Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DENDAM CINTA DI MASA SILAM

DENDAM CINTA DI MASA SILAM

Sadeli0112 | Bersambung
Jumlah kata
87.1K
Popular
1.6K
Subscribe
149
Novel / DENDAM CINTA DI MASA SILAM
DENDAM CINTA DI MASA SILAM

DENDAM CINTA DI MASA SILAM

Sadeli0112| Bersambung
Jumlah Kata
87.1K
Popular
1.6K
Subscribe
149
Sinopsis
18+FantasiFantasi Timur21+Kekuatan SuperBela Diri
Meidiawan adalah seorang pemuda tampan yang hampir saja kehilangan nyawanya setelah dihadang dan dianiaya oleh seorang pemuda kaya yang merebut kekasihnya. Selesai berguru dan mewarisi ilmu kesaktian dari seorang kakek sakti yang telah menyelamatkannya, kemudian dia pun kembali ke kampung halamannya untuk membalaskan dendam sakit hati pribadinya serta mendiang adik perempuan kesayangannya yang ternyata telah dilecehkan dan dihabisi secara kejam oleh pemuda yang telah menganiayanya tersebut. Setelah berhasil membalaskan semua dendamnya, selanjutnya dia pergi berpetualang untuk menegakan kebenaran dan keadilan bagi masyarakat miskin dan lemah yang selalu ditindas dan dianiaya oleh orang-orang kaya serta para penguasa yang zalim.
Bab. 1

" Mau kemana, Dik ? " tanya sopir sebuah mini bus berwarna putih yang berhenti di depan seorang pemuda yang mengenakan baju kaos warna biru langit.

" Kota Negara Dipa, bang. " jawab pemuda itu.

" Ayo naik..ranselnya simpan di bagasi barang saja. " suruh sopir itu.

" Baik...Bang " ucap pemuda itu, lalu berjalan ke bagian belakang mini bus tersebut untuk menyimpan ransel yang di bawanya.

" Bagasinya terkunci...Bang. " kata pemuda itu, memberitahukan kepada sopir mini bus.

" Tunggu sebentar. " sahut sopir itu, lalu segera beranjak untuk membuka bagasi barang.

Setelah pintu bagasi terbuka, setelah memasukan ranselnya kedalam bagasi, lalu kemudian pemuda itu segera masuk ke dalam mini bus tersebut.

" Permisi...Pak. "

" Permisi...Kak. " ucap pemuda itu dengan sopan kepada seorang paruh baya dan seorang gadis cantik yang duduk di sebelah kanan dan kiri kursi belakang, karena kebetulan tempat yang masih kosong berada di antara mereka berdua.

" Silahkan...Nak." sahut pria paruh baya yang duduk di sebelah kiri.

" Iya...Silahkan." sahut si gadis cantik yang duduk di sebelah kanan.

setelah memastikan pemuda tersebut sudah menempati tempat duduk yang masih tersedia, kemudian sopir mini bus itu segera melanjutkan perjalanan menuju ke kota tujuan.

Pemuda tersebut bernama Meidiawan, tamatan SLTA yang berusia 19 tahun. Dia mempunyai paras yang sangat tampan dihiasi dengan lesung pipit di pipinya, berhidung mancung dan berkulit kuning langsat.

" Maaf, pak...perkenalkan nama saya Meidiawan. "

" Bapak mau ke kota mana ? " tanya Meidiawan kepada pria paruh baya yang duduk di samping kirinya.

" Bapak mau ke kota Amandit, " jawab pria itu.

" Kalau kamu mau kemana ? " pria itu balik bertanya.

" Saya mau pulang ke kota Negara Dipa. " jawab Meidiawan.

" Ooo...Ya. "

" Perkenalkan ama Bapak Hendra Cokroningrat, cukup kamu panggil Pak Hendra saja..."

" Bapak berasal dari kota Gudeg. " ujar pria itu, balas memperkenalkan dirinya.

Setelah berkenalan dengan Bapak Hendra, kemudian Meidiawan beralih pada gadis cantik yang duduk di sebelah kanannya.

" Maaf, Mbak...Kenalkan nama saya Meidiawan...kalau boleh tahu, nama Kakaknya siapa ? "

" Nama saya...Dian Wulandari. " jawab gadis cantik itu.

" Mbak Dian berasal dari mana ? "

" Dari kota Apel...tujuan saya ke kota Amandit, sama seperti pak Hendra..."

" Jangan panggil saya kakak, saya rasa umur kita sepantaran saja. " kata Dian langsung menyebutkan kota tujuannya.

Karena mereka sudah saling mengenal, di dalam perjalanan tersebut sesekali Meidiawan terlihat bercakap-cakap dengan Pak Hendra serta Dian Wulandari.

°°°°°°°°°°

Pak Hendra Cokroningrat berusia 45 tahun, beliau bekerja di kantor kejaksaan kota Amandit.

Sedangkan Dian Wulandari berusia 19 tahun, tujuannya ke kota Amandit adalah untuk mengunjungi kakak laki-lakinya yang bekerja sebagai perwira muda di kantor keamanan kota Amandit, Dian masih berstatus sebagai seorang mahasiswi pada sebuah perguruan tinggi ternama di kota asalnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lamanya, mini bus yang ditumpangi Meidiawan berhenti di terminal penumpang kota Amandit.

