

"Argh! sialan!" teriak wanita dengan gincu merah darah itu dengan geram. "Bisa-bisanya kau tidak menemukannya!" imbuhnya lalu melirik pria di hadapannya dengan tatapan tajam.
Pria dengan badge Salvador Malvori itu hanya menunduk sopan. Sesekali, ia membetulkan letak kacamata dengan kaca tebal itu.
"Maafkan aku my lady, tapi tas yang kau inginkan itu sudah dibeli oleh-"
"Angkat kepalamu sialan kalau kau sedang bicara dengan lawan bicaramu!" desisnya menyela ucapan Salvador.
Dengan tatapan penuh murka yang berapi-api, wanita itu seperti sedang ingin membakar Salvador sampai hangus oleh amarahnya sendiri.
Salvador mengangkat wajahnya, menatap wanita yang jadi atasannya itu dengan tatapan tenang yang sopan .
"Maafkan aku, My Lady. Tas itu sudah dibeli oleh Nona Hazelet," ujar Salvador penuh penyesalan.
"Cuih!" suara nyaring wanita itu terdengar seraya meludahi Salvador tepat di wajahnya.
Salvador memejamkan matanya beberapa saat lalu menyeka wajah dengan ujung lengan kemejanya.
"Dasar dungu! aku pikir kau hanya buta huruf, tapi rupanya kau juga bodoh! Padahal aku tidak memintamu membaca. Aku hanya memintamu membelikan tas yang aku inginkan, dan bahkan aku sudah memberikanmu kartu kreditku. Bisa-bisanya kau terlalu lamban dan membuat tas itu dimiliki oleh Hazelet!"
"Aku sudah datang di 30 menit sebelum toko itu buka, tapi My Lady... rupanya Nona Hazelet lah yang sudah membelinya kemarin pagi."
"Sialan! Jadi kau ingin mengatakan kalau ini semua salahku, ha?!"
Salvador menggelengkan kepalanya kepalanya cepat, menampik perkataan atasannya itu.
"Tidak, My Lady. Tentu aku tidak berani mengatakan hal demikian. Ini semua salahku. Aku terlalu lamban, harusnya aku datang kemarin, tapi aku malah datang hari ini. Aku memang pantas disalahkan, My Lady."
Secepat kilat, Salvador membetulkan letak kacamata minusnya yang tebal itu, lalu bergegas bersimpuh di kaki wanita itu.
Wendy Walker.
Seorang Billionaire muda berusia 25 tahun yang sangat congkak, sekaligus pemilik perusahaan Mobil kenamaan dunia. Sedangkan Salvador tak lebih dari sekedar kacungnya.
Salvador tidak bisa membaca apalagi menulis. Ia buta huruf karena tidak pernah merasakan bangku sekolah. Dia sangat culun dan kacamata minusnya yang tebal itu membuatnya semakin terlihat bodoh dan lemah.
Wendy menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu mendelik jengah ke arah Salvador.
"Apa kau ingin menebus kesalahanmu dan meminta maaf padaku, Salvador?" tanyanya dingin.
Salvador mengangkat wajahnya lalu mendongak menatap Wendy dengan ekspresi penuh permohonan.
"Iya, My Lady. Aku akan menebus kesalahanku dan meminta maaf kepadamu," kata Salvador.
Wendy tersenyum miring dan menatap Salvador dengan tatapan meremehkan.
"Kalau begitu cium kakiku," perintahnya.
Salvador membeku untuk beberapa saat. Ia menatap wajah Wendy dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi, My Lady-"
"Tunggu apa lagi? Cium kakiku sekarang, atau aku akan membinasakanmu!" suara teriakan yang penuh ancaman itu membuat nyali Salvador ciut.
"Baik, My Lady. Aku akan melakukannya sesuai permintaanmu."
Dengan tangan yang gemetar, Salvador menyingsingkan harga dirinya. Ia merunduk seperti bersujud, lalu kemudian ia pun mencium kaki Wendy yang terbalut Stiletto berwarna merah itu.
"Sudah, jangan terlalu lama! liurmu mengotori sepatu mahalku!" hardiknya lalu menarik kasar kakinya tanpa menunggu Salvador mengangkat wajahnya terlebih dahulu.
Rasa perih itu mendera Salvador sekaligus, saat ujung sepatu Wendy menggores kasar bibir bagian dalamnya. Sensasi seperti rasa besi pun mulai terasa di mulutnya.
