
Putra Langit Tertinggi
Rivanscapenovel|Bersambung
- Jumlah kata
- 27.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 195
- Jumlah kata
- 27.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 195
Sinopsis
"Aku akan mengubah segalanya! Ketidak adilan ini harus segera dimusnahkan!" Cakra Bintang, dia hidup berdua dengan Ibunya di atas bukit. Ketika dia turun dari bukit, dia hanya mendapatkan ejekan dari banyak orang, apalagi dari anak-anak bangsawan di daerahnya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa Cakra Bintang memiliki bakat beladiri melebihi siapapun, bahkan putra-putra mahkota dari berbagai kerajaan tidak ada yang sebanding dengannya. Dengan pedang di tangannya, Cakra Bintang menumpas kejahatan, menaklukkan berbagai kerajaan di daratan, bahkan dia mampu melenyapkan Dewa dan Iblis yang berbuat sesukanya terhadap manusia. "Tidak ada yang bisa menghentikanku! Semua yang berani menghalangiku untuk menciptakan kedamaian di muka bumi, aku tidak akan segan membunuhnya! Ingat, namaku Cakra Bintang!"
Ulasan
1 ulasan
Ershita
26/2/25 08:39
Seru cerita Fanlok... Semoga bisa mengangkat khasanah Nusantara yg lebih berwarna tanpa menghilangkan nilai² kearifan lokalnya....
PILIHAN
JANGAN SENTUH!
Di daratan Nusantara bagian barat, terdapat kerajaan yang tak terhitung jumlahnya.
Namun, di antara sekian banyak kerajaan, hanya segelintir yang benar-benar berkuasa. Daratan ini dikenal sebagai tanah Pasundan.
Di sini, yang kuat menelan yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Namun, dari tanah yang penuh pertikaian inilah, seorang pahlawan yang menyelamatkan dunia—dilahirkan.
____
Di sebuah desa yang berada di bawah kekuasaan kerajaan kecil, hiduplah seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun. Pakaiannya lusuh melekat pada dirinya.
Saat ini, dia tengah dikeroyok oleh sekelompok anak bangsawan seusianya. Tawa mereka terdengar mengejek.
"Woy, gembel! Sudah kubilang, tempat ini bukan untuk orang sepertimu! Kenapa masih berani datang ke sini, hah?" seru seseorang yang terlihat seperti pemimpin dalam kelompoknya. Matanya tajam dan terlihat sangat sombong.
“Ini tempat umum, bukan tempat kalian. Jadi siapapun bisa datang ke tempat ini tanpa harus menunggu persetujuan kalian,” jawab anak kecil itu, dia adalah Cakra Bintang.
Anak bangsawan yang memimpin kelompok itu mendengus marah. Wajahnya memerah, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh bocah miskin di hadapannya.
“Bajingan, semenjak kapan gembel sepertimu sudah berani menentangku?”
“Durya, mengapa harus banyak omong kosong pada gembel seperti dia? Serang saja, dan buat dia menyesal seumur hidup!” seru salah satu anak bangsawan di tempat itu.
Durya menyeringai, matanya berkilat dengan kesombongan. “Benar, mengapa aku harus banyak basa-basi. Lumpuhkan dia!”
“Hahaha, itu yang ingin aku dengar dari mulutmu Durya.” teman-temannya menyemangati Durya.
Durya, anak seorang Adipati kerajaan, selalu diperlakukan dengan penuh hormat oleh teman-temannya. Baginya, berbuat semena-mena pada rakyat jelata adalah hal yang wajar.
Setelah mendapat perintah Durya, lima orang anak kecil berusia sepuluh tahun menyerang Cakra Bintang.
Mereka mengambil batu, kemudian melemparkannya ke arah Cakra Bintang.
Slap—
Namun, kali ini Cakra Bintang tidak tinggal diam. Jika biasanya dia hanya diam menerima perlakuan mereka, kini semuanya berbeda. Tepat sebelum batu itu mengenainya, tangannya bergerak cepat, menangkapnya dengan mudah.
WHOOSSHH!!!
TAK TAK TAK TAK!!!
Batu yang dilemparkan Cakra Bintang langsung menghantam empat batu lainnya, sehingga batu-batu itu hancur.
“Bagaimana mungkin? Dia hanya seorang gembel, mengapa dia bisa menangkap lemparanku dan menghancurkan empat batu lainnya?”
“Itu pasti kebetulan, kita hantam saja tubuhnya dengan balok kayu!”
Lima anak itu langsung mengambil balok kayu, kemudian mereka kembali menyerang Cakra Bintang.
Anak-anak itu sangat agresif, mereka langsung memukul kepala Cakra Bintang dengan balok kayu.
Saat balok kayu akan sampai, Cakra Bintang menangkap balok itu dengan mudah, kemudian meremasnya.
BAANG!!!
Balok itu seketika hancur menjadi serpihan, membuat kelima anak itu mundur dengan wajah yang takut.
Cakra Bintang berdiri tegak, menatap mereka dengan dingin. “Aku sarankan kalian segera pergi, ibuku tidak bisa menungguku lebih lama lagi. Jika kalian masih membuat masalah denganku, jangan salahkan aku jika berbuat kejam pada kalian.”
Mereka saling berpandangan, ragu-ragu. Ketakutan mulai merayapi mereka, membuat mereka ingin kabur dari tempat itu. Namun, berbeda dengan yang lain, Durya masih tetap diam di belakang. Matanya menyipit, menatap Cakra dengan penuh perhitungan. Harga dirinya benar-benar dipertaruhkan saat ini.
“Gembel, sepertinya kamu sudah belajar cara mengalirkan tenaga dalam, hingga kamu berani bertingkah di hadapanku. Sekarang, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara menggunakan tenaga dalam yang sesungguhnya!”
Durya langsung berlari ke arah Cakra Bintang. Saat dia bergerak, tubuhnya diselimuti uap kuning yang berputar seperti kabut hidup. Itu bukan sekadar uap biasa, melainkan energi tenaga dalam yang membuat dia bisa berlari lebih cepat daripada manusia pada umumnya.
“Hmm, pendekar kelas satu, ya.” Cakra Bintang mendengus dingin.
Saat Durya menggambar tangannya menjadi sebuah pukulan, terlihat banyak gambar kepalan tangan yang melesat ke arah Cakra Bintang.
WHOOSSHH!!!
Kepalan tangan itu membombardir Cakra Bintang, tapi meskipun kepalan tangan itu berjumlah banyak dan memiliki kecepatan tinggi, Cakra Bintang bisa menghindarinya dengan mudah.
Tubuhnya berkelok-kelok dengan indah, menghindari setiap kepalan tangan yang datang.
Cakra Bintang melesat ke arah Durya, kecepatan anak itu jauh melampaui Durya, sehingga Durya tidak bisa melihat pergerakannya dengan jelas.
BAANG!!!
“EAAHH…”
Durya tiba-tiba berteriak histeris, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tinju Cakra Bintang sudah mendarat dengan sempurna di bagian perutnya.
Seketika anak itu ambruk di tanah. Durya tidak ingin menyerah, dia mencoba mengangkat kepalanya untuk menatap Cakra Bintang.
“Kamu berani melakukan ini terhadapku?! Apakah kamu tidak tahu siapa aku?” tanya Durya menggigil penuh kemarahan.
Dia adalah anak Adipati Kerajaan Lumijih, kemanapun ia pergi, orang-orang akan menghormatinya, memujinya setinggi langit.
Namun, saat ini ia harus terkapar di atas tanah oleh seorang bocah gembel seperti Cakra Bintang.
Melihat tatapan Durya yang penuh nafsu pembunuh, Cakra Bintang tidak peduli, dia langsung pergi meninggalkan mereka.
“Aku harus bergegas, Ibu tidak boleh menunggu lebih lama lagi,” gumam Cakra Bintang dalam hatinya.
**
“Durya, kami…”
Kelima anak yang mengeroyok Cakra Bintang tadi menundukkan kepalanya, mereka tidak berani lagi melawan anak itu setelah mengetahui Cakra Bintang bisa menggunakan tenaga dalam.
“Sampah!” bentak Durya. “Segera panggil pelayanku. Aku tidak akan melepaskan gembel itu dengan mudah!”
“Baik.”
Dua orang bergegas pergi, sedangkan tiga orang lainnya mengangkat Durya, kemudian membawanya ke tempat lain.
**
Cakra Bintang mulai memasuki pasar, dia membeli banyak tanaman yang mengandung khasiat tertentu.
Awalnya, para penjaga toko ragu untuk menjualnya, melihat pakaian Cakra Bintang yang terlihat sangat lusuh, persis seperti seorang gembel. Tapi setelah Cakra Bintang mengeluarkan uang, pada akhirnya mereka memberikan barang yang dia minta.
Saat sudah mendapatkan apa yang dibutuhkan Ibunya, Cakra Bintang langsung pulang.
Rumahnya cukup jauh dari pasar, karena dia tinggal di atas bukit hanya bersama sang Ibu.
Namun, saat dia baru saja tiba di pinggiran bukit, anak itu melihat ada dua orang lelaki dewasa yang menghentikannya.
“Bocah, akhirnya kamu kembali. Kami sudah menunggumu sejak lama di sini,” ucap salah satu dari mereka.
Cakra Bintang mengerutkan kening, karena dia merasakan aura kedua orang dewasa itu sudah menjadi pendekar kelas empat.
“Jangan basa-basi, bunuh gembel itu!”
Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari jauh. Cakra Bintang mengenali suara itu, dia adalah Durya.
“Tuan muda tenang saja, bocah ini tidak lebih dari semut di hadapan kita!”
Salah satu orang dewasa itu langsung menyerang, dia melompat menggunakan kakinya untuk menendang kepala Cakra Bintang.
Cakra Bintang sedikit mengelak. Kemudian, dia memfokuskan tenaga dalamnya di telapak kakinya.
“Aku harus pergi, aku belum bisa bersaing dengan pendekar kelas empat,” batin Cakra Bintang.
Sayang, niatnya terbaca oleh lawan. Saat dia akan melarikan diri, salah seorang lainnya sudah berada di belakangnya. Ketika Cakra Bintang membalikkan tubuhnya, ayunan kaki yang sangat keras menghantam pinggangnya.
CRAAKKK!!!
Suara retakan tulang terdengar mengikuti Cakra Bintang yang jatuh tersungkur.
Bahan-bahan obat yang ia beli berserakan di tanah. Melihat itu, kedua pria dewasa itu menjadi bersemangat.
“Hahaha, kita benar-benar beruntung. Siapa sangka bocah gembel sepertinya memiliki banyak tanaman obat.”
Kedua orang itu melangkah, saat mereka akan mengambil tanaman obat, Cakra Bintang berteriak dengan keras.
“Hentikan! Jangan sentuh bahan obat milikku!”
BAANG!!!
Namun, baru saja dia selesai bicara, Cakra Bintang ditendang dengan keras, membuat dia terlempar beberapa meter.
Kerusakan tulangnya bertambah parah, tapi Cakra Bintang tidak merasakan sakit sama sekali. Rasa sakit itu terlupakan oleh kemarahan yang membara.
Saat amarahnya meledak, tanpa Cakra Bintang sadari, ada sesuatu yang bersinar dari dalam tubuhnya.
Sinar itu memberikan kekuatan pada Cakra Bintang, dan luka pada tulangnya seketika disembuhkan dalam sekejap mata.
“Berani menyentuhnya, berarti kalian sudah siap kehilangan nyawa kalian!”
Mendengar ucapan itu, kedua pria dewasa itu langsung menghentikan langkahnya. Awalnya, mereka mendengus dingin, tapi saat mereka membalikkan badannya, mereka langsung diam membeku. Mereka terkejut karena merasakan aura Cakra Bintang.
“Tidak mungkin. Bagaimana bisa auranya menjadi sangat kuat?”
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