" Bapak turun lebih dulu ya...Meidiawan. " pamit Pak Hendra.

" Iya...Silahkan, Pak " Sahut Meidiawan

" Saya juga turun di sini...."

" Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa bertemu lagi. " susul Dian juga berpamitan seraya tersenyum manis kepada Meidiawan.

Sejenak Meidiawan terpesona dengan senyuman manis gadis itu, namun perasaan itu segera ditepisnya, karena dia sadar sudah mempunyai seorang kekasih di kota Negara Dipa.

" Iya... "

" Silahkan...Dian" ucap Meidiawan.

" Bolehkah nanti saya menelpon kamu  ? " tanya Dian.

" Boleh...Silahkan telpon saja nanti. " ujar Meidiawan.

Setelah menurunkan barang bawaan Pak Hendra dan Dian, mini bus pun segera melanjutkan perjalanan kembali menuju ke kota Negara Dipa.

Sekitar 2 jam kemudian sampailah mini bus yang ditumpangi Meidiawan di sebuah terminal penumpang yang berada di kota Negara Dipa, setelah membayar ongkos dan mengambil ranselnya di bagasi kemudian dia pun berjalan ke arah pangkalan ojek motor

" Ke Desa Telaga Bening..."

" Berapa ongkosnya, bang ? " tanya Meidiawan pada seorang driver ojek motor yang berada di pangkalan.

" Rp 50.000,...Khusus untuk tarif malam. " jawab abang driver ojek.

" Baiklah...Bang. " kata Meidiawan menyetujui tarif yang disebutkan driver ojek.

" Silahkan naik..."

" Ini helmnya dipakai dulu. " suruh abang driver seraya menyerahkan sebuah helm pada Meidiawan

Kemudian driver ojek tersebut segera menjalankan motor menuju tempat yang telah disebutkan oleh Meidiawan.

" Berhenti di depan rumah itu saja, Bang. " pinta Meidiawan meminta abang driver berhenti di depan sebuah rumah kayu.

" Iya...Dik. " sahut abang driver itu, lalu dia pun menghentikan motornya di tempat yang dimaksudkan Meidiawan.

" Ini ongkosnya..."

" Terimakasih...Bang. " kata Meidiawan sambil menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru kepada abang driver tersebut.

" Iya...sama-sama, permisi Dik. " pamit abang driver itu setelah menerima pembayaran jasa ojeknya.

Setelah driver ojek motor kembali menuju pangkalannya, lalu Meidiawan pun segera melangkah menuju rumahnya.

" tok...tok...tok... "

" Ibu...Ini Meidiawan. " ucap Meidiawan setelah mengetuk pintu rumahnya.

" Tunggu sebentar, Nak. " terdengar suara sahutan seorang wanita dari dalam rumah.

" Ckleeek...".

Terdengar suara pintu dibukakan, lalu terlihatlah seorang wanita paruh baya yang masih memegangi gagang pintu rumahnya.

Wanita paruh baya itu adalah ibu Meidiawan yang bernama Ibu Rusmini.

" Kapan kamu sampai...Nak ? " tanya Ibu Rusmini.

" Baru saja, Bu. " jawab Meidiawan, setelah mencium kedua tangan ibunya, kemudian dia pun segera masuk kedalam rumah mereka, lalu langsung duduk pada sebuah sofa yang sudah terlihat usang.

" Tiara mana...Bu ? " tanya Meidiawan menanyakan adiknya yang bernama Tiara Setiawati yang berumur sekitar 15 tahun dan baru duduk di kelas X SMKN Telaga Bening.

" Sudah tidur dari jam 9 tadi. " jawab ibu Rusmini.

" Ibu masih menerima jahitan ? "

" Masih...Nak, lumayan buat tambahan penghasilan, kamu tahu kan adikmu sudah duduk di kelas X SMKN Telaga Bening, jadi biaya sekolahnya menjadi meningkat ditambah lagi harga-harga barang kebutuhan sehari-hari yang juga ikutan meningkat, kalau cuma mengandalkan uang dari janda pensiunan ayahmu manalah cukup, Nak..."

" Lagi pula ibu juga tidak ada kegiatan di rumah..."

" Daripada hanya bengong dan melamun mendingan ibu menjahit saja. " ujar Ibu Rusmini menjelaskan.

Seketika saja Meidiawan merasa sangat bersalah mendengar penuturan dari ibunya tersebut, selama ini dia tidak pernah mengirimkan uang dari hasilnya bekerja di kota Bandarmasih. Uang yang diterimanya sebagian besar selalu ditabungkan untuk persiapan pernikahannya dengan Salma kekasihnya, sedangkan sisanya buat biaya hidupnya di kota itu.

" Mulai bulan depan, saya akan kirimkan uang buat meringankan biaya yang ibu keluarkan. " ujar Meidiawan.

" Tidak usah, nak...kamu tabung saja buat keperluan biaya pernikahanmu nanti. " tolak ibu Rusmini.

" Tidak mengapa, Bu...Ini memang sudah jadi kewajiban Meidiawan sebagai anak laki-laki satunya di rumah ini. " kata Meidiawan lagi.

" Baiklah terserah kamu saja...yang penting tidak mengganggu keuangan rencana pernikahanmu. " kata ibunya mengalah.

Setelah menghabiskan kopi serta berbincang-berbincang sejenak dengan ibunya Meidiawan pun segera masuk kedalam kamarnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca