
- Jumlah kata
- 28.9K
- Popular
- 136
- Subscribe
- 16
Sinopsis
Radit, seorang pelajar dengan kemampuan langka. Ia bisa melihat dan berbicara dengan makhluk tak kasat mata, sebuah kemampuan yang diwarisinya dari sang ayah. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa kemampuannya akan membawanya pada misteri mengerikan di desa Karang Setra—sebuah desa terpencil yang diselimuti kutukan Bersama dua sahabatnya, Bayu dan Gilang, Radit memulai perjalanan yang seharusnya menjadi petualangan biasa. Namun, semuanya berubah ketika mereka secara tidak sengaja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. Sosok-sosok bayangan mulai bermunculan, suara-suara bisikan semakin dekat. Rahasia yang selama ini terkubur mulai terungkap, menghubungkan masa lalu keluarganya dengan tragedi mengerikan yang pernah terjadi di desa itu. Tidak ada jalan keluar, kecuali mereka bisa mengungkap kebenaran. Apakah Radit mampu menghadapi kegelapan yang telah menunggu selama puluhan tahun? Ataukah mereka akan menjadi bagian dari kutukan yang sesungguhnya. Suatu malam, mereka telah membuka pintu mimpi buruk yang sesungguhnya…
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:36
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
Bab 1
Radit, seorang pelajar dengan kemampuan langka, bisa melihat dan berbicara dengan makhluk tak kasat mata. Kemampuan ini bukan sekadar anugerah, tetapi warisan dari ayahnya yang telah lama menyembunyikan rahasia kelam tentang dunia gaib. Bersama sahabatnya, Bayu, Gilang dan Damar yang sama-sama menyukai petualangan. Radit mencoba mengungkap misteri di sebuah desa terpencil yang terkenal angker, KARANG SETRA.
Namun, perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka secara tidak sengaja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. Seiring dengan semakin dalamnya mereka masuk ke dalam misteri, rahasia masa lalu keluarganya mulai terkuak, membawa mereka ke dalam teror yang tidak terbayangkan.
Radit mulai menyadari kemampuannya dan mengetahui bahwa ini adalah warisan dari sang ayah. Sejak kecil, Radit sering merasa ada sesuatu yang mengawasinya, namun ia tidak pernah bisa menjelaskan perasaan itu.
Hingga suatu hari, ia mengalami kejadian aneh di sekolah. Saat melewati lorong yang sepi, ia melihat seorang anak perempuan duduk di sudut dengan wajah pucat dan mata kosong menatapnya. Ketika Radit mendekat, anak itu menghilang begitu saja, meninggalkan jejak tangan berdebu di dinding.
Setibanya di rumah, Radit menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Tanpa terkejut, sang ayah hanya tersenyum tipis dan berkata bahwa saatnya telah tiba untuk mengetahui kebenaran. Radit dibawa ke sebuah ruangan yang selama ini selalu dikunci. Di dalamnya, ia menemukan berbagai benda aneh seperti keris tua, buku-buku kuno, dan foto-foto lama yang tampak menguning dimakan usia.
Ayahnya mulai menjelaskan bahwa kemampuan Radit bukan kebetulan, melainkan sebuah warisan turun-temurun. Ayahnya berpesan agar Radit tidak pergi ke desa Karang Setra, karena di sana merupakan desa yang menyimpan banyak misteri dan kejadian yang membahayakan nyawa. Pak Wirya, ayah Radit tahu sifat anaknya yang selalu penasaran dengan kejadian mistis.
Radit mulai mengingat kejadian-kejadian aneh di masa kecilnya. Ia sering berbicara dengan seseorang yang tak terlihat oleh orang lain, mendengar suara-suara yang tidak berasal dari dunia ini, dan bahkan mengalami mimpi-mimpi aneh yang terasa nyata. Kini, ia mengerti bahwa semua itu bukan sekadar imajinasi, melainkan bagian dari hidupnya yang selama ini tersembunyi.
Keesokan harinya, suasana kantin sekolah ramai seperti biasa. Di sudut paling pojok, Radit duduk bersama Bayu, Gilang, dan Damar. Ia menatap mereka dengan serius, sementara ketiganya sibuk menyantap nasi goreng masing-masing.
“Ada yang mau gue ceritain,” buka Radit pelan, suaranya hampir tenggelam oleh riuh suara siswa lain.
Bayu menoleh. “Apaan sih? Jangan bilang lo naksir anak kelas sebelah lagi.”
Radit menghela napas. “Serius. Ini soal kejadian semalam di ruang UKS.”
Damar mendongak dengan mulut masih penuh. “Yang katanya lo lihat hantu itu?”
Radit mengangguk. “Bukan cuma lihat. Gue ngobrol sama dia.”
Ketiganya langsung terdiam. Gilang menatap Radit dengan alis terangkat. “Ngobrol? Sama arwah?”
