Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Jagal Pasca Kiamat

Sistem Jagal Pasca Kiamat

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
154.9K
Popular
506
Subscribe
24
Novel / Sistem Jagal Pasca Kiamat
Sistem Jagal Pasca Kiamat

Sistem Jagal Pasca Kiamat

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
154.9K
Popular
506
Subscribe
24
Sinopsis
FantasiIsekaiMonsterSistemPertualangan
Dunia telah berubah menjadi neraka. Monster berkeliaran, sementara para penyintas saling mengkhianati demi bertahan hidup.Sang Jagal tak punya pilihan selain memperkuat formasinya dan menebas setiap ancaman yang menghadang.Di dunia baru ini, tempat paling aman bukan di belakang benteng—melainkan di sisi pisaunya.
1. Rumah Jagal

Aroma darah, bulu basah yang tersiram air panas, dan bau anyir kotoran ayam adalah udara yang dihirup Rian setiap malam. Di usia dua puluh tahun, ketika teman-teman seangkatannya sibuk mengunggah foto kegiatan kampus atau nongkrong di kafe estetik, Rian berdiri di depan meja stanles steel sepanjang empat meter.

Tangan kanannya menggenggam pisau lurus sepanjang lima belas sentimeter dengan gagang plastik kuning yang sudah pudar.

Sret. Sret.

Dua kali asahan pada bilah baja, suara gesekannya berdenging ngilu di dalam ruangan berlantai semen basah itu.

Rian mengembuskan napas panjang. Kaos oblongnya yang berwarna hitam sudah dipenuhi bercak darah mengering. Di depannya, sebuah keranjang plastik besar berisi belasan ayam negeri yang berkotek panik menunggu giliran.

"Rian, selesaikan tiga puluh ekor lagi sebelum jam dua, ya! Mobil setoran ke pasar induk mau berangkat," teriak Pak Bambang, pemilik rumah potong, dari balik kubikel tripleks yang berfungsi sebagai kantor.

"Siap, Pak," jawab Rian datar. Suaranya serak, khas anak muda yang kurang tidur dan terlalu banyak merokok untuk mengusir kantuk.

Rian dikeluarkan dari kampus semester lalu karena menunggak biaya kuliah tiga semester berturut-turut setelah ayahnya wafat. Menjadi buruh jagal ayam di pinggiran kota adalah satu-satunya pekerjaan yang tidak menanyakan ijazah sarjana.

Awalnya, dia mual. Dia benci darah. Namun, setelah membantai ratusan ekor ayam setiap malam selama enam bulan, rasa mual itu menguap, digantikan oleh mati rasa yang mekanis.

Dia merogoh ke dalam keranjang, mencengkeram dua kaki seekor ayam dengan tangan kiri, lalu membalik tubuh unggas itu. Jempol dan jari telunjuknya dengan cekatan menyingkap bulu-bulu halus di bawah paruh, mengekspos kulit leher yang tipis.

Sret.

Satu gerakan presisi. Pisau tipisnya memotong pembuluh karotis dan trakea tanpa menyentuh tulang leher. Darah segar memancar, ditampung ke dalam ember plastik di bawah meja.

Ayam itu mengejang beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas. Rian melemparkannya ke dalam bak air mendidih untuk merontokkan bulu.

Bagi orang awam, itu menjijikkan. Bagi Rian, itu hanyalah sebuah ritme. Ritme garis, anatomi, dan titik potong.

Glek.

Tiba-tiba, rasa sunyi yang aneh menyergap. Rian mengerutkan kening. Kotek puluhan ayam di dalam keranjang yang biasanya bising seperti pasar malam, mendadak berhenti total.

Hewan-hewan itu mendadak meringkuk di sudut keranjang, gemetar hebat dengan kepala tersembunyi di balik sayap.

"Pak Bambang?" panggil Rian, menoleh ke arah kantor.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara lolongan anjing liar dari kejauhan—suara yang terdengar begitu ketakutan.

BZZZZT!

Lampu neon di langit-langit rumah jagal berkedip kasar lalu mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruangan. Namun, sebelum Rian sempat merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, sebuah guncangan hebat menghantam bumi.

DUAARRR!

Rian terlempar ke samping, pinggulnya menghantam sudut meja stanles hingga dia meringis kesakitan. Lantai semen di bawah kakinya bergetar hebat, naik turun seperti ombak laut yang murka. Dinding-dinding batako rumah jagal mulai retak, menjatuhkan debu dan kerikil ke kepalanya.

