya. Itu, karena Reynand selalu ada di dekatnya.
Akan tetapi, kini mereka berdua harus terpisah bermil-mil jauhnya, untuk beberapa waktu. Sebenarnya, hubungan antara Alisha dengan Reynand, saat ini masih tahap pendekatan. Namun, sudah menjadi kebiasaan Reynand yang sering mengantar jemput Alisha, di saat pria itu sedang libur, atau saat ada kesempatan.
Bahkan, Alisha selalu berpikir, apakah pantas hubungan mereka yang seperti ini hanya sebatas teman saja, dengan segala perhatian yang selalu Reynand berikan kepada Alisha?
Entahlah, Alisha tidak mengerti, dan saat ini, dia masih tidak ingin memikirkan tentang hubungan yang tidak jelas ini.
“Eh, itu mereka datang. Yuk, kita ke sana!” ajak Alisha pada teman yang berdiri di sampingnya, kemudian menghampiri teman-temannya yang baru datang.
Reynand berjalan mengikuti Alisha dari belakang, dengan membawakan koper milik gadis itu.
“Wah, makin lengket aja nih Romi and Juli,” sindir Zia yang baru datang, sambil melirik ke arah Alisha, dan Reynand.
Tanpa aba-aba, Alisha pun langsung menjitak Zia, yang memang hobi menggodanya hingga Zia mengaduh kesakitan. “Aduh, aww! Sakit ... Anjir!”
“Rasain!” sahut Alisha tak peduli.
“Libur lo, Rey?” tanya Alya sambil meneguk susu kemasan kaleng yang dibawanya.
“Iya, Al. Libur sehari. Tapi, kalian malah mau pergi KKN,” jawab Reynand, dengan ekspresi wajah pasrah, yang seolah tidak rela jika mereka pergi, atau ... Alisha pergi?
“Bentar-bentar! Otak gue tiba-tiba nge-lag nih. Nggak tau maksud ucapan lo barusan.”
“Iya, Alya. Libur sehari. Tapi, malah Icha mau pergi KKN! Gitu maksud Reynand, Alyaaa!” sahut Zidan yang menyela obrolan mereka, dan langsung terkekeh, disusul dengan tawa dari teman-temannya yang lain.
Zidan, dan Zia, memang pasangan kompak yang suka jahil terhadap hubungan Alisha, dan Reynand, yang masih belum jelas di mana pun mereka berada.
“Sialan lo!” umpat Reynand yang langsung merangkul leher Zidan, dan mengapit kepala laki-laki itu dengan lengannya, karena merasa malu oleh celotehan Zidan.
Alisha hanya geleng-geleng saja melihat tingkah laku mereka berdua. “Yang lain masih belum dateng ya?” tanyanya pada Namira, yang sedang melihat papan pengumuman peserta KKN.
“Tau tuh. Bentar lagi mungkin dateng, Cha,” jawab Namira ngasal tanpa mengalihkan tatapannya dari papan pengumuman di depannya, kemudian memanggil Alisha. “Eh, Cha. Liat deh!”
“Apaan?” Alisha seketika menoleh, menatap pada Namira.
“Penggemar berat lo ngikut kelompok kita,” jawab Namira, sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah sebuah nama yang sangat familiar.
“Siapa sih?” Alisha mendekati Namira dengan penasaran, karena merasa tidak memiliki penggemar.
“Rama Handika, anak hukum itu.”
Belum sempat membaca nama yang ditunjuk oleh Namira, tetapi temannya itu sudah menyebutkan nama tersebut.
'Oh, sial!' batin Alisha, sambil menatap nama Rama Handika pada papan pengumuman itu.
“Uhuk-uhuk!” Tiba-tiba, Reynand tersedak air mineral pemberian Alya, sedangkan Aliya malah terkekeh geli, sambil menepuk-nepuk punggung Reynand.
“Makanya, pelan-pelan kalau minum, Rey.”
“Napa lo, Rey? Cieee ... Cemburu yeee?” ledek Zia, yang selalu mengapit lengan Zidan, kekasihnya.
"Apaan sih lo? Tenggorokan gue lagi sakit,” kilah Reynand sebagai alasan, dan tentu saja tidak ada yang percaya dengannya.
“Tenggorokan, apa hati lo yang sakit?” ledek Zidan, disusul dengan tawanya yang langsung meledak, kemudian berlari menjauh dari jangkauan Reynand, yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Zidan hanya takut dicekik lagi oleh Reynand.
“Lo tenang aja, Rey. Icha tuh, nggak suka sama Rama kok. Ntar, selama di sana, gue bakal jagain Icha terus deh, biar Rama nggak deket-deket Icha,” sahut Namira, yang tumben sekali membela Reynand.
Reynand hanya diam, dan kembali meneguk air mineralnya sampai habis.
“Setelah ini, kamu mau ke mana?” tanya Alisha pada Reynand.
“Balik kos aja deh,” jawab Reynand datar.
“Nggak balik ke rumah mama, sama papa kamu aja?” tanya Alisha lagi.
“Nggak. Lagi males ke mana-mana,” jawab Reynand dengan wajah masam.
“Oh, gitu. Ya udah, nanti kamu jangan telat makan, dan jangan tidur kemaleman,” nasehat Alisha, yang memang sudah hafal bagaimana kebiasaan Reynand.
Reynand memang sering telat makan jika tidak diingatkan, dan juga suka begadang tiap malam, hanya untuk bermain game yang membuatnya lupa waktu.
Raut wajah Reynand yang semula masam, karena kesal saat mengetahui laki-laki, yang katanya penggemar berat Alisha itu satu kelompok dengan Alisha, kini mulai berubah menjadi senang setelah mendengar nasehat dari Alisha. Namun, Reynand tidak memperlihatkan rasa senangnya. “Makasih ya,” ucapnya menahan senyuman.
“Oh iya, hampir aja lupa. Kamu pakai ini ya. Ini aku dapet dari mama sepulang umroh minggu lalu.” Reynand memberikan sebuah kalung perak, berliontin Asma Allah kepada Alisha.
“Loh, kenapa dikasih ke aku?” tanya Alisha dengan bingung meski, tidak menolak, dan menunduk menatap kalung itu yang sudah berada di tangannya.
“Kamu lebih butuh. Semoga, kalung ini selalu bisa jagain kamu selama di sana, karena aku nggak bisa dateng setiap saat buat nengokin kamu di sana,” terang Reynand yang seketika membuat jantung Alisha berdegup kencang.
"Sini, biar aku pakaikan,” ucap Reynand lagi, seraya mengambil kalung tersebut dari tangan Alisha, dan memakaikannya di leher gadis itu, sehingga membuat jantung Alisha semakin berdetak cepat, dan hampir melompat keluar dari sarangnya.
“Makasih ya,” ucap Alisha sambil tersenyum, berusaha menahan rasa senangnya yang hampir melompat kegirangan.
'Astaga, Rey! Kenapa sih, kamu selalu bikin aku baper gini?' batin Alisha.
Tak lama, peserta KKN yang lain pun mulai berdatangan.
“Udah komplit nih pesertanya. Yuk, kita berangkat sekarang aja!” seru Rafli yang memberi komando.
Semua peserta KKN pun berjalan menuju bus, dan satu per satu masuk ke bus tersebut.
Alisha menghentikan langkahnya, dan menoleh menatap pada Reynand. “Aku berangkat dulu ya,” pamitnya, kemudian segera masuk ke bus. Namun, sebelum dia naik, tangannya diraih oleh Reynand, membuat Alisha kembali menoleh, dan menatapnya.
“Kamu hati-hati di sana ya! Kalau sempat, aku pasti datang ke sana,” ucap Reynand, sambil menggenggam tangan Alisha yang sudah hampir naik ke bus.
“Iya, Rey. Ya udah, sampai ketemu lagi. Bye!" Alisha segera masuk ke bus, dan memilih kursi di dekat jendela, tepat di samping Reynand yang sedang berdiri terus memperhatikan dirinya.
'Belum pergi aja gue udah ngerasa kangen. Eh, kenapa sih gue ini? Kok kangen sih? Sial!' batin Reynand.
Zidan yang masih berada di luar bus, dia mendekati Reynand. “Itu tuh, yang namanya Rama Handika, saingan lo!” ucapnya sedikit berbisik, sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang berjalan ke arah bus, dengan tas ransel di punggungnya.
Reynand pun menatap pada Rama dengan tatapan tajam.
Alisha yang sudah duduk di dalam bus, dia hanya memperhatikan Reynand sambil tersenyum geli, karena merasa lucu dengan reaksi pria itu, yang ternyata mudah terpengaruh dengan kejahilan teman-temannya yang hobi menggodanya.
“Titip Alisha ya, Dan!” ucap Reynand, saat Zidan masuk ke bus.
“Siap, Komandan!” seru Zidan dengan hormat.
Semua peserta KKN telah masuk ke bus medium, yang berisikan sekitar 25 sampai 30 seat saja.
“Daaah, Reynand!” teriak teman-teman perempuan Alisha, yang duduk satu deretan dengannya, saat bus tersebut mulai berjalan.
Reynand melambaikan tangan pada mereka, dan tersenyum pada Alisha. “Jangan lupa kabarin aku, Cha!” teriak pria itu, dan Alisha hanya mengangguk, sambil tersenyum dengan menunjukkan jempolnya kepada Reynand.
Bus berjalan keluar dari halaman kampus, dan semakin menjauh, membuat Reynand juga semakin tidak terlihat lagi.
“Cha, kenapa kalian nggak jadian aja sih?” tanya Alya, yang duduk di samping Alisha.
“Lah, dia-nya aja nggak nembak, gimana mau jadian?”
Bagi Alisha, atau bahkan mungkin kebanyakan orang, suatu hubungan memang harus didasari dengan sebuah komitmen, seperti mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang disayanginya, atau sering sekali disebut dengan istilah 'nembak'.
Istilah tersebut, masih menjadi tradisi jika seseorang dikatakan sebagai kekasih orang tersebut.
“Padahal, udah keliatan banget kalo Reynand suka sama lo,” ucap Alya lagi.
“Tapi, 'kan dia belum bilang apa pun ke gue, Al. Masa iya, harus gue yang nembak? Ogah banget!” Alisha kemudian mengeluarkan ponselnya, dan memasang earphone. Dia pun mulai mendengarkan musik.
......
Daftar bab
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