Bibir Salvador berdarah. Salvador meringis lalu membekap mulutnya erat tatkala rasa berdenyut itu menderanya.
Melihat Salvador yang kesakitan, Wendy terlihat tidak peduli. Dengan santai, ia duduk di sofa ruangan kerjanya, mengambil selembar tisu lalu menggunakannya untuk menyeka ujung sepatu yang beberapa detik lalu dicium oleh Salvador.
"Jangan meringis dan berperan seperti korban. Itu hal yang pantas kau dapatkan karena kau sudah membuatku kecewa dan kesal, jadi nikmati saja hukumanmu."
Tanpa nurani, dan tanpa merasa iba sama sekali, wanita itu bergegas melepas sepatunya lalu melemparkannya ke dalam tong sampah di ujung ruangan.
"Menjijikkan," pungkasnya bergidik mencemooh lalu kemudian melenggang pergi menuju kursi kebesarannya dengan bertelanjang kaki.
Salvador hanya diam membisu.
Jelas sekali hatinya terluka dan harga dirinya seperti dicabik-cabik, tapi ia bisa apa selain diam? Di sini Wendy lah yang berkuasa.
"Hei ... dungu, ayo bangun dan belikan aku sepatu yang baru." Suara Wendy terdengar untuk memberikan perintahnya pada Salvador.
Saat itu, Salvador hanya bisa menghela napas berat dan menyeka sisa-sisa darah di bibirnya. Kemudian, Ia pun bangkit berdiri dan membetulkan pakaiannya.
"Baik, My Lady, aku akan segera kembali."
Kartu kredit tanpa limit milik Wendy itu masih ada di saku kemeja Salvador, maka dengan punggung ringkihnya yang terbungkuk itu, Salvador bergegas pergi keluar ruangan Wendy untuk segera pergi ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membelikan Stiletto baru yang pastinya harus dari merek yang sama.
Di dalam lift, Salvador bersandar lemas. Ia menatap nyalang tombol lift yang berjejer itu, lalu kemudian ia pun menghela napas kasar.
"Padahal dia lebih muda 4 tahun dariku, tapi dia sungguh tidak sopan," gumam Salvador pelan.
Ia meraba daerah bibirnya yang agak bengkak dan terasa perih.
"Aku harap semua ini segera berakhir. Kalau bukan karena janjiku pada mendiang ayahnya yang sudah menolongku, aku tidak sudi dihinakan seperti ini," ujar Salvador kembali bermonolog.
Ya, Salvador si bodoh yang buta huruf itu rela dihina dan diperlakukan dengan cara tidak manusiawi tidak lain karena hutang budinya pada mendiang Remon Walker– mendiang ayahnya Wendy.
Pria paruh baya yang meninggal karena serangan jantung itu adalah dewa penolong Salvador yang saat itu terjerat kemiskinan yang menyengsarakan.
Di usia Salvador yang ke 20 tahun, Remon mengajaknya untuk tinggal bersama. Dari situlah Salvador bertemu dengan Wendy yang saat itu berusia 16 tahun.
Dulu, Wendy adalah gadis cantik nan manis, walau cenderung keras kepala. Namun, setelah kepergian Remon, Wendy berubah jadi manusia tanpa nurani. Entah apa yang telah mengubahnya sampai sejauh itu.
Seperti yang terjadi hari ini, Salvador diperlakukan tidak manusiawi oleh Wendy. Diludahi bukan lagi hal yang aneh baginya.
"Ah... tuan Remon, bolehkah aku berhenti sekarang?" tanya Salvador berbicara sendiri, lalu mendongak menatap langit-langit lift itu dengan putus asa. "Aku tidak bisa lagi menjaga putrimu, tuan. Dia sangat menyebalkan dan membuatku lelah. Seperti dirimu, aku juga ingin berbahagia, dan tinggal bersama anakmu membuatku sengsara. Kau lihat sendiri, kan? Dia memperlakukanku seperti sampah."
Kemana lagi Salvador harus mengadu?
Tidak ada.
Namun, sepertinya langit-langit lift jauh lebih manusiawi daripada Wendy. Setidaknya, langit-langit lift tidak akan mencemooh Salvador seperti yang sering dilakukan oleh Wendy selama ini.