“Namanya Tania. Dia bilang dia meninggal di sekolah ini lima tahun lalu. Kecelakaan. Tapi... dia belum bisa pergi.”
Bayu mendecak. “Bro, lo tahu kan itu kedengeran kayak cerita horor di YouTube?”
Radit mencondongkan tubuhnya, suaranya semakin pelan. “Gue bisa buktiin. Ikut gue ke kelas kosong di lantai tiga pas istirahat kedua.”
Istirahat kedua, mereka berempat menyelinap ke kelas tua yang sudah lama tak digunakan. Jendela berdebu, bangku-bangku tersusun tak beraturan, dan aroma apek memenuhi udara.
“Tempat ini kayak set film horor,” gumam Gilang.
Radit berdiri di tengah ruangan, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Suasana menjadi hening. Lalu, suhu ruangan perlahan menurun. Kabut tipis seperti muncul dari lantai.
Bayu merapat ke Damar. “Oke, ini mulai nggak lucu.”
Tiba-tiba, papan tulis di belakang Radit berdecit, seperti ada sesuatu yang menulis dengan kuku. Semua mata tertuju ke papan yang kini bertuliskan: “AKU DI SINI.”
“Gila...” Gilang mundur dua langkah. “Lo ngelakuin ini?”
Radit membuka mata, wajahnya pucat. “Itu Tania. Dia denger kita.”
Damar bergumam, setengah berbisik, “Kalau lo beneran bisa komunikasi, kita uji kemampuan lo. Coba tanya ke arwah lain, bukan cuma Tania. Cari yang lebih kuat.”
“Gue juga penasaran,” sahut Bayu cepat. “Sampai mana batas kekuatan lo?”
Radit ragu-ragu. “Gue nggak tahu... arwah itu bukan cuma cerita. Mereka punya keinginan, rasa marah, luka. Kalau kita main-main, bisa bahaya.”
Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Akhirnya, mereka sepakat untuk mencoba ‘pemanggilan’ yang lebih besar malam itu, di rumah kosong di desa pinggir kota yang terkenal angker: KARANG SETRA
**
Malam itu, mereka memutuskan untuk pergi ke Desa karang setra tepatnya sebuah rumah kosong yang konon dihuni oleh arwah penasaran. Radit, meskipun ragu karena sudah diperingatkan oleh Sang Ayah, ia tetap mengikuti keinginan teman-temannya. Perjalanan mereka ke tempat tersebut berjalan dengan lancar meski harus drama dengan berbohong kepada orang tua masing-masing.
Saat mereka memasuki rumah itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lantai kayu berderit di setiap langkah mereka. Bau apek dan debu menyengat di hidung, namun ada sesuatu yang lebih kuat: aroma dupa yang telah lama padam.
Di bawah remang lampu senter dan cahaya lilin, Radit duduk bersila. Di sekelilingnya, teman-temannya membentuk lingkaran.
“Lo yakin mau lanjut?” tanya Damar pelan.
Radit mengangguk. “Tapi kalian harus janji, apapun yang terjadi, jangan keluar dari lingkaran ini.”
Ia mulai membaca mantra dalam bahasa asing yang entah dari mana ia pelajari. Udara menjadi lebih dingin, dan angin seolah muncul dari ruang tertutup itu. Tiba-tiba, terdengar suara jeritan—bukan dari mereka, tapi dari sudut ruangan yang gelap. Suara seorang perempuan, menangis dan tertawa bersamaan. Lampu senter padam. Lilin berkedip-kedip seperti mau padam.
“Radit, hentikan!” seru Gilang panik.
Radit menggigil, matanya membelalak. “Ini bukan Tania... ini sesuatu yang lain...”
Damar mencoba berdiri, namun tubuhnya seperti terkunci. Suara di ruangan makin dekat. Dan malam itu, mereka sadar, permainan mereka telah membuka pintu ke kegelapan yang tak seharusnya disentuh...
Radit mulai merasakan keberadaan sesuatu. Ia melihat bayangan hitam bergerak di sudut ruangan. Bayu dan Gilang, yang awalnya menganggap ini sebagai petualangan biasa, mulai merasakan ketegangan. Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar di telinga Radit, memanggil namanya dengan bisikan yang mengerikan.
"Radit... tolong aku..."
Radit menoleh cepat, matanya menangkap sosok perempuan dengan wajah hancur, pakaian compang-camping, dan tangan terjulur ke arahnya. Radit mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar. "Kalian lihat itu?" tanyanya dengan suara bergetar.
Bayu dan Gilang menoleh, tetapi mereka tidak melihat apa-apa. Mereka hanya merasakan hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Radit mencoba berbicara dengan sosok itu.
"Siapa kamu? Apa yang terjadi padamu?"
Sosok itu menatapnya dengan mata kosong dan berkata, "Mereka mengurungku di sini... Jangan biarkan mereka menangkapmu juga..."
Daftar bab
28 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








