

“ Wuahh.. ini benar – benar sangat melelahkan! Berapa jauh dan lama lagi untuk sampai di puncak gunung terkutuk ini!!” umpat Rafli.
Rafli adalah salah seorang teman yang juga merupakan panitia dari event tahunan malam keakraban mahasiswa baru yang diadakan organisasi kemahasiswaan kampus. Padahal sebelum ini Rafli sangat antusias dan bersemangat menjadi pemandu malam keakraban (makrab) ini.
Namun setelah mengetahui dan merasakan beratnya medan yang harus dilewati di acara out bond ini, mulutnya terus mencibir mengeluh tak henti – henti.
“Ya.. ya.. ya.. kamu baru pertama kali menaiki gunung batu ini, aku maklum Pli,” jawab seorang lainnya yang biasa memanggil Rafli dengan ‘Pli’.
Tidak enak didengar memang, tapi tidak ada pula panggilan yang lebih baik dari itu. Membuat mulut ingin tertawa terbahak – bahak setiap kali mengucapkan nama itu.
Aku juga panitia makrab ini, tapi tidak jadi pemandu. Hanya manusia tidak penting di sie out bond. “Kamu tahu Pli, ini ketiga kalinya aku juga dengan terpaksa menyeret kakiku ke gunung ini!!” teriaknya tak mau kalah dalam hal mengeluh.
Suaraku membuat kaget belasan mahasiswa baru yang ada di belakang. Aku menahan tawa lagi. “Ups, tapi ada satu alasan mengapa kamu harus sampai di puncak gunung batu ini,” bisikku mengejek Rafli.
“Haaaa? Apaaaa?” kali ini Rafli yang berteriak berlebihan seakan aku sedang mengatakan kalau gunung batu ini adalah gunung tempat kelahiran Kera Sakti si Pertapa Gunung. “Eh apa? Kamu bilang apa Jala?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari Rafli, tiba – tiba dari arah samping datang pemandu lain. Dewi datang. Matilah setiap orang yang suka mengeluh jika berhadapan dengannya. Dialah manusia yang suka update status di Facebook tentang motivasi kehidupan.
Walaupun tulisan – tulisan statusnya itu dicomotnya dari motivator lain yang sudah terkenal. Entah karena apa, si Dewiduri, begitu panggilannya, menendang kaki Rafli dan memukul kepalaku dengan sangat keras.
“What the..? Apa – apaan kamu ini Wi? Eh Dewiduri?” teriakku. Disusul raungan keras dari Rafli.
“Kalian para lelaki yang senang mengeluh dan berteriak – teriak,” katanya sambil membenahi kerudungnya yang sudah tampak lusuh. “Lelaki yang suka mengeluh benar – benar menyedihkan ..”
Tidak oh tidak, silahkan tutup telinga kalian. Sepertinya sudah akan dimulai sesi pemberian nasihat seperti yang sering di lakukannya di beranda facebook – nya.
“Lelaki adalah seorang pemimpin. Karenanya kalian tidak pantas berperilaku ‘manja’ seperti ini! Huh! Dasar Jalana dan Rapli kampret!”
Untunglah sepertinya Dewi sedang tidak ingin mendeklarasikan kata – kata motivasi mutiaranya. Mungkin dirinya sudah terlalu lelah dan tidak bisa mengingat isi time line facebook – nya. Dengan satu hentakan kaki, ia langsung berjalan lagi menyusuri bebatuan terjal yang menjulang di hadapannya.
Diikuti oleh segerombolan mahasiswa baru yang sudah terlihat seperti barisan daging thenderloin yang sudah siap untuk dipanggang lebih lama di oven alami ini dan disajikan di hot plate dari batu bertabur keluhan, umpatan, desahan kelelahan dan cibiran dari mulut – mulut junior itu.
“Ini bukan makrab namanya, tapi macrab (malam crab – malam kepiting),” seru salah satu mahasiswa baru.
Tentu saja, wajah mereka sudah bertransformasi warna seperti bunglon yang terkurung di dalam lampu merah perempatan jalan. Wajah belasan mahasiswa itu sudah berwarna merah – ungu – hitan menahan panas yang tak bersahabat.
“Malam kesengsaraan,” seru yang lain.
“Malam Kesialan Berjamaah Berbarengan!!”
Suara tawa yang meledak seperti bom waktu terdengar di sana. Berirama menjadi paduan suara koor yang mengusik telinga para senior.
Aku dan Rafli yang sebenarnya cukup tersinggung dijuluki ‘lelaki manja’ oleh Dewi, ditambah dengan kicauan mahasiswa baru yang sok – sok an ini yang telah membuat telinga kami berdua panas sepanas pantat wajan tukang mie goreng pinggir jalan, langsung berjalan serampangan membaur di gerombolan mereka. Para junior itu pun lansung terdiam dan memunculkan wajah imut dan polos yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa baru sebagai pencitraan.
“Teruskan dek!!!” teriak Rafli. “Bagus, terusin!!!” tambahnya dengan nada membentak. Hebat sekali si Rafli bisa teriak sekaligus membentak, biasanya membentak ketika bisikannya untuk mencontek di waktu ujian tengah semester tidak aku ladeni. Ujian? Nyontek sambil membentak? Kelas macam apa yang di huni kami ini coba?
“Apa kalian mau makrab diperpanjang jadi satu minggu?” kataku melanjutkan. “Setiap habis subuh dan habis ashar selama enam hari ke depan kalian harus menaiki gunung batu ini? Ha? Mau?”
Semua terdiam, kecuali beberapa mahasiswa lelaki yang tak acuh dan malah sok – sok an tidak terhasut dengan kata – kataku. Dewi kembali menengahi sebelum semua bertambah kacau karena jika sedang bad mood aku biasa melakukan hal gila dan tidak terduga, mulut ini bisa menganga lebar – lebar dan melahap semua yang ada di sini, bahkan gunung batu ini bisa aku telan.
“Kita sama – sama capek dek, kalau ada yang sakit ngomomg saja, petugas P3K juga sudah siap, yang gak kuat stay di sini, istirahat sebentar terus turun gak usah ngelanjutin sampai atas,” kata Dewi tegas.
Semua langsung diam. Tak terkecuali aku dan Rafli. Sebenarnya aku tidak sungguh – sungguh marah. Semua orang juga tahu lah ini hanya gertakan kosong. Gertakan yang tidak ada bedanya ketika Pemandu Kedisiplinan OSPEK sedang teriak marah – marah tak jelas dengan raut muka seram menunjukkan kebolehannya dari hasil latihan dengan ilmu menekuk wajah dan memanyunkan bibir.
Rafli dan Dewi beserta rombongan mahasiswa makrab melangkah maju melewatiku. Meninggalkan diri ini tertinggal di barisan belakang. Memang bukan kewajibanku untuk selalu ikut menempel di barisan ulat keket mereka. Aku bebas untuk ikut ke dalam rombongan mana saja karena bukan pemandu wajib.
Ujung mata ini menyipit, barisan terkahir rombongan menghilang di balik pohon besar yang menutupi jalan setapak di depan. Aku berdiri sendirian sambil menghela napas pelan. Kakiku lunglai, sudah gemetar rasanya sejak terakhir kalinya aku menapaki jalan setapak gunung batu ini. Sembari menunggu rombongan selanjutnya datang melewatiku, mata ini memantau kanan kiri jalan.
Sekeliling hanya ada semak belukar diselingi batu batu khas gunung karst. Selang beberapa meter dari tempatku berdiri, pohon pohon menjulang tinggi merapatkan batang tubuhnya. Semakin jauh, tidak teralihat apa yang ada dibalik sana.
Matahari yang tadi menyengat, mulai menguraikan panasnya menjadi bayang bayang abu. Semilir angin menerpa tubuh yang berkeringat. Kepalaku menengok kebelakang, berharap rombongan makrab selanjutnya segera datang, karena entah mengapa kesunyian ini terasa sangat mencekam.
Tanah becek di bawah sepatu seakan menyedot membuatku mematung. Bulu kudu meremang berdiri seolah paham ada hal yang tidak aku sukai terjadi di tempat ini.
Kanopi pepohongan menari pelan layaknya komidi putar di pasar malam, menghipnotis mataku. Awan di langit bergerak cepat digantikan awan kelabu mendung yang berhembus cepat terburu buru seperti dikejar waktu. Hembusan angin melewati semak belukar berputar mengelilingi badanku, menahan agar tidak kemana mana. Tas ransel yang aku gendong semakin membuatku terpaku. Tubuh ini terkunci.
Keringat mengucur deras di dahiku, menetes ke pelipis mata. Kabut datang tanpa permisi semakin mempersempit jarak pandangku. Bibir ini ingin berteriak memanggil nama Rafli dan Dewi atau siapa saja yang mungkin bisa mendengar suaraku. Namun yang terdengar hanya hembusan napas yang tersengal. Oksigen masuk ke dalam paru – paru dengan susah payah.
Rombongan makrab selanjutnya tak kunjung datang.
Mati aku, batinku. Kenapa aku tidak bisa bergerak dan teriak. Ampun! Seseorang siapa saja tolong aku! Rafliiii!!! Dewiii!!
Entah apa yang terjadi. Tapi sesuatu yang tidak masuk akal menerpa diriku. Waktu berjalan melambat, sangat lambat. Kabut asap dikejauhan bergerak pelan ke samping seperti ada sesuatu yang memaksa menyeruak melewatinya. Terdengar suara langkah kaki hewan diiringi dengungan tajam yang menusuk telinga.
Aku sangat frustasi. Ingin segera lari dari situasi ini, atau kalau bisa menyudahinya. Mata ini dipaksa melihat apa yang ada di depanku.
Kaki hewan itu besar dan panjang menjulang tinggi. Sulur – sulur hitam dari tanaman mati menjuntai melayang membersamai keempat kakinya yang berjalan bergantian dengan pelan. Aku menyipitkan mata untuk memperjelas apa yang ada di hadapanku.
Tubuh hewan itu besarnya hampir tiga kali lipat dari ukuran normalnya. Wajah nya menyerupai rusa. Itu kidjang, intuisi meyakinkanku. Namun tentunya bukan kidjang biasa. Kidjang raksasa itu mendengus mengeluarkan hawa panas dari cuping hidungnya. Matanya menyala merah seakan marah tanpa ekspresi. Sulur hitammya yang melayang mencabik cabik kabut asap semakin menambah kengerian hewan raksasa itu.
Kidjang bermata merah itu terlihat sangat buas bak banteng yang siap menyeruduk mangsa di depannya. Mataku membelalak semakin bergidik ngeri saat melihat tanduk tulangnya yang bercabang tajam seperti tangan tengkorak. Tangan tulang belulang yang muak dan ingin keluar lepas dari kepala kidjang itu. Tak hanya itu, tanduk kidjang menyala berkobar diselubungi api merah, menyambar nyambar apa yang bisa dibakar bersamanya.
Sialan, ya Gusti apalagi ini. Kakiku memberontak ingin segera berlari secepat kilat menuju rombongan si Rafli yang mungkin hanya berjarak lima ratus meter saja dari tempatku berdiri. Berdoa dalam hati semoga Rafli dan Dewiduri menyadari ada yang tidak beres dan segera menghampiriku yang sudah setengah mati bertahan di situasi ini.
Telingaku kembali menangkap suara tapal kaki kidjang itu berjalan menembus kabut tepat ke arahku berdiri. Jantungku berhenti berdetak selama sepersekian detik, menyadari ada sosok lain yang duduk menungganginya. Hanya bayangan samar yang bisa aku lihat. Sosok itu memakai jubah lusuh compang camping, beberapa titik api kecil membakar kain hitam jubahnya. Sulur yang melayang juga terbakar api, namun api itu seperti entitas yang patuh dengan kehendak mereka. Waktu seakan berhenti bergerak di sekitar kidjang dan penunggang misterius itu.
Gusti Allah tolong hambamu ini! Apa itu ya Tuhan! Ampun ampun!!!!
Kidjang dan penunggangnya semakin mendekat. Tubuhku mati rasa tidak berkutik sama sekali. Hawa dingin semakin menyelimuti saat mereka mendekat. Tangan sosok itu berusaha menggapai kepalaku. Rasa sakit tak tertahankan menekan kepalaku seperti tertimpa palu godam. Rasa mual menusuk dari dalam perut. Kerongkongan terbakar ingin memuntahkan semua yang aku makan sedari pagi termasuk lontong sayur dan jajanan pasar moto kebo.
“Jalana…”, terdengar suara serak yang menjijikan.
Aroma pengar tercium membuatku ingin bersin. Seluruh tubuhku melemah. Pingsan adalah jalan satu satunya, namun aku tetap berdiri mematung dengan mata yang tak berkedip sama sekali.
Tangan hitam penunggang Kidjang itu mencengkram kepalaku. Aku tidak mampu lagi menahan sensasi ini. Seluruh daya yang tersisa aku kerahkan dan keluarkan. Mulut ini menganga lebar dan berteriak. Meski yang kudengar hanya teriakan dalam diam. Seketika semua menjadi gelap. Aku tertelan ke dalam pusaran lubang tak berdasar.