"Gempa?!" Rian berteriak, mencoba berdiri namun bumi kembali berguncang. Suara gemuruh dari dalam tanah terdengar seperti raungan monster yang terbangun dari tidur ribuan tahun.

Dari balik jendela kaca yang pecah, Rian melihat langit malam yang hitam mendadak terbelah oleh cahaya keunguan yang pudar. Dan kemudian, suara melengking yang aneh bergema langsung di dalam kepalanya, memicu rasa sakit yang membuat pandangannya buram.

[Menginisialisasi Sistem Universal... 100%] [Katalis Bumi telah diaktifkan. Logika peradaban lama dihapus.]

[Selamat datang di Era Seleksi. Semua makhluk hidup diberikan Berkah Status. Kelola potensi Anda atau bersiaplah menjadi nutrisi.]

Rian mencengkeram kepalanya yang berdenyut. "Suara... apa itu? Berkah?"

Sebelum dia sempat memahami teks bercahaya biru yang melayang di depan matanya, sebuah suara dentuman yang jauh lebih keras dari gempa barusan terdengar dari halaman depan rumah jagal. Dinding depan bangunan itu runtuh seketika.

BRAKKK!

Debu tebal membubung tinggi. Di balik reruntuhan dan rembulan malam yang temaram, Rian melihat siluet sebuah makhluk yang tidak masuk akal.

Makhluk itu tingginya hampir tiga meter, menyerupai kecoak tetapi dengan anatomi yang jauh lebih mengerikan. Sepasang capit besar berigi tumbuh di dekat mulutnya yang terus meneteskan cairan hijau berbau busuk.

Enam kakinya yang berbentuk seperti bilah gergaji menancap ke lantai semen, menghancurkannya menjadi serpihan kecil. Mata majemuknya yang merah pekat langsung mengunci ke arah Rian.

[Spesies: Kecoak Kerak Bumi (Tahap Rendah)] [Level: 3]

[Ancaman: Tinggi (Bagi Manusia Tanpa Senjata)]

"A-apa-apaan itu..." Suara histeris terdengar dari arah kubikel kantor. Pak Bambang merangkak keluar dengan wajah pucat pasi, celananya basah karena pipis di tempat. Di atas kepala Pak Bambang, melayang teks kecil bertuliskan [Manusia - Level 1].

Pak Bambang melihat teks biru di depan matanya sendiri, mencoba menyentuhnya dengan tangan gemetar.

"Sistem? Sihir? Peta status? Apa ini?! Tolong, buka pintunya! Sialan, bagaimana cara menggunakan sihir ini?!"

Pak Bambang berteriak panik, menekan-nekan udara kosong, benar-benar buta dan bingung oleh sistem baru yang tiba-kira muncul di kepalanya. Karena panik, dia melupakan bahaya nyata di depannya.

KRETEK!

Kecoak raksasa itu bergerak secepat kilat. Salah satu kaki gergajinya menebas ke depan, memotong meja kayu kantor beserta tubuh Pak Bambang menjadi dua bagian dalam sekali tebas.

Darah dan organ dalam menyembur ke dinding. Jeritan Pak Bambang terputus dalam waktu kurang dari satu detik.

Rian membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Bau darah manusia jauh lebih pekat dan memuakkan daripada darah ayam. Kematian berada tepat lima meter di depannya.

Makhluk itu memutar kepala majemuknya, mengunyah sisa tubuh Pak Bambang, lalu melangkah mendekati Rian. Kaki-kaki bergoncangnya menimbulkan suara ketukan yang mengerikan di atas semen.

Tenang. Tenang. Sebuah dorongan aneh tiba-tiba mengalir di dalam benak Rian, menekan rasa takutnya hingga ke titik nol. Pikirannya mendadak menjadi sedingin es.

[Mendeteksi riwayat hidup individu: Telah mengeksekusi 14.520 makhluk hidup secara presisi.]

[Membuka Kelas Spesialis Tersembunyi: Jagal Universal.]

[Anda mendapatkan Skill Pasif: Ketenangan Jagal (Level Max) — Mematikan rasa takut, meningkatkan fokus saat menghadapi target bernyawa.]

[Anda mendapatkan Skill Aktif: Penglihatan Anatomi (Level 1) — Menampilkan struktur internal dan titik lemah target.]

Dunia di mata Rian mendadak berubah warna. Kecoak raksasa yang tadinya tampak seperti monster tanpa celah dari mimpi buruk, tiba-tiba memudar warnanya menjadi agak transparan di mata Rian. Dia bisa melihat aliran cairan tubuh di dalam cangkang chitin makhluk itu.

Dan yang paling mengejutkan, di antara sambungan cangkang leher kecoak itu, terdapat sebuah garis putus-putus berwarna merah terang yang berkedip-kedip.

Garis itu... persis seperti garis imajiner yang selalu dilihat Rian di leher ayam setiap malam sebelum dia menyayatnya.

"Garis potong," bisik Rian. Sebuah senyuman tipis, yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut, muncul di sudut bibirnya. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya tadi menguap, digantikan oleh gairah aneh yang menggelitik telapak tangannya.

Kecoak raksasa itu melesat maju, mengangkat capit besarnya untuk membelah kepala Rian.

Rian tidak lari ke belakang. Berkat Ketenangan Jagal, matanya membaca gerakan monster itu dalam gerak lambat. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai, meluncur di bawah meja stanles steel yang kokoh tepat saat capit monster itu menghantam meja hingga bengkok.

Dengan posisi berlutut di bawah meja, Rian menggenggam erat pisau potong ayam berpenampilan kuning di tangan kanannya. Pisau murah itu tiba-tiba dilapisi cahaya putih tipis dari sistem.

[Senjata terdeteksi: Pisau Jagal Ayam (Biasa) — Mendapat buff ketajaman +200% dari Kelas Jagal.]

Monster itu meraung, mencoba membalikkan tubuhnya yang besar di ruang sempit antara meja. Dan saat monster itu mendongakkan kepalanya, sambungan leher bawahnya terbuka lebar. Garis merah menyala itu tepat berada di jangkauan Rian.

"Sama saja," gumam Rian. "Kau cuma ayam yang sedikit lebih besar."

Dengan kecepatan dan presisi yang telah dilatihnya selama belasan ribu kali di rumah potong ini, Rian menusukkan pisaunya tepat ke titik awal garis merah di leher monster itu, lalu menariknya dengan satu sentakan horizontal yang bersih.

SLIIITTT!

Cangkang chitin yang sekeras baja itu terbelah seperti mentega di bawah bilah pisau Rian yang dilapisi sistem. Cairan hijau pekat menyembur keluar bersamaan dengan terkoyaknya saraf pusat monster tersebut.

Kecoak kerak bumi itu mengejang hebat. Kaki-kakinya mencakar dinding dan lantai secara acak sebelum akhirnya ambruk menimpa meja stanles, tak bernyawa.

[Anda telah menjagal 'Kecoak Kerak Bumi (Tahap Rendah) — Level 3' secara sempurna!] [Mendapatkan 150 Ekspedisi EXP. Level Anda naik: Level 1 -> Level 2.]

[Bonus Ekstraksi Sempurna: Mendapatkan Inti Kristal Kecoak (Murni), 10kg Daging Kecoak Edible (Kualitas Tinggi), dan Karapas Kecoak Utuh.]

[Statistik Anda meningkat: Kekuatan +3, Kelincahan +4, Daya Tahan +2.]

Rian merangkak keluar dari bawah meja, napasnya sedikit terengah-engah. Tubuhnya diguyur cairan hijau monster, tapi dia tidak merasa jijik.

Sebaliknya, saat merasakan kehangatan energi yang mengalir ke dalam tubuhnya akibat kenaikan level, ada rasa kepuasan estetis yang mendalam di dadanya.

Dia melihat pisaunya yang masih bersih dari noda karena cairan monster itu langsung luruh dari bilahnya yang tajam. Di depannya, teks sistem melayang, menunjukkan status barunya.

Rian memandang keluar dinding yang hancur. Di kejauhan kota, api mulai berkobar, jeritan manusia terdengar bersahut-sautan, dan bayangan monster-monster raksasa lainnya mulai merayap keluar dari retakan tanah yang menyala keunguan. Dunia lama telah hancur, dan semua orang di luar sana sedang meratap ketakutan.

Namun, Rian justru mempererat genggamannya pada pisau kuningnya. Matanya yang dingin menatap keremangan malam, mencari target berikutnya yang memiliki garis merah di leher mereka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca