Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pengawal Putri Presiden

Pengawal Putri Presiden

Lee Seulbi | Bersambung
Jumlah kata
51.3K
Popular
118
Subscribe
44
Novel / Pengawal Putri Presiden
Pengawal Putri Presiden

Pengawal Putri Presiden

Lee Seulbi| Bersambung
Jumlah Kata
51.3K
Popular
118
Subscribe
44
Sinopsis
PerkotaanAksiPengawalIdentitas TersembunyiBalas Dendam
Setelah berhasil kabur dari jerat hukum karena tuduhan membunuh rekan sesama prajurit di negara asalnya, Jeffrey Lee menjalani kehidupan baru sebagai Gun Arjuna si pelukis di Inasia, rangkap sebagai kurir malam yang menerima pekerjaan gelap. Satu waktu, dia terpanggil menjadi pengawal putri Kim Suseno--sang presiden, karena 'tak sengaja menunjukkan bakat tarung saat penyerbuan rumah oleh sekelompok penjahat. Dari sanalah, kiprahnya sebagai keparat gila bermula, mengacau kesenjangan, menabrak semua aturan.
Chapter - 1

Jeffrey Lee melengak tersentak. Derap rusuh kaki mendekat membuatnya impulsif menjauhkan diri dari tubuh yang tergeletak nahas di hadapannya.

Dua orang berseragam army tiba dengan raut terkejut di wajah mereka.

“Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak salah satunya saat yang lain merendahkan tubuh, berjongkok untuk memeriksa onggok di bawah kaki mereka. Setelah menekan nadi tangan dan leher, sebuah kabar didapat; “Dia mati.”

Kejutan sekali lagi, dan tatapan keduanya otomatis menghukum Jeffrey.

“Bukan! Bukan aku!" Jeffrey menyangkal. “Aku tidak mungkin membunuhnya! Tidak ada alasan!”

Namun raut-raut itu sama sekali tidak mengandung kepercayaan. Semua patah karena bukti yang terlalu valid.

“Pisau itu ada di tanganmu, Keparat!”

Sontak Jeffrey mengangkat naik tangan kanannya, lalu melebarkan mata. Sialnya, benda itu tergenggam dengan lumuran darah yang masih basah, terang mereka akan memberi pandangan skeptis.

“Tidak!” Dia menggeleng seraya melemparkan pisau di tangan. “Aku hanya mencabutnya dari perut Dicky,” akunya resah. “Sungguh, aku benar-benar menemukannya sudah dalam keadaan seperti itu.”

“Dan kami menemukanmu sebagai orang terakhir!”

“Dicky bahkan masih hidup sepuluh menit lalu! Aku bersamanya menemani Loise di tenda dapur dan kami masih tertawa-tawa!”

“Benar! Dia pergi hanya untuk buang air kecil! Dan sekarang kami menemukannya dalam keadaan mati ... bersamamu!”

“Bukankah tidak masuk akal jika orang lain yang melakukannya di waktu sesingkat itu?!”

“Kau orang yang kami dapati di akhir hidupnya dengan pisau sialan yang penuh darah!”

Jeffrey bergeming, dua orang itu terus mencecarnya tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan. Namun demi tak mempertahankan apa yang benar, dia tetap harus menyangkal, “Tidak! Kubilang ... bukan aku!”

“Jika benar-benar bukan kau ... buktikan sebisamu! Selamatkan dirimu dari jeratan hukum!”

Pasang mata Jeffrey melebar, kata-kata itu berhasil membuatnya tegang.

Jeratan hukum ... itu artinya?

**

Beberapa waktu kemudian ....

“Kau kami tangkap! Jelaskan apa pun yang kau tahu di ruang interogasi kepolisian!”

Tidak melawan atau berkata lagi, Jeffrey merelakan dirinya digelandang aparat menuju sebuah mobil dengan bunyi sirine nyaring. Kedua tangannya terborgol di depan, ekspresinya sedatar lantai, tidak tertarik lagi untuk bicara.

Semua orang menatapnya dengan ekspresi berlainan.

Yang marah dan melemas, mereka yang sangat menyayangkan kenapa prajurit emas itu harus membunuh.

Yang menatap sinis, tentu dari kubu yang membenci Jeffrey karena kelebihannya.

Yang menatap sedih, adalah para prajurit terdekat Jeffrey. Hubungan yang terbentuk dalam konsep naif yang sederhana; 'pertemanan'.

Jeffrey menyapukan tatapan pada mereka tanpa makna, kemudian menemukan seraut wajah dengan seringai jahat. “Morgan!” pekiknya dalam hati. Melebar matanya menatap pria dengan nama yang baru saja dia sebutkan. Namun kemudian pria itu mundur menjauh lalu menghilang ditelan gelap. “Dia?”

“Masuk!”

Seruan polisi menyentak imajinya dengan sembarang. Tubuhnya didorong kasar masuk ke dalam mobil lalu terbenam di sana tanpa berontak.

“JEEEFFF!” Teriakan teman-temannya di luar seperti melodi yang menghancurkan. Mereka terlihat berlari mendekat lalu frustrasi karena mobil mulai melaju meninggalkan camp prajurit khusus yang sudah mereka tinggali tiga bulan belakangan ini.

“Kurasa kita kehilangan Jeffrey.”

“Tidak! Aku yakin dia bisa bebas! Bukan dia pelakunya!”

“Tentu saja! Prajurit sebaik dan sekeren dia mana mungkin membunuh rekan sendiri.”

“Semoga dia bisa kembali dan terlepas dari hukuman.”

....

Dalam duduk diamnya di dalam mobil, Jeff merunduk menatap borgol besi yang menjerat dua pergelangan tangannya.

“Benarkah aku akan berakhir seperti ini saja?” Suara hatinya mencuat ke kepala lalu memikirkannya mendalam. “Aku tidak membunuh Dicky.”

Tapi siapa yang akan percaya dengan bukti sekongkret itu.

Jeffrey mengingat bagian dimana dirinya menemukan Dicky yang sekarat dengan tancapan pisau tepat di perut, di belakang tenda darurat yang sangat sepi.

Saat di penghujung napas, Dicky dengan kesulitan ingin mengatakan sesuatu, namun malaikat maut menariknya lebih cepat sebelum kata terlontar dari mulut lelaki yang terkenal dengan kejahilannya tersebut.

Saat yang sama, bayangan wajah Morgan dengan seringai mengerikan tadi ikut berbaur dalam pikiran. Kening Jeffrey Lee mengerut tebal, memikirkan lagi.

“Mungkinkah dia pembunuhnya?”

Mulai merangkai perangai pria itu di kepalanya.

Sejauh ini Morgan memang selalu menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya.

Salah satunya dari Pulau Stepu. Posisi pasukan khusus di pantai timur pulau itu saat pembebasan budak oleh sekelompok bajak laut, dimandatkan kepemimpinannya pada Jeffrey Lee oleh kepala pasukan mereka sebagai penyerang garis depan. Morgan tak suka itu. Dia merasa dipergunakan hanya sebagai cadangan dengan berposisi di garis ketiga dari belakang.

Dan keberhasilan Jeffrey yang tanpa cela dari misi itu, semakin membuat Morgan meradang kebencian hingga tidak terukur sebesar apa.

Sesingkat itu yang Jeffrey tahu tentang pria yang sama sekali tak pernah dianggapnya musuh.

Untuk saat ini tidak ada jalan memastikan. Hanya dinilai dari seringai yang seolah memperolok, Jeffrey tak bisa mengasumsikan secara yakin jika pria itu adalah pembunuh Dicky yang sebenarnya.

Bisa saja Morgan hanyalah ber-euforia karena dirinya lenyap dari kesatuan--sebatas karena kebenciannya, sementara pembunuh sebenarnya masih berkeliaran tanpa diketahui.

Tak terasa mobil melaju semakin jauh meninggalkan camp yang berada di tepi gurun pasir selatan tempat para para prajurit tinggal dan Dicky mati terbunuh.

Kegelapan menyelimuti area yang dilintas. Pepohonan berjejer tinggi sepanjang jalan yang kadang membuat laju mobil tidak seimbang karena serat jalanan yang bergelombang.

Cahaya yang dihasilkan hanya dari sorotan mata lampu bagian depan mobil.

Dari pikiran yang mulai kusut, tatapan Jeffrey Lee jatuh pada sosok aparat di sampingnya. Nampak tenang dengan pandangan ke depan, sementara pistol masih di tangan.

Curian pandang berikutnya jatuh ke muka, ada pengemudi yang juga berseragam aparat dan satu rekan di kursi sampingnya. Sementara jauh di depan, mobil yang membawa jenazah Dicky percaya diri jadi pemimpin.

“Aku tidak bersalah! Aku tidak ingin menjadi pesakitan dengan mengorbankan diriku sendiri menggantikan pembunuh yang sebenarnya!”

Matanya melirik tajam kiri dan depan, mengamati situasi untuk memulai sebuah tindakan.

“Baiklah!”

GREPP!

Dua kaki prajurit ini menendang kepala petugas di sampingnya dan dengan cepat merebut pistol dari tangannya.

Suasana di dalam mobil mendadak gaduh.

Sampi selang beberapa waktu kemudian .....

Desing peluru tak terhitung jumlah membelah udara menjadi gelombang kejut di keheningan hutan Algasa, menembus kecepatan suara.

“CEPAT TANGKAP DIA!”

“LARINYA KE ARAH SANA!”

Teriakan petugas sahut bersahutan menantang langit.

Jeffrey Lee, dia berhasil kabur.

Saat ini sepasang tungkai kakinya berlari cepat menembus gelap yang dikuasai pepohonan tinggi di dalam hutan.

Tidak ada acara menoleh ke belakang. Terus lari, jangan berhenti sampai mereka tak sanggup mengejar lagi.

Terkabul di menit kelima puluh.

Dia menghentikan larinya. Dengan napas memburu menoleh ke belakang dalam kewaspadaan tinggi.

Sepi!

Tidak ada derap lari kencang banyak kaki seperti tadi, tidak ada desing peluru peringatan yang menjengkelkan. Hanya ada suara burung malam yang memberi kesan sumbang dan sedikit horor.

“Mereka menyerah begitu saja?” Jeff tersenyum kecut. “Pengecut!”

Setelah mencela, langkah kembali diayunnya. Sedikit terseok karena deraan lelah yang menguras banyak tenaga.

“Sial! Alih-alih naik pangkat, aku malah terdampar dan jadi buronan hukum.